
Hari ini tepat berlangsungnya resepsi pernikahan Amora dan Arnold. Untung saja Ellea sudah memakai pakaian yang dikirim seseorang untuknya.
Pakaian gamis berbahan ceruti berwarna sage, terlihat mewah dan anggun ia kenakan dipadu dengan hijab berwarna dasti pink.
Ellea datang bersama Eiwa yang mengenakan kemeja batik modern abu-abu gelap dan celana hitam berjalan berdampingan.
Semakin hari mereka terlihat begitu serasi. Eiwa bahkan sepanjang perjalanan terus saja melihat paras Ellea.
“Abang udah ih lihatnya. Awas kesandung lho!”
“Nggak papa kesandung, di depanku kan, ada kamu, nggak mungkin kan, biarkan suaminya jatuh gitu aja?”
Para tamu membawa serta undangannya untuk masuk ke dalam gedung.
Mereka menyerahkan undangan pada petugas terima tamu kemudian memperlihatkan wajah ke layar, setelah terdeteksi baru dipersilahkan masuk.
Karangan bunga pemberian ucapan selamat berjejeran di sepanjang depan gedung. Bahkan awak media pun berbondong-bondong mewawancarai artis-artis yang datang ke resepsi pernikahan Amora dan Arnold.
“Kamu kan, keluarganya El, kok baru datang?”
“Kebetulan di taxi online yang aku naiki tadi kejebak macet di jalan. Jadi, sedikit telat,” jawab Ellea saat bertemu salah satu temannya.
Sebenarnya itu Cuma alasan, sebab keluarganya sama sekali tidak menghubunginya perihal acara resepsi ini.
Ellea datang atas kemauannya sendiri ditemani oleh Eiwa.
“Silahkan ... bisa tunjukkan kartu undangannya?” tanya salah satu penerima tamu di depan ruangan.
Undangan? Tentu saja Ellea tidak punya.
Ia menggeleng. “Aku nggak bawa undangan, Mbak.”
“Maaf, kalau tidak bawa undangan, tidak bisa masuk, kakak.”
“Tapi ... aku itu keluarganya dan ini suamiku. Jadi seharusnya nggak perlu undangan buat bisa masuk ke dalam, kan?” Sebagai anak Alvin tentu semua prosedur tidak berlaku kan?
“Maaf, tidak bisa, Kak. Kami Cuma diperintahkan mempersilahkan tamu undangan yang terverifikasi.” Petugas penerimaan tamu itu menyatukan kedua tangan, minta maaf.
Ellea dan Eiwa yang masih berdiri di depan meja jadi bahan perhatian orang-orang sekelilingnya.
“Kita pulang aja, atau gimana bang?” tanya Ellea menyerah.
__ADS_1
“Sebentar.” Kini Eiwa yang maju bicara pada kedua petugas tersebut.
Namun, sama saja mereka tetap tidak mengizinkan.
Ellea sudah menelepon Lusia dan Alvin tapi tidak diangkat. Hingga mereka memutuskan untuk kembali pulang.
Beberapa reporter mengambil gambar mereka. Bahkan mereka mewawancarai Ellea dan Eiwa.
Meskipun keduanya tidak ada yang menjawab opini mereka, tapi yakinkan. Besok pemberitaan kalau adik dari Amora tidak diizinkan masuk akan ramai.
Hingga secara kebetulan Alvin keluar dan bertemu mereka. Karena tidak mau mendapatkan citra buruk anak dan menantunya itu pun dipersilahkan masuk.
“Gimana udah seneng dibolehin masuk?” tanya Lusia.
Eiwa mengedipkan satu matanya pada Ellea di sampingnya.
Tatapan Lusia melirik sinis ke arah bungkusan kado di tangan Ellea. Wanita yang membesarkan Ellea itu sudah menebak, pasti Ellea datang membawa barang tidak bermakna.
“Bawa apaa?” tanyanya sinis.
“Ini ada kado dari kami, buat kak Amora, Ma.”
“Kamu taruh saja di situ, lagian Amora lagi banyak tamu tuh, artis-artis dan pejabat. Kamu langsung pulang aja!”
Karena menganggap kado yang diberikan mereka tidak berguna. Lusia membuang kotak itu ke meja kosong di sampingnya.
“Paling Cuma barang murahan. Buat makan aja susah, pakai sok-sokan bawa kado,” ucap Lusia ditertawakan oleh teman-temannya.
***
Taxi online yang ditumpangi Ellea dan Eiwa terus saja berjalan. Melewati jalanan yang seharusnya tidak mereka lewati.
“Lho, Bang, kita mau ke mana? Rumah kita kan, belok ke kiri, ini kok malah ke kanan?”
“Ada deh, rahasia.” Eiwa melipat kedua tangannya di belakang kepala, duduk santai menikmati perjalanan.
“Bilang dulu mau ke mana? Jangan buat penasaran kenapa, Bang?”
“Coba tebak, ke mana kita kira-kira?”
“Ke rumah akung? Ancol? Ke Depok?”
__ADS_1
Eiwa tak peduli justru memejamkan mata sambil tersenyum.
Mobil terus saja melesat sampai mereka berhenti tepat di depan hotel Rich Hotel. Salah satu hotel mewah di kota ini.
“Abang ada kerjaan di sini?”
“Settt... dilarang banyak tanya, nikmati aja prosesnya,” ucap Eiwa.
Ellea kebingungan sebab mendapatkan sambutan luar biasa dari pegawai hotel ketika masuk ke lobby.
“Kamar sudah kami siapkan, silahkan....” Bahkan salah satu manajer hotel turut mengantar sepasang suami istri itu ke kamar.
“Ini kan, kamar yang waktu itu kita tiduri, Bang?” tanya Ellea saat mereka sampai di depan kamar.
“Berarti kamar ini jodoh kita, El. Masuk yuk?”
Namun ada hal berbeda dengan isi kamar tersebut. Sebab saat ini penuh dengan hiasan kelopak mawar di atas ranjang.
Lilin aroma terapi dinyalakan indah di sekitar ranjang, sangat menenangkan.
“Kebetulan pak Toni, salah satu mantan bosku, memberikan hadiah voucher menginap di hotel ini, selama yang kita inginkan. Jadi, apa salahnya memanfaatkannya, kan? Lagian udah halal, nggak bakalan digerebek-gerebek lagi.”
Ellea mematung tidak bisa bergerak. Antara takut, gerogi, dan cemas. Kini perasaannya campur aduk.
“Emang kita mau ngapain, Bang?”
“Enaknya ngapain?” tanya Eiwa semakin bergerak mendekat.
“Nonton juga enak kok.” Sengaja Ellea mengalihkan perhatian, mengambil remote menyalakan televisi.
“Mau nonton apa?” Tapi sayangnya, Eiwa tak memberi ruang bagi Ellea untuk menghindar lagi.
“Kamu cantik banget, El, pakai baju warna begini.”
“Terus kalau pakai warna lainnya nggak cantik gitu?” Ellea melirik malas.
“Cantik juga, tapi Cuma nambah beberapa persen. Kalau gini jadi nambah seratus persen, amat sangat cantik. Cantik banget istri abang.”
Dasar Eiwa selalu tahu saja letak kelemahan seorang perempuan. Ellea benar-benar salah tingkah dibuatnya.
“Aku punya kado spesial buat kamu. Tapi janji, kamu harus pakai ya?” tanya Eiwa.
__ADS_1
“Baju apa kalau boleh tau?”
“Baju dinas, aku beliin kamu warna gini, hajau sage. Buruan gih, buruan dipakai, udah nggak sabar pengen lihat. Kira-kira muat atau nggak.”