
"Cinta itu layaknya angin, aku tidak bisa melihatnya tetapi aku bisa merasakannya." --- Nicholas Sparck
\=\=\=\=\=
Entah kenapa, rasanya aku masih merasa risih setiap kali berada di rumah Dhewi, mungkin hanya karena belum terbiasa berada di sini, atau karena pernah diledekin sama mbak Iis? Tapi menurutku bukan hanya itu saja, aku merasa masih belum siap untuk terikat lagi dengan keluarga dari seorang perempuan, apalagi dengan kejadian Wulan kemarin, disaat aku sudah memiliki sosok figur seorang ayah, yang selama ini tidak pernah aku rasakan lagi.
Malah aku harus kehilangan sosok kunci yang menghubungkanku dengan sosok yang bisa aku sebut sebagai ayah, mungkin aku hanya tak ingin merasakan kehilangan lagi setelah aku merasa memiliki sesuatu.
Dan tentunya rasa takut akan kehilangan itu tidak terbatas untuk figur seorang ayah saja, namun juga untuk perempuan, disaat aku merasa sudah memilikinya, ternyata hanya akan merasa kehilangan lagi.
Terus terang aku menjadi sedikit ragu ketika merasa sudah lebih dekat lagi dengan perempuan, aku takut akan merasakan kehilangan lagi. Dan kini sosok perempuan itu adalah Dhewi, dimana dia adalah gadis yang telah Wulan pilihkan untukku, kalau memang aku dan Dhewi di takdirkan untuk bersama, maka aku akan berusaha untuk menjaganya layaknya aku menjaga nyawaku sendiri.
Karena ku tak ingin mengecewakan Wulan yang telah memilih dia untukku, dan juga karena Dhewilah, aku mempunyai alasan untuk menjadi dekat dengan Wulan.
Aku juga masih ingat saat paman memberiku nasihat tentang perempuan yang bisa dijadikan pendamping hidup, salah satunya adalah dia tidak pernah memandang seorang laki – laki hanya dari hartanya saja, melainkan dari kerja keras dan agamanya.
Dan untuk bisa mengetahuinya kita harus terlihat miskin di depan perempuan, jika perempuan itu masih mau dengan kita, maka gunakan tes yang kedua, yaitu tes vespa mogok, jika ada perempuan yang tidak mengeluh ketika vespa kita mogok, malah menertawakannya atau bahkan ikut mendorong vespa, maka dia lulus tes dan cocok untuk dijadikan pendamping hidup.
Untuk itu kita harus berjuang keras agar membahagiakan perempuan tersebut, agar dia makin merasa bahagia bersama kita, bukan malah merasa kesal dan meninggalkan kita, tapi seharusnya perempuan yang mau diajak susah, tidak akan meninggalkan kita, namun akan memilih untuk tetap tinggal dan memberi kita support agar bisa mencari nafkah untuk membahagiakan dia dan keluarganya.
Haaiish...kenapa aku udah mikir jauh kayak gitu sih? Baru aja daftar SMA, udah mikir mau bahagiain anak orang, orang tua apa kabar? Udah dibahagiain belom?
Tapi memang semenjak kenal dekat dengan Wulan dan keluarganya, aku merasa mungkin akan seperti ini jika aku nanti mempunyai ayah mertua dan keluarga dari Wulan.
Apalagi tadi Dhewi mau mendorong vespaku yang mogok sesaat setelah pergi dari warung soto, dan dia tampak tenang saja, bahkan menertawakan nasibku yang ngenes, karena harus bongkar – bongkar busi vespa di bawah terik matahari. Bahkan Dhewi sempat berfikiran kalau ini juga hasil dari perbuatan Rayhan, tapi aku langsung membantahnya, bahwa ini memanglah kodrat alami dari motor tua, yang harus ekstra sabar untuk bisa merawatnya.
Paman juga pernah berpesan, kalau merawat vespa itu lebih gampang daripada merawat seorang perempuan, kalau motor ngambek, kita bisa tau penyebabnya dari gejala mogoknya, nah kalau perempuan yang ngambek? Hahaha paman hanya tertawa setelah itu. Dan sampai sekarang, aku masih belum paham apa maksud ucapan paman, mungkin suatu saat aku juga aka merasakannya sendiri.
“Ayo.. dimakan sotonya, kok malah bengong sih bar?” suara manis milik Dhewi berhasil menyadarkanku dari lamunan panjang semenjak aku duduk di ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
“Eh, iya, ayok makan, udah lapar berat nih aku, gara – gara Bony ngambek sih ini, jadi terkuras deh tenagaku.”
“Hahaha... udah – udah.. namanya juga motor tua, pasti ada aja penyakitnya.. nih tambah nasinya..”
“Tadi siapa bar? Tanya Dhewi tiba – tiba saat aku baru memasukkan sesuap soto ke dalam mulutku
“Tadi yang mana wie?”
“Itu lho.. yang gandeng – gandeng kamu di depan papan pengumuman, cantik yah?”
Aku hampir tersedak nasi saat Dhewi bertanya seperti itu, berarti sorot mata yang membuatku merinding tadi berasal dari tatapan seram seorang perempuan yang merasa cemburu, dan bukan dari tatapan Rayhan, seperti yang selama ini aku pikirkan.
“Oowh itu.. dia Fitri, anak baru juga, kenal kemarin waktu mau tes wawancara.”
Aku berusaha tetap tenang saat menjawab pertanyaan dari Dhewi, karena jika terlihat gugup pasti Dhewi akan bertambah curiga kepadaku.
Dhewi mendengus dengan kesal saat mengucapkan itu, terlihat sekali kalau Dhewi tidak suka dengan perlakuan Fitri kepadaku tadi
“Hahaha.. itu.. Fitri cuma menganggapku seperti kakak kandungnya saja, karena umur kami yang terpaut tiga tahun membuat Fitri menganggapku sebagai kakak, itu aja gak lebih kok..”
Kini aku tersenyum dengan canggung karena baru saja mengarang sebuah cerita untuk membuat Dhewi tidak membahas masalah ini lebih lanjut.
“Ciyeee... baru kenal udah kakak – adekan aja nih.. kayaknya aku gak bakal punya kesempatan nih, apa mending aku sama Rayhan aja yaa??”
Kini Dhewi membalas senyuman canggungku dengan sebuah ancaman.
“Haiish, bukannya selesai, malah tambah runyem, emang ribet bener urusan sama cewek yang satu ini.” Batinku yang tetap mengunyah nasi dengan tenang.
Aku tidak menanggapi ancaman dari Dhewi, karena aku tahu dia hanya membalasku agar merasa cemburu kepadanya, namun bukan rasa cemburu yang muncul, malah seolah aku setuju kepadanya karena memang ini jatah Rayhan untuk mencari perhatian dari Dhewi.
__ADS_1
“Walaaah Vespaa..!! Punya siapa nih? Ada tamu ya..?”
Terdengar suara berat seorang pria mengagumi Bony yang terparkir dengan santai di depan rumah Dhewi.
“Assalamu’alaikum..”
Kini suara itu berada di ambang pintu dan sedang melihatku yang sedang lahapnyamakan soto di ruang tamu.
Sosok pria itu berwajah teduh dan penuh kharisma, dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya, namun bukannya terlihat tua, malah terlihat sangat bijaksana, tubuhnya juga masih nampak kekar, sangat tidak mencerminkan kalau dia adalah seorang pria yang sudah berumur, terlebih saat dia memberikanku sebuah senyuman yang terasa sangat hangat bagiku.
“waalaikumsalam”
Jawabku dan Dhewi dengan kompak, sosok pria tua yang mmenurutku adalah ayah dari Dhewi kini tengah mendekat kepadaku dan memegang pundakku.
“Makan seadanya yaa.. jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.”
Pria itu berkata kepadaku dengan dihiasi senyum hangat yang terlukis dari bibirnya lalu menghilang masuk ke dalam ruang tengah.
“Itu bapakmu po wie?” Tanyaku kepada Dhewi yang kini juga sedang tersenyum melihatku.
“Hehehhe, iya, biasa jam segini pulang bentar, buat makan siang terus pergi lagi.
“Eh, bapakmu mau makan itu lho, ini nasinya sana taruh di belakang dulu biar bapakmu bisa makan siang.”
Aku menyuruh Dhewi untuk membawa sebakul nasi yang berada di depanku ini, namun hanya ditanggapi dengan gelengan kecil dari kepala Dhewi dengan dihiasi senyumannya yang kini bertambah lebar.
“Makan siang ada temen ngobrolnya, pasti lebih nikmat.”
Ayah Dhewi tiba - tiba muncul dari dalam dengan membawa piring kosong lengkap dengan sendok dan garpunya.
__ADS_1