Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.10 – Gadis yang berbagi takdir denganku


__ADS_3

"Aku membangun rumah dengan tulang rusukku, dan dadamu adalah dinding tempat seluruh lukisan dan potret bahagia." --- quotes


 


\=====


 


Matahari di luar rumah bersinar dengan teriknya. Ya,di luar rumah cuacanya sangat panas, begitu juga di dalam rumah wulan sama-sama “panas”.


Aku dan wulan kini saling memandang, merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan barusan.


Walaupun kami tidak berbuat sampai sejauh itu, namun kami tidak pernah memikirkan  hal ini akan terjadi di antara kita.


Senakal-nakalnya aku, aku akan mencoba tetap waras dan tidak akan melebihi batas wajar kenakalanku.


Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan terus menjaga keperjakaanku sampai aku sah


menikah. Dan itu adalah jalan vespaku.


*Gruyuuuk perutku berbunyi dengan merdunya, menandakan ini waktunya bagiku untuk kembali mengisi perutku. Yang tadi pagi hanya aku isi dengan beberapa potong singkong goreng spesial buatan emak.


“Kamu udah lapar bar?”


Tanya Wulan mendengar nyanyian perutku barusan.


“Iya nih, tadi pagi cuma sarapan singkong doank, tapi kita malah berani olah raga berat kayak tadi. Hehehe.” Jawabku menahan malu, karena tidak menyangka bunyi perutku akan sekeras itu.


“Yaudah, aku masakin mie instan mau kan?”


Tawar wulan dengan senyum manisnya.


“Yaah, kok mie instan sih?”


Aku sedikit kecewa, karena sering mendengar cerita seram dari bahaya mie instan.


“Terus mau aku masakin apa??”


“Biar aku yang masak, boleh kan? Kamu bantu aku aja.”


Aku menawarkan win-win solutions untuk wulan.


“Ok, aku bantuin makan yaa..”


Jawab wulan menggodaku dengan mencolek hidung mancungku.


Aku dan wulan beranjak dari sofa yang menjadi saksi


bisu cinta kita dan melangkahkan kaki menuju ke dapur.


Aku mengambil tiga piring nasi putih dari rice cooker dan mendinginkannya, lalu mengambil dua butir telur dari kulkas.


“Mau masak apaan bar? Nasi goreng?”


Wulan bertanya kepadaku dengan menaruh tangannya di dagu berpose dengan imutnya.


“Udah, kalau kamu gak mau bantu aku, kamu diem aja di situ.”


Aku menjawab pertanyaan wulan dengan sedikit meniru gaya emak saat  mau masak sesuatu.


Mencoba menguasai dapur di rumah orang lain memang tidak mudah, aku sama sekali buta, tidak tahu di mana letak bumbu – bumbunya disimpan.


Aku hanya menemukan telur dan kacang panjang di kulkas namun sama sekali tidak menemukan di mana letak bumbunya.


“Kalau mau ikut makan, cariin aku bawang merah, bawang putih, cabe dan daun bawang.” Aku mulai sedikit hilang kesabaran karena tidak menemukan bumbu dan menyuruh wulan untuk mengambil beberapa untukkku.


Aku mulai meracik beberapa bumbu yang telah dipersiapkan. Lalu mulai memasak nasi goreng spesial a la Akbar sang pemuda tamvan, pada sentuhan akhir masakanku aku meniru gerakan koki terkenal saat menabur garam.

__ADS_1


“Bar, ini novel tentang cinta anak SMA kan?”


“Iya donk..”


“Terus kenapa ceritanya jadi resep masak?”


“Hahaha, mungkin authornya lagi laper kali..”


“Hahaha.. bisa jadi...”


Aku dan Wulan menikmati nasi goreng spesial pakai telur buatanku yang hanya memakai bumbu sederhana.


“Hmmm.. enak bar masakanmu, gak nyangka, udah ganteng, pinter masak juga.”


Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari wulan, karena memang inilah yang terjadi kalau sampai aku turun tangan dalam kendali dapur.


Tidak jarang aku mendengar berbagai pujian dari adikku saat dulu aku


sering memasak untuknya.


“Hmm, masa sih.. masakanku seenak itu? Perasaan biasa aja deh.”


Aku menanggapi pujian dari wulan dengan sedikit merendah, namun tetap terkesan sombong.


“Beneran deh bar, nasi gorengmu gak kalah dari masakan resto..”


“Hehehe, iya, iya.. makasih, dah, abisin makananmu, tar keburu dingin.”


Setelah kami puas menikmati nasi goreng, kami kembali mengobrol di sofa depan, diselingi canda tawa yang mesra kami pun kembali terlena oleh buaian asmara.


“Bar, aku mau kita tetap seperti ini, kita tetap berteman..” wulan mengakhiri ucapannya dengan bibirnya yang lembut menempel mesra di bibirku.


“Tapi mesra..”


Ucapku menyambung perkataan wulan yang belum selesai.


“Wul, makasih banyak buat hari ini.” Aku memeluk wulan seakan tak rela berpisah dengannya


“Iya bar, aku yang makasih, kamu udah mau bertanggung jawab dengan perasaanku ini.”


“Aku pulang dulu ya wul..” ku kecup kening wulan untuk memantapkan hatiku berpamitan dengannya hari ini.


“Iya bar, hati-hati di jalan.. mmuach wulan kembali mengecup mesra bibir ini.


Saat aku sudah berada diatas vespaku, wulan mengucapkan sesuatu


“Bar.. kamu enak..”


Dengan mengedipkan satu matanya membuat ucapan wulan berubah menjadi seribu makna untukku.


“Haaa??”


Aku memasang ekspresi wajah heran dengan maksud agar wulan mengulangi ucapannya.


Dan seakan paham dengan ekspresi wajahku, wulan meralat ucapannya yang tadi


“Maksudku, masakanmu enak bar..” wulan tersipu malu saat mengatakannya dan melambaikan tangannya untukku.


Aku sungguh tak menyangka hari ini akan begitu indah, entah apa yang aku mimpikan semalam.


Tak pernah kubayangkan bisa bermesraan seperti itu dengan wulan.


Aku dan Wulan yang sepakat untuk tidak saling terikat dengan sebuah hubungan yang resmi akan memberikan keuntungan untukku dan juga untuk Wulan.


Tapi entah mengapa aku merasa ada yang salah dengan hubungan ini.


Aku merasa bersalah kepada siapapun pasanganku di masa depan, karena secara tidak langsung aku telah berbuat curang di belakangnya.

__ADS_1


Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku ataupun perasaan wulan saat melihat salah satu dari kami telah mempunyai pasangan yang resmi.


Pastinya ada rasa cemburu namun hanya bisa memendam perasaan itu, karena kita hanya teman, ya. Teman tapi mesra.


 


***


 


Aku mengguyur badanku yang telah letih secara fisik maupun mental.


Berharap setelah mandi aku dapat menghilangkan rasa bersalahku ini, namun bukannya rasa bersalah itu hilang, kini semua rasa itu berubah menjadi benci.


Benci dengan keberadaan Dhewi yang secara tidak langsung menghalangi hubunganku dengan Wulan.


“Haaish.. mungkin ini memang sudah suratan takdir karena hubunganku dan wulan berakhir seperti ini, aku tak boleh terus – terusan menyalahkan dhewi karena perasaannya kepadaku.”


Aku bergumam sendirian saat merebahkan tubuh ini di atas tempat tidurku, dan mulai memejamkan mata. Berharap


semua kejadian ini akan berubah menjadi lebih baik saat esok pagi menjelang.


 


---


 


“Akbaar..”


Akbaar..”


Terdengar suara manis yang rasanya sangat familiar denganku, tapi aku tidak berhasil mengingat siapa pemilik dari suara manis itu.


“kamu tidak perlu khawatir bar, aku tak akan marah kepadamu..”


“semua orang pasti memiliki masa lalu..”


"dan aku tidak akan pernah permasalahkan itu.”


“masa lalu pasti akan selalu terhubung dengan masa depan.


Dan aku akan selalu menantikanmu.”


“aku akan selalu mendukungmu apapun yang akan kamu lakukan.”


“karena kamu akan selalu kembali kepadaku.”


“Akbaar..”


---


“Akbaar ... !!! ... Banguuun ... !!!”


“Iya maak, iyaa.. Akbar sudah bangun..”


04.30 am,


Seperti biasa alarm pagi yang berasal dari tenggorokan emak berhasil dengan sukses membangunkanku dari mimpi.


Aku merasa sangat familiar dengan suara yang tadi ada dalam mimpiku, tak akan pernah bisa aku lupakan suara wanita itu, karena dia adalah wanita yang pernah aku temui di mimpiku sebelumnya.


Aku selalu teringat dengan senyuman manisnya.


Terlebih sekarang, wanita itu berbicara dengan jelas kepadaku, seolah aku dan dia saling mengenal dan saling berbagi takdir.


Terkadang aku sering mengutuki otakku yang selalu kesusahan untuk mengingat wajah orang lain.

__ADS_1


__ADS_2