Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Pekerjaan Sampingan


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Ellea bekerja di apotek milik Lira. Memiliki suami sebagai bodyguard tentu saja dia harus membantu mencari uang untuk biaya sehari-hari.


Walau selama ini Eiwa tak pernah mengeluh, dan selalu ada aja kebetulan uang yang datang tiba-tiba. Tanpa dia duga, ia tetap saja harus mencari tambahan.


"Suami kamu nggak marah, El, kalau kamu kerja di sini?" tanya Lira menunduk sambil melihat catatan.


Ellea mengerutkan bibir sambil memutar mata.


Ellea tau kalau menyembunyikan sesuatu dari suami memanglah tidak baik. Tapi... ada sebab ia melakukan ini semua. Demi kebaikan keluarganya. Sekali lagi, ia tak boleh berpangku tangan melihat sang suami kerja pontang panting bahkan sampai berhari-hari tidak pulang ke rumah.


"Muka kamu pucat banget, El, kamu sakit?" tanya Lira melihat wajah Ellea dari kejauhan.


Ellea menggeleng. "Cuma sedikit meriang aja sih. Nggak sakit kok, paling bentar lagi hilang."


"Udah, udah, mending kamu pulang aja istirahat. Dari pada kenapa-kenapa, nanti aku yang celaka." Lira buru-buru menutup buku yang dipegang Ellea.


"Kamu lebih baik pulang, ya? Bisa balik kapan-kapan kalau sudah sembuh bisa balik ke sini lagi.


"Tapi Lir, sakit itu kalau nggak dipakai buat kerja atau gerak, tambah sakit, nggak bisa keringetan. Mending biarin aku tetap di sini deh, lagian apotek juga nggak rame-rame banget jadi tetep bisa dihandle."


"Lo yakin?" tanya Lira merasa khawatir.


Ellea mengangguk. Padahal saat ini ia merasakan badan tidak enak. Perutnya seperti diaduk-aduk setelah memakan siomay pedas tadi.


Tiba-tiba di tengah obrolan mereka, Ellea menutup mulutnya yang akan muntah.

__ADS_1


"Tuh kan, apa gue bilang? Elu itu sakit, butuh istirahat. Suka bandel deh, kalau dinasehati. Udah mending gue anterin elu ke dokter, biar kalau ada apa-apa bukan aku yang salah."


Mual hilang lagi, begitu seterusnya. Sampai Ellea capek mondar mandir ke kamar mandi. Namun cairan yang terasa panas di perutnya tak kunjung keluar.


"Ini kayaknya gara-gara kebanyakan makan sambal deh, sekarang perut aku mual banget, hueek!"


Lira menempelkan punggung tangan ke dahi Ellea. Kemungkinan ke pergelangan tangan.


"Kayaknya-"


Belum selesai Lira ngomong. Ikara berlari lagi ke kamar mandi entah yang ke berapa kali.


"Sekarang nurut ya? Kita ke dokter, biar periksa terus kasih obat. Kamu istirahat."


Lira menuruti permintaan Ellea untuk tidak ke rumah sakit.


"Oke, bentar gue tutup apotek dulu. Lo siap-siap dulu, tunggu di mobil. Dan bawa obat ini, biar agak mendingan ngatasin asam lambung lo."


"Permisi, mbak, mau beli obat ...... ada?"


Ellea yang menahan mualnya, memaksakan melayani pembeli. Ia berdiri di depan etalase melihat catatan yang dibawa cowok sekitar dua puluh lima tahun ini.


Seketika ia diam melirik ke wajah cowok tersebut.


"Apaan sih?" tanya Lira penasaran. Ellea langsung memberikan catatan nama obat.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Mas! Mas bisa-bisanya cari obat begini? Maaf kami nggak jual obat yang begitu. Mas, aku peringatkan ya, dengerin. Gugurin kandungan itu dosa, Mas! Dosanya lebih gede dari pada gunung!" tutur Lira berapi-api.


"Lho kok, mbaknya malah ceramah? Intinya obat yang saya cari atau ada nggak?" tanya pembeli itu.


"Nggak ada! Saya peringatkan ya, kalau cari obat begitu jangan ke toko saya!"


Lira semakin mual mendengar ucapan mereka. Memilih nyelonong pergi dulu ke mobil.


"Biasa aja dong, ngomongnya!"


Mereka malah berdebat kusir di sana. Ellea tak tahan lagi. Bersusah payah meraih klakson, lalu menekan satu kali hingga membuat Lira teman baiknya itu tersentak.


"Sorry banget buat yang tadi, El. Sumpah, gue itu kesel banget sama itu cowok. Bisa-bisanya cari obat penggugur kandungan dengan muka tanpa dosa begitu? Cowok nggak bertanggungjawab banget, kan?" kesal Lira.


Mobil yang mereka kendarai kini telah ada di depan rumah Alvin.


"Lagi rame itu rumah elo, El. Ada acara ya?" tanya Lira.


Ellea sendiri tidak tahu, ada apa sebenarnya. Ia di dalam rumah ini seperti diasingkan, tidak pernah diberi informasi jika ada hal penting.


"Aku masuk dulu, ya. Udah nggak tahan, pusing banget soalnya. Kalau besok belum ilang pusingnya mungkin aku izin dulu, ya?" tanya Ellea bersiap-siap turun.


"Santai aja, El. Penting enakan dulu. Ya udah dada, assalamualaikum...." ucap Lira sambil melambai di dalam mobil.


"Semoga cepat sehat, Bestie!"

__ADS_1


__ADS_2