Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Malam Sangat Indah


__ADS_3

"Besok kamu libur, kan?"


Ellea mengangguk.


Kesempatan! Batin Eiwa sambil tersenyum.


Melihat sang istri yang terlihat gugup, Eiwa tak cepat mengambil tindakan. Kejadian Arnold dan Amora huru hara baru saja tentu mengusik pikiran Ellea.


"El, kamu suka nonton nggak?"


"Suka nonton Drakor aja sih, biasanya, Bang. Abang mau nonton sama aku? Ini aku tunjukkin drama bagus." Ellea duluan mengambil remote lalu menyalakan televisi.


Sedangkan Eiwa duduk dengan kaki lurus, punggung bersandar pada head board.


"Ya nggak Drakor juga, El. Gimana kalau nonton film Indonesia? Ini bagus deh, kayaknya soal ketaatan seorang istri walau dimadu."


"No, no, Ellea nggak suka film begituan. Bikin kita sakit hati, terus nanti over thinking sama abang, mau?"


"Gimana kalau nonton horor?" usul Eiwa lagi.


"Ih, lihat muka comeng aja El takut, masa diajak nonton begituan, Bang?"


"Lalu nonton apa kita?"


Ellea mengangkat kedua pundaknya. "Nggak tau."


Mereka kebingungan karena perbedaan keinginan akhirnya memutuskan untuk mematikan televisi yang sudah siap mereka tonton itu.


Duduk berdampingan keduanya saling menatap. Sama-sama tersenyum. Ellea segera memalingkan muka.


"Kita tidur aja bagaimana?" tanya Eiwa.


"Di sini, berdua?" tanya Ellea.


Mungkin karena selama ini mereka biasa tertidur di tempat yang berbeda.


"Ya iyalah, Sayang... mulai malam ini kita berdua satu ranjang."

__ADS_1


Ini kali pertama Eiwa memanggil Ellea dengan sebutan sayang. Ellea merasa jantungnya seperti ditabuh. Memang ya, kalau laki-laki "ada maunya" bisa aja.


"Dari pada kita belum ngantuk, bagaimana kalau kita main game?"


Di tengah dinginnya malam itu, Eiwa menelpon bagian resepsionis hotel. Ia meminta seseorang membelikan uno stacko.


Dalam hitungan menit, barang pesanannya itu pun sampai diantar oleh pelayan.


"Tunggu. Nggak seru kalau kita main nggak ada tantangannya," cegah Eiwa saat Ellea mau mengambil satu balok berwarna hijau.


"Terus apa tantangannya?"


"Gini aja, kalau kamu yang menjatuhkan maka kamu yang harus pijitin aku, terus kalau aku yang jatuhkan aku yang mijitin kamu. Okey? Kita mulai sekarang, kamu duluan," pinta Eiwa duduk di bawah meja berhadapan dengan Ellea.


Ellea menggigit bibir bawahnya, ragu. Seperti ada yang salah dengan tantangannya.


"Ayo sayang, udah nungguin ini, nggak sabar pengen dipijit."


Ellea mengangguk kemudian mengambil balok berwarna kuning. Aman.


Mereka berdua terus saja mengambil balok bergantian satu persatu. Mulai dari atas hingga bagian paling bawah.


"Terus, abang pijitin aku?" Ellea menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu nggak usah nggak enak gitu, El. Aku nggak apa-apa, silahkan baring biar kupijitin."


Ellea ragu-ragu saat akan berdiri, dia ingin menolak. Terlihat seperti orang kebingungan.


Namun tiba-tiba ia tersentak saat tubuhnya terangkat ke atas. Eiwa membopongnya meletakkan di atas ranjang.


"Silahkan ambil posisi yang nyaman. Mau dimulai bagian mana pijitnya?"


Jantung Ellea benar benar bertalu-talu, ia tak tahu harus apa. "Nggak usah aja, Bang. Aku nggak cepek lagian," ucapnya.


"Udah nggak apa-apa, aku tau kamu malu." Eiwa mengambil posisi di belakang Ellea memijat bagian punggung.


Ellea sibuk menata perasaan yang tak karuan. Tangannya mencengkram seprei putih di bawahnya karena begitu gugupnya.

__ADS_1


"Santai aja, El. Kita bukan pasangan mesumm, kan? Kita halal. Nggak dosa, malah dapat pahala, apa lagi kalau kita lakukan sepenuh hati. Kita melakukan ini bukan hanya sekedar napsu semata, tapi kita juga sama-sama cari ridho nya Allah. Memperkuat ikatan cinta kita berdua til janah. Kalau kamu belum siap, kita bisa tunda malam ini. Mungkin lain waktu," ucap Eiwa menjauhkan tangannya dari punggung sang istri.


Ellea memutar badannya menjadikan posisi mereka saling berhadapan. Perempuan berkulit putih memiliki bibir kemerahan itu pelan-pelan mengangkat pandangannya menatap Eiwa.


"Bismillah Ellea siap, Bang. Mengikhlaskan sesuatu yang selama ini El pertahankan. Bismillahirrahmanirrahim...."


"Alhamdulillah...." Eiwa memeluk istrinya lugunya itu lembut.


Lelaki anak pertama dari Bramantyo itu mengajak sang istri berwudhu.


Menghadap kiblat, Eiwa sebagai imam dan Ellea makmumnya.


Eiwa mengakhiri salat sunah mereka, dengan terucapkan dua ucapan salam.


Mereka memanjatkan doa. Eiwa tak henti-hentinya bersyukur, sebab telah dihadiahi Allah perempuan seperti Ellea.


Sungguh ibadah yang sangat indah, tak terasa butiran bening menetes dari pelupuk mata keduanya.


Meminta keturunan yang soleh dan soleha. Diridhoi rumah tangganya bahagia dunia maupun akhirat. Dijauhkan dari segala keburukan.


"Aamiin...."


Ellea mencium punggung tangan sang suami.


"Sudah siap?" tanya Eiwa diiringi dengan kerlingan mata nakal, menggoda sang istri.


"Siap apa?" tanya Ellea balik meskipun ia tahu maksud sang suami apa.


Ellea melepaskan mukenanya lebih dulu. Eiwa menunggu di tepi ranjang sambil menepuk-nepuk sisi sebelahnya.


Aroma sampo ektra vanila sangat harum semerbak. Membuat Eiwa tak tahan untuk tidak menghirup lebih dekat.


"Semoga, sentuhan setiap sentuhanku, yang kamu terima dengan ikhlas, adalah penggugur dosa kita."


"Sekali lagi, Ellea mengatakan, dengan kondisi yang sadar, El sangat ikhlas. Bismillahirrahmanirrahim, siap."


Eiwa membisikkan doa sebelum memulai ritual malam indah mereka.

__ADS_1


Perlahan mengecup kening, telinga, berangsur leher. Ellea memejamkan mata menjatuhkan dirinya ke belakang secara perlahan seiring dituntun Eiwa di atasnya.


Malam panjang dilalui begitu indah. Rembulan menjadi saksi bisu berseminya cinta kedua insan yang tergulung dalam ombak asmara.


__ADS_2