Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Bukan Menantu Pilihan


__ADS_3

Eiwa sedang bertugas mengawal Alvin di kota Bangka, yang sedang melakukan pertemuannya dengan salah satu pejabat di sana. Jamuan berlangsung mewah, tamu-tamu yang diundang pun dari kalangan ke atas.


Eiwa yang sedang berjaga-jaga di luar pun mencari kesempatan mengambil ponselnya kemudian sesekali jika ada yang penting dia rekam atau foto. Jika polahnya mencurigakan, Eiwa berpura-pura mengajak selvie orang tersebut.


“Kita foto bareng gimana?” tanyanya mengalihkan kecurigaan. “Ibu saya di kampung pengan sekali melihat foto saya ketika sedang bekerja.”


Namun pria di sampingnya masih saja menunjukkan sikap tidak percaya.


Eiwa tetap saja memaparkan layar ponselnya memotret mereka berdua. Tapi bukan gambar dia sendiri dan orang berbadan besar tersebut, melainkan ia menyempatkan memotret Alvin yang sedang bicara bersama rekannya akrab.


Satu orang pengawal menepuk pundak pria berbadan besar tersebut kemudian berbicara nyaring. “Kamu dicariin sama pak Dani! Ditunggu di loby, cepetan!” teriaknya.


Pria badan besar itu langsung mengangguk kemudian berlalu pergi.


“Maaf ya, Mas, teman saya tuli jadi saya harus teriak-teriak kalau ngomong,” ucap pria satu lagi.


Jadi dari tadi Eiwa berpura-pura, karena pria badan besar itu diam dan seolah-olah curiga itu salah.


“Selain tuli teman saya tadi juga nggak bisa ngomong, Mas. Cuma bos saya kasian, jadi masih dipekerjakan.”


Eiwa diam saja sambil mengamati situasi sekelilingnya. “Siapa nama atasanmu?”


“Pak Handoko, beliau orangnya baik, dermawan suka membantu kalau ada orang kesusahan.”


Eiwa pernah mendengar nama Handoko, yaitu pria yang memiliki putri yang berniat akan dijodohkan dengannya oleh Bramantyo enam bulan lalu.


Namun belum juga mereka bertemu, Eiwa sudah menolak perjodohan tersebut. Di jaman modern seperti ini, tentu saja ia tidak sudi.


Ketika bicara, handphone Eiwa bergetar, mendapat chat dari Ellea.


Ellea: Malam ini abang pulang jam berapa?


Cepat-cepat Eiwa mengetik balasan. [Kayaknya aku belum bisa jawab, soalnya papa sibuk banget. Bisa jadi nginep di sini, pulang besok.]


Ellea: Yah….


Entah kenapa jawaban singkat Ellea membuat Eiwa merasa tidak enak. Ia merasa Ellea sedang merindukan dirinya. Seperti halnya dia sendiri. Dari tadi dalam ingatannya terus saja terbayang-bayang senyuman Ellea yang seperti candu baginya.


Sejak tadi ia melihat para perempuan lewat mondar-mandir, tapi baginya tidak ada yang secantik Ellea, istri kekanak-kanakkannya.


“Dia siapa?” tanya pria rekan Alvin. Sejak tadi terus saja memperhatikan Eiwa.

__ADS_1


“Orang suruhan, yang biasa ngawal saya ke mana-mana. Tau sendiri kan, keamanan saya akhir-akhir ini tidak baik-baik saja,” balas Alvin.


Eiwa tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala pada pria yang seperti mengenalnya itu.


“Seperti pernah lihat, tapi di mana, ya?”


“Mungkin karena kebetulan saya mirip dengan seseorang, Pak,” jawab Eiwa.


“Iya, bener, mungin kebetulan, kalau nggak salah waktu itu, aku lihat foto yang mirip kamu itu, di rumah... hemm... siapa ya? Ah iya, di rumah Pak Bramantyo!”


Tatapan Alvin langsung mengarah pada Eiwa.


“Ah bapak bisa saja, mana mungkin saya mirip sama foto di rumah pak Bramantyo. Mungkin bapak salah lihat kali?” Eiwa ketar ketir melihat ekspresi Alvin di sampingnya.


“Apa iya ya? Mungkin iya. Sudah lupakan saja, lagi pula mana mungkin pegawai rendahan seperti kamu mirip sama anak pak Bram.” Pria itu mengibakan tangan mengabaikan perasaannya sendiri.


“Nggak mungkinlah, kamu tahu, aku dapetin dia dari mana? Dia itu dari kampung pedalaman gitu, Cuma kebetulan saja keturunannya kulit putih. Jadi masih bisa ketolong,” sahut Alvin.


“Satria, Eiwa, kita langsung pulang ke Jakarta sekarang, karena saya masih ada pertemuan dengan pak Wijaya,” imbuhnya kemudian berjalan lebih dulu.


***


Sepulang dari Bangka bertugas mengawal Alvin lagi ke hotel. Kemudian berlanjut ke rumah Bramantyo, menyerahkan bukti-bukti yang sudah dia kumpulkan susah payah.


“Nggak mau minum dulu, Wa? Mama buatin kopi, teh atau susu mungkin?” tanya Mama Renita.


Sebab melihat Eiwa kecapean.


“Nggak usah Ma, aku mau langsung balik, udah malam, ngantuk banget pengen istirahat,” tolak Eiwa.


“Nggak mau dibuatin kopi?”


Eiwa menggeleng. “Nggak perlu, di sana sudah ada yang nyediakan susu.”


Bramantyo seketika menoleh sambil berdecak.


“Bagus Wa, kamu sudah ngumpulin bukti banyak, sedikit lagi, papa bisa nangkap Alvin dia nggak bisa ngelak lagi,” ucap Bramantyo.


Eiwa melirik malas mendengar penurunan sang papa.


“Setelah tugas ini selesai, kamu boleh lakukan apa pun sesuai keinginan kamu. Mau kembali ke Dubai, atau mau ke Amrik, terserah, bebas.”

__ADS_1


“Aku nggak akan ke mana-mana, karena di sini aku sudah nemu, rumah nyaman.”


“Terserah kamu. Silahkan.”


Bramantyo membebaskan apa yang dilakukan oleh Eiwa. Apa saja.


Namun Bramantyo sedikit keberatan atas pernikahan Eiwa dan Ellea. Hal itu wajar sebab status Ellea adalah anak dari pria yang terindikasi melakukan manipulatif keuangan perusahaan.


Semenjak diterimanya data-data yang didapatkan oleh Eiwa, sikap Bramantyo menjadi berbeda pada Alvin.


Bram lebih sering datang ke kantor untuk mengecek update data perusahaan.


“Tumben banget Pak, biasanya minta updatean satu bulan sekali, sekarang jadi dua hari sekali,” ucap Alvin sambil berkeringat dingin.


“Karena saya mencium ada yang tidak beres di sini. Tugas kamu Cuma memperhitungkan semua, kalau kamu jujur tidak usah takut,” ucap Bram.


“Sa-saya jujur, jadi buat apa harus t-takut,” ucap Alvin sambil mengusap tengkuknya sendiri.


“Bagus, sekarang berikan datanya pada saya.”


“Data pak?”


“Kamu tidak dengar?” tanya Bram tegas.


“Sebentar pak, karena jaringan kurang bagus, jadi Rini akan sedikit terlambat mengirim updatean datanya.”


Sambil menunggu Rini si asisten pribadi Alvin. Alvin diminta menunggu di ruangan pribadi Bram. Selagi mereka duduk di satu ruangan bersama. Bram menanyakan perihal peristiwa pernikahan Eiwa dan Ellea.


“Jujur saya juga sangat malu dengan kejadian ini. Mau gimana lagi, nggak ada pilihan selain nikahkan mereka berdua. Walau anak saya calon dokter harus punya suami pria nggak berguna macam Eiwa.”


Bram manggut-manggut mendengar curahan hati Alvin. “Jadi setelah ini, apa rencana kamu?” tanyanya.


“Rencananya sih, nggak lama lagi, saya akan minta mereka buat pisah. Karena saya merasa, putri saya layak mendapatkan yang terbaik, bukan pria seperti bodyguard saya yang gak berguna itu.”


“Jadi kamu nggak suka sama menantu sekarang?” Bram terus saja sengaja memancing.


“Sama sekali nggak suka. Buat apa pria model dia? Paling buat pajangan doang, itu pun masih kalah sama guci di rumah saya.”


“Oh begitu rupanya?” Bramantyo manggut-manggut lagi.


"Iya, coba bayangkan sendiri. Seandainya anak bapak menikah sama orang bawahan, apa bapak setuju? Nggak mungkin, kan? Begitu pun dengan saya, sebagai seorang ayah, pasti selalu ingin yang terbaik buat anaknya. Dan punya suami kaya adalah satu-satunya."

__ADS_1


__ADS_2