
“Terima kasih pak, sudah menyempatkan datang ke mari. Silahkan menikmati jamuannya, kalau ada sesuatu langsung saja katakan,” ucap Alvin.
“Santai saja.” Bramantyo menjawab dengan berwibawa.
Eiwa melirik malas saat sang ayah tersenyum ke arahnya, tapi tidak menyapa. Ia tetap berdiri tegap seolah-olah tidak mengenal keluarga yang sangat disegani oleh orang-orang di aula tersebut.
Tapi, sikap berbeda ditunjukkan oleh para anak buah Bramantyo—yang mengenal Eiwa jelas. Mereka tertunduk santun kala berhadapan dengan putra pertama Bramantyo. Eiwa tak peduli, ia memalingkan muka.
“Pak Bramantyo sama anak buahnya kenapa dari tadi lihat kamu terus ya, Wa? Apa sebelumnya kamu buat kesalahan?” tanya Satria curiga.
“Nggak peduli gue. Mau mereka lihat sampai mata mereka juling, tetap ga peduli.” Eiwa pergi mengambil botol minuman lalu menuangkan ke gelas.
Sambil menyesap minuman, matanya terus saja mengawasi situasi sekitar. Sangat konyol, bagaimana bisa ia yang tak pernah kekurangan harus menjadi seorang pengawal Alvin.
Hingga kemudian sebuah dehemanan membuyarkan pandangannya. “Kirain siapa,” ucapnya malas.
“Wa, papa mau tanya sama kamu. Apa benar kamu dan anak Alvin sudah menikah?” tanya Bramantyo.
“Siapa yang kasih tau?” tanya Eiwa balik. Melirik orang-orang di sekitar sekolah ingin menghakimi yang berani bicara.
“Tanpa bertanya papa sudah tau apa yang sudah kamu alami selama ini. Eiwa, Eiwa, selama ini Papa kasih kamu tugas untuk menyelediki Alvin. Bukan malah mengawini anak Alvin.”
“Masalah nikah nggak usah direpotkan, Pa, yang penting bukan hamilin anak orang, kan?”
“Benar sih, tapi ini kan menyangkut masa depan keluarga kita.”
“Papa aja sesuka hati nikah sama orang bebas aja.” Eiwa melirik malas.
“Kita perlu bicara serius, Wa. Jadi bener, kamu nikahi anak Alvin?” Bramantyo bicara dengan sangat pelan.
“Iya. Ellea Nafisah, dia resmi jadi istriku.”
“Kamu cinta sama dia?”
Untuk pertanyaan ini Eiwa tidak bisa menjawab.
Ia hanya menyunggingkan bibir seiring dengan kedua pundak terangkat.
Kebetulan Ellea berjalan di depan mereka. Tersenyum canggung pada Bramastyo.
Bramantyo justru menatap menghardik. “Dia adiknya istrimu?” tanyanya.
“Bukan, dia istriku.”
__ADS_1
Bruhss!!
Minuman yang baru saja disesap Bramantyo seketika tersembur.
“Kamu gila? Dia masih anak-anak gitu kamu nikahi?”
“Dia bukan anak-anak. Dia sudah kuliah juga,” jawab Eiwa menggampangkan.
“Iya, tapi kan.” Bramantyo kehabisan kata-kata lagi. Dia hanya menggelengkan kepala. “Terserah kamu ajalah.”
Setelah itu pergi menemui istri keduanya yang masih muda dan cantik jelita. Hal seperti itulah yang Eiwa tidak sukai.
Mama Renita sesekali melirik ke arah suaminya itu. Yang lagi bercanda bersama anaknya yang masih kecil. Sedangkan dia duduk sendiri ditemani satu orang pengawal.
“Ma, are you oke?”
Mama Renita menoleh seketika. “Wa, gimana kabarmu, Nak? Maafkan papamu yang harus kasih kerjaan seperti ini. Mama nggak tega lihatnya, Wa.”
“Lebih nggak tega lagi, kalau Eiwa harus lihat mama menahan sakit berkali-kali karena papa menikah lagi. Sekarang punya istri dua saja sering abai sama mama. Apa lagi kalau tiga?”
“Ehem! Nyonya Renita, ada yang Anda perlukan? Sebab saya melihat Anda bicara dengan pengawal saya begitu dekat.” Tiba-tiba Alvin dan istrinya datang di belakang Eiwa.
Eiwa langsung menjaga jarak mundur beberapa langkah.
“Nyonya Renita hanya bertanya di mana toiletnya, Nyonya Lusia. Saya akan mengantar beliau,” sela Eiwa kemudian mempersilahkan.
“Mari Nyonya, saya akan mengantar Anda.”
Eiwa mengantarkan Mama Renita ke toilet khusus. Walaupun mama Eiwa itu tidak berkepentingan khusus di dalam ruangan tersebut.
“Sesekali pulanglah, mungkin nggak akan apa-apa, karena pasti ada cuti, kan?” tanya mama Renita pelan-pelan.
“Insya Allah kalau ada waktu aku akan pulang, Ma.” Tapi sepertinya akan sulit bagi Eiwa untuk mendapatkan waktu kali ini.
Sebab ada Ellea yang semakin lama, ia semakin tidak bisa jauh darinya.
Setelah dari rumah depan, rumah Alvin, Eiwa dan Ellea pulang ke rumah petak mereka.
Karena sudah larut malam suasana terasa sepi. Ellea menyalakan lampu yang menerangi ruangan, sedangkan Eiwa langsung meletakkan jas di pinggir kursi kemudian melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
Ellea yang berada di dalam satu kamar bersama pria tersebut seketika memalingkan muka, saat kemeja yang membelut tubuh Eiwa tanggal sepenuhnya.
“Ada makanan apa?” Eiwa yang masih telanjang dada membuka tudung nasi di atas meja makan.
__ADS_1
Ternyata kosong.
“Ellea hari ini sibuk banget di rumah mama, jadi maaf, nggak sempat nyiapin makanan buat Abang.” Ellea tersenyum kikuk merasa tidak enak.
Eiwa mengusap perut sixpack nya. “Aduh, laper banget lagi. Coba gofput aja kali ya?” Mengambil hp di atas meja.
“Di dapur masih ada mie soto, gimana kalau El buatin itu aja? Malam-malam dingin gini enaknya makan yang kuah terus dikasih cabe deh kayaknya, dari pada makan yang aneh-aneh, Bang.”
“Boleh deh, kalau kamu nggak capek.” Eiwa menunggu sambil melihat ponselnya.
Selagi Ellea sibuk, ia membuka obrolan dengan ibunya, menggunakan nomor pribadinya.
My Mama: Hujan Wa, petirnya gede banget, mama di rumah sendirian.
Me: Emang papa nggak ada?
My Mama: Tadi katanya nganterin bunda kamu sebentar, tapi sampai sekarang belum balik.
Me: Hemm... coba aku telepon papa.
Eiwa langsung menelpon sang papa setelah membalas chat mama.
Satu, dua, tiga kali.
Bramantyo tidak menjawab panggilannya.
Hingga Eiwa menelpon berkali-kali.
“Akhirnya gerak juga buat ngangkat,” ucap Eiwa menahan kesal.
“Kenapa Wa?”
Bramantyo dengan suara paraunya seolah mengumpulkan kesadaran.
“Sebelum ninggalin mama, kamu bilang apa, Pa?” Eiwa sekuat mungkin menahan kekesalan dalam hati.
“Siapa Pi?” Suara perempuan dengan lemah gemulai semakin membuat hati Eiwa berdesir.
“Papa pulang sekarang, atau aku akan jemput ke rumah istri mudamu itu?” tegas Eiwa giginya saling terkatup karena menahan amarah.
“Iy-iya... pa-pa akan pulang, mungkin sebentar lagi.” Suara Bramantyo terdengar mengalun seperti sedang mengangkat beban.
“Sekarang. Dalam waktu lima belas menit papa harus sampai rumah!”
__ADS_1
“S-sebentar kenapa, Wa, Papa sudah mau selesai....”