Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Ada Selingan Rasa


__ADS_3

Dengan keadaan letih karena seharian bekerja, Eiwa masuk ke kamar sambil menggulung kemejanya.


Ellea baru saja selesai menunaikan salat isya. Melipat mukena lalu meletakkan ke atas meja.


“Biar El buatin kopi dulu.”


“Suami pulang kerja nggak dicium tangannya?”


Wajah Ellea bersemu merah sambil menahan senyum. Sebab ini kali pertama Eiwa memiliki permintaan demikian.


“Hemm?” Sambil memajukan satu tangan untuk dicium oleh Ellea.


Membuat Eiwa merasa senang, Ellea mau menuruti keinginannya. Tangan jari jemari yang terasa dingin seperti salju itu menyentuh kulit tangannya yang hangat.


Getaran keduanya sampai ke relung yang terdalam.


“Udah kan, Bang?”


“Sekalian bukain kancing kemejanya dong El, biar kayak di tipi-tipi.”


Seketika Eiwa mendapatkan tinjuan di perut dari Ellea. Tapi anehnya, perempuan manja memiliki sikap kekanak-kanakan ini tidak keberatan.


Walau memalingkan muka, tetap saja tangannya merayap membuka kancing kemeja Eiwa.


“Abang sudah sholat isya belum?”


Eiwa tentu saja tersenyum penuh kemenangan.


“Sudah dong. Kamu sendiri jam segini kenapa baru sholat? Pasti males, kan? Jangan biasakan menunda-nunda waktu sholat, nggak baik.”


Ellea memang sering melakukan hal itu sejak dulu. Kini ia menyadari kesalahannya mengangguk.


“Iya maaf, Bang. Tadi kebetulan El pas di jalan, jadi tertunda sholatnya,” ucapnya sambil tertunduk salah.


Tersentak keget ketika tiba-tiba Eiwa mengusap kepala bagian belakangnya.


“Aku suami kamu, mulai hari ini dan seterusnya, Insya Allah akan selalu ngingetin kamu, bukan aku aja, tapi kamu juga harus ngingetin abang, siapa tau Abang lupa. Ya saling mengingatkan together.”


Ellea mengangguk.


“Ada masak apa tadi? He um, aku lupa. Tugas kamu kan, bukan masak, tapi belajar tiga M.”


“Apa?”


“Mencintai, Menyayangi dan menyu-“


“Menyu- apa? Abang ih, mau ngomong jorok ya?” Ellea terkikik geli menebak ucapan Eiwa yang belum selesai.


“Dengerin dulu, El... kamu terlalu overthinking.”


“Terus apa coba? Abang ih, gitu....”

__ADS_1


“Lalu menurut kamu apa hayo? Jangan-jangan kamu ya yang mikirnya jorok?” Eiwa menunjuk Ellea yang mengelak.


“Nggak tau ih, abang mah, ngeselin!” Ellea tidak bisa menjawab langsung berlari meninggalkan Eiwa.


Namum sayangnya, Eiwa tidak melepaskan begitu saja. Hingga terjadi kejar-kejaran antara suami istri di dalam rumah kecil tersebut.


“Mau ke mana lagi? Nggak bisa lari, kan?”


Ellea memalingkan muka ketika wajah Eiwa tepat berada di atasnya. Deru napas keduanya saling bersautan, laju degup jantung Ellea pun tak bisa dikondisikan.


“Sebenarnya perasaan kamu ke aku itu gimana El? Boleh jawab dengan jujur?” tanya Eiwa dengan suara paraunya.


“Abang jangan terlalu dekat ih.” Kan, jadi gerogi.


Bagaimana tidak? Kalau tubuh Eiwa sekarang tengah mengungkungnya, tidak memberi ruang bagi Ellea untuk bergerak.


“Jawab dulu pertanyaanku. Baru aku menjauh, why?”


Ellea sungguh mati gaya dibuat Eiwa. Setengah mati ia menahan deru napasnya. Demi apa, ia sangat gugup, bulu-bulu halusnya meremang.


“Ka-kalau perasaan abang sendiri, gimana ke El?” tanya Ellea balik.


“Hemm....” Eiwa mikir-mikir dulu. Ellea menunggu jawaban.


“Biasa aja, nggak gimana-gimana. Kayak sama adek sendiri gitu.”


Raut wajah Ellea berubah sedikit kecewa setelah mendengar jawaban Eiwa.


“Aduh yang nggak mau dianggap adik...” Eiwa terkekeh melihat ekspresi kekesalan Ellea.


“Terus maunya di anggap apa, hem?” Tangan Eiwa semakin berani mengusap pipi Ellea yang bersemu merah.


“Abang sana ih, gerah tau....”


“Kalau gerah dibuka bajunya dong, El.”


“Ih, benar-benar mulai nakal abang ini. Udah sana, El ada tugas yang harus diselesaikan. Minggir-minggir!”


“Nggak mau. Aku ngantuk mau tidur di sini.”


Ellea menghela napas panjang, saat Eiwa bukanya pergi malah tertidur pulas di atasnya.


***


Ketukan suara pintu mengagetkan Ellea yang sedang memasak mie instan dari dalam dapur.


Bahkan Eiwa yang baru keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut basah hanya memakai celana pendek pun penasaran.


“Abang tolong lihat mie di atas kompor dulu ya, biar El lihat siapa yang datang.”


Eiwa mematuhi perintah Ellea, pergi ke dapur melihat mie di dalam panci yang meluap-luap airnya.

__ADS_1


“Permisi, apa ini rumah dari Ellea Nafisah?” tanya seorang laki-laki yang berdandan ala perempuan.


“Iya bener. Saya Ellea yang punya rumah ini. Kenapa ya?”


“Oh jadi kamu ya?” pria gemulai itu seolah tak percaya.


Setelah memperhatikan Ellea dari atas sampai bawah sekarang berganti menelisikkan mata menatap sekeliling rumah Ellea.


“Ada perlu apa ya, cari saya?” tanya Ellea.


“Jadi gini, eike datang ke mari antarkan paketan buat kamu. Itu barang-barangnya ada di dalam.”


Pria gemulai itu mengangkat kedua tangan di atas kepala lalu bertepuk-tepuk memanggil anak buahnya.


Namun karena terlalu serius para pria di samping mobil tidak dengar.


Prittt... Prirttt!


“WOI KALIAN, budek lu ya pada? Buruan bawa barangnya turun ke sini! Hati-hati jangan sampai jatuh! Kalau sampai ada yang lecet, eike gantung burung kalian satu-satu!” teriaknya.


“Siapa El?” tanya Eiwa yang baru selesai pakaian rapi.


“Nggak tau bang.”


“Oh em ji! Dari mana datangnya laki-laki tampan ini? Dari langit kah? Dari dalam gentong? Ya ampun, ya ampun, aduh emak tolong, eike napsu nggak bisa ditahan, ouh, tolong-tolong....” genit pria lenje itu sambil menjepit kedua pahanya mengigit bibir.


Ellea takut melihat ekspresi pria lenje itu. Langsung melingkarkan tangan ke lengan Eiwa.


“Sebenarnya kamu datang ke sini mau apa?”


“Ya ampun tolong... tolong eike napsu banget tolong, singkirkan manusia tertampan di muka bumi ini dari hadapan saya.


Eiwa pun memilih tidak meladeni pria lenje itu.


“Jadi gini, ada paket yang dikirim khusus buat kamu.”


“Dari?” tanya Ellea.


“Kalau itu eike sama sekali nggak tau, dari siapa. Tugas eike, sebagai pemilik butik, Cuma ngirim paket ini ke rumah kamu. Setelahnya selesai.”


Setelah semua paket-paket diturunkan, rombongan pria lenje itu pergi.


“Nama dan alamatnya bener, tapi siapa yang ngirim paket-paket ini ya, Bang?” tanya Ellea sambil melihat heran tumpukan paket.


Eiwa tersenyum diam-diam tanpa sepengetahuan Ellea.


“Mungkin buat kamu ke pesta pernikahan Amora besok El, jadi sengaja dikirim ke sini. Abang berangkat dulu ya, ada tugas ngawal Arnold hari ini, perintah dari papa.”


“Hati-hati bang.”


Ellea masih tetap tidak percaya melihat paket barang-barang branded. Tas dan kalung perhiasan mahal yang dia ketahui berharga fantastis.

__ADS_1


Sebegitu penasarannya pada sang pengirim. Ellea bahkan sampai tanya pada sang papa, tapi dari keluarganya tidak ada yang mengakui, dari mana barang-barang yang mahal itu?


__ADS_2