Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
SAH Sesah-sahnya


__ADS_3

Ellea menautkan kedua tangannya memanjatkan doa saat proses akad nikah berlangsung. Namun, pikirannya berkelana ke mana-mana, kuliah dan bagaimana kehidupan setelahnya. Ada banyak tugas yang harus dia kumpulkan ke dosen siang ini, tapi ia justru terjebak di pernikahan ini.


Ia telah menyiapkan hatinya, menerima segala tentang norma pernikahan. Dalam hitungan detik ia akan terikat dalam pernikahan, Ini hari yang sakral saat dua insan saling disatukan.


Setelah menikah, berlakulah hak dan kewajiban yang tidak dimiliki sebelumnya.


Segala sesuatu yang melekat pada pasangan mesti diterima satu sama lain. Sedangkan kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dilakukan.


Salah satu upaya untuk membangun dan menjaga keharmonisan tersebut adalah dengan menunaikan hak dan kewajiban.


Dengan begitu, Ellea harus sadar akan kewajibannya. Memelihara dan menjaga kehormatan diri dan keluarga serta harta benda suami.


Hal ini sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. An-Nisa 34, “Wanita salihah adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka.”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAH!”


"Alhamdulilah...."

__ADS_1


Ellea seketika tersadar dari lamunannya. Kala penghulu dan Eiwa sudah selesai berjabat tangan. Ia telah resmi menjadi seorang istri, di usianya yang baru dua puluh tahun.


Doa dipanjatkan untuk meminta keberkahan dalam pernikahan mereka. Menjadi pasangan yang sakinah mawadah dan warahmah.


“Aamiin....”


Seru orang-orang yang duduk di belakang Ellea dan Eiwa. Tak banyak orang yang hadir dalam pernikahan sembunyi-sembunyi ini, hanya orang yang bekerja di rumah dan penghulu dan dua orang dibawa. Mereka sama-sama memanjatkan doa hingga selesai.


“Baik, mulai sekarang kalian berdua sudah sah, pihak istri silakan cium tangan suaminya.”


Eiwa melihat tangan Ellea gemetar saat diangkat menyematkan cincin ke jarinya. Dingin seperti es batu ketika bersalaman kemudian mencium tangannya.


“Nggak apa-apa, nggak usah khawatir ya. Semua pasti baik-baik saja,” bisik Eiwa di dekat telinga Ellea sambil mengusap-usap punggungnya lembut.


Eiwa melirik Amora yang kini berdiri di belakang Ellea. Menyeringai ke arahnya seolah-olah merasa menang dengan permainan yang dia ciptakan sendiri.


“Selamat… selamat… akhirnya, kalian berdua resmi jadi suami istri!” seru Amora mencairkan suasana,


“Kalian semua para pelayan, boleh makan sepuasnya, semau kalian! Ya hitung-hitung sebagai perayaan, karena teman seprofesi kalian sudah berhasil nikah sama adik saya nona rumah ini!” Amora sangat bersemangat memberi perintah pada pelayan yang masih takut-takut.

__ADS_1


“Salah satu dari kalian, ay peringatin ya, kalau mau kaya itu kerja, bukan justru ngerusak kehidupan orang!”


Para pelayan itu hanya tertunduk tidak ada yang berani menjawab atau bergerak-gerak. Mereka seolah-olah ikut menanggung kesalahan yang dilakukan olej Eiwa.


“Saya tau, ini pasti rencana kamu kan, biar jadi menantu di keluarga ini? Dasar nggak tau diri itu orang seperti kamu ini,” ucap Lusia menunjuk-nunjuk Eiwa.


“Sampai kapan pun, pokoknya aku nggak akan pernah anggap kamu sebagai mantu, posisi kamu sebagi kacung ya tetap kacung!”


Lusia mengomel-ngomel menolak salaman dari Eiwa dan Ellea, ia berjalan masuk ke kamar kemudian menguncinya rapat tidak keluar lagi.


Sedangkan tak bersuara apa pun setelah acara selesai. Langsung naik ke atas masuk ruang kerja sampai malam hari.


Sangat konyol, dalam hitungan jam tiba-tiba kini Eiwa telah resmi menjadi seorang suami. Hal yang tidak pernah ada dalam bayangan kepalanya.


"El, kamu nangis?" tanyanya saat melihat Ellea duduk di kursi balkon menatap pemandangan sekitar, komplek perumahan elit.


"Ya gimana Ellea nggak nangis, Bang. El itu sama sekali nggak siap buat nikah," ucapnya.


"Apa lagi nikah sama cowok seperti saya ya, El? Sudah tua, miskin pula," ujar Eiwa sambil terkekeh.

__ADS_1


"Bukan itu maksud El, Bang, bukan. Tapi ini soal masa depan, El, masih harus menempuh perjalanan panjang, mesti kuliah dan kalau udah nikah gini, nggak mungkin kan, El main pergi-pergi aja dan ngelakuin sesuatu sesuka hati?"


"Tenang aja, kamu boleh ngelakuin apa pun kok. saya pasti izinkan kamu," ucap Eiwa sambil tersenyum.


__ADS_2