
"Akhirnya selesai juga acaranya, gila, sumpah gue capek banget," ucap Amora.
"Gue juga cepek, tapi masih bisa buat lo lebih capek lagi dari pada ini," balas Arnold sambil menyeringai.
"Atau sebaliknya! Lo yang gue buat nggak bisa bangun." Amora menutup mulutnya yang sedang tertawa.
Dalam gedung itu sudah tidak ada tamu-tamu undangan. saatnya ke hotel lain yang sudah dipesan oleh Arnold.
Beberapa petugas kebersihan membersihkan ruangan luas tersebut.
Dua orang lainnya menemukan kotak kado yang tergeletak di atas meja.
"Ini bukan seharusnya dibawa rombongan pengantin, ya?" tanya petugas sambil memperhatikan kotak.
"Kalian ambil saja, kami nggak perlu kado itu. Kalau kalian nggak mau, juga boleh buang," titah Lusia.
Amora dan Arnold yang sudah tahu itu kado siapa pun hanya terdiam tak menghiraukan.
"Ini beneran buat kami, Nyonya? Nggak salah?" tanya petugas itu memastikan.
Lusia yang sibuk bicara dengan W O pun mengibaskan tangan.
"Syukurlah, acara telah selesai dengan lancar ya, Bu? Padahal sebelumnya banyak banget halangan, dari yang kecil sampai yang besar," ucap orang wo tersebut.
"Terima kasih bantuannya ya, Jeng. Acaranya berjalan rapi sekali, prosesinya pun nggak bikin capek." Lusia yang merasa puas bicara penuh antusias.
"Kita buka aja kotaknya, kita lihat isinya bagi dua," ucap petugas kebersihan yang sudah selesai beres-beres.
"Iya coba kita buka. Siapa tau isinya barang mahal."
"Yang jelas barang murah dong, kalau mahal nggak mungkin dikasihkan orang."
Lusia yang sedang mengobrol terusik dengan suara dua orang petugas tersebut.
"Kalian bisa minggir nggak? Ganggu banget...." ujar Lusia kesal.
"Iya bu, maaf." Mereka langsung diam. Membuka kertas yang membungkus kotak itu tanpa bicara.
"Kira-kira apa ya isinya?"
"Paling seprai. Kalau motif bunga-bunga buat aku ya, kalau Spiderman buat kamu, kan kamu belum nikah."
__ADS_1
"Iya boleh boleh."
Kertas bermotif batik terbuka semua. Kini terlihat kotak warna hitam persegi.
Mereka berdua tidak bisa berkata-kata setelah melihat isinya. Bahkan lidah keduanya keluh.
Tangan salah satu orang itu gemetar memegang set perhiasan keluaran brand ternama itu.
"Ini asli?" tanyanya.
"Coba kulihat." Petugas satu lagi mengambil kalung warna putih berkilauan kemudian menggigitnya sedikit.
Lusia yang tidak sengaja menoleh melihat apa yang dibawa oleh mereka. Melirik takjub, sebab kilauan emas putih itu memikat matanya.
"Ini asli, Be. Di sini juga ada lebelnya, barang mahal ini. Kita bagi dua gimana? Kamu kalungnya, aku gelang sama cincinnya. Gimana?"
"Ya nggak adil dong, kalau gitu, itu namanya banyakan di elu, dapat dua, gua dapat satu. Kita hom pim pa aja gimana?"
"Iya udah terserah."
Tiba-tiba Lusia datang menghentikan ho pim pa mereka. "Gini aja biar adil. Aku ada ide," ucapnya.
"Gimana nyonya?"
Mereka berdua mikir-mikir panjang.
"Gimana mau nggak?" Lusia sudah tidak sabar.
"Gimana ya? Ya udah, boleh deh."
"Ini buat kamu satu juta, dan kamu satu juta. Adil kan? Di mana lagi coba, selain pernikahan anak saya, kalian dapat tip satu juta?" Lusia mengambil kotak perhiasan lalu meninggalkan mereka.
Ibu dari Amora itu senyum-senyum sendiri, sebab ia tahu berapa harga set perhiasan yang dibawa. Harganya sampai tembus ratusan juta.
Sedangkan dua orang petugas kebersihan itu memandangi uang di tangannya sambil garuk-garuk kepala. Sebab mereka bingung, dengan harga barang yang di bawa Lusia.
***
"Kami benar-benar minta maaf, Tuan, karena kamar yang anda pilih sudah ditempati oleh orang lain," ucap resepsionis hotel.
Amora dan Arnold harus mencari hotel untuk menginap, sebab hotel yang sebelumnya sudah boking telah mengalami kebakaran.
__ADS_1
Kini mereka berada di lobby Rich Hotel memesan kamar President Suite, yang biasa mereka gunakan untuk pertemuan kalau sedang rindu.
"Lu tahu gue, kan? Gue sudah bertahun-tahun langganan di hotel ini. Apa kalian mau mengecewakan pelanggan setia?"
"Bukan begitu, Tuan. Hanya saja kamar yang Anda minati sudah diisi oleh seseorang. Prosedur hotel akan salah kalau kami harus minta pemesanan sebelumnya keluar."
"Nggak peduli. Pokoknya suruh mereka keluar, gue bayar berapa pun yang mereka mau." Arnold terus saja bersikeras ingin kamar di hotel tersebut.
Resepsionis di depannya terlihat takut-takut saat menempelkan telepon menekan tombol.
"Bilang aja kalau aku, Arnold Jaylan yang pesan kamarnya. Kalau kamu sebut namaku dia pasti langsung keluar. Cepat!"
"Tunggu sebentar, Tuan, coba kami hubungi tamunya dulu."
Resepsionis menelepon ke kamar yang diinginkan Arnold. Hingga bermenit-menit mereka menunggu, tapi tidak diangkat.
Membuat Arnold geram kemudian memukul meja.
"Kalian benar-benar udah ngusik kesabaran gue! Tutup teleponnya, gue mau naik ke kamarnya. Biar gue sendiri yang suruh itu orang pergi."
Amora yang masih menggunakan pakaian pengantin modern itu mengikuti Arnold naik ke lift. Bahkan manager dan dua petugas hotel pun ikut di belakang.
Sebab mereka takut kalau Arnold membuat keributan. Bahkan dua orang scurity pun ikut andil naik ke lantai atas.
Tok! Tok! Tok!
"Pak, sebaiknya pilih kamar lainnya saja. Kami memiliki beberapa penawaran untuk tamu penginap malam ini," ucap manager yang takut.
Sudah berkali-kali Arnold dan Amora mengetuk pintu, tapi tidak mendapat jawaban dari dalam.
"Apa tamu kalian ini tuli?" kesal Arnold semakin merah.
"Sepertinya mereka sudah tidur, Pak. Sebaiknya kalian memilih kamar yang lain saja yang spesial kami sediakan. Kalain tenang saja, pelayanan dan kenyamanannya pun tak kalah dengan kamar ini."
Arnold langsung saja mencengkram kerah leher manager tersebut. Seiring menggerakkan gigi.
"Lo bego atau gimana? Gue bilang berkali-kali, kalau gue mau kamar ini. Kalian tau kan, gue ini siapa? Nggak butuh lama, bagi publik figur seperti gue hancurin reputasi hotel kalian," ancam Arnold.
"Mending kalian turuti kemauan suamiku, dari pada karier kalian selesai. Pilih mana?"
"Tapi kami-"
__ADS_1
"Kalian ketuk sekarang, kami akan nunggu di sini." Arnold masih saja bersikukuh menginginkan kamar tersebut.