
Samar-samar saat membuka mata Ellea mendengar suara lantunan ayat suci Al qur’an. Entah jam berapa sekarang sama sekali ia belum mendengar Adzan dikumandangkan.
“Shadaqallahul azim…” Eiwa menoleh ke belakang, dikeheningan malam menjelang pagi pria itu telah selesai melantunkan ayat Al qur’an. Mencium kitab tersebut lalu meletakkan ke atas meja.
“El, sudah bangun?”
Ellea mengangguk. “Nggak bisa tidur,” ucapnya dengan suara lembutnya.
“Suaraku buat kamu keganggu ya?”
Ellea menggeleng. “Masa iya, denger suara ngaji aku keganggu? Nggak kok, El justru seneng.”
“Terus kenapa nggak bisa tidur?”
Ellea terdiam, tiba-tiba ekpresi wajahnya berubah pilu. Ia ingin bicara tapi tidak berani, tapi Eiwa yakin kalau istri kecilnya itu memiliki suatu masalah.
Eiwa menahan pertanyaan sampai mereka berdua menunaikan salat subuh dan sarapan bareng. Hingga sampailah pertanyaannya pada sang istri.
Setelah sarapan. Kini mereka berdua sama-sama di dapur mencuci piring.
“Aku sekarang ini adalah suami kamu, El, jadi kalau ada apa-apa kamu ngomongnya sama aku. Jangan ditelan sendiri,” ucap Eiwa bersandar ke pinggiran kitchen set menunggu Ellea cuci piring. Aku nggak nyangka, kalau ternyata Ellea lebih cantik dan menarik dibanding Amora.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
“Assalamualaikum!”
“Waalikumsalam....” Setelah mencuci tangan Ellea mengelap ke handuk yang tergantung di pinggir kulkas.
“Bang, El lihat siapa yang datang dulu, ya?”
Eiwa mengangguk seiring menghela napas.
“Siapa, El?” tanyanya setelah Ellea kembali.
“Itu tetangga sebelah rumah kita, Ibu Mariana, minta nasi buat sarapan anaknya, karena dia kesiangan.”
Eiwa manggut-manggut mendengar penjelasan Ellea.
Pembicaraan mereka pun kembali serius. Ke topik apa yang menjadi beban pikiran Ellea.
Eiwa manggut-manggut sambil berpikir. “Berapa total keseluruhan yang harus dibayar?” tanyanya.
“SPP dua puluh lima juta, praktikum lima puluh juta, jadi total keseluruhan tujuh puluh lima juta, Bang. Banyak, kan? Gimana, El, nggak mau gara-gara ini harus putus kuliah. Jadi dokter adalah cita-citaku,” ucap Ellea menunduk sedih.
Masih ingat bagaimana terakhir kali sang papa marah-marah padanya untuk biaya kuliah.
Eiwa hanya diam, membuat Ellea pesimis kalau suaminya itu tidak akan mampu membiayai kuliahnya. Pagi ini pun dijalaninya tanpa semangat, sarapan nasi goreng buatan Eiwa pun hanya ia makan dua sendok.
__ADS_1
Sangat wajar jika biaya kuliah yang harus dikeluarkan cukup mahal, sebab akreditasi jurusan sudah A pelajar di sana juga mendapatkan kualitas pembelajaran terbaik.
Ellea terus melihat ke arah Eiwa, menunggu jawaban atau satu patah kata keluar dari bibir bodyguard papanya tersebut. Harapan Ellea untuk Eiwa mengatakan iya sangat besar. Sehingga ia kecewa saat suaminya itu bicara di luar harapan.
“Sudah siang, waktunya kamu pergi kampus. Aku juga harus ngawal papa ke Jogja.” Eiwa mengakhiri perbincangan mereka beranjak lebih dulu. “Nggak usah, kamu pergi aja, biar aku yang beresin,” cegahnya saat Ellea akan membereskan piring sisa mereka.
“Oh, makasih Bang.” Walau dalam keadaan sedih Ellea tetap mencoba tersenyum. Ia mencium punggung tangan Eiwa yang sedang sibuk beberes.
“Nyuci bajunya biar El aja bang, nanti setelah pulang kampus.”
“Siap sayang.” Eiwa tanpa menoleh mengacungkan jempolnya.
Di kampus Ellea tidak konsentrasi belajar sebab kepikiran dengan biaya yang belum juga mendapatkan jalan keluar.
“Ellea, ada pak Rektor panggil kamu buat ke kantor beliau. Ditunggu secepatnya,” ucap Widya dosen.
Ellea sudah tau arah pembicaraannya akan ke mana. Di dalam ruang Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) merupakan unsur pelaksana administrasi universitas yang menyelenggarakan pelayanan administrasi akademik dan kemahasiswaan.
Dalam ruangan itu terasa teramat dingin kala tatapan rektor bertubuh gempal tatapan mata tajam itu terus saja menatap Ellea dengan tatapan hardik.
“Saya akan segera lunasi biayanya, Pak, Insya Allah.” Entah dari mana jalannya, Ellea percaya dengan kekuatan Allah.
Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin.
__ADS_1
“Kalau Sabtu kamu belum juga menyerahkan biaya kuliahnya. Maaf, dengan terpaksa kamu nggak bisa lagi mengikuti pelajaran di sini. Mungkin kamu bisa milih jurusan lain, atau kuliah di kampus lain mungkin, seperti kota-kota kecil. Mungkin itu lebih cocok sesuai isi dompet kamu.”
“Saya permisi dulu pak,” ucap Ellea meninggalkan rektor yang jelas-jelas belum selesai bicara.