Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Malu-maluin di Kampus


__ADS_3

Eiwa gelagapan ketika tiba-tiba disiram seember air oleh Lusia, pakaian dan atas ranjangnya bayah kuyub karena ulah ibu sambung Ellea ini.


Hampir saja Eiwa lupa, akan marah hingga kemudian ia tersadar secara perlahan mengendurkan kepalan tangannya yang berangsur terbuka.


“Baru beberapa hari jadi mantu, sudah memperlihatkan sisi busuknya, ya? Ini, kan, tujuanmu awal. Tidur-tiduran sepanjang hari,” ucap Lusia sambil berkacak pinggang menunjuk-nunjuk muka Eiwa.


“Masuk ke dalam rumah, kenapa tidak mengetuk lebih dulu, Ma?” tanya Eiwa sambil meraup wajahnya yang basah.


“Ngetuk kamu bilang? Memang ini rumah siapa? Rumah pemberian bapak kamu?”


“Bukan,” ucap Eiwa.


“Suami saya saja yang bergelimang harta, nggak pernah tidur-tiduran kayak kamu begini. Emang ya, jiwa miskin, maunya tidur-tiduran melulu! Udah, buruan bangun! Bantuin Parjo beresin taman!”


Padahal Eiwa beristirahat sudah meminta izin pada Alvin sebelumnya. Itu pun karena ia merasakan kurang enak badan. Eiwa pun membantu Parjo merapikan taman belakang, ia memotong tanaman yang sudah memanjang, kemudian menyiram dengan air.


“Sudah jam tiga, sekarang waktunya non Ellea pulang dari kampus. Ini semua biar saya saja yang terusin, mending kamu jemput non Ellea,” ucap pak Parjo.


Memang benar, sekarang urusan Ellea adalah tanggung jawab Eiwa. Jika dulu, Ellea selalu dijemput dengan mobil mewah, sekarang Eiwa menggunakan sepeda motor supra dengan suara menderu datang ke kampus sampai beberapa pasang mata menatapnya.


Hal itu wajar saja, sebab kampus Ellea adalah kampus elite mayoritas orang yang belajar di tempat ini adalah kalangan menengah ke atas.


Eiewa berhenti tepat di deretan mobil-mobil khusus mahasiswa menungu Ellea di depan pagar. Tatapan security terus saja mengarah padanya.


“Sore, Pak?” Eiwa menyapa sambil tersenyum sopan.


“Masnya ini mau apa, ya? Dari tadi mondar-mandir di depan sana?” Security tersebut menatap Eiwa penuh dengan curuga.


“Saya mau jemput istri saya, Pak?”

__ADS_1


“Siapa?”


“Ellea Nafisah-“


“Hah? Non Ellea Nafisah anak pak Alvin? Kamu suaminya?” Tatapan security itu kembali bergerilya melihat penampilan Eiwa dari atas sampai bawah.


“Kenapa dengan penampilan saya, Pak? Ada yang aneh, ya?” Eiwa menggeleng terkekeh.


“Bukan, saya hanya tidak percaya saja kalau kamu adalah suami non Ellea, kayak nggak mungkin gitu rasannya.”


“What? SUAMI ELLEA??” Mira—teman satu jurusan dengan Ellea terkejut saat mendengar security bicara. “Ih, yu! Muka tampan sih, tapi… kalau tunggangannya nggak deh, ternyata Ellea murahan, ya? Hahaha!” serunya dengan teman-temanya.


Eiwa tidak ingin mengambil hati perkataan pak security dan teman-teman Ellea, sebab memang tidak sewajarnya kalau gadis seumuran Ellea harus menikah dengan pria seperti dirinya. Sangat disayangkan. Terlebih lagi status pekerjaan dirinya yang hanya sebagai security.


Ellea yang mendengar ucapan mereka dari belakang nyelonong maju menyenggol bahu Mira. Tanpa basa basi ia langsung naik ke atas motor sang suami.


“Kita langsung pulang, atau mau ke tempat lain?”


“Mau pulang, Buk? Hati-hati, ya! Hati-hati di jalan kalau sewaktu-waktu roda motornya lepas, hahaha!”


Mira dan teman-teman puas banget ketawain Ellea dan Eiwa bahkan saat pasangan suami istri itu tidak ada. Mereka masih saja menertawakan.


...****************...


“Abang ngapain, sih, pakai datang kampus Ellea segala, Bang?” Sampai di rumah Ellea yang baru melepaskan tasnya, langsung saja protes pada Eiwa.


“Ya mau jemput kamu, El? Masa istri dibiarin pulang sendiri?”


“Harusnya nggak usah, Bang, Ellea bisa pulang sendiri. Naik angkot, naik ojol kan bisa.”

__ADS_1


“Kamu malu, kalau abang jemput?”


Bicara Ellea mendadak kaku. “Bu-bukan begitu-“


“Itu, kan, malu.”


“Bukan gitu, Abang… tapi El tau bagaimana sikap orang-orang di kampus itu. Mereka itu akan langsung nyeletuk kalau ngomong, El Cuma kasian sama Abang, karena pasti jadi bahan ejekan mereka.”


Eiwa merasa terenyuh mendengarkan penuturan Ellea. Tatapannya tak berhenti menatap wajah sang istri yang harus dia nikahi sementara ini.


“Ya udah, Bang, keluar dulu sana!”


“Kenapa?” tanya Eiwa.


“Aku mau ganti baju.”


“Ganti aja, akum au lihat.” Eiwa seketika terdiam saat menyadari ia salah bicara terlalu keceplosan. Ia malu sendiri. “Maaf.”


Begitu pun dengan Ellea yang sekarang menundukkan pandangannya malu. “Oke, tapi abang harus keluar dulu.”


“Kalau aku nggak mau gimana?” Eiwa justru duduk di tepi ranjang menjadikan kedua tangannya sebagai sandaran ke belakang.


“Harus mau dong, Ellea nggak mau pokoknya ganti baju dilihatin. Abang kamu harus keluar.” Tidak mau menunggu lama, Ellea menarik satu tanggan Eiwa memintannya keluar. Dengan seluruh tenaga nya.


Namun, Eiwa justru mengeraskan niatnya. Sehingga membuat Ellea kesulitan menarik.


“Tarik aja kalau bisa. Emang kuat?” Eiwa justru menantang Ellea. Justru melipat kedua tangan meremehkan.


“Oke kalau itu mau abang.”

__ADS_1


“Eh, El, El….” Eiwa terkejut tiba-tiba Ellea mengangkat badannya membawa ke luar. Setelah sampai di depan pintu Eiwa akan masuk tiba-tiba pintu tertutup dan dikunci.


__ADS_2