Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Ada Cinta Tapi Tersemat


__ADS_3

...“Awalnya emang tertarik sama Amora. Tapi semakin ke sini, aku tau siapa dia yang sebenarnya. Dia Cuma kebetulan mirip sama Erlina, tapi sifatnya jauh beda.” Eiwa berdesis menahan sakit di tubuhnya.


...


Dewa teman baik Eiwa manggut-manggut mendengar curahan hatinya. “Dari awal aku udah feeling sih, lihat mimik mukanya. Untung kamu udah nikah sama adiknya-“


“Permisi, Bang, waktunya minum obat.” Ellea memutus pembicaraan mereka.


Memberikan obat pada Eiwa hingga diminum semua dua kapsul.


Dewa menahan senyum melihat temannya itu diperlakukan dengan sayang oleh istrinya.


“Gila, perhatian banget istri kamu. Sampai segitunya, kamu diperlukan kayak anak kecil. Jadi pengen,” ucap Dewa setelah Ellea keluar dari kamar.


“Coba cari di offline, siapa tau dapat. Jangan cari di michet aja bisanya. Itu mah enaknya sementara,” ucap Eiwa langsung dapat tinjuan di perut.


“Aw... sakit bego.” Memegang perut sambil meringis.


“Halah, drama, seneng kan, kamu kalau sakit, diperhatikan?”


“Enggak gitu juga, cari perhatiannya,” elak Eiwa sambil terkekeh.


Mereka berdua sama-sama tergelak. Ellea yang sedang melipat baju mendengar ikut tersenyum.


Namun senyumannya kembali memudar saat mengingat biaya kuliah yang belum dia bayar.


“Bagaimana bisa bayar, kalau abang sakit gini?”


Sudah seminggu ini Eiwa terbaring sakit di rumah. Karena dihajar oleh teman-teman Arnold yang tak bertanggungjawab.


Gara-gara kejadian itu, Eiwa diberhentikan total oleh Alvin. Mereka harus berpikir keras hanya untuk biaya kehidupan sehari-hari.


“Kamu nggak usah khawatir El, Allah pasti kasih jalan buat kita,” ucap Eiwa menenangkan Ellea.


“Dalam rumah tangga memang bermacam-macam cobaan, ada yang suaminya suka kdrt, selingkuh, mertua dan ekonomi. Nah, sekarang ini kita lagi di uji ekonomi. Mudah-mudahan kita berdua bisa melewati ya, El.”


“Iya sih bang-“ Bukan apa, tapi Ellea merasa seperti tidak mungkin. Sebab dilihat dari nominal biaya kuliah yang harus dibayar dan gaji Eiwa sangat berbanding balik.


Ellea jadi ragu untuk melanjutkan kuliahnya.


“Tadi kamu bilang ada tugas kampus? Mana, sini biar kubantu.”


“Kamu jangan ragukan kuasa Allah, Allah bisa kasih kita apa pun, yang nggak bisa kita duga-duga.”

__ADS_1


Masalah kesulitan biaya, pikiran Ellea menjadi terpecah belah. Sampai sudah waktunya jatuh tempo, ia nekad datang ke ruangan rektor.


...Ia memberanikan diri untuk meminta diperpanjang waktu tempo pembayarannya. Walau dengan tubuh bergetar, apa salahnya mencoba, kan?


...


“Ada apa?” tanya Rektor terdengar menyeramkan bagi Ellea. Sampai ia ragu akan menyampaikan niatnya. Justru jari jemarinya yang agresif bermain di bawah meja.


“Ada hal penting?”


Ellea mengangguk. “Jadi begini, Pak. Saya ke mari mau minta maaf sebelumnya, jadi gini- hem….” Meski pun berkali-kali menghela napas tetap saja Ellea masih panik.


“Iya mau minta maaf untuk apa?”


“Saya, mau minta maaf karena belum bisa membayar biaya kuliah saya, pak. Mohon maaf sebelumnya, jika berkenan saya minta tenggang waktu sedikit lagi,” ucap Ellea sambil mengusap keringat di dahi.


“Hem… atas nama siapa?” tanya rektor sambil melihat data dari computer.


“Ellea Nafisah, Pak.”


Sepeluh jari pria di hadapan Ellea itu seketika menari-nari di atas keyboard mencari tahu data-data tentang Ellea.


“Ellea Nafisah….” Manggut-manggut sambil menatap layar.


“Betul pak.”


“Iya benar, pak.” Ellea semakin gugup karena bisa saja dia akan dikeluarkan dari kampus karena tidak bisa membayar.


“Data di sini, semua tagihan pembayaran sudah dibayar sejumlah dua ratus juta. Biaya tambahan praktik.”


“Apa pak? Maksudnya gimana?” karena banyak pikiran Ellea kurang bisa mencerna ucapan rektor.


“Apa perlu saya ulang lagi kata-kata saya?” tanya Rektor.


Ellea mengangguk. “Iya, boleh pak.”


“Baiklah. Jadi begini, semua tagihan biaya kuliah mahasiswi kamu, bernama Ellea Nafisah sudah dibayar. Alias lunas selama satu setengah taahun ke depan.”


“Beneran semua sudah dibayar, Pak? Ini beneran?” tanya Ellea memastikan.


“Saya nggak mungkin ngulang kata-kata sampai ketiga kalinya, kan?”


“Siapa yang sudah bayar, Pak?”

__ADS_1


“Saya nggak tau, mungkin keluarga kamu.”


Sengaja pria itu tidak mengatakan siapa yang telah membayar semua tagihan biaya kuliah Ellea. Sampai membuat Ellea bertanya-tanya orang tersebut.


“Seriusan udah dibayar semua? Wah asyik dong, lo nggak perlu pusing lagi mikirin bayaran,” ucap Lira. “Kalau suami lo yang kismuin itu gue rasa nggak mungkin deh. Apa jangan-jangan orang yang udah bayar itu papa lo? Bisa jadi, kan, dia sengaja ngerahasiakan namannya, biar kesannya dia nggak bantu, biar kamu nggak ngarepin terus gitu.”


Ellea jadi berpikir sama seperti Lira, sebab tidak mungkin jika Eiwa yang memiliki gaji pas-pasan itu bayar. Sedangkan yang tahu tentang biaya kuliah Ellea hanya Eiwa dan sang papa.


Ellea pun sepemikiran seperti Lira, pasti Alvin papanya yang sengaja menyamarkan nama. Sampai di rumah Ellea bahkan masih bertanya-tanya dalam hati.


“Mungkin bener tebakanmu dan teman kamu, siapa itu namannya?” Eiwa pun menebak yang sama seperti pikiran Lira.


“Lira, Bang.”


“Nah iya, mungkin papa nggak mau sampai kamu tau kalau sebenarnya dia masih peduli, mungkin biar kita berdua nggak bergantung sama dia.” Eiwa memberikan Ellea air putih dalam gelas.


“Makasih, Bang.”


“Kembali kasih.” Eiwa duduk sambil tersenyum. Tatapan lelaki berkulit putih, hidung mancung itu mematri wajah Ellea.


Ellea tentu saja menjadi salah tingkah jika diperlakukan seperti itu.


“Sekarang kamu nggak pusing lagi, kan, biaya kuliah sudah aman. Tinggal belajar aja yang bener, biar bisa raih cita-cita. Bener nggak?”


Eiwa semakin dekat memperhatikan, Ellea semakin menyembunyikan wajahnya malu sambil mengangguk.


Di sela tatapan Eiwa yang berhasil membuat tersipu malu, tiba-tiba lelaki itu mengibas-ngibaskan satu tangan mencium aroma tidak enak.


“Kayak bau hangus, tapia pa, ya?” tanyanya.


Ellea yang juga mengibasakan tangan pun merasakan aroma yang sama. “Iya, ini aroma apay a?”


“El, kamu tadi masak?”


“Astagfirullah, Bang! El tadikan goreng tempe….” Ellea langsung berlari kencang ke dapur.


Namun semua sudah terlambat. Minyak dan tempe di atas penggorengan sudah berubah warna menjadi hitam mengeluarkan asap pekat sampai membuat mereka berdua batuk-batuk.


“Yah, gosong….”


“Jadi?” Eiwa mengerutkan kedua alisnya.


“Maaf Bang.”

__ADS_1


“Yah, nggak makan lagi dong.” Sudah resiko punya istri bocah, yam asak aja nggak bisa. Eiwa hanya menggeleng tidak habis pikir.


Sedangkan Ellea hanya menggigit bibir bawahnya. Takut.


__ADS_2