
“Elleea! Astagfirullah… Ellea… dari tadi gue panggil-panggil lo kenapa nggak nyaut. Itu kuping atau pajangan toko?” Lira langsung saja duduk di samping Ellea. Setelah meletakkan buku di atas meja.
“Eh, gimana-gimana? Gue salut banget sama lo tau, nggak?”
Ellea sudah tau pembahasan teman baiknya itu ke arah mana. Pasti tentang pernikahannya dengan Eiwa.
“Gue salut banget sama keluarga lo tau, nggak. Padahal keluarga kaya, bergelimang harta. Tapi masih saja mendulukan akidah, demi menghindari lo pacaran bahkan beliau langsung nikahkan lo sama laki-laki yang bertanggungjawab dan soleh, tanpa memandang status materi suami lo. Gue bener-bener salut pokoknya, jarang banget di jaman sekarang nemu keluarga begitu lho, El.”
Sepanjang perjalanan Lira terus saja mengomel membicarakan pernikahan Ellea dan seorang bodyguard. Bukan hanya Lira teman saja, tetapi orang-orang seantero kampus pun ikut-ikutan.
Bahkan dosen pembimbim memanggilnya ke ruangan, mengintrogasi. Dengan tatapan tajam dari balik kaca mata yang merosot sampai ke ujung hidung.
“Jadi berita itu bener, Ellea?” tanyanya mengonfirmasi sekali lagi.
Ellea mengangguk membenarkan. “Bener pak,” jawabnya.
“Terus gimana sama kuliah kamu?”
__ADS_1
“Saya akan terus kuliah seperti biasa, Pak. Kebetulan suami saya juga mengizinkan saya buat ngelanjutkan kuliah.”
Dosen Andika yang selama ini perhatian pada Ellea itu manggut-manggut. Walau wajahnya sedikit kecewa dia mempersilahkan Ellea keluar dari ruaangannya. Diam-diam saat tidak ada orang menoleh ke kanan dan kiri sambil menarik tisu kemudian digunakan mengusap matanya.
Ellea menghela napas berjalan beriringin bersama Lira dan Nola, rasanya hari ini seperti tidak ada topik lain. Ia bahkan bosan terus menerus menjawab pertanyaan yang sama.
“Kalian dari mana?”
“Dewa, kapan balik?”
Dewa tersenyum. “El, gue minta salinan materi anatomi dong, kata pak Wiga gue harus ngumpulin sabtu nanti,” pintanya.
“Settt… udah jangan diceritain lagi, aku capek jawabin orang-orang dari tadi,” bisik Ellea sambil menggandeng tangan Lira.
Dewa adalah cowok yang paling keren di kampus, “itu menurut teman-teman Ellea” selama ini berbagai cara mereka lakukan untuk bisa berdekatan dengan Dewa. Akhir-akhir ini Dewa sudah mulai akrab dengan mereka, sebab ada Ellea yang menarik hatinya.
Bahkan seminggu yang lalu sebelum pergi ke Singapura, Dewa meyatakan isi perasaannyaa pada Ellea. Akan tetapi hingga detik ini belum mendapat balasan dari gadis berkulit putih hidung mancung memakai hijab itu.
__ADS_1
“El, jangan pulang dulu. Ada yang kumongin sama kamu,” ucap Dewa.
Mereka berdua kini duduk di cafetaria yang ada tak jauh dari Kampus Hijau tempat mereka mengenyam Pendidikan. Ellea dan Dewa memesan mocacino ace duduk di out door bersamaan dengan pengunjung lainnya yang sedang menikmati santai sore hari.
“Sudah kubilang Ellea nggak bisa, Wa. Nggak memungkinkan buat semua,” ucap Ellea.
“Tapi alasannya kenapa, El? Kamu sudah ada cowok lain? Atau, ada sesuatu dari diriku yang nggak kamu sukai?” tanya Dewa meminta kejelasan tentang balasan perasaannya.
Ellea menggeleng. “Nggak ada yang kurang sama kamu, Wa. Tapi seperti komitmenku di awal, kalau aku nggak mau pacarana.”
“Terus mau kamu apa? Kita taaruf? Oke, besok aku akan ajukan proposal ke orang tuamu. Kita nikah,” ucap Dewa.
“Weh elah… di sini klean berduaan rupanya, nggak ajak-ajak. Sekali-kali, adek diajak napa Bang? Adek kan, sakit hati," ucap Nola teman Ellea yang memiliki sifat tomboy.
"Kenapa cemburu ya lo? Cemburunya ke siapa? Ellea atau ke Dewa?" tanya Didin yang baru saja datang.
"Masa gitu aja harus dikasih tau, sih? Ya jelaslah cemburu lihat Ellea deket-deket sama Dewa."
__ADS_1
"Hah? Kamu cemburu sama aku? Nggak ah, amit-amit... Astaghfirullah banget deh," ucap Ellea sambil beranjak pergi meninggalkan mereka.