
Hari ini ternyata sedang ada acara arisan teman-teman sosialita Amora.
Mereka semua cantik-cantik, kulitnya mulus dan putih terpampang jelas sebab pakaian ketat digunakan.
Dalam satu bulan ini mereka sering sekali mengadakan acara kumpul-kumpul begini.
"Selamat ya Amora, akhirnya isi itu perut. Arnold pasti seneng banget, ya?" tanya teman Amora.
Amora mengangguk ragu. Sebab suaminya tidak terlalu menyambut baik berita kehamilannya.
"Amora, dia, dia adikmu dulu yang sering ngantarin kamu, bawain barang, kan?" tanya teman Amora melihat Ellea.
"Iya!" jawab Amora sewot.
"Ya ampun, kamu apa kabar? Kita lama lho nggak ketemu."
Langkah Ellea dihadang oleh teman Amora. "Alhamdulillah aku baik, Kak."
"Masih kuliah ya? Gimana kuliahnya, lancar?"
"Gimana mau lancar kalau disambi berumah tangga. Gue jamin juga nggak jadi apa-apa itu bocah, udah gitu nikah sama ormis lagi, duh," ucap Amora melirik malas. "Ya udah, kamu sana gih, ngapain di sini? Biar ikut masuk ke genk kami?"
"Oh ya?" perempuan di depan Ellea melongo terkejut.
"Oh iya, istri pelayanan kan? Tolong buatin kami menuman yang seger dong, haus nih!" sambung teman Amora yang sudah tahu Ellea.
__ADS_1
"Denger, kan, temen-temen gue ngomong apa? Ya udah sekarang buatin, pembokat yang lain lagi pada sibuk," bentak Amora.
"Kasian, kecil kecil udah nikah. Mana sama orang miskin lagi. Apes banget hidupnya."
"Nggak ada yang apes, Kak. Aku yakin, Allah sudah nentuin garis buat aku. Kalau memang aku diusia segini udah nikah,nberarti memang sudah jodoh aku. Ingat kan, kalau jodoh, rejeki, mati itu nggak yang tau? Cuma Sang Pencipta Yang Mengetahui Segalanya," jawab Ellea tegas.
"Udah sih, nggak usah kebanyakan omong. Kami cuma butuh minum... malah tauziah!" balas teman Amora.
Sedangkan Amora melirik geram kepada adiknya itu.
Dari pada panjang urusan, Ellea menuruti permintaan Amora. Walau ia merasa mual, mual dan tidak enak badan. Tetap membuat minuman untuk tamu-tamu.
"Hueek!"
"Ih, jorok banget sih?"
Ellea merebahkan tubuhnya ke ranjang. Sedikit mereda, ia mengambil hp dari dalam tas. Ia melihat notifikasi, tapi Eiwa tidak ada menghubunginya.
Seperti ada yang kosong, saat Eiwa tidak ada. Eiwa sekarang seperti perisai Ellea. Dan ketika perisai itu pergi, Ellea seperti tidak berdaya
"Abang kapan pulangnya, sih? Aku kangen."
Ia mencoba menelepon sang suami, sebab sejak tadi video call tidak tersambung. Tapi ternyata sama saja.
"Abang ke mana, ih, nggak kangen sama El?"
__ADS_1
Mual lagi. Mondar mandir ke kamar mandi sampai membuat Ellea terlukai lemas.
Wajahnya pucat hanya bergumul di bawah selimut. Sekedar untuk turun ke bawah makan pun ia tak bisa.
"Mbak Pariyem, tolong bawain makanan ke kamar ya? Badanku lemes banget soalnya," ucap Ellea kebetulan asisten rumah tangganya itu masuk ke kamar.
"Tunggu ya neng, biar saya ambilkan."
Tak lama berselang mbak Pariyem masuk ke kamar dengan tangan kosong.
"Mana makanannya, Mbak?" tanya Ellea.
"Anu neng, kata nyonya saya nggak boleh bawa makanan ke kamar, biar neng nggak kebiasaan. Kata nyonya, kalau mau makan neng disuruh turun ke ruang makan," ucap mbak tidak enak.
"Lah, saya kan, lagi nggak enak badan?"
"Maaf, neng, saya cuma ikuti perintah nyonya."
"Mbak Yem!!"
Teriakan terdengar dari ruang makan. Asisten rumah tangga langsung tersengat kaget berlari menghampiri Lusia.
Sebenarnya Ellea juga tak terlalu berselera makan. Hanya saja ia tahu kalau penderita mag itu harus sedikit-sedikit mengonsumsi makanan biar tidak akut.
Tapi sekarang ia benar-benar lemas, memilih diam di atas tempat tidur sambil mencoba menghubungi sang suami.
__ADS_1
Seandainya ada Eiwa, mungkin Ellea saat ini sudah diperhatikan. Dipijit dan dituruti apa pun yang dia pengen, yaitu empek-empek kapal selam.
Entah kenapa dari tadi Ellea selalu terbayang bayang makanan satu itu. Padahal biasanya ia jarang makanan khas Palembang tersebut.