Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.31 – Wujud Lain Seorang Dhewi


__ADS_3

"Jangan berduka, apa pun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain." --- (Jalaludin Rumi)


\=\=\=\=\=\=


Aku segera berlari berkeliling di dalam rumah untuk mencari Dhewi yang katanya sudah menungguku sedari tadi.


Di dalam kamarku masih utuh, tak ada wujud penampakan seorang perempuan di dalamnya, di dapur juga tak ada orang, hanya ada sisa – sisa pertempuran emak melawan pasukan sayur mayur.


“Apa mungkinkah Dhewi sedang berada di kamar mandi?”


Aku mencoba mendorong pintu kamar mandi, dan berharap pintunya terkunci dari dalam yang berarti memang ada penghuni di dalam kamar mandinya.


Tapi setelah kudorong dengan sedikit tenaga, pintu kamar mandi terbuka lebar dan kosong, tak ada seorangpun di dalamnya.


Aku kembali menemui emak yang sedang duduk santai di depan televisi, dan menanyakan maksud ucapan emak tentang Dhewi tadi, namun beliau hanya tersenyum kecil melihat tingkahku ini.


“Kamu pikir Dhewi masih di sini dan akan menginap lagi? Lihat sudah jam berapa ini?”


Ucapan emak berhasil menyadarkanku akan kesalahanku pada Dhewi, mungkin dia mempunyai alasan tersendiri mengapa harus berbicara langsung kepadaku, tidak melalui telephone.


Dan pastinya ini adalah hal yang cukup penting untuk dibicarakan, mengingat Dhewi rela untuk lama menungguku pulang.


Setelah mandi dan makan malam, aku mencoba menghubungi Dhewi, mungkin saja dia mau berbicara kepadaku.


“Tuut..”


“Tuut..”


“Tuut..”


“Maaf Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau sedang tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi.”


Berulang kali aku mencoba menghubungi Dhewi, tapi hasilnya nihil, panggilanku selalu saja ditolak, mungkin dia benar – benar marah kepadaku, atau dia hanya mau berbicara saat bertemu langsung denganku saja.


[Besok sepulang orientasi pramuka, aku tunggu kamu di rumahku.]


[Tidak usah di balas kalau memang sedang tidak ingin berbicara denganku.]


Setelah semua panggilanku ditolak oleh Dhewi, aku mencoba mengiriminya beberapa pesan singkat, dan aku sebenarnya berharap kalau dia akan membalas pesanku.

__ADS_1


Aku menunggu sampai hampir tengah malam, tetap saja tiada balasan dari Dhewi, namun setidaknya Dhewi telah membaca pesanku, karena ada laporan bahwa pesanku telah terkirim dengan sukses ke nomor Dhewi.


***


Istirahat pertama orientasi pramuka seperti biasa kami bertiga berkumpul di kantin mbak Vivi, saat ini kami bertiga saling bertukar informasi terkait persiapan kemah yang akan dilaksanakan selama tiga hari dua malam, mulai hari jum’at besok sampai dengan minggu pagi.


Kegiatan perjemahan ini akan menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan orientasi peserta didik baru dan akan ada pembagian kelas untuk kami para peserta didik baru.


“Eh gaes, aku boleh minta tolong kan?” Topan bertanya kepadaku dan Hogy.


“Minta tolong apaan? Jawab Hogy menggantikanku


“Nanti setelah kegiatan hari ini selesai semuanya, aku minta tolong kalian agar bersembunyi di dapur mbak Vivi, lalu sesuai dengan kode dariku, kalian akan keluar membawa seikat bunga dan kue tart yang sudah kupesan sama mbak Vivi. bagaimana bisa kan?”


Aku dan hogy saling bertukar pandangan sejenak, kami sedang memikirkan rencana busuk apa yang sedang Topan kerjakan.


Pada akhirnya kami berdua menyetujui permintaan dari Topan, namun aku memberikan sebuah kondisi bahwa aku ada janji untuk menemui seseorang sepulang sekolah nanti, untuk itu aku tidak bisa mengikuti rencana Topan hingga selesai.


Topan menyetujui kondisiku, dia hanya memberiku tugas untuk bersembunyi dan memberikan seikat bunga kepada orang yang dimaksud, sementara Hogy yang akan membawakan kue tart dan menemani mereka hingga selesai.


Kegiatan hari ini berakhir dengan cukup melelahkan, karena memang dikhususkan untuk persiapan kemah, jadi seharian ini materi kami semuanya berada di lapangan, dan hanya sedikit materi teori dan itupun dibahas di lapangan semua.


Terlihat di sudut dapur ada seikat bunga mawar merah dan kotak berwarna merah muda, mungkin itu adalah kue tart dan bunga yang Topan maksud.


Aku teringat saat aku berkunjung ke rumah Topan sebelum ini, disana ada banyak sekali bunga mawar yang bermekaran di halaman rumahnya, jadi mungkin Topan tidak merlukan banyak usaha untuk mendapatkan ini semua.


Dari dalam dapur aku mendengar suara dua orang sedang berbincang dan mendekati kantin.


Aku yakin itu adalah Topan dan perempuan yang menjadi incarannya, aku dan Hogy tersenyum geli mendengar segala rayuan yang dilancarkan oleh Topan untuk menaklukkan gadis itu.


Sampai akhirnya aku dan Hogy mendengar kode yang dimaksud oleh Topan, dengan segera, Hogy membuka kotak yang memang berisi kue tart dan bertuliskan sajak penuh rayuan diatasnya, aku dan Hogy hanya menggelengkan kepala mellihat isi dalam kotak itu.


Kami segera keluar dari dalam dapur dengan posisi Hogy yang berada di depanku karena membawa kotak yang berisi kue, sedangkan aku berjalan di belakang dengan mmyembunyikan seikat bunga di punggungku.


Aku tercekat, nafasku tertahan saat melihat perempuan yang sedang duduk di hadapan Topan adalah Aisyah, dia hanya menunduk tak mampu menatap wajahku, sedangkan aku merasa seolah langit tengah runtuh di hadapanku.


Seikat bunga itu kutaruh di hadapan Aisyah lalu menepuk pundak Topan “Semoga kalian bahagia.”


Hanya itu yang mampu aku ucapkan sebelum melangkahkan kaki untuk meninggalkan kantin.

__ADS_1


“Aku benar – benar minta maaf, tidak bisa menemani kalian, aku ada janji untuk bertemu seseorang saat ini.”


Aku berjalan menjauh meninggalkan mereka dan menuju tempat parkir Bony, aku merasa ada sebuah lubang di hatiku, karena aku mulai mengingat kembali bahwa Aisyah sering mendatangiku lewat mimpi, seolah dia adalah gadis yang dikirimkan Tuhan untukku.


Namun jika sudah seperti ini, aku tak ingin merebut pujaan hati dari sahabatku sendiri, aku berjalan pelan saat mengendarai Bony, aku tak ingin rasa kecewa ini menghilang begitu saja, aku mulai pasrah, dan menyerahkan semua rasa ini kepada-Nya.


Jika memang Aisyah adalah gadis yang dikirimkan oleh-Nya untukku, maka suatu saat nanti pasti akan kembali kepadaku entah bagaimanapun caranya.


Saat hampir sampai di rumahku, aku melihat ada seorang gadis dengan rambut lurus sebahu, dia memakai kaos putih dan memakai celana army sepanjang lutut saja sedang duduk di teras rumahku.


“Dhewi??” aku memanggil gadis itu karena sempat pangling dengan Dhewi yang biasanya seluruh tubuhnya tertutup oleh jilbab, kini memakai baju seperti umumnya seorang gadis remaja.


“Kenapa di luar saja? Ayo masuk.”


Aku membukakan pintu dan mempersilahkan Dhewi untuk masuk.


Aku merasa aneh karena rumahku terasa sepi, seharusnya emak sudah menyuruh Dhewi untuk menunggu di dalam rumah


Tanpa menunggu lama, aku segera ke dapur untuk mencari emak dan mengambilkan Dhewi segelas air dingin dari kulkas, namun saat aku hendak membuka pintu kulkas aku melihat sepucuk surat yang tertempel di pintu kulkas.


Emak meninggalkan pesan bahwa beliau ingin mengunjungi rumah paman untuk menengok Yanuar, dan mungkin juga beliau akan menginap di sana.


Terdengar suara langkah kecil mendekat ke arahku, aku yang sedang jongkok untuk membaca pesan yang ditinggalkan emak dikagetkan dengan kemunculan Dhewi yang kini telah berdiri di sampingku.


“Akbar, aku mau ngomong sama kamu.”


Aku berdiri di hadapan Dhewi, dia yang hanya setinggi bahuku terpaksa mendongak ke atas untuk menatap wajahku.


[PLAKK!!] sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku, dan terlihat setetes air yang mengalir dari ujung mata Dhewi.


“Aku sudah tau semuanya, apa yang kamu sepakati dengan Rayhan, kamu jahat bar.. kamu keterlaluan!!”


Dhewi menghujani dadaku dengan pukulan dari tangan kecilnya, diapun menangis di dadaku dan masih memukuli tubuhku ini.


Aku hanya diam dan membiarkannya melakukan ini semua, karena aku memang merasa salah kepadanya.


Dia adalah gadis kedua yang kubiarkan untuk menampar pipiku, karena sekarang gadis lain yang  pernah menamparku sebelumnya telah berbahagia di sisi – Nya.


Dan aku merasa Dhewi adalah seseorang yang akan menggantikan Wulan di sisiku.

__ADS_1


__ADS_2