Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.20 – Perjanjian Satu Semester


__ADS_3

Majulah tanpa menyingkirkan,


Naiklah tanpa menjatuhkan


Jadilah baik tanpa menjelekkan.--- quotes


\=======


“Cih, kalian lagi.. bener – bener mau cari masalah ya kalian?!”


Topan mendahuluiku untuk bertanya kepada trio Rayhan yang dari tadi berusaha membuat ulah kepadaku


Tampak Hogy dan Topan bersiap – siap dengan segala resiko yang akan kami hadapi kali ini, namun aku masih tetap berusaha berkepala dingin.


Jangan sampai hari dimana aku diterima sekolah adalah hari dimana aku dikeluarkan, akan sangat sia – sia perjuanganku selama ini yang telah menabung untuk biaya sekolahku sendiri tanpa membebani orang tua.


Dua orang pengikut Rayhan juga tampak bersiap – siap seolah ini adalah pertarungan tiga lawan tiga.


hanya aku dan Rayhan yang kini maju saling berhadapan beberapa langkah di depan teman – teman kami.


“Kamu yang lakuin ini semua?”


Aku bertanya dan menunjuk kedua roda milik Bony.


“Cih, apa aku perlu untuk menjawabnya?”


“Kamu yang lakuin ini semua?!”


Aku mengulangi pertanyaanku tadi dengan nada agak tinggi


“KALAU IYA KENAP--- ?!”


Belum sempat Rayhan menyelesaikan ucapannya tangan kananku telah berhasil mencengkeram kerah seragamnya dan mengangkat kerahnya tinggi – tinggi.


“BONY SALAH APA??!”


Kalau mau nyari masalah tuh sini sama yang punya motor! Jangan terus motornya yang kamu kempesin! Kamu pikir enteng apa dorong Vespa yang rodanya kempes?!”


Dengan kalapnya aku menampar muka rayhan berulang kali, menggunakan punggung dan telapak tangan kiriku bergantian.


Sementara dua orang pengikut Rayhan hanya bisa menontonku yang sedang kasarnya memberi pewarna merah pada muka Rayhan, karena mereka dihadang oleh Hogy dan Topan.


Aku yang kini merasa amarahku sudah agak terlampiaskan, kembali berfikiran dingin dan menurunkan Rayhan.


“Makanya kalau emang ada masalah, coba ngomong baik – baik dulu, gak usah sok ngegas!”


Aku mencoba mengingatkan Rayhan dengan tindakannya yang arogan semenjak pertama kali kita bertemu.


“aku gak suka, liat Dhewi mau naik vespa bututmu ini.! Pokoknya aku gak terima.!”


Rayhan menunjuk Bony dengan menendang roda kempes bony


“Haiiish... masalah cewek...” aku menghela nafas kecewa karena mendengar jawaban dari Rayhan


[Buak!!] hanya dengan satu tarikan nafas saja, sebuah pukulan yang cukup keras dari tangan kiriku berhasil


mendarat dengan mulus di ulu hati Rayhan.


“Tangan kiri ini peringatan dariku, kalau masih mau nyoba macem – macem, silahkan aja.  Kamu bisa bayangin sendiri gimana kalau aku pake tangan kanan.”


Aku kembali mengingatkan Rayhan tentang perbuatannya dan apa yang akan terjadi apabila mencoba mengulanginya lagi, dengan tangan kepalan tangan kiriku yang masih menempel di perutnya.


“UHUOK...!! ..hah..hah..”


Rayhan tak mampu berbicara dan hanya menganggukkan kepalanya tanda dia paham ucapanku.


Terlihat sekali wajah Rayhan berubah menjadi pucat setelah mendapat “pelajaran” berharga dariku, memang tamparan dan pukulanku tidak terlalu membekas di tubuhnya.


Namun aku yakin dengan kekuatan yang aku pakai tadi sudah lebih dari cukup membuat bocah arogan itu tutup mulut untuk sementara waktu dan tentu saja tanpa meninggalkan jejak di tubuhnya.


Ada sebuah teknik untuk memukul tanpa meninggalkan bekas, namun rasa sakitnya akan terasa sama.


Saat Rayhan berbalik badan berencana menjauh dariku, aku kembali menarik kerah seragamnya dari belakang.


“Mau kemana?? Cariin aku pompa dulu buat ban vespaku. Baru kalian boleh pergi dari sini.”


“I.. iya...” Jawab Rayhan yang terjatuh karena kutarik kerahnya dari belakang.


Dengan tergopoh – gopoh Rayhan berlari keluar area sekolah dan mencari pompa untuk ban vespaku.


Kini hanya tinggal kami bertiga dan dua orang pengikut Rayhan, terlihat Topan yang tangannya gatal maju mendekati mereka.


“Kalian juga anggota OSIS?”


tanya Topan kepada mereka yang kini melihatku dengan ngeri, seolah aku adalah monster bagi mereka.


“Bukan.. cuma Rayhan saja yang ikut OSIS, kami cuma satu kelas dengannya” jawab salah satu pengikut Rayhan yang berbadan paling kekar.

__ADS_1


Aku berjalan mendekati Hogy yang kini sedang bertolak pinggang di hadapan mereka.


Menyadari kedatanganku, Hogy mendekatiku, dan dengan cepat mengarahkan sikutan ke area daguku


[Plak!!] sebuah suara keras tercipta saat sikutan hogy dan telapak tanganku bertemu.


Untung saja aku berhasil menangkis serangan Hogy, kalau tidak, mungkin dagu indahku akan benjol tak beraturan karena sikutannya.


“Kamu makin cepat aja hog..”


“Tenagamu juga bertambah bar..”


Kami mengobrol dengan bertukar beberapa jurus dasar aliran pencak silat kami, dan Hogy adalah spesialis


kecepatan, sedangkan aku hampir berimbang antara kecepatan dan kekuatan.


Walaupun hogy adalah adik kelasku saat SMP, tapi dia berada di tingkatan yang sama denganku di perguruan pencak silat “Semut Hitam”


Yaa, nama julukan perguruan kami memang semut hitam, tidak terlihat sangar, namun memiliki makna yang dalam, salah satunya yaitu rasa persaudaraan antar anggotanya, tidak perlu satu agama dulu, tidak perlu satu daerah dulu untuk saling membantu.


Itulah yang secara tidak langsung membuat anggota perguruan ini menjadi cinta damai dan memiliki rasa persaudaraan yang tinggi layaknya semut yang setiap bertemu sesamanya mereka akan saling “bersalaman”.


Namun jangan tanya jika ada yang sampai mengusik semut, dia juga akan mengigit orang yang mengusiknya.


“Bar, kamu terlalu lembek sama Rayhan, dengan kekuatanmu ini, seharusnya Rayhan sudah pingsan dari tadi..”


“gak semua masalah bisa selesai dengan baku hantam hog.. dari dulu kamu juga udah tau kan?”


Sementara kami berdua mengobrol dan bertukar berbagai jurus, Topan dan kedua pengikut Rayhan hanya menonton kami dengan takjub dan tak berani untuk mendekat.


Memang dari SMP kami berdua sering melakukan sparring jurus, selain untuk membantu mengingat gerakan, ini juga akan mempererat ikatan batin kami.


Sudah sangat lama saat terakhir kali kami melakukan latih tanding seperti ini, kecepatan Hogy kini jauh meningkat dibanding terakhir kali yang bisa ku ingat, namun sedikit demi sedikit, kecepatanku dapat mengimbanginya.


“Hopp..!!”


Hogy  yang terlebih dulu menghentikan latih tanding kami kali ini, nafasnya terlihat lebih ngos - ngosan daripada nafasku.


“Gilaa...keras banget.. tanganku sampai mati rasa..” Hogy meringis kesakitan


“Hahaha, dua tahun kerja jadi kuli bangunan termasuk latihan yang keras lhoo..”


Aku menertawakan hogy yang sedang menampar –nampar tangannya sendiri


“Plok..plok..plok!!”


“Wahahaha, aku barusan nonton aksi jackie chen sama jet li adu ilmu live di depan mataku..”


Topan tertawa bahagia, melihat kami yang kelelahan setelah melakukan sparring jurus tadi.


“Muatamu..!!”


Dengan kompak aku dan Hogy memaki kelakuan Topan barusan.


Saat Rayhan datang membawa pompa, Topanlah yang bertugas menjadi mandor bengkel bagi Rayhan dan kawan – kawan untuk memperbaiki Bony, sementara aku dan Hogy kembali ke kantin mbak vivi untuk menikmati segelas es jeruk yang akan menghilangkan dahaga kami.


“Haaaah....nikmatnya berkeringat...”


Aku melenguh melepaskan rasa nikmat tak tertahankan setelah meneguk es jeruk buatan mbak vivi.


“Hidih.. kalau ada yang denger bisa salah paham lho bar..”


Ucap Hogy yang kini memandangku dengan tatapan jijik


“Sinii... gak usah takut... selesaikan dulu masalah kalian, baru kalian boleh pulang..”


Terdengar suara topan yang sedang menyeret tangan Rayhan mendekat ke arah kantin mbak vivi.


“Bar, aku mewakili temanku, meminta maaf padamu soal kelakuan kami hari ini, ban vespamu juga udah bener lagi..”


Ucap Rayhan dengan menundukkan kepalanya


“Huss.. udah lah, sini duduk dulu, kita ngobrol yang enak..”


Aku menjawab permintaan maaf Rayhan itu.


“Mbaaak, es jeruknya tambah empat lagi, topan juga yang bayar..”


Dengan seenak jidat, Hogy menambah pesanan minuman kami.


“halaaah, biasaa..”


Topan hanya mendengus kesal mendengar pesanan yang dibuat Hogy.


“Udah Ray, coba ceritain apa masalahmu? sampai kamu menoba mengancamku tadi..”


Aku juga menghargai ketulusanmu untuk meminta maaf padaku, aku bahkan sudah melupakan itu.”

__ADS_1


Owh ya, aku juga meminta maaf tentang perutmu yang sudah aku pukul tadi.. masih terasa sakit kah?”


Tadi pagi kami masih saling bertatap mata penuh benci, kini kami duduk saling berhadapan satu meja, pastinya terasa sangat canggung sekali.


Dan aku ingin menghilangkan rasa canggung ini dengan menghujani Rayhan berbagai pertanyaan untuknya.


“Bar.. maaf, aku suka sama Dhewi sejak aku kelas satu, tidak, tepatnya saat pertama kali aku bertemu Dhewi, aku


sudah suka sama dia.


Tapi Dhewi selalu menolakku dengan berbagai alasan, dan tadi pagi aku baru pertama kali melihat senyum Dhewi yang paling indah, dan itu adalah saat dia bersamamu, tentu saja itu yang membuatku marah, iri dan tentunya sakit hati...maaf..bar..”


“Haiiish, masalah seperti ini tidak usah terlalu dibesarkan..aku dan Dhewi sama sekali belum mengikat janji diantara kami. Dan itu artinya kamu masih ada kesempatan untuk merebut hati Dhewi, jika kamu memang bisa.”


“Maksudmu?? Kamu belum berpacaran dengan Dhewi?”


Rayhan bertanya penuh semangat seolah tak percaya dengan ucapanku.


“Iya, saat ini kami hanya berteman, dan kembali saling mengenal belum lama ini, itu juga berkat usaha dari mendiang Wulan yang kembali mengenalkan kami sesaat sebelum kepergiannya..


Aku menceritakan semua tentang usaha Wulan untuk mendekatkan Dhewi denganku, tentu saja aku menutupi beberapa bagian, salah satunya hubunganku dengan Wulan yang terbilang  cukup intim untuk hubungan pertemanan, dan juga tentang mata – mata Dhewi dimana cerita itu hanya akan menjatuhkan harga diri untuk seorang seperti Dhewi.


“Ja.. jadi.. kalian sudah saling mengenal bahkan sebelum SMA? Aku benar – benar minta maaf bar, aku sudah salah paham terhadapmu.”


“Yaa.. yaa... sudahlah.. lupakan.. aku juga tidak cukup bodoh untuk memperpanjang masalah seperti ini.. hanya saja, aku berharap, kamu tidak akan mengulangi tingkahmu yang arogan itu.  Aku dengar sudah cukup banyak yang jadi korbanmu..betul?”


....Yaah.. itu masa lalu bar, kalau tau akan seperti ini jadinya aku juga tidak ingin menjadi arogan seperti yang kamu bilang itu.”


“Maksudmu seperti ini? Seperti apa?”


Tanyaku yang tidak paham dengan ucapan Rayhan.


“Aku masih ingat saat ayahku belum menjabat di pemerintahan kota, beliau pernah berpesan kepadaku, jangan sekali – kali mencari masalah dengan anggota perguruan semut hitam, kalau memang bersalah dan terlanjur terlibat, maka sebaiknya selesaikan masalah dengan baik – baik, pasti anggota semut hitam dapat memaafkan apabila pihak yang bersalah juga meminta maaf dengan tulus. Dan aku tau kalau kalian adalah anggota mereka, aku melihat gerakan kalian tadi sangat mirip dengan gerakan khas yang sering ayahku lakukan.”


“Siapa nama ayahmu Ray?”


“Pak Mardjito.”


“Bwahahahaha....”


Aku dan Hogy tertawa keras bersamaan, karena kami yakin ayahnya rayhan adalah pelatih kami sewaktu masih SMP.


“Kamu dalam bahaya Ray...”


Aku tersenyum licik mengancam Rayhan


“Jangan bilang, kalau kalian kenal ayahku..”


Rayhan kini terlihat sangat ketakutan


“Bukan hanya kenal, mas Mardjito sudah kami anggap sebagai kakak dan juga ayah kami.”


Hogy menjawab dengan senyum yang tak kalah licik dariku.


Rayhan kini tertunduk lemas saat mengetahui kenyataannya, tak pernah dia sangka, semua tabiat buruknya akan berimbas kembali kepada dirinya sendiri.


“Tapi tenang  Ray, aku gak bakalan ingkar janji, apalagi kita sekarang adalah saingan untuk merebutkan hati Dhewi untuk itu kita harus sportif.”


Ucapku menenangkan Rayhan, karena takut aku akan bermain curang saat berebut perhatian dari Dhewi.


“Yaudah, kasih aku waktu satu semester buat deketin Dhewi, kalau memang dalam satu semester aku belum pacaran sama dhewi, berarti itu giliran kamu untuk mendekatinya, dan syaratnya adalah selama waktu yang telah ditentukan itu, kita tidak boleh saling mengganggu.”


Rayhan mulai mengajukan  beberapa syarat tentang hal ini, yang aku pikir ini sama sekali tidak akan memberatkanku..


“Ok setuju, tapi dalam waktu satu semester jika aku lost contact dengan Dhewi pasti akan terlihat tidak wajar, untuk itu, aku ingin kamu mengubah syaratnya menjadi, dalam waktu tertentu masih boleh berhubungan namun tidak mengganggu pendekatan yang di lakukan oleh rival.”


“Ok deal, dan mari kita lupakan masalah kita.”


Rayhan mengajakku bersalaman.


“Ok deal, dan aku juga gak bakal cerita sama ayahmu.” Aku menyambut tangan Rayhan.


Semua yang berada di sini menjadi saksi bahwa mulai hari ini telah terjadi persaingan sportif antara aku dan Rayhan untuk memperebutkan hati seorang Dhewi.


“Apa yang sedang kalian sepakati?”


Terlihat di depan pintu kantin ada seorang gadis manis sedang menyilangkan tangan di depan dadanya yang rata, dan menatap kami dengan tajam.


 


\========


 


Author Note :


Salam persaudaraan,

__ADS_1


dengan tanpa mengurangi rasa hormat, saya sebagai penulis dari novel Bony sang Scooter memohon maaf yang sebesarnya kepada seluruh pembaca, khususnya saudara PSHT apabila saya ada salah dalam menjabarkan makna “semut ireng” yang mana disini memang tidak saya jabarkan semuanya, karena takut akan mempengaruhi benang merah dari novel ini, namun terlepas dari itu semua, saya pribadi hanya ingin mengungkapkan rasa bangga karena saya lahir dan besar di lingkungan PSHT, dan tentunya tidak ingin chapter ini akan menjadi masalah di kemudian hari.... PSHT JAYAA!!!


__ADS_2