Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Pilihan Sulit


__ADS_3

Alvin curiga melihat perubahan Ellea yang berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat, lemas, Ellea juga malas-malasan tidak seperti biasa yang rajin walau di rumah merawat tanaman.


Ellea sama sekali tidak beraktivitas di luar kamar. Alvin berinisiatif untuk memanggil Dokter Wayan yang merupakan sepupunya untuk memeriksa kondisi putrinya.


Setelah Dokter Wayan melakukan pemeriksaan beberapa saat, dan meminta Ellea melakukan test urin. Ternyata Ellea dinyatakan hamil.


Mendengarkan itu, telah memancing kemarahan Alvin yang cukup besar. Sebab dia sama sekali tidak menginginkan anak dari seorang pria seperti Eiwa, orang yang tak jelas asal-usulnya. Miskin.


Ellea hanya tertunduk pasrah mendengar kemarahan ayahnya itu. Duduk di ranjang sambil bersandar ke headhoard. Tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun.


"Kamu itu, nggak punya telinga ya, El? Sudah berapa kali papa sama mama bilang, kalau kamu itu cuma istri bohong. Kalian akan bercerai, setelah berita ini reda, papa resmi jadi anggota dewan! Ini malah tidur bareng, nikmati beneran," kesal Alvin sambil mondar-mandir satu tangan memijat pelipisnya.


"Jadi perempuan kemayu banget sih, El. Nggak bisa di rayu dikit langsung tunduk. Suami nggak punya apa-apa aja dilayani," imbuh istri Alvin.


"Beneran kan, Pa, apa yang aku bilang waktu itu, kalau Ellea sama suaminya itu lagi enak-enak di hotel, aku sama Arnold aja disuruh pergi. Papa aja yang nggak percaya sama aku, sekarang kalau sudah seperti ini, tau sendiri, kan? Dia hamil, sekarang suaminya nggak tau ke mana, hilang tanpa jejak!"

__ADS_1


Ellea masih menunduk, memang benar selama beberapa hari ini Eiwa tidak bisa digunakan. Dan tidak ada berinisiatif menghubungi Ellea.


"Kamu tau, suami kamu di mana, El?" tanya mama.


Ellea menggeleng.


"Tuh kan, Pa. Dia aja nggak tau di mana suaminya."


"Mungkin Abang Eiwa sedang di daerah yang susah sinyal, nanti dia pasti hubungi El. Lagian El yakin, kalau Abang Eiwa nggak akan pergi ninggalin jauh. Pasti karena ada satu sebab," ucap Ellea berusaha membela sang suami.


"Pa, mama nggak mau ya, sudah besarkan anak dari hasil perselingkuhan kamu, sekarang harus besarin cucumu juga. Mama pokoknya nggak mau!"


"Tenang dulu ma, papa akan cari solusi." Alvin berpikir keras beberapa saat. Hingga kemungkinan menemukan sebuah ide.


"Bagaimana kalau begini saja, El. Papa nggak ada pilihan lain, sebagai orang yang sudah membesarkan kamu sampai sekarang. Papa ingin lihat kamu sukses dan berhasil, bukan jadi seorang ibu rumah tangga seperti ini, apa lagi suamimu seperti itu. Sebelum bayi kamu besar, papa mau kamu gugurin saja. Papa ada kenalan, besok aku antar ke sana," ucap papa Alvin.

__ADS_1


"Astaghfirullah Papa!" bentak Ellea baru kali ini dia membantak ayahnya itu. "Ingat dosa, nggak? Nggak akan kulakukan ide gila itu pa, aku nggak mau!" tolaknya.


"Nggak usah keras kepala, ini demi masa depan kamu, papa akan kirim kamu ke Australia atau ke mana, buat nerusin kuliah. Kamu akan jadi dokter hebat dan akan mendapatkan suami yang lebih baik dari pada pengawal itu." Alvin terus saja bersikukuh.


"Menjadikan kamu Dokter adalah cita-cita papa selama ini. Maka aku tidak akan membiarkan kamu jadi orang tidak berguna begini. Besok aku akan bawa kamu."


"Kalau Ellea bilang nggak ya, nggak! Mau dipaksa bagaimana pun, Ellea tetep sama pendirian. Selain tidak mau kehilangan anakku, perbuatan menggugurkan kandungan itu juga dosa besar, papa istighfar, Pa!"


Berdebatan di dalam kamar itu berlangsung alot. Kekeh dengan pendiriannya masing-masing. Tetapi Ellea terus memohon, untuk papa mengubah keputusannya.


"Baik saja setuju, kamu mempertahankan bayi itu, tapi kamu harus mengakhiri hubungan dengan Eiwa. Papa bisa cari suami yang lebih baik dari dia," ucap papa Alvin.


Ellea tak menjawab.


"Ini keputusan yang sudah papa ambil, suka tidak suka kamu harus memilih salah satunya. Mempertahankan anak itu, atau mempertahankan suamimu?" tanya Alvin sambil menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2