
"Allah menciptakan senja untuk mengingatkanku pulang pada cinta yang kukenang." --- quotes
\========
Aku terlalu memikirkan mimpi semalam yang terus membayangiku.
Hingga pagi yang cerah ini pun tak mampu untuk mencerahkan hatiku yang sedang galau gundah gulana.
Hingga Aku tak mampu untuk
tersenyum waktu berpamitan dengan emak saat aku berangkat ke sekolah.
Walaupun aku termasuk orang yang cuek dan tidak pernah memikirkan hal – hal yang menurutku sepele, namun mimpi semalam dapat membuatku menjadi seperti ini.
Bukan tanpa alasan, karena sekarang aku sungguh penasaran dengan gadis yang ada dalam mimpiku, siapa dia, dan untuk apa dia datang menemuiku.
“Aaaargh....!!! aku bisa gila kalau kayak gini caranya..!!”
Aku berteriak sendiri di tengah perjalananku menuju ke sekolah.
Aku tak peduli dengan semua pasang mata yang memandangiku seperti tu. Aku hanya ingin untuk meluapkan rasa kesalku ini.
Namun aku tetap menjaga kesadaranku, karena kini aku sedang berada di atas Bony, dan harus fokus agar selamat sampai sekolah dan dapat segera mengikuti ujian masuknya.
Aku berencana ketika ujian ini selesai aku ingin sekedar melepas segala penatku dengan berkeliling kotabersama Bony, atau mengunjungi suatu tempat yang bisa membuat pikiranku kembali Fresh.
Ketika aku telah tiba di parkiran sekolah, aku tidak menyangka ada pengendara vespa selain diriku yang kini dia sudah duduk dengan santainya di atas vespa merah miliknya.
“Oi bro..!!” aku melihatnya melambaikan tangan kepadaku saat aku memasuki area parkir.
Sengaja kuparkir Bony di sebelah vespa merah miliknya, supaya kita bisa ngobrol dengan santai di atas vespa sembari menunggu panggilan untuk mengikuti ujian, dan tentunya vespa akan terlihat lebih indah jika mereka parkir rapi berdampingan.
“Kamu Hogy kan?” Tanyaku kepadanya membuka percakapan kami.
“hahaha pangling po?” Dia membalas pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan.
“Haaish, nggak lah, berarti yang aku lihat waktu malam minggu itu beneran kamu kan?”
“Iyoo.. iyoo.. yang malam minggu kencan sama cewek, sampai gak mampir ngumpul sama anak – anak.”
Hogy kembali menjawabku dengan sindiran
“Helleh.., mogok aku coeg, baru bisa pulang dari rumahnya aja jam 12 malem.”
Aku sedikit menutupi kejadian yang sebenarnya saat mogok di rumah wulan.
“Walaah, gak kena semprot apa sama bapaknya cewekmu?”
“yo ndak tho ya.. aku punya cara, biar disayang sama calon mertua wahahaha., tar aja aku ceritain.”
Hogy dan aku memang sudah kenal lama, dia adik kelasku waktu SMP dan yang membuatku dekat sama Hogy, bahkan melebihi saudara sendiri adalah ketika kita ikut ekstra pencak silat di SMP.
Namun aku sempat pangling,karena memang sifatku yang pelupa dan karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya
Latar keluarga hogy cukup unik, dia datang dari keluarga yang cukup kaya, karena ayah dan ibunya adalah seorang
__ADS_1
pengusaha yang cukup sukses. Walaupun hidup berkecukupan, tidak lantas membuat hogy menjadi anak yang manja, dia di didik oleh orang tuanya untuk mandiri sejak dini.
Walau begitu terkadang masih sangat terasa dari ucapan hogy yang mengandung nada kesombongan, menjadikan Hogy mempunyai sifat sombong yang aneh, dia sering sombong tidak pada tempatnya.
[...Teeet...teeet...]
Bel tanda waktu ujian telah berbunyi, aku dan hogy yang sedang asyik mengobrol dan mengingat masa lalu kini
harus beranjak dari atas vespa kami menuju ruang ujian.
Uiian pertama yang harus kita lalui adalah Ujian tertulis, dimana kita harus menjawab berbagai soal pengetahuan dasar dan pengetahuan umum.
Saat aku dan hogy sampai di depan pintu ruang ujian, dan akan memasukinya dari arah parkiran terlihat ada seorang berlari dan berteriak kepada kami.
“Gaees!!, tungguin gaes..!!”
Aku dan Hogy yang tidak mengenali pemuda itu hanya menjawab teriakannya dengan senyuman heran lalu melanjutkan langkah kami menuju ruang ujian yang sempat terhenti karena dia.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, waktu ujian tertulis yang hanya 60 menit itu terasa bagaikan 3600 detik
saja bagiku.
Untung saja aku berhasil memaksa wulan untuk menjelaskan seperti apa saja ujian yang akan aku lalui hari ini, sehingga sempat bagiku untuk belajar dan mengingat kembali ilmu yang telah sempat aku lupakan.
Hari ini masih ada dua ujian lagi, yaitu wawancara, dan baca tulis Al qur’an.
Entah ujian ini akan selesai jamberapa nanti, namun yang pasti kami diberi waktu istirahat selama 30 menit
setiap sesi nya.
“Hai mbak.. namaku Akbar, calonbsiswa di sini.”
Aku memasang senyum manisku dan menjulurkan tangan untuk berkenalan dengan mbak penjaga kantin.
“Hiraukan saja mbak, dia itu kalau makan gorengan tiga bilangnya cuma makan dua.”
Tiba - tiba hogy menimpali omonganku dengan gurauannya saat tangan mbaknya hampir meraih tanganku.
Akhirnya aku hanya mendapatkan senyuman manis dari mbak penjaga kantin itu.
“Namaku vivi..”
Mbak penjaga kantin itu menyebutkan namanya dan masih memasang senyum manisnya.
“Kalau aku Hogy mbak.”
Hogy yang sudah duduk di kursi kantin ikut-ikutan menyebutkan namanya dengan agak lantang dan tersenyum songong seolah penuh kemenangan pada dirinya.
“Kalau aku Topan mbak.”
Tiba-tiba muncul suara dari seorang pemuda yang sedang menempel di pintu kantin kayak cicak.
Mbak vivi yang menurutku sudah berumur 20 tahun lebih itu kembali memberikan senyuman manis untuk kami, walaupun dia seorang penjaga kantin, namun wajah dan pakaiannya terllihat sangat stylish, sangat didukung dengan bodinya yang uuuuuuh.... bohai...
Kalau kita bertemu di luar,mungkin aku akan mengira mbak vivi itu seorang mahasiswi atau seorang wanita karir, bukan seorang penjaga kantin seperti ini.
__ADS_1
Lalu topan masuk ke kantin dan ikut duduk satu meja dengan kita.
“Kalian mau pesan apa?” tanya mbak vivi kepada kami.
“Kopi Hitam mbak.” Jawabku dengan cepat.
“tapi jangan terlalu manis, mbaknya udah manis banget soalnya.” Sambungku
“Es jeruk boleh juga..” hogy ikut memesan minuman.
“Es teh aja deh mbak..” topan yang terakhir memesan minuman.
“Udah itu aja? Gak ada yang maumakan?”
Mbak vivi kembali bertanya kepada kami.
“Ndak deh mbak..nanti aja..”
Dengan cepat hogy menjawabnya.
“eh mbak, kalau ada, singkong goreng, aku mau donk..”
Tanpa malu-malu aku meminta makanan yang tak lazim ada di kantin sekolah.
“Wahahahaha...” Topan dan Hogy tertawa keras bersamaan karena mendengarku pesan singkong goreng. Sedangkan mbak vivi hanya tersenyum manis dan seolah memikirkan sesuatu.
Hihihi, bentar ya, kalian tunggu minumannya.”
“Kalau singkong goreng, mbak ndak janji, tapi mbak coba lihat dulu di dapur.”
Kemudian mbak vivi menghilang menuju arah dapur.
Aku dan hogy kini mempunyai pikiran yang sama, yaitu ingin mengetahui latar belakang sosok pemuda yang mirip cicak bernama Topan itu.
Topan adalah sosok yang tadi pagi memanggil kami sesaat sebelum ujian dimulai, dan kini dengan sok akrabnya dia duduk satu meja bersama kami, ya walaupun kami tidak keberatan, namun kesan pertamaku mengenalnya tidak berkesan dengan baik.
“Gaes, kenapa tadi kalian ninggalin aku terus sih? Kan jadi malu akika..”
Topan yang pertama memecahkeheningan diantara kita, dengan berlagak sok bancisnya sembari menempelkan
tangan pada pipi.
Bukannya terlihat imut, tapi gerakannya barusan berhasil membuatku dan hogy mual menahan muntah.
“Nah siapa eloo?” kini hogy menjawab topan dengan aksen british betawi
Aku hanya tersenyum canggung melihat tingkah mereka berdua, aku tahu topan bukan seorang lelaki “bertulang lunak.”
dia bertingkah seperti itu hanya untuk berkenalan dengan kami, namun dengan caranya sendiri yang menurutku cukup unik.
Kami bertiga kini bisa mengobrol dengan santai,dan saling bercanda, walaupun ini semua terjadi setelah Hogy dan
Topan berdebat dengan lucunya.
“Siapa yang tadi pesan singkong goreng??!”
__ADS_1
Tiba-tiba muncul suara agak menyeramkan diikuti penampakan wanita berumur yang terlihat suram dari arah dapur.