
Bab 26
Arnold seenaknya saja langsung masuk ke dalam kamar membuat kegaduhan.
Dia menggunakan nama keartisannya untuk bersikap arogan. Ingin menang sendiri.
Bagai mana tidak? Sudah jelas-jelas di dalam kamar itu ada penghuninya, dia tetap kekeh saja ingin bermalam di kamar tersebut dengan istrinya.
Ellea yang saat ini tidak memakai jilbab langsung saja bersembunyi di belakang Eiwa. Menjadikan suaminya itu sebagai perlindungan.
"Kalian harus keluar dulu, sampai istri saya selesai mengenakan hijab," ucap Eiwa, ia tidak suka jika istrinya yang tak memakai hijab dilihat beberapa orang di sana.
Apalagi tatapan mesuum Arnold.
Eiwa mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi mereka semua. Kedua tangannya tanpa sadar terus saja mengepal.
"Silahkan keluar dulu."
Mempersilahkan mereka semua keluar sekali lagi.
Manager dan salah satu pegawai hotel berjalan keluar. Tapi tidak dengan Arnold dan Amora.
Dengan raut wajah sombongnya pasangan suami istri itu berdiri menantang.
"Yang seharusnya keluar itu kamu! Karena kamar ini milik kami!" bentak Arnold sambil menunjuk-nunjuk wajah Eiwa.
Andai Eiwa berada di posisi asli dirinya, mungkin ia sudah menarik jari Arnold sampai patah.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan, sudah kubilang, biarkan Ellea membenahi dirinya dulu lima menit."
"Nggak ada waktu-waktu, pokoknya aku mau kamar malam ini. Kalian sebaiknya keluar. Karena waktuku nggak banyak," ucap Arnold. Seolah tak tahan ingin segera menempati.
Suara si artis itu sampai menggema di dalam kamar hotel luas tersebut.
"Tinggal keluar aja sih, apa susahnya? Kamu lupa, kamu ini siapa? Bukannya sudah seharusnya, kan, bawahan nurut sama majikannya? Masa sama anjiing aja kalah pengertiannya," tanya tak kalah sewotnya mendukung sang suami.
"Kalau kami nggak mau keluar bagaimana?" Eiwa justru tertantang setelah Amora membandingkan dirinya dengan binatang.
"Udah ah, kelamaan. Orang miskin memang nggak bisa diajak ngomong bahasa kita!" Arnold menerobos melewati Eiwa dan Ellea.
Mengambil barang bawaan Eiwa.
Sebelum istrinya.menjadi bahan perhatian karena tak memakai hijab dan memakai piyama satin, Eiwa dengan cepat meraih kemejanya yang menggantung di pinggiran sofa coklat lalu memakannya ke tubuh Ellea..
Bagaimana pun, tugas suami adalah menjaga aurat istrinya.
Sedangkan Amora berdiri bersedekap sambil menonton Arnold yang bersikap semakin arogan.
Merasa si paling artis. Padahal senior di atasnya saja tidak ada yang bersikap sepertinya.
Setelah barang-barang Eiwa dan Ellea kaluar. Kini Arnold masuk lagi dan mendorong Eiwa yang kini memeluk istrinya di dari samping. Secara spontan keduanya tergerak ke depan bersamaan.
Melihat istrinya yang tersentak, Eiwa tak terima. Ia menggeram memejamkan mata sesaat menahan emosi, tapi tidak bisa!
"Ayo cepetan keluar! Kenapa suka banget sih, lama-lamain!" bentak Amora bersiap membuka pintu.
__ADS_1
"Saya sudah putuskan, kami nggak mau pergi dari sini, kami akan tetap di kamar ini tidur. Kalian bisa pergi, cari hotel lain mungkin?" sergah Eiwa menatap tajam Arnold.
Kemudian dengan wajah yang memerah ia mengambil barang-barangnya yang dibuang di luar kamar. Membawanya masuk.
"Cari mati ya lo?!" Arnold kembali menunjuk wajah sang bodyguard.
"Mati atau tidaknya saya, bukan urusan kamu. Karena ada yang lebih berkehendak atas apa yang segala saya miliki," tantang Eiwa. Kini ia mencengkram kaos yang dikenakan Arnold.
Wajah Eiwa terlihat lebih arogan dibandingkan Arnold. Otot-otot ditangannya terlihat jelas saat ia terus saja maju mendorong ke depan membuat Arnold mundur hingga di depan pintu.
Amora yang melihat sang suami tertindas langsung menghampiri. Setelah keduanya berada di luar, Eiwa dengan cepat mengunci pintu.
"Eh, kurang ajar lo ya! Buka pintunya bangsattt!!"
Eiwa sama sekali tidak peduli dengan teriakan mereka berdua yang sambil gedor-gedor pintu.
"Gue aduin ke papa lo! Bakalan tamat riwayat elo, pengawal bego!"
Pintu terus menerus digedor Eiwa menganggap sebagai musik irama.
Eiwa memeluk Ellea yang tengah tertunduk takut. Mengusap pucuk kepalanya kemudian memberi kecupan di sana. "Nggak apa-apa, kamu santai aja. Anggap aja mereka rintangan kita menuju puncak," ucapnya sayang.
"Apa nggak apa-apa, Bang, kita usir mereka? Kalau kak Amora pulang ngadu ke papa gimana? Abang pasti-"
"Settt... udah Abang bilang, nggak akan apa-apa. Santai oke? Kita nikmati saja malam ini."
Eiwa dan Ellea kembali melanjutkan makan malam mereka belum selesai. Tapi suasananya sudah tidak sama lagi.
__ADS_1
Ellea terus saja kepikiran kalau ayahnya tidak terima, atas perlakuan suaminya ke Amora. Bukan apa, ia hanya takut suaminya terancam, ia tak mau terjadi apa-apa pada Eiwa.
Namun, disaat Ellea khawatir justru Eiwa sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa.