
Ellea telah benar-benar resmi menjadi pasangan dari laki-laki yang memiliki profesi hanya sebagai bodyguard itu. Pendapatan gaji yang tergolong pas-pasan, hanya sekitar tiga juta lima ratus.
Ellea hanya pasrah dengan garis yang harus ditakdirkan. Bahkan setelah Eiwa menjadi suami sah, Alvin melimpahkan segala tanggung jawab pada suaminya itu. Dan menganggap tugasnya seorang ayah sudah selesai.
Alvin membebankan segala biaya kebutuhan, termasuk biaya kuliah Ellea yang terbilang tidak murah. Tetapi meski pun begitu, Alvin masih berbaik hati sebab masih memberi Eiwa peluang pekerjaan, untuk tetap menjadi pengawalnya.
Ellea dan Eiwa juga masih mendapat sepetak rumah berukuran kecil memiliki satu kamar yang terletak di belakang keluarga Alvin. Jalanya melewati gang sempit, rumah yang biasanya disewakan berdampingan dengan dua rumah lainnya.
Mulai saat ini, Ellea memindahkan barang-barang dari rumah besar itu ke rumah barunya. Namun, ada yang harus tertinggal di kamar lamannya. Sebab akan penuh jika dipaksakan ditaruh ke rumah yang tergolong sempit itu.
“Ini foto-fotonya mau ditaruh mana, El?” tanya Eiwa setelah membuka kardus berisi album dan figura foto Ellea dan keluarga. Di sana juga ada foto pernikahan mereka yang kelihatan banget dipaksakan.
“Hem… di sebelah situ kayaknya lebih bagus, deh, Bang.” Ellea mengeker posisi foto di dinding.
“Kalau ini?” Eiwa mengangkat foto pernikahannya yang baru diambil kemarin.
Ellea menggeleng, tidak tahu harus dipajang atau tidak foto itu.
“Ah, saya tau. Lebih baik ditaruh sini saja foto kita berdua. Gimana? Bagus, nggak? Biar kalau ada tamu yang dateng ke rumah, langsung lihat foto eksetik ini.” Eiwa menempelkan figura ke dinding ruangan tamu.
“Ya udah deh, nggak apa-apa, dari pada dibiarin disimpen aja di gudang rumah papa, mending dipajang di sini, kan, Bang?” Ellea tersenyum tapi terkesan dipaksa.
“Setelah jadi istri, manggilnya mau tetap abang, atau mau panggil yang lainnya?”
__ADS_1
Ellea tak menjawab justru pergi menghindar. Dia masuk ke dalam kamar beres-beres.
Di rumah ini mereka benar-benar tinggal berdua, tanpa kehadiran pembantu atau yang lainnya. Ellea yang terbiasa dilayani oleh asisten rumah tangga kini ia harus mengerjakan serba sendiri. Termasuk memasang seprai merah muda bermotif bunga lili.
Setelah membereskan kamar, Ellea merasa capek. Merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang ia tiduri pertama kalinya ini.
Sedangkan Eiwa—pria berbadan tinggi dan berkulit putih yang ditumbuhi bulu-bulu halus di permukaannya itu duduk sambil menyadarkan punggung ke headboard.
Kecanggungan sangat kentara di antara mereka. Ellea bahkan merasa risih ketika ada orang di sampingnya berbaring. Hingga kini ia memutuskan untuk duduk sejajar di samping Eiwa, tapi memasang jarak.
“Capek, ya?” tanya Eiwa.
Ellea mengangguk. “Banget… banget, sangat capek,” balasnya.
“Heh, hah?” Ellea tiba-tiba terkejut dengan netra melotot tajam memudurkan tubuhnya.
“Kenapa memang? Kamu lupa, ya? Kalau suami adalah lelaki yang paling berhak menyentuh tubuh istrinya. Jadi sah-sah aja. Mau dimulai sekarang?” tanya Eiwa Bersiap akan memegang Ellea.
Lelaki itu sedang tidak bersungguh-sungguh kali ini. Nyatanya ia kini menahan senyum menggoda.
“Enggak, enggak, jangan! Ellea nggak mau.” Ellea menggeleng-geleng menolak. Ia ketakutan kini, tapi justru Eiwa tertawa geli.
“Baru mau dipijit sudah takut bagitu, apa lagi mau di apa-apain,” gumam Eiwa. “Ya udah, sekarang kamu tidur aja, seharian ini banyak kegiatan, pasti kamu capek banget, kan? Belum lagi besok harus kuliah, pagi atau siang?”
__ADS_1
“Pagi bang.”
“Kalau gitu kamu, harus tidur, ya? Biar besok pas bangun fresh.”
Namun Ellea justru tidak menuruti perintah Eiwa, perempuan yang masih memilki sikap kekanak-kanakan itu justru memainkan ujung bad cover.
“Kenapa? Nggak bisa tidur? Banyak nyamuk atau apa?”
Ellea menggeleng sambil menunduk. “Bukan itu, Bang, tapi… Ellea nggak biasa kalau tidur ada orang di samping Ellea. Selama ini El, selalu sendirian di kamar.” Ellea mengubah posisinya menjadi duduk menyamping menghadap Eiwa.
“El, boleh minta tolong kan, sama abang?” tanyanya memelas memasang wajah manja.
“Tentu saja boleh. Minta tolong apa memangnya?” tanya Eiwa sambil menaikkan satu alisnya penasaran.
“Minta tolong, abang jangan tidur di kamar ini dulu, terserah deh, mau tidur di mana, di depan apa di dapur. Bebas, yang penting jangan di sini,” ucap Ellea sambil senyum-senyum tidak enak.
“Hemm….” Eiwa tak lantas menjawab, melainkan berpikir lebih dulu. “Kamu sadar, kalau kita udah nikah, kan, El?”
“Iya, El tau… tapi please, beri El waktu, Bang… El belum siap buat jadi istri. Mungkin, kalau soal masak El akan belajar, bersih-bersih rumah juga bisalah. Tapi buat bobo bareng, maaf… banget bang, aku nggak bisa. Jadi, please, kita jangan satu ranjang, ya? Bisa, kan? Ya, ya?” mohonnya.
Eiwa mengehela napas dalam sambil melihat Ellea Nafisha di hadapannya.
“Oke, kalau itu mau mu.”
__ADS_1
Eiwa memilih menuruti keinginan gadis yang dia angap sebagai adiknya sendiri itu . Namun itu sebelum insident kamar hotel kemarin.