
Waktu berjalan dengan cepat bagaikan peluru, dia melesat dan tak akan kembali --- quotes
\=======
Semua mata tertuju kepada kami, saat kami berdua masuk dari gerbang sekolah menuju ke tempat parkir. Entah itu siswa kelas tiga, kelas dua, maupun calon siswa.
Di SMA ini siapa yang tidak mengenal sosok anggun seperti Dhewi? sedangkan untuk calon siswa baru, siapa yang tidak mengenalku? banyaaak!!
Pemandangan ini terlalu mencolok untuk semua yang ada di sekolahan. Sosok Dhewi yang terkenal dingin terhadap cowok, kini tengah menempel dengan indahnya di punggungku.
Ya, aku yang hanya calon siswa baru, kini sedang membawa salah satu bidadari manis dari kampus dua hanya bermodalkan vespaku.
Yang begini saja sudah membuat mereka terkejut, apalagi jika mereka tahu bahwa aku juga dekat dengan Wulan yang memang juga populer dikalangan para cowok kampus dua.
Aku sudah bersiap – siap apabila memang nanti akan ada kakak kelas yang tidak suka kepadaku, namun aku sama
sekali tidak takut untuk menghadapi mereka.
Satu hal yang juga membuat mereka semua terkejut, termasuk aku juga kini sedang terperanjat kaget.
Saat ini Dhewi tengah mencium tanganku untuk berpamitan layaknya istri mencium tangan suaminya, atau anak perempuan yang mencium tangan bapaknya?
“Bar.. aku masuk kelas dulu yaa..cup..”
“Eh.. eh iyaa..semangat ya sekolahnyaa... jangan nakal..”
Imbuhku berpesan, karena memang dari tadi aku menjadi pusat perhatian, sekalian saja aku gunakan kesempatan ini untuk mengelus – elus kepala Dhewi.
Biarlah mereka semua menatapku dengan benci, bahkan aku sampai merasakan ada hawa kebencian yang muncul dari berbagai arah, dan yang terasa paling kental muncul dari lantai tiga, tempat dimana kelas Dhewi berada.
“Weeiiizz... belum mulai sekolah aja udah nyari musuh nih anak..”
Dari belakangku terlihat Hogy dan Topan yang datang dengan tawa songong mereka, terlihat sekali kalau mereka juga seakan tidak punya rasa takut terhadap tatapan kakak kelas yang kini sedang melihatku.
“Hahaha, kalian tambah rukun aja.”
Aku menertawai mereka karena biasanya Hogy dan Topan akan selalu meributkan hal apa saja, bahkan hal kecil sekalipun.
“Tenang bar, kalau ada yang ganggu kamu cuman karena kamu dekat sama mbak wie, kita bakal selalu ada di belakang kamu kok, biar gampang gitu kalau mau lari duluan.”
Topan dengan sok serius menepuk – nepuk pundakku.
“Kok kamu kenal sama Dhewi sih pan?”
Tanyaku yang heran karena Topan yang ternyata juga mengenal Dhewi.
“Heleh, siapa yang gak kenal sama mbak dhewi yang walaupun manis tapi terkenal judes itu, dia pacarmu po bar?”
Hogy menimpali percakapan kami dengan sebuah pertanyaan kepadaku
“Gak kok, kita masih teman aja, gak tau kalau nanti.. hehehe..”
Aku menajawab Hogy, dengan tawa cengar – cengir.
[buak!!] dengan cukup keras Hogy menabok punggung Topan
“Tuh kan Bener apa kataku?!! Mereka gak pacaran, berarti aku yang menang! Kamu hutang es jeruk sama mie rebusnya mbak vivi lhoo pan.!!”
“Uhuk..Wuanjret.. iyo iyoo.. aku kalah..”
Topan terbatuk kaget karena tabokan Hogy
“Cih, aku cumak jadi bahan taruhan jerr..”
Dengan cepat jitakanku mendarat di kepala mereka tanpa sempat dihindari.
[Drap..drap..] Terdengar suara langkah kaki yang cukup kompak, yang dengan segera membuat beberapa kerumunan di berbagai titik.
__ADS_1
Mereka adalah para anggota OSIS yang memasang pengumuman hasil ujian di tiga titik papan pengumuman.
“Gaes, mau lihat sekarang?”
Aku mengajak hogy dan topan untuk melihat hasil ujian.
“Nanti aja lah gaes, aku laper, kita ke tempat mbak vivi aja yok?” Ajak Hogy.
“Iya, lagian kita orang pasti diterima semua kok.” Jawab topan dengan santainya.
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku hanya pasrah dengan keadaan dan mengikuti mereka ke kantin mbak vivi.
“Kok kalian malah kesini? Lolos seleksi gak nih?”
Mbak vivi bertanya kepada kami, dengan dihiasi senyum manisnya.
“Makanya kita kesini, pastinya kita lolos donk mbak..” Jawab Topan dengan songongnya
“Mbak, es jeruk sama mie rebus, tiga, Topan yang bayar..”
Tanpa basa – basi Hogy mulai mengatakan pesanannya kepada mbak vivi yang saat ini sedang mengobrol dengan Topan.
“Oi.. coeg? Kok tiga sih? Tadi janjinya cuma kamu aja kan yang aku bayarin..”
“Yaudah, dua aja mbak, buat aku sama akbar, topan mungkin lagi gak mau makan.”
“Woi, woi woi...” Topan dan Hogy mulai gaduh seperti biasanya
”Jadi mau pesen berapa nih?”
Mbak vivi mulai bingung dengan sikap mereka.
“Tiga mbak.”
Jawab hogy yang sedang menjambak rambut topan
“Dua aja mbak, buat aku sama Akbar, Hogy ndak usah dibuatin.”
“Haiiiish... tiga aja mbak..yang dua spesial puedesss...”
Aku berbisik kepada mbak vivi yang tengah kebingungan dan hanya dengan mengedipkan satu mataku untuk membuat mbak vivi tersenyum geli dan beranjak ke dapur.
“Gaes, kalau masih ribut aja aku tinggal nih ke wc, aku mau kencing.”
Ucapku yang gemas melihat tingkah mereka.
“Eh ikut gaes...”
Mereka menjawab dengan kompaknya.
Aku melangkahkan kaki keluar dari kantin, namun bukanlah toilet yang aku tuju, aku sebetulnya penasaran dengan statusku yang diterima atau tidaknya ini.
“Cuy, sehaat?? Toilet bukan kesitu arahnya..”
Topan bertanya untuk mengingatkan aku
“Pasti dia mau lihat pengumuman.. cih lemah..”
Hogy menimpali ucapan topan
“Haiish yang kayak gini aja bikin kalian kompak... hadeeh..” aku memijit – mijit kepalaku yang terasa tidak pusing ini.
|1332| Akbar alimsyah | DITERIMA |
.......
__ADS_1
|1345| Fitri Rahmawati | DITERIMA |
........
|1348 | Hogy Supriadi | DITERIMA |
|1349 | Ika Yulia Sari | DITERIMA |
.......
|1361 | Rita Kartika.P | DITERIMA |
.......
|1369| Topan Eka.S |DITERIMA |
“Bar, selamat yaa..”
Terdengar suara Fitri dari arah belakangku
“Eh, iya Fit, kamu juga, selamat yaa.. mana Rita sama Yulia?”
Tanyaku basa – basi
“Tuh...”
Terlihat Hogy, Rita, Yulia dan Topan sedang berjalan bersama menuju kantin mbak vivi.
Mungkin aku terlalu fokus membaca hasil ujian, sampai tidak sadar sudah cukup lama sendirian berdiri di depan papan pengumuman, kalau tidak disapa oleh fitri, mungkin aku akan mengira kalau topan dan hogy masih di belakangku.
“Haiiish, mereka ini, udah kayak belut aja, licin banget..”
Aku geleng – geleng melihat tingkah Topan dan Hogy. Sedangkan Fitri masih tersenyum geli melihat mereka yang usil meninggalkanku sendirian di depan papan pengumuman.
“Hihihi, ayok ah, makan...”
Tiba – tiba Fitri menggandengku dan berjalan menuju kantin.
“Eh eh.. apaan nih..”
Aku pura – pura risih dengan tindakan Fitri.
“Udaah ayok aah..”
Ajak Fitri kepadaku dengan manjanya.
Tiba – tiba bulu kudukku berdiri, aku merasa ada yang sedang melihatiku dari belakang saat Fitri menarik tanganku dengan manja. Tapi aku tak berani untuk menoleh dan segera masuk ke kantin, biarlah waktu yang akan menjawabnya, toh juga gak penting pikirku.
Kami berenam yang telah merasa lega setelah melihat hasil ujian kami, kini sedang menikmati makanan khas kantin sekolah yaitu mie rebus, namun masih belum terlihat reaksi dari Topan dan Hogy yang sedang menyantap mie rebus ekstra pedas, sesuai requestku tadi.
“Hmm... enak nih, agak pedas.. aku suka..”
Komentar topan dengan lahapnya menyantap mie
“Hmm.. hmm..”
Gumam Hogy dengan mengangguk – anggukkan kepalanya tanda setuju.
“Gila nih mulut mereka gak ngerasain panas apa ya? Belum terasa pedes kah?”
Aku berfikir dengan keheranan melihat mereka berdua makan dengan lahap seolah tidak merasakan pedas sama sekali
Kini rasa heranku berubah menjadi rasa khawatir, bagaimana reaksi perut mereka nantinya jika sekarang mereka belum merasakan pedasnya mie, ataukah mungkin mbak vivi sedikit merasa kasihan sama mereka? dan hanya menambahkan sedikit bubuk cabe pada mie rebus mereka.
Namun masa bodo, salah sendiri mereka membuatku menjadi bahan taruhannya. Aku makan mie rebus sambil tersenyum geli membayangkan mereka nanti akan berebut kamar mandi hahahaha.
“Mana yang namanya Akbar??!!”
__ADS_1
Tiba- tiba datang tiga orang cowok bertubuh cukup besar dan sok sangar, yang kulihat dari badge di lengan mereka tampaknya adalah anak kelas tiga.
Aku hanya meliriknya dengan tajam, karena merasa ini tidak akan berakhir dengan baik.