Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Perasaan Yang Menggebu


__ADS_3

Perasaan Eiwa menggebu-gebu saat baru saja mendarat di Indonesia. Akhirnya setelah melewati berbagai halangan kini ia bisa kembali pulang.


Rasa rindunya sudah tak terbendung lagi, meletup-letup bagai pijaran api yang berkobar. Bayangan wajah Ellea terus saja berputar di kepala. Ia sudah tak sabar ingin memeluknya, mencium aroma parfum flower dari tubuhnya.


Saat tiba Eiwa langsung datang ke rumah Alvin. Bermaksud ingin menjemput sang istri untuk diajak pulang ke rumah sederhana mereka.


Akan tetapi, sudah cukup lama ia berada di depan pagar hitam tinggi itu tak ada yang membuka. Suasana rumah tampak sepi, berbeda dari biasanya yang memiliki banyak pegawai seliweran di rumah.


Selain menekan bel, Eiwa juga berusaha menelepon Ellea. Tapi ponsel istrinya itu tidak aktif, hingga ia berinisiatif menelepon Satria.


"Lagi di mana kamu sekarang? Ngawal Alvin, atau di kos?"


"Aku lagi ngawal bos. Ini diam-diam jawab telepon dari kamu. Tahu enggak, pak Alvin, melarang siapa pun yang di rumah berinteraksi sama kamu, Wa. Sekarang mereka semua lagi makan di restoran, termasuk Ellea istri kamu," jawab Satria.


"Kamu tau alasan dia melarang semua orang seperti itu?" Eiwa mengerutkan dahi bingung.


"Dia nggak ada bilang apa-apa selain itu. Udah ya, si Bos ngelihat sini terus. aku tutup oke?"


"Terus, terus, istriku lagi ngapain sekarang? Dia pegang hp atau apa?" tanya Eiwa.


Satria terdiam beberapa saat melihat ke arah Ellea. "Dia murung sendiri, Wa, yang lain pada ngobrol dia diam aja. Di depannya juga nggak ada hp. Udah ya? Bos jalan ke sini!"


Dengan cepat Satria memutuskan sambungan telepon dengan Eiwa. Padahal masih banyak yang ingin ia tanyakan.


Terpaksa Eiwa menunggu di depan pagar menunggu keluarga Alvin datang. Ia menunggu Ellea sebab sudah tidak tahan menahan kangen.

__ADS_1


Dari jam satu siang sampai ia melaksanakan salat ashar berjamaah di masjid. Kembali sampai jam setengah enam sore mobil Alphard berwarna hitam baru saja datang.


Salah satu asisten rumah tangga keluar dari rumah membuka pagar dengan terburu-buru. Sedangkan Eiwa menunggu di sampingnya, menunggu istri turun.


Bim! Bim!


Mobil milik Arnold datang di belakang. "Nggak minggir lu gue tabrak tadi," ucap Arnold dari dalam satu mobil bersama Amora yang melihat malas ke arahnya.


"Sebelum bisa nabrak aku bunuh duluan kalian," balas Eiwa.


Mereka semua turun dari mobil. Pusat Eiwa terarah pada Ellea yang terlihat pucat dan kantung mata begitu kentara.


"El," panggilnya.


"El, kamu mau ke mana, El?" Eiwa mencoba mengeja sang istri.


Namun, pada saat akan memasuki area dalam, tiba-tiba dengan cepat asisten rumah tangga itu menutup lalu menguncinya rapat.


"Jum, Jum, aku di sini mau ketemu sama Ellea, buka pintunya," ucapnya.


"Maaf, Mas, nggak berani. Saya cuma nurutin perintah pak Alvin. Permisi." Langsung nyelonong pergi masuk.


"Tapi saya mau ketemu istri, Bik! Buka pintunya!" Eiwa menggoyangkan pagar besi dengan kedua tangannya membuat keributan.


"Ini bukan rumah Kamu, jadi jangan buat keributan di sini!" Alvin datang di depan pagar melihat Eiwa yang kalut sebab tidak bisa bertemu dengan Ellea.

__ADS_1


"Pak, saya mau jemput istri saya, tolong biarkan dia keluar," ucap Eiwa.


"Sebentar lagi bukan, karena sekarang saya sudah menyewa pengacara untuk mengurus perceraian kalian. Ellea akan bebas dari pria sepertimu, Brandal miskin."


"Bapak bilang apa? Cere?" Eiwa menggeleng tidak habis pikir.


"Enggak akan bisa, karena saya sampai kapan pun nggak akan mau pisah sama Ellea. Keputusan tidak bisa diambil sepihak," imbuhnya.


"Kenapa nggak bisa? Bagi saya yang banyak sekali mengenal orang dalam, pasti tidak butuh lama, status kalian pasti berubah. Sudah kubilang dari awal, kalau kalian menikah cuma sementara, setelah berita huru hara hilang, kalian segera cerai. Lagian, kamu itu tidak cocok sama anakku, dia akan ke melanjutkan kuliah kedokterannya," ucap Alvin sambil menyeringai sinis.


"Biarkan saya ketemu sama Ellea sekarang," paksa Eiwa.


Tanpa membalas Alvin tersenyum mengejek kemudian pergi meninggalkan menantunya itu.


Mendengar keputusan sepihak dari Alvin, tentu saja Eiwa tidak setuju. Ia emosi karena harga dirinya telah direndahkan oleh papa Ellea.


Ia pulang ke rumah marah-marah pada papanya, Bram. Seketika pria paruh baya itu terdiam dibuatnya.


"Kalau papa mau melanjutkan misi ini, lebih baik kamu cari saja orang lain. Cukup, aku cuma bisa sampai sini, karena sandiwaraku ini, hubunganku dengan Ellea terancam. Aku mau mengatakan pada Alvin, siapa aku sebenarnya," ucap Eiwa.


"Wa, jangan buru-buru mengambil keputusan. Tinggal sedikit lagi semua sudah selesai," cegah Bram.


"Kalau papa mau, kirim saja istri barumu itu ke rumah Alvin. Aku punya ide, suruh saja dia jadi wanita perayu, pasti tidak butuh waktu lama, rencananya pasti akan berhasil karena itu adalah hobinya," sergah Eiwa dengan mata menyipit melirik istri papanya itu.


"Eiwa, jangan bangsatt kamu!"

__ADS_1


__ADS_2