Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Berpenampilan Berbeda


__ADS_3

Selamat membaca~


Malam ini di kediaman Alvin sedang ramai dengan para tamu-tamu memakai dress code berwarna abu-abu untuk para wanita, sedangkan untuk para tamu laki-laki memakai stelan jas berwarna abu-abu lebih gelap senada dengan warna celana.


Hari ini merupakan hari bahagia untuk Amora sebab hari dia telah resmi dilamar oleh Arnold sang artis yang tengah naik daun.


Senyum mengembang pun tak hanya tersemat di bibir Amora saja, bahkan Lusia sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum melihat calon menantunya menyematkan cincin di jari manis putri kesayangannya.


Di dalam aula rumah utama Alvin yang dihiasi oleh bunga putih dan merah muda itu suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi.


“Selamat….”


Ucapan selamat pun tak henti-hentinya terucap untuk anggota sosialita yang terkenal kaya raya tersebut.


“Beruntung banget ya, Amora bisa dinikahi Arnold, artis dambaan setiap perempuan, followers ignya aja jutaan,” ucap salah satu teman Lusia yang berpenampilan cetar membahenol.


“Bukan Cuma Amora yang beruntung dapet Arnold, tapi si Arnold juga beruntung tau… cowok mana coba yang nggak naksir sama Amora, udah cantik, kaya, habis gitu nggak neko-neko lagi,” puji ibu-ibu satu lagi.


“Sama-sama beruntunglah, kayak botol ketemu tutup gitu. Klop!”


Amora yang berdiri di samping Lusia ikut tertawa ibu-ibu sosialita tersebut.


“Dari awal itu saya yakin, kalau pilihan Amora nggak akan mengecewakan saya, dia pasti milih, kira-kira mana yang cocok sama dia atau nggak, nggak kaya yang lain,” sindir Lusia sambil melirik Ellea yang membawa nampan di sampingnya.


Tidak hanya Lusia saja, tapi tatapan menghardik juga menghiasi mata teman-temannya yang seolah-olah paham dengan apa yang dimaksud oleh Lusia, nyonya rumah.


“Silahkan, Tante-tante ada yang mau minum?” tawar Ellea ramah.


Tidak ada yang mau menjawab melainkan semua menatap sinis.

__ADS_1


Ellea tetap tersenyum, mungkin ini karena ia terlihat berbeda. Sebab hanya para pelayan dan bodyguard saja yang memakai pakaian atasan putih.


“Ini anak Lusia kan, ya?” tanya salah satu tamu.


“Anak tiri lebih tepatnya.”


“Oh... baru tau.” Seseorang tersebut mengangguk angguk.


“Iya, dia itu anak dari selingkuhan Alvin. Nggak kebayang banget jadi Lusia, udah diselingkuhi, ngerawat anaknya pula.”


“Kalau aku mah ogah. Ngapain.”


“Maaf, nyonya-nyonya yang terhormat. Sebaiknya pindah tempat, sebab di sini akan digunakan untuk pemotretan nona Amora dan Arnold pemotretan,” ucap Eiwa datang membuyarkan mereka.


Mereka pergi dengan wajah sewot karena harus terjeda.


“Makasih bang,” ucap Ellea.


“Abang udah nyuruh mereka berhenti ngomongin aku. Jujur, walau aku nggak tau ibuku siapa, tapi aku juga merasa sedih banget kalau ada yang ngomongin nggak bener tentang dia.”


Eiwa tersenyum sambil mengusap pundak Ellea lembut. “Aib itu seharusnya ditutup dengan rapat. Seharusnya mereka sadar, kalau mereka salah, karena membicarakan aib orang lain. Dan yang skamu lakukan sudah bener, tetap tersenyum dan doakan mereka. Jadikanlah pelajaran supaya kamu nggak mengumbar aib orang lain ke depannya.”


“Iya bang, Insya Allah.”


“Sudah makan?”


Sambil menunduk tak berani menatap mata Eiwa, Ellea menggeleng.


“Kita makan dulu gimana?”

__ADS_1


“Kita nanti makan di rumah aja. El udah masakin nasi goreng buat Abang,” ucap Ellea sambil berlalu pergi.


Tangan Eiwa tiba-tiba nyangkut di lengan Ellea. “Kenapa milih pakaian yang sama warna putih. Bukan kayak keluarga lainnya?”


Ellea tersenyum lagi. “Karena El adalah istri.”


“Oh iya lupa, istri seorang bodyguard ya?” Eiwa tergelak.


“Letakkan nampannya, kita pulang. Lagi pula ada mereka-mereka yang layani tamu.” Eiwa melihat para pelayan yang seliweran di dalam aula.


“Tapi bang, nggak enak kalau kita pulangnya sekarang.”


“Kita ini dianggap orang rendah sama mereka. Walau pun jungkir balik di depan mereka, tatap saja, nggak akan kelihatan. Yuk, kita pulang?”


Ellea mengangguk. “Ya udah kalau gitu, El taruh dulu ini ke belakang.”


Eiwa menunggu di pinggir-pinggir keramaian. Memperhatikan jam di tangannya sudah pukul sembilan malam.


Tidak lama berselang, ia dipanggil oleh Satrya. Diajak untuk mengamankan area karena ada tamu spesial yang akan datang.


Benar saja, mobil mewah yang dikawal oleh anak buahnya di belakang telah tiba. Dari plat dan jenis mobil, Eiwa merasa asing lagi, sebab ia tahu siapa pemiliknya.


Bukan lain lagi, adalah ayahnya tercinta. Yang datang membawa dua istrinya sekaligus. Yaitu, Renita mama Eiwa dan istri keduanya yang bernama Widya.


Penjagaan sepanjang jalan depan rumah sampai menuju pintu sangat dijaga ketat. Hal itu wajar saja sebab Bramantyo adalah keluarga yang sangat disegani oleh keluarga Alvin.


“Kalau seandainya aku jadi anak Pak Bramantyo. Betapa bahagianya, hidup enak, uang banyak. Apa-apa serba banyak, bahkan mama pun banyak,” ucap Satria.


“Enak apaan. Ngenes iya. Masih enak kita tau.”

__ADS_1


“Kaya ngerti aja lu.” Satria menoyor pundak Eiwa.


__ADS_2