Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Menyatakan Perasaan Untuknya


__ADS_3

"Gini El, aku mau jujur sama kamu. Entah kamu terima atau nggak keputusan ini. Aku minta kamu kuat ya?"


"Apa emang?" Ellea yang dari tadi duduk tidak tenang itu pun semakin merasa tak nyaman dengan posisinya.


Tentu saja ini karena pakaian yang diberikan Eiwa. Pakaian yang sama sekali belum pernah dia pakai seumur hidupnya.


Kainnya tipis sampai terasa meresap suhu dingin di ruangan. Sejak tadi Ellea tak melepaskan kedua tangannya yang saling terlipat. Untuk menutupi malu sekaligus membungkus rasa dingin.


Eiwa menyeringai tipis melihat sorot mata Ellea yang tak tentu arah. Menghindari sorot mata Eiwa yang seolah menusuk kalbu.


Eiwa yang selesai menghembuskan asap terakhirnya itu menekan kuntum rokok kemudian duduk tepat di sebelah Ellea.


Terkekeh lagi saat Ellea menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Eiwa.


"Kalau mau ngomong, ngomong aja Bang. Di situ aja El juga udah denger kok...."


"Gitu ya? Okey...."


"Iya di situ aja."


Eiwa memutar badannya menghadap Ellea. Posisinya sekarang seperti memangku sang istri dari kejauhan.


"Katanya mau ngomong. Kok diem?"


"Iya, aku mau ngomong. Gini-" Eiwa terlihat ragu-ragu merangkai kata.


"Jadi gini, El. Aku mau terus terang sama kamu, kalau sebenernya aku itu ada mendam perasaan sama cewek."


Ellea mengerutkan dahinya mendengar penuturannya.


"Kamu janji, kan, El, kalau nggak akan marah?"


"El nggak mau janji, Bang, takutnya kalau ingkar. Langsung aja bilang, kalau El marah El, bakalan nangis, kalau enggak ya El diem." Wajah Ellea sudah terlihat berbeda.


"Iya El, aku mau jujur ke kamu, karena tau kalau lama-lama kusimpen, pasti nyakitin kamu dan juga aku. Ada salah satu perempuan dia cantik."


"Cantik ya?"


Eiwa mengangguk. "Cantik banget El. Kamu tau pemain pemeran film pawang luar yang kemarin kita tonton? Nah, dia lebih cantik dari pada itu artis."


Ellea mengangguk-angguk paham, ia tersenyum walau terlihat terpaksa. "Terus, abang mau gimana?" tanyanya.


Eiwa menyadarkan kepala ke belakang, seiring dengan menghembuskan napas dalam.


"Jujur aja El. Kita nikah kan, bukan karena cinta. Dan nikah pun bukan karena keinginan kita. Yah, semacam dipaksa lah istilahnya."


"Terus abang mau apa?" Ellea semakin terlihat tidak suka.


"Jujur El, setelah pertemuan abang sama cewek itu. Nggak bisa lupa, gimana senyumnya, cara dia ngomong yang lembut, dia itu candu banget. Abang ngomong gini, karena nggak mau munafik. Nggak mau hianati perasaan sendiri."


Wajah Ellea semakin merah, matanya berkaca-kaca tapi masih dia tahan.


"Awal kita nikah, aku tau banget, gimana terpaksa nya kamu, El. Pasti kamu nggak suka, kan, El, sama aku?"


Ellea tak menjawab, semakin tertunduk sambil menggulung gulung ujung pakaiannya.

__ADS_1


"Mungkin ini jalan terbaik buat kita, El. Kamu ngerti maksudnya? Aku mau lepasin kamu dari hubungan terpaksa ini. Aku mau kamu jalani hidup dengan bahagia, El."


Gerak gerik tangan Ellea semakin abstrak. Mungkin kalau bisa ia robek, sudah dirobek bajunya sendiri menjadi potongan kecil-kecil. Hatinya terasa panas, sampai menyeruak di dalam dada.


Tak sepatah kata pun ia bicara.


"Kamu tau nggak El, dia itu asyik banget. Tiap ketemu dia, abang nggak pernah kalau nggak senyum."


Darah Ellea semakin panas, bahkan naik ke kepala.


"Dobel cinta banget kalau dia sampai terima abang."


Sudah.


Ellea benar-benar tidak tahan lagi.


Seketika ia berdiri sambil mengepalkan kedua tangan di samping tubuh.


"Dia cantik?"


Eiwa yang duduk di bawah mengangguk.


"Dia ngangenin?"


Mengangguk lagi.


"Abang cinta sama dia??"


Mengangguk-angguk. "He em, El, aku pengen banget dia jadi-"


Selama mengenal Ellea, Eiwa tak pernah melihatnya bicara dengan nada tinggi seperti ini. Bahkan tangan istrinya itu sampai gemetar, sebegitu emosinya.


"Kalau Abang suka sama itu cewek, seharusnya nggak usah nyuruh aku sampai pakai baju-baju kayak gini! Nggak ada gunanya, tau gitu aku nggak mau pakai, kalau dianggap cuma mainan doang!"


"Tenangkan diri El. Kamu emosi." Melihat Ellea semakin emosi kini Eiwa berdiri.


"Tenang gimana? Dipermainkan sama orang, suruh tenang gimana??"


Tangan Eiwa langsung ditepis saat akan memegang.


"Harusnya aku nggak usah pakai-pakai baju gini!" Ellea mencoba melepaskan pakaian dalam keadaan marah. "Kenapa nggak abang suruh aja itu cewek yang pakai?"


"El tenangkan diri El. Jangan emosi gini, nanti kamu haus." Eiwa memeluk Ellea maski ditolak.


"Biar aja haus, tinggal minum aja kok repot." Napas Ellea naik turun sampai membuat Eiwa kewalahan.


"Dengerin dulu."


Kini Ellea tidak bisa lagi bergerak, sebab tubuh besan dan tinggi Eiwa menyekapnya.


"Nggak usah peluk!"


"Tenang dulu, baru aku lepaskan. Diem, ya? Mau minum?"


"Nggak usah."

__ADS_1


Situasi sedikit tenang.


"Kamu dengerin aku, El. Denger baik-baik, kamu harus kuat seperti yang kubilang di awal. Jangan emosi, ini soal perasaan. Nggak bisa bohong. Aku pengen banget dia jadi istriku, El, istri beneran, bukan istri seperti kita sekarang ini."


"Jadi maksud abang, mau jadikan dia istri kedua?!"


Eiwa mengangguk. "Aku mau lamar dia, keputusanku sudah bulat."


Ellea mengusap air matanya yang menates di sudut. Seiring membuang muka melihat objek lain.


"Lihat ke sini, El."


"Nggak mau."


"Aku serius mau ngomong sama kamu."


"Percuma, kalau topiknya yang itu. Aku nggak akan mau denger."


"Sayangnya aku mau kamu denger."


"Malas!" Ellea menutupi kedua telinganya dengan tangan.


"El."


"Ngomong aja sama dinding! Aku nggak bakalan dengar!"


Eiwa mendekati Ellea, tak ingin diabaikan segala kata-kata yang akan dia ucapkan, menarik kedua tangan Ellea berada jarak paling dekat. Hingga matanya menyorot langsung dengan netra bermanik hitam milik Ellea.


"Gimana caranya aku ngomong, kalau cewek yang aku suka nggak mau denger, he um?"


Ellea mendongak menatap satu garis itu pun bergeming.


"Kamu El."


Ellea mengerutkan dahi.


"Kamu orang yang sukai, kamu cewek yang aku maksud."


"Tapi abang bilang, mau bebasin Ellea dari hubungan suami istri ini. Berarti abang mau pilih cewek lain, kan? Kalau silahkan, El nggak keberatan kok."


"Duh, istri Solehah bener. Beneran nggak cemburu, kalau aku cari yang lain?"


"Tuh, nggak bisa jawab, kan?"


"Ya, kalau abang maunya yang lain, nggak bisa dipaksa, kan?" Ellea berubah menjadi gugup.


"Yang Abang mau kamu, El. Cuma kamu, aku mau bebasin kamu dari pernikahan terpaksa, menuju pernikahan yang sebenarnya. Di mana keduanya saling menjalin ikatan cinta."


Saat tangan Eiwa menggenggam jemari lentiknya, Ellea merona merah. Bukan karena marah, tapi ia tersipu malu.


Laju jantungnya kian menggema seolah-olah ditabuh.


"El, perasaanku yang sebenarnya aku tujukan buat kamu, Ellea Nafisah. Kamu mau, kan, jadi milikku seutuhnya?"


Antara terharu, malu semua perasaan bercampur jadi satu. Ellea hanya mengangguk sambil tersipu.

__ADS_1


"Duh, anak perawan mau nerima cinta suaminya. Makasih, El."


__ADS_2