Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Yang Sebenarnya


__ADS_3

Eiwa Gunadhya pria berusia 30 tahun memiliki tinggi 180 cm, berkulit putih yang ditumbuhi bulu-bulu lebat di permukaan, hidung mancung dan sorot mata tajam, anak pertama dari Bramantyo Santoso dengan istri pertamanya yang bernama Renita Anggi.


Setelah enam tahun berada di Dubai kini akhirnya, setelah kehilangan kekasih yang amat sangat dia cintai untuk selama-lamannya.


Eiwa Gunadya baru memijakkan kakinya ke negara yang telah membesarkan dirinya yaitu, Indonesia. Selama ini, ia terlalu betah tinggal di Dubai, yang mendapatkan julukan kota para Sultan.


Ia tengah menggeluti bisnis startup yang sedang jaya-jayanya. Iyesdoc adalah aplikasi teknologi di bidang kesehatan, selain di Dubai perusahaan miliknya juga beroperasi di Indonesia.


Niatnya untuk mengubur kenangan bersama kekasih—Erlina Pramudya, terpaksa ia elakkan kala mendapat tugas dari sang ayah—


Bramantyo, merupakan seorang Direktur Utama PT Radiant Earth sebuah perusahaan batubara. Tak perusahaan pertambangan saja, Bramantyo juga memiliki perkebunan kelapa sawit di daerah Kalimantan.


Bram memberi tugas Eiwa untuk menjadi bodyguard Alvin, sebagai topeng penyelidikkan, tentang kecurigaan Bram pada Alvin yang diduga melakukan penggelapan dana perusahaan. Pihak perusahaan juga curiga kalau Alvin terlibat di kelompok organisasi tertentu, yang melakukan pengaliran dana gelap ke pihak terkait. Terindikasi banyak kecurangan yang Alvin lakukan, tapi dibungkus rapi oleh bawahnya itu. Total kekayaan dan jumlah pendapatan yang dimiliki sangat berbeda jauh.


"Sekarang?"


"Iya iyalah, Wa, masa dua lima tahun lagi."


"Papa beneran mau cari tahu tentang Alvin Wicaksono?"


"Kamu ini, kalau ngomong di replay melulu."


Huh! Belum juga Eiwa menyandarkan punggungnya, Papa Bramantyo sudah menjelaskan banyak tugas yang harus ia selesaikan.


Ayah Eiwa adalah Direktur Utama PT Radiant Earth sebuah perusahaan batubara. Tak perusahaan pertambangan saja, Bramantyo juga memiliki perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.


Karena itulah, Bramantyo sangat jarang berada di rumah.


Banyak orang beranggapan di luar sana, ayah Eiwa itu, kalau harta dari keluarga Bramantyo Gunadya tidak akan habis walau dimakan tujuh turunan.


Jiwa pembisnis yang dimiliki, tampaknya menurun pada Eiwa. Yang kini sedang mengelola sebuah peternakan di Pennsylvania, Amerika.


Eiwa juga merambah bisnis investasi property. Terpisah dengan kedua orang tuanya, membuat Eiwa hidup mandiri, memulai semua proses dari awal.

__ADS_1


"Ini kesempatan bagus, Eiwa. Keluarga Alvin saat ini sedang butuh seorang bodyguard. Dia mendapatkan ancaman dari orang-orang yang tidak diketahui. Kamu harus bisa masuk ke dalam keluarga itu," ucap Bramantyo menggebu-gebu.


"Jadi bodyguard? Papa nggak salah sebut? Kira-kira pa, kalau ngasih tugas.


"Enggaklah, ini udah papa pikirkan masak-masak sebelum telepon untuk dan menyuruh pulang."


Eiwa menghela napas. Cukup berat, selama ini ia paling tidak suka bekerja dengan orang lain, ia bahkan memilih membuka usahanya di luar negeri.


Eiwa tidak terbiasa disuruh-suruh. Harus masuk ke dalam kehidupan keluarga Alvin yang memiliki jabatan di PT Radiant Earth sebagai Chief Operating Officer tingkat di bawah Bramantyo.


"Kenapa ga suruh orang-orang papa aja buat lakuin ini semua? Atau laporkan langsung ke pihak terkait untuk diselidiki lebih lanjut, mungkin."


"Jangan Wa, ini masalah sensitif. Alvin nggak kenal kamu, selama ini dia tau hanya Arumi. Kesempatan buat kamu untuk menyelidiki orang itu, dugaan penggelapan dana perusahaan yang dia lakukan apa betul apa tidak, masih samar-samar. Nanti setelah terkumpul semua bukti-bukti yang kuat, barulah papa akan bertindak, di situ dia nggak akan bisa ngelak lagi."


"Walau berat, dengan terpaksa aku mau nurut sama permintaan papa. Ya, hitung-hitung balas budilah, karena sebulan lalu, papa sudah pernuhi permintaanku dengan enggak nikah lagi sama Janeet. Semoga setelah ini papa nggak ada niatan buat nikah lagi. Istri papa sudah dua, walau pun mampu menafkahi lahir dengan harta papa yang banyak. Seenggaknya papa sayangi kesehatan sendiri, karena kalau kebanyakan istri bisa-bisa papa kena gejala ginjal dini lho. Udah, dua aja cukup jangan nambah lagi! Ikuti program pemerintah."


"Kamu itu mengada-ada, Wa. Mana ada konsep banyak istri menyebabkan gejala gagal ginjal."


"Harta papa nggak akan habis, Wa. Kamu tenang aja, buat hidupin anak cucu sampai anaknya buyutmu pun nggak akan habis. Bahkan buyutnya tetangga-"


"Nggak habis juga harta papa buat nanggung kehidupan para tetangga?"


"Enggaklah. Ya mereka sendiri yang nanggung. Papa cuma mau nambahin kalimat aja," ucap Papa.


Eiwa menggeleng terkekeh sambil menyandarkan kepala ke belakang.


"Seharusnya kamu malu sama papa, Wa. Papa gampang banget dapat cewek, sedangkan kamu, satu aja nggak ada, sama mang Kanan aja kalah. Lama di Paris udah dapat cewek belum? Bule gimana rasanya?" tanya papa menggoda Eiwa.


"Sudah kasih aku tugas konyol. Jangan tambahi sama pertanyaan-pertanyaan gila lagi, Pa." Eiwa mengusap-usap wajahnya sendiri.


"Ya udah, mending kamu siap-siap masuk ke agency penyedia bodyguard. Papa udah hubungi Hendri, kamu hubungi aja nomernya kalau bingung tempatnya."


"Papa mau ke mana habis ini?" tanya Eiwa.

__ADS_1


"Mau ke rumah mami Wita. Udah lima hari papa nggak ke sana. Kangen banget sama adekmu Nur, kamu kapan-kapan ke sana dong Wa, kenalan sama mamimu. Dia orangnya ramah lho, jadi istri kedua pun dia nerima."


"Ogah Pa, mending ke kandang ayam, dari pada ke rumah istri kedua papa."


Papa Eiwa ini, tak ada nyerah-nyerahnya mencoba memperkenalkan Eiwa pada istri mudahnya. Padahal, Eiwa terus saja menolak. Baginya, Mama Renita lah satu-satunya wanita terbaik di dunia.


Namun, semenjak kedatangannya ke rumah Alvin dan dipertemukan dengan Amora yang mirip dengan almarhumah kekasihnya,


Eiwa merasa Amora adalah miliknya, ia tidak akan terima jika seoarang pun mencoba menyentuhnya.


Bahkan telah berani memukul habis-habisan Arnold—pacar Amora yang berprofesi sebagai aktris terkenal. Saat mereka saling bercumbu di ruang balkon rumah.


Semenjak kejadian malam itu, Amora memiliki dendam kesumat pada Eiwa, sebab gara-gara Eiwa, Arnold telah marah dan memblokir sosial mediannya.


Namun, satu malam sikap Amora berubah. Saat tiba-tiba perempuan itu menelepon Eiwa dengan nada lembut, memintanya untuk segera datang ke salah satu hotel berbintang lima di kawasan Jakarta, tempat di mana Amora berada.


"Ay tunggu ya, jangan lama-lama, udah nggak sabar...." bisik Amora dari telepon.


Akhirnya Eiwa bisa memetik buah kesabarannya selama ini mencintai Amora, tentu saja ia senang luar biasa. Dengan perasaan menggebu-gebu memakai pakaian rapi menunjukkan siapa dia sebenarnya, sambil membawa sebuket bunga dan cincin berlian datang ke hotel. Ia akan langsung melamar Amora.


Perasaannya sungguh tak bisa didekripsikan dengan kata-kata, Amora ingin bicara dengan nada sangat lembut, sudah merupakan effort terbesar bagi hatinya. Walau status Eiwa selama ini hanya sebagai bodyguard dari ayahnya Amora akhirnya memberikan sinyal lampu hijau.


"Ternyata Amora mau menerima, walau status saya hanya sebagai bodyguard. Kamu akan menjadi wanita paling bahagia Amora, setelah menjadi milik saya."


Eiwa begitu bersemangat membuka pintu kamar bernomor 507 kini dalam keadaan gelap gulita. Ia masih berdiri menenangkan degup jantungnya yang memacu cepat. Ia merasakan tubuh ramping seorang perempuan memeluknya dari belakang. Ya, itu pasti Amora, aroma farfumnya sama.


“Kenapa harus menggunakan cara seperti ini, Amora?” tanya Eiwa mengerutkan dahi.


Perempuan itu berpindah memeluk dari depan sambil menyodorkan satu gelas minuman.


“Napasmu terlalu memburu, sebaiknya kamu minum dulu,” ucapnya menyuapkan gelas berisikan minuman ke bibir Eiwa.


Saat matanya terpejam itulah, semua terjadi. Hal yang mengubah kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2