
"Kau pikir aku memperhatikanmu? Tidak, Sayang.
Aku memperhatikan lingkunganmu, barangkali ada yang akan mengganggumu, kuhajar dia." ---Pidi Baiq
\=======
Salah satu dari ketiga pemuda itu menyadariku yang sedang meliriknya dan membalas lirikan mataku dengan tatapan mata yang sama tajamnya, namun aku sama sekali tidak sedikitpun merasa takut, dan mungkin juga yang tadi melihatku saat aku digandeng Fitri adalah dia.
Pemuda itu datang mendekatiku yang sedang makan mie rebus bersama topan dan hogy, walaupun mereka masih
melanjutkan makan, namun aku yakin kini mereka menunggu aba – aba dariku jika nanti akan terjadi sesuatu.
Aku yang baru mengenal Topan tidak menyangka dia bisa makan dengan tenang tanpa menurunkan tingkat kewaspadaannya, aku merasa Topan juga bukan orang yang sembarangan, mungkin dia juga atlet pencak silat seperti kami, atau mungkin Topan mempunyai pengalaman yang diluar perkiraanku.
“Kamu yang namanya akbar?!”
Dia bertanya kepadaku dengan tangannya yang kini berada tepat di samping mangkok mie yang sedang aku makan.
Aku sengaja diam dan tidak menjawab pertanyaannya yang menurutku tidak sopan itu, dari yang kulihat di seragamnya dia bernama Rayhan.
[Bruak] Rayhan menggebrak meja makan kami, dan membuat sedikit kuah mie rebus kami tumpah.
“Kalo ditanya tuh jawab!! Punya mulut kan?!
Kini kesabaran Rayhan hampir habis karena kami bertiga masih makan dengan tenangnya, tanpa memperdulikan pertanyaan dari rayhan dan seolah tak melihat adegan arogan yang dilakukan oleh Rayhan.
Memang sudah aku duga, hanya dengan diam saja bisa membuat kesabaran bocah arogan sepertinya kalap.
Walaupun dia kakak kelasku, namun aku yakin, umurnya tidak berbeda jauh denganku, itulah sebabnya aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya yang kurang enak di dengar itu.
Lain lagi ceritanya kalau saja tadi mereka bertanya dengan sopan, mungkin aku masih mau untuk menjawab mereka.
[Klontang!!] Mangkok mie rebusku melayang jatuh ke lantai, dan untung saja tidak pecah.
“Baru kelas satu aja udah songong, gak bakalan kalian betah sekolah di sini selama tiga tahun!”
Rayhan kini sudah habis kesabarannya terlihat dari mangkok mie ku yang kini telungkup dengan santainya di lantai, dan otomatis membuat seluruh mie rebusku berhamburan.
Dan ditambah pula kedua teman Rayhan kini sudah berada tepat di belakang tempat dudukku.
Hogy dan topan yang melihat hal itu menghentikan makan mereka dan menatapku seolah menunggu persetujuan dariku, namun aku masih tenang dan memang tidak ingin membuat keributan di sekolah, setidaknya tidak di depan Fitri dan kawan - kawan, yang mana mereka kini terlihat panik dan ketakutan.
“Mboook...!!! ada kakak kelas yang rese nih, mangkok mie rebusku di buang tuh...”
__ADS_1
dengan sengaja aku memanggil sosok penguasa kantin ini, yang menurut firasatku, sedari tadi dia hanya menyimak kelakuan rayhan dari dalam dapur
“Brrpffftt.....”
Hogy dan Topan menyemburkan kuah mie yang ada di mulut mereka, lalu tertawa secara bersamaan.
“Bwahahahaha..”
“Kamu kejem bar, yang ginian aja manggil simbok, udaah sini biar aku yang beresin mie rebusmu yang tumpah.” Hogy berdiri dan mulai membersihkan mie rebusku yang berserakan di lantai.
“Ada apa sih baar??!! Ganggu simbok masak aja di dapur.”
Kini makhluk suram yang tadi kupanggil itu telah muncul di hadapan kami, lengkap membawa spatula saktinya, karena spatulanya itu dapat mengubah rasa singkong yang masih mentah menjadi bongkahan singkong yang merekah nikmat.
“Cih!! Dasar bocah pengecut..jangan harap kalian bisa nyaman sekolah di sini.”
Rayhan menggerutu lalu mengajak kedua temannya pergi meninggalkan kantin.
Mungkin Topan dan Hogy tidak menyadarinya, saat Rayhan datang dan mencoba mencari masalah denganku, aku
menyadari kalau Fitri, Rita, dan Yulia terlihat sangat ketakutan.
Makanya aku hanya bertindak sederhana dan memancing emosinya, aku memang sudah bersiap kalau nantinya akan terjadi sesuatu, tapi aku juga yakin kalau mereka pun pasti akan berfikir dua kali untuk menyerangku di dalam area sekolah, apalagi dari yang aku tahu, hukuman karena berkelahi antar siswa sangat berat yaitu langsung dikeluarkan atau akan dipindah ke sekolah lain.
Aku berniat untuk menjelaskan kepada mbok Samiatun karena telah terjadi hal gaduh di wilayah kekuasaannya, namun belum sempat aku menjelaskannya simbok sudah memotong ucapanku.
“Sudah, gak apa – apa bar, tindakanmu barusan sudah bener, emang Rayhan kayak gitu anaknya, mentang – mentang anak pejabat, dia jadi arogan dan seakan bisa membeli semuanya, simbok udah denger semuanya dari dalam dapur.”
“Walah, belum mulai masa orientasi siswa tapi kamu udah dapat musuh, kayaknya bakal seru hidupmu bar.. wahahaha..”
Topan menertawakanku saat membantu Hogy membersihkan mie yang tumpah.
“Udah – udah nanti biar vivi yang beresin mie itu.”
Mbok samiatun menyuruh Hogy dan Topan untuk berhenti dari aktivitasnya lalu dia kembali menghilang ke arah dapur.
Tercium aroma yang sangat menggoda dari dapur, aku sangat yakin ini adalah aroma yang berasal dari benda berwarna keemasan itu.
“Nih buat ganti mienya Akbar.. dan kalian bertiga, sini, gak usah takut lagi, ayo makan bareng.”
Mbak vivi keluar dari dapur dengan membawa beberapa bongkahan singkong goreng yang telah merekah dengan seksinya, dan mengajak ketiga cewek cantik yang masih terlihat ketakutan itu untuk menikmati bersama singkong goreng yang telah berada di hadapan kami.
Sejujurnya aku tak rela untuk berbagi singkong goreng yang seksi ini dengan siapapun, tapi melihat mereka bertiga yang nampaknya masih syok dengan kejadian barusan, maka aku ikhlaskan saja untuk berbagi singkong ini dengan mereka.
__ADS_1
Saat kami berenam menikmati singkong goreng, mbak vivi menyuruh kami untuk berhati – hati, karena pasti ulah ryhan tidak akan berhenti di sini saja.
Dia baru akan berhenti jika targetnya sudah menyerah, atau dia sudah merasa bosan dengan targetnya, bahkan
tidak sedikit siswa yang telah pindah sekolah karena ulah Rayhan.
Walaupun Rayhan adalah anggota OSIS yang ada di kampus dua ini, Namun karena tabiat dan latar belakangnya, dia cukup memiliki pengaruh di kampus pusat, dan pastinya nanti akan terjadi sesuatu hal sangat menarik saat masa orientasi siswa dimulai.
Mbak vivi juga menambahkan bahwa aku harus berhati – hati saat diluar jam sekolah, karena nyatanya ulah Rayhan tidak hanya terjadi saat jam sekolah saja.
“Hahaha, tenang saja mbak, kalau memang Rayhan berulah di luar jam sekolah, maka aku pasti lebih leluasa untuk
mengurusnya.” Ucap Topan dengan percaya dirinya.
Sementara aku dan Hogy hanya bisa terdiam karena memang belum mengenal Topan lebih dalam, apalagi latar belakang Topan yang terbilang masih cukup misterius bagiku.
Kalau memang Topan hanya bocah biasa, pasti dia sudah gemetar dengan gertakan sambal yang dibuat oleh Rayhan, Dia juga terlihat sangat tenang saat rayhan membuang mangkok mie rebusku.
“Ya sudah, yang penting kalian hati – hati, mbak gak pingin liat kalian terluka, apalagi mendengar kalian pindah sekolah gara – gara Rayhan itu.”
“Shiyap mbak viviku yang cantiiik...”
jawab Topan genit sambil mengedip – ngedipkan matanya yang kini berhasil dengan sempurna membuat perut kami yang berada di sini mendadak mual.
“Setelah ini mau kemana kita?”
tanyaku kepada Hogy dan Topan.
Karena memang setelah ini aku sama sekali belum ada rencana akan pergi kemanapun. Dan kegiatan calon siswa baru hari ini hanya melihat pengumuman saja.
Lalu bagi mereka yang diterima, maka akan mengikuti masa orientasi siswa yang akan diadakan hari Senin.
Sementara besok Sabtu hanya briefing sebentar untuk mengumumkan item apa saja yang akan di bawa untuk kegiatan orientasi siswa pada hari Senin.
“Ok, ayolah nongkrong, aku ada tempat bagus buat nongkrong, dan tentunya gratis.” Ajak Topan
“Ok yuh, cabut..”
Aku mulai bersemangat karena akan hang out bersama Topan dan Hogy. Rasanya seperti menghirup udara segar setelah kepergian Wulan.
Setelah kami membayar makanan kami bertiga, kami pamit kepada Fitri, Yulia dan Rita, mereka tidak ikut kami nongkrong, karena memang belum lama mengenal kami, dan dengan alasan mereka ingin belanja di pasar setelah ini.
[degg] tubuhku terasa panas, darahku seolah mendidih saat melihat kedua roda Bony telah kempes dan terlihat ada tiga orang yang kini tertawa keras dengan melihatku secara remeh di samping Bony.
__ADS_1