Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Kecoak Pencuri Start


__ADS_3

Eiwa menutup telepon begitu saja ketika malas mendengarkan ******* manja istri kedua papanya tersebut.


“Dasar orang-orang mesuum!” Melemparkan hp ke atas sofa.


Yang Eiwa pikirkan hanya perasaan mama. Yang berada di rumah sendirian, takut hujan petir, tapi Bramantyo justru lagi mantab-mantab bersama istri muda.


Dada Eiwa rasanya seperti terbakar. Panas.


Ia harus menenggak air minum untuk menetralisir rasa panasnya.


“Aaaaaaa!” Ellea berteriak dari dalam dapur.


Eiwa yang mendengar langsung saja melihat. “Kenapa?”


“Kecoak, pergi.... Hih... Kecoak Bang, minggir, minggir... kecoak!” Ellea memejamkan mata sambil melompat-lompat ketakutan.


“Tolongin El, Abang... ada kecoak....” Dia tidak bisa diam memegang baju Eiwa minta tolong.


“Di mana kecoak nya? Ya udah, kamu tinggal keluar aja dari sini, beres.” Eiwa terlalu menggampangkan, tak tahu kalau istrinya sudah basah karena keringat.


“Kecoa bang, tolongin....”


“Sudah nggak ada El, coba kamu lihat.”


“Hih, bukan di situ... tapi di sini! Kecoaknya masuk baju El, Bang!” Ellea mengibaskan-ngibaskan atasan piyamanya tapi serangannya tak juga keluar.


“Keluarin kecoak nya dari badannya El, nggak mau tau pokoknya... cepetan!”


Sekarang Eiwa menggaruk tengkuk, ia bingung bagaimana caranya mengeluarkan kecoa dari badan Ellea?


“Abang cepetan ih, kenapa malah dilihatin aja? Keburu kecoaknya beranak banyak tau!”


“Oke, kamu tenang.”


“Gimana bisa tenang, kalau dia bebas jalan-jalan di dalam sana?!”


“Oke, wait.” Eiwa menghela napas mengatur detak jantungnya.


Ellea kini lebih sedikit tenang, memejamkan mata. Tapi dadanya naik turun. Membuat Eiwa grogi setengah mati.


“Kecoak sialan, bisa-bisanya nyuri start sebelum gue.”


Gleg!


Entah berapa kali Eiwa menelan salivanya.


“Kamu tenang ya? Aku akan bantu mengambilnya. Jangan gerak biar dia nggak lari ke tempat terlarang lainnya.”


Ellea mengangguk tanpa membuka matanya saat Eiwa membuka kancing piyama pelan-pelan dari atas.


“Udah belum bang?”


“Belum.”

__ADS_1


Tangan Eiwa semakin merambat turun melepaskan setengah kancing di hadapannya. Hingga tersangkanya terlihat, menempel di atas gundukan berwarna putih yang dibalut dengan kain warna merah muda.


“Nah, udah akhirnya.”


“Hih... bawa pergi, singkirkan!” Ellea langsung lari keluar begitu melihat kecoa di tangan Eiwa. Bahkan tidak sadar dengan kondisi pakaiannya saat ini.


***


Di atas meja makan, sepasang suami istri itu saling menatap ke arah mangkuk berisi mie yang menjadi bubur karena hangus.


Suara gemuruh perut saling bersahutan. Rupanya mereka sama-sama lapar.


“Ini ojol pada ke mana, ya? Udah dari tadi order, belum juga ada yang nyambung. Ck.” Eiwa melempar hp ke meja karena kesal, menghembuskan napas sambil bersandar.


“Mungkin karena udah malam, yang jualan makanan juga udah mau tutup, kan?”


Karena tidak ada makanan dan mereka lapar, akhirnya keduanya memilih untuk datang ke rumah Alvin. Tidak ada pilihan lain.


Suasana di rumah besar itu masih sangat ramai. Tapi tamu-tamu yang sebelumnya sudah berganti lain.


Mereka adalah teman-teman Amora dan Arnold. Bukan hanya orangnya saja yang berganti, tapi gaya pesta pun sudah berganti.


Acara yang sebelumnya berlangsung secara khidmat, sekarang berganti huru hara full dengan musik yang memekikkan telinga.


“Gimana, masih mau maksa mau masuk ke dalam?” tanya Eiwa saat mereka ada di depan pintu.


Melihat situasi, Ellea pun jadi ragu.


“Mending pulang aja deh, Bang. Nggak papa nggak makan malam ini,” ucap Ellea.


Eiwa mengerutkan dahinya. “Bersih-bersih bukan tugas saya!” tolaknya.


“Tugas Abang Eiwa selesai. Lagian papa juga udah tidur, kan?” bela Ellea.


“Bacot! Udah sana beresin! Lo itu kacung, tugasnya ya bersih-bersih!”


“Kamu lupa, kalau aku menantu keluarga ini?” tanya Eiwa.


Justru Arnold tertawa terbahak-bahak. “Guys! Sini, coba kalian lihat!”


Teman-teman Arnold dan Amora datang mengerubungi mereka.


“Coba kalian lihat, apa ada yang percaya, kalau capung sawah ini menantu keluarga Alvin?” tanya Arnold.


Mereka ada yang menggeleng ada pula yang diam saja.


Sedangkan Amora tersenyum sinis melihat Eiwa dan Ellea menjadi objek tatapan.


“Jadi kuli sih, cocoknya,” ucap Ferry teman Arnold.


“Bersihkan lantai, tunggu apa lagi?” perintah Arnold sekali lagi.


Eiwa kekeh menggeleng.

__ADS_1


“Lo nolak?”


“Kalau iya, kenapa?” tantang Eiwa.


“No problem. Lagian Cuma perintah, nggak akan norak, istri lu bisa ganti sama yang lain,” ucap Arnold dengan napas teratur. Tangannya terulur akan membelai pipi Ellea.


Kedua tangan Eiwa mengepal, Emosinya semakin meluap-luap ketika melihat Arnold semakin berani.


Padahal Ellea sudah menghindar menunjukkan penolakan.


Bahkan teman-teman Arnold pun menatap Ellea dengan tatapan penuh napsu.


Arnold semakin menggila, memancing darah Eiwa kian berdesir hebat.


“Menjauh berengsek!” Langsung melayangkan satu pukulan tepat mengenai wajah Arnold.


“Berani lo sudah berbuat seperti itu ke istriku!”


Bug!


“Apa yang kamu lakukan oy?!” bentak Amora berteriak.


Putri kedua Alvin itu terkejut. Eiwa tiba-tiba menarik Arnold ke belakang, mengimpitkan ke dinding.


Tanpa ampun di tengah-tengah kerumunan, Eiwa menghajar Arnold.


“Lo kacung, berani udah nyentuh gue?” Arnold tak terima, maju melayangkan satu pukulan sebagai balasan.


“Kalian bego! Kenapa diam aja?! Gue tandai kalian yang gak bantu gue!” pekik Arnold.


Arnold kembali maju ingin membalas.


Namun Eiwa berhasil menghindar dengan cara memiringkan kepalannya. Secara implusif tangannya bergerak maju hingga ia berhasil memukul sang aktris itu lagi dan lagi.


“Kalian bantuin woi!” teriak Arnold.


Eiwa semakin menunjukkan jiwa bodyguardnya, dengan sikap arogan saat ini yang dia miliki. Hingga Arnold terjatuh ke lantai.


“Sudah, stop, stop! You berhenti!” pekik Amora membantu kekasihnya berdiri.


Napas Eiwa naik dan turun masih ingin menghajar artis playboy itu. Tapi teman-teman Arnold kini yang maju ke depan.


Delapan lawan satu, Eiwa masih mencoba melawan mereka semua hingga kehilangan keseimbangan.


“Udah lepasin gue!” bentak Arnold menyentak tangannya dari genggaman Amora. “Gue sangat kecewa diperlakukan begini di rumah ini!”


“Tapi kamu nggak marah sama aku, kan, Ar?” Amora berusaha mencegah Arnold yang berjalan pergi. “Arnold, please, jangan begini. I’m sorry atas apa yang sudah dia lakukan ke kamu. No, Arnold! Kamu mau ke mana? Please stop baby!”


Arnold sama sekali tidak mendengarkan permintaan Amora, berjalan terus saja menghampiri teman-temannya sambil tersenyum licik.


“Kasih dia pelajaran tanpa ampun si kacung!” Dengan tatapan geram Arnold menunjuk wajah Eiwa dengan rasa kesal naik ke ubun-ubun.


Tatapannya nanar seperti siap menghakimi pria yang berstatus menjadi bodyguard itu saat ini pula. “Kalau perlu jangan biarkan dia hidup!”

__ADS_1


Ellea berlari naik ke lift menuju kamar sang papa meminta bantuan.


__ADS_2