
Ternyata apa yang terjadi pada mereka berdua malam itu, semua hanya salah paham.
Ellea dan Eiwa hanyalah tertangkap basah tanpa sehelai benangpun di atas ranjang yang sama. Yang sebenarnya tidak ada interaksi tubuh di antara keduanya.
Darah yang menembus di seprai malam itu, ternyata itu adalah darah haid hari pertama yang Ellea alami.
Semua dibuktikan setelah terjadinya malam indah yang semalam Eiwa dan Ellea lakukan. Tangisan kesakitan yang keluar dari bibir Ellea, menjadi bukti bahwa istrinya itu benar-benar masih menjaga apa yang sangat berharga baginya.
Eiwa tersenyum memeluk kepala Ellea, sedetik kemungkinan memberi kecupan di sana.
"Terima kasih, El." Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat itu.
Sejak semalam hingga siang ini ia terus saja mengucapkan terimakasih.
"Capek?" tanyanya.
Ellea yang kini sudah memakai hijap dan selesai berias menggeleng.
"Nggak bohong?"
"Beneran, Bang... masa iya, layani suaminya cepek? Berhubungan suami istri itu bukan cuma menyenangkan satu pihak, kan Bang? Tapi dari kedua belah pihak juga harus sama-sama merasa seneng. Nggak boleh ada keterpaksaan," ucap Ellea sambil memasukkan hp ke dalam tas.
Eiwa tahu, kalau Ellea hanya berpura-pura supaya tidak terlihat capek. Padahal sangat jelas dilihat dari cara berjalannya sedikit tertatih-tatih.
"Kamu mau langsung pulang, El? Nggak mau nginep di sini semalam lagi? Di sini enak suasananya, tenang. Dari pada di rumah, berisik suara emak-emak marahin anaknya."
__ADS_1
Eiwa masih saja bersandar di headboard malas bangun.
"Nggak boleh gitu ah, Abang. Semua orang yang punya anak juga bakalan kayak gitu."
"Terimasuk kamu? Nggaklah, kurasa nggak akan mungkin kamu begitu kalau marahin anak. Masalah pekara kaki basah aja teriak-teriak kedengaran sampai perempatan."
"Nggak boleh gitu Abang... itu namanya ngomongin orang, dosa tau?"
"Oh iya, maaf. Memang ngomongin orang itu dosa yang gampang banget tanpa sadar dikerjakan ya, astaghfirullah." Eiwa menutup muka dengan bantal.
Tak lama berselang pelayan mengetuk pintu mengantar makanan. Mereka makan siang di kamar.
Setelah keduanya selesai makan siang, langsung cek out hotel. Ellea pulang ke rumah.
Sungguh kamar hotel yang sangat bersejarah bagi Eiwa dan Ellea. Oleh sebab itu.
Setelah beberapa hari kemudian Eiwa meminta pada orang-orangnya di hotel.
Ia meminta untuk tidak seorang pun bisa memesan kamar itu. Hanya khusus dirinya dan Ellea, selebihnya kamar spesial itu akan dikunci, dibuka saat dirawat.
"Ngomong sama siapa sih, Bang? Serius gitu?" tanya Ellea yang membawa secangkir kopi baru saja dibuat.
Padahal istri Eiwa itu baru saja datang dari kampus. Meletakkan tas dan buku langsung pergi ke dapur membuatkan Eiwa kopi.
Eiwa menyesap kopi hitam buatan sang istri. "Tetep nomor satu," pujinya.
__ADS_1
Ellea duduk di samping Eiwa sambil memeriksa buku-buku yang dia beli dari toko buku.
"Sekarang pulangnya sering telat, El?"
Ellea menoleh sambil mengangguk. "I-iya, Bang, karena banyak banget tugas-tugasnya, jadi di luar jam kuliah, El sama temen-temen sering kerja kelompok ngerjain tugas. Maaf, ya? Abang nggak marah, kan?"
Eiwa menggelengkan kepala, seiring dengan terangkan kedua pundak.
"Oh iya, abang mau bilang sama kamu, El. Kalau pimpinan agensi yang merekrutku. Mendadak minta aku buat ngawal pak menteri ke luar kota. Nggak lama, katanya sekitar dua Minggu."
"Terus papa gimana?"
Eiwa menggeleng tidak tahu. Merangkul sang istri kemudian mendekapnya dari samping.
Mereka berdua sama-sama duduk menghadap jendela yang sengaja tidak ditutup. Dibiarkannya angin masuk terasa segar di malam hari.
"Selama beberapa hari ini, aku belum ketemu sama papa, karena beliau lagi di Kalimantan. Besok aku mau minta izin, sekalian nitipin kamu ke rumah papa. Nggak mungkin kan, kalau kamu tidur di rumah sendirian?"
"Iya Bang."
Keesokan harinya.
Eiwa tak bertemu dengan Alvin, hanya ada Lusia yang ada di rumah. Ia menyampaikan semua niatnya pada ibu mertuanya itu.
Meskipun mendapatkan tatapan sinis, Eiwa tetap saja meninggalkan Ellea di dalam rumah besar itu untuk waktu dua Minggu.
__ADS_1