
Bab 25
Eiwa memajamkan mata sambil mendongak saat Ellea memeluknya erat menempelkan pipi ke dada.
Setengah mati ia menahan gejolak dari dalam diri begitu menyiksa.
Apa lagi situasi sedang mendukung. Pakaian yang dipakai Ellea sangat tipis setipis nafsunya yang sudah meletup-letup ingin meledak.
Ada yang tegak tapi bukan keadilan!
"Berarti kamu udah siap, jadi istriku apa pun keadaannya? Apa resikonya dan segala kewajiban yang harus dilakukan."
"Insyaallah. Siap."
"Apa yang buat kamu mau nerima abang dengan tulus?"
"Karena El harus mensyukuri hadiah yang diberikan Allah. Dan, hadiah terindah adalah apa jalani saat ini. Sedangkan abang ada di sampingku. Tanpa kita sadari sebelumnya, Allah menyiapkan rencana yang sangat indah, yaitu pernikahan kita."
"Duh, paham banget sih, istri abang? Padahal masih bocil." Eiwa memegang kedua pipi Ellea melihat gemas.
"Aw... sakit tau bang!" Ellea meringis saat Eiwa mencubit pipinya.
Keduanya kembali terdiam, saling menatap satu sama lain. Eiwa tak tahu harus ngapain.
Hingga mereka menyadari kebodohan mereka sendiri yang seperti patung saling menatap.
Eiwa terkekah sedangkan Ellea terkikik menutup mulutnya sendiri.
"Sekarang kalau udah bilang saling cinta, terus kita enaknya ngapain?" tanya Eiwa sambil menatap nakal.
Ellea melirik jam di atas meja. "Udah malam, kayaknya aku harus tidur. Besok ada kuliah pagi soalnya," ucapnya sambil menutup mulut menguap.
"Kuliah?" Oh, iya, Eiwa lupa kalau istrinya ini masih kuliah. Jadi ia tidak bisa leluasa.
__ADS_1
Ellea mengangguk. "Abang sendiri, besok harus kerja, kan, ngawal papa?"
"Aku izin buat besok nggak masuk, lagian ada Satria. Gantian, selama beberapa hari kemarin dia banyakan off."
Penuh perjuangan buat Eiwa meminta izin pada Alvin. Sebab beberapa hari yang lalu setelah insiden pengeroyokan oleh teman-teman Arnold, menyebabkan Eiwa sakit dan harus istirahat. Tentu saja tidak mudah untuk Alvin memberi izin.
Untung saja, dengan bicara panjang lebar membuat ayah mertuanya mengerti. Tapi Eiwa tidak mengatakan kalau ingin menghabiskan waktu dengan Ellea di hotel.
Kalau Alvin tahu, tentu saja tidak akan membiarkan mereka berdua. Sebab Alvin tak ingin kedekatan tercipta. Pernikahan Ellea dan Eiwa sementara.
"Tidur yuk? Abang nggak ngantuk? padahal hari ini full banget kerjaan. Tugas yang semestinya bukan kerjaan, bahkan abang disuruh ngerjain." Ellea melihat prihatin.
"Nggak ngantuk sih, El. Cuma capek aja dikit."
"Ya udah Abang istirahat aja. Suasana disini enak, pasti bikin nyaman tidur."
"Masa iya, bela-belain nginep di hotel, malah buat tidur," gumam Eiwa.
Ellea celingukan ke kanan dan kiri mencari sesuatu.
"Kenapa nggak ada sapu lidi ya?"
"Buat apa?" Eiwa mengerutkan dahi bingung.
"Emang Abang nggak lihat? Kotor begitu, di mana-mana ada kelopak bunga, pasti buat tidur jadi gatel kalau kena badan. Makanya El mau bersihin. Biar abang enak tidurnya," ucap Ellea polos membuat Eiwa semakin gemas.
Ditambah menggelitik saat sekarang Ellea membungkuk, meniup lilin yang menyala satu persatu.
"Ini juga lilin buat apa? Lampu aja nyala terang, kenapa harus nyalain lilin." Sibuk meniup memadamkan api di atas lilin.
"Kamu ngapain El?" tanya Eiwa tidak habis pikir. "Itu tuh, lilin aromaterapi, Sayang...."
Ellea ini, besar di tengah keluarga kaya, tapi hal seperti ini saja tidak mengerti.
__ADS_1
Oke. Dia berhenti meniup lilin-lilin. Justru mengibaskan selimut tebal itu hingga kelopak di atasnya terjatuh ke lantai.
"Abang tunggu aja sebentar di situ. Aku bersin tempat tidur bentar. Kalau abang nyaman, El kan, senang."
"Udah El, biarin aja." Eiwa memegang tangan Ellea tak membiarkan bergerak. "Bunga-bungaan itu ada bukan buat dibersihkan. Tapi... buat nemani malam indah kita." Tatapan Eiwa kian menjurus.
Ellea meringis. "Makan yuk, Bang? El lapar," ucapnya malu-malu.
Karena sudah malam dan tidak memungkinkan bagi mereka keluar. Eiwa memesan makanan untuk diantar ke kamar.
Mereka makan dengan nikmat kedua, seperti hari-hari biasa yang mereka lewati.
"Dari tadi kayak ada yang ngetuk pintu. Abang denger ga sih?" tanya Ellea menghentikan sendok di depan mulutnya saat mendengar ketukan pintu.
"Nggak usah pedulikan, penting habiskan makan aja dulu. Urusan pintu kita urus belakang," jawab Eiwa tak sedikit pun menghiraukan ketukan yang semakin lama semakin panjang.
"Habiskan aja makananmu El, keburu nggak enak."
"Tapi bang, apa nggak sebaiknya kita lihat dulu. Siapa tau ada masalah, kan?"
Eiwa berdecak, bukan kesal pada Ellea, tapi pada orang yang telah menganggu waktu mereka.
Setelah meletakkan sendok, Eiwa menyesap air putih dalam gelas. Kemudian berjalan menuju pintu.
Ellea melihat siapa yang mengetuk, dari kejauhan sambil menikmati makanannya. Sebab kalau tidak mungkin Eiwa akan marah.
"Oh, rupanya elo yang ada di dalam?" Tiba-tiba suara yang tidak asing itu masuk ke dalam.
Ellea terkejut melihat Arnold menyerobot masuk ke dalam ditemani Amora.
"Jadi ini, tamu yang kalian bilang spesial itu?" Arnold menunjuk wajah Eiwa kasar.
Dua orang pegawai hotel itu tertunduk takut, sambil melipat kedua tangan di bawah perut.
__ADS_1
"Kalian tau nggak, mereka itu siapa?" sekarang gantian Amora yang tersenyum mengejek.
Hampir saja dua orang yang merupakan manager dan dan pegawai lainnya akan mengatakan siapa yang sebenar Eiwa, tapi cepat-cepat Eiwa menggeleng untuk memberi isyarat pada mereka supaya tidak mengatakan siapa dirinya.