
“Cinta tidak terlihat dengan mata, tetapi dengan hati.” --- William Shakespeare
\=\=\=\=\=\=\=
Topan memacu motornya menuju bangunan tua itu, aku merasakan suasana tidak nyaman berada di daerah ini, karena mereka yang berada di luar bangunan terlihat seperti gerombolan kriminal yang haus akan harta benda, dan seperti siap untuk merampok kapan saja.
Namun hal aneh terjadi saat kami melintas di depan mereka yang seolah terlihat sedang menjaga gerbang masuk menuju bangunan tua yang kini sudah berada di depan mataku, aku sempat berpikir mereka akan menghentikan kami namun ternyata mereka malah menundukkan kepala dan mempersilahkan kami masuk dengan sopan.
Aku bertanya kepada Topan sesaat setelah kami berhenti dan memarkir motor kami di dalam bangunan tua ini.
“Serius nih? Parkir motor di sini?”
“Udaah, sini aja, gak ada yang bakal bawa lari vespamu bar..”
Jawab Topan dengan santainya, sementara Hogy hanya tertawa kecil melihatku terlalu waspada seperti ini.
“Mulai dari sini kita akan jalan kaki menuju tempat kita nongkrong, ayo buruan, udah lapar nih..” Topan berkata seperti ini lalu dengan segera meninggalkan area bangunan tua ini.
Kami bertiga berjalan mengikuti Topan melewati perkebunan singkong, sawah dan berhenti di pinggir sungai dimana terdapat sebuah pohon kelapa yang sedikit miring mengarah ke sungai.
“Kita mau nongkrong dimana sih? Kok sampai lewat sungai segala.”
Aku mempertanyakan kepada mereka terkait kegiatan nongkrong yang terbilang cukup aneh ini.
“Udah kamu diem aja, tar kalo udah sampe tempat kita nongkrong kamu pasti bakal terpesona sama pemandangan alamnya.”
Hogy menjawab pertanyaanku dengan sedikit marah karena baru pertama melihatku yang rewel seperti ini.
“Hahaha... tenang aja bar, kamu gak akan kecewa setelah kita sampai di tempat nongkrong kita nanti, nah sekarang tangkap nih kelapanya.”
Melihatku yang sedikit khawatir membuat Topan membuka mulutnya saat berada diatas pohon kelapa.
Kami bertiga menyeberangi sungai dengan melompat dari batu ke batu karena memang tidak ada jembatan di sekitar sini.
“Hiiiish, belum nongkrong aja udah ribet kayak gini, segala pakai lompat batu nyebrang sungai, belum di depan
__ADS_1
Cuman ada hutan kayak gitu, emang kita mau nongkrong di dalam hutan?” dumelku.
“Yapp, betul sekali, kita bakal lewatin hutan itu, terus mampir bentar ke rumahku, baru kita menuju tempat nongkrongnya.” Jawab Topan dengan santai.
“Bar, lagi pula sejak kapan kamu jadi bawel gini? Udah kayak emak – emak kehabisan jatah belanja bulanan aja.” Hogy mencibirku karena sedari tadi mempertanyakan keberadaan tempat nongkrong yang dijanjikan mereka.
“Pan, emang rumahmu di tengah hutan gini?” kok tadi bilang mau mampir rumahmu dulu?”
“Akbar Cereweeeet..!! suruh diem aja gak bisa!” Hogy berteriak sesaat setelah jitakannya mendarat di kepalaku.
Topan hanya tersenyum geli melihatku dan Hogy beradu mulut, lalu dia menyuruh kami untuk mempercepat langkah karena waktu sudah semakin sore sedangkan kami bertiga belum makan siang kecuali lontong bekal mopdik tadi.
Saat semakin masuk kedalam rimbunnya hutan mulai terdengar suara orang yang sedang saling berbincang, namun tidak terlalu jelas, karena mungkin jarakku dan sumber suara yang masih cukup jauh.
Saat suara itu semakin jelas, terlihat pula sebuah rumah yang cukup megah berdiri dengan kokoh di tengah hutan seperti ini, dan ada pula beberapa mobil jeep yang parkir dengan rapi di sekitar rumah itu.
Aku yang sebetulnya sangat penasaran dengan keadaan ini terpaksa tutup mulut dan menunda semua pertanyaan yang kini muncul di dalam kepalaku.
Kami semakin dekat dengan rumah itu, saat berada di depan gerbang kami disambut oleh beberapa orang yang memakai atribut yang sama dengan orang yang tadi kutemui di gedung tua tempat parkir bony.
“Selamat datang mas, udah pulang?” Seseorang berbadan kekar di depan gerbang bertanya dengan sopan kepada kami.
“Iya udah, aku sama teman – teman mau langsung ke belakang, tolong kasih ini untuk mbok Ijah buat bikin es kelapa jeruk terus bawa ke belakang sama makan siangku.” Topan memberikan buah kelapa yang telah kita petik tadi kepada pria berbadan kekar, setelah itu kami langsung menuju tempat nongkrong yang telah dijanjikan.
Dan ternyata untuk menuju tempat nongkrong itu masih harus melewati kebun bunga mawar yang cukup luas, lalu ada sebuah taman kecil lengkap dengan ikan hias dan gazebo.
Disaat aku berfikir gazebo itulah tempat kami nongkrong, dengan cepat Topan menjawab pertayaanku seolah dia dapat membaca pikiranku.
“Udah lapar blum bar? Sabaar yaa, Kita hampir sampai kok, abis lewati gazebo itu, kita sampai tempatnya.”
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Topan barusan, karena ternyata aku masih harus berjalan lagi setelah sekian lama. Namun aku tahan segala sumpah serapah ini untuk nanti jika ternyata tempat nongkrongnya tidak se – spesial yang mereka katakan.
“Ok kita sampai..!!”
Topan berteriak dan menghentikan langkahnya tepat di depan sungai kecil, dan di seberang sana kulihat ada sebuah bangunan rumah kayu kecil tapi nampak kokoh.
__ADS_1
Rumah kecil yang ternyata adalah kamar pribadi Topan itu berdiri kokoh di atas lereng yang membelah hutan ini, dan dari halaman kamar Topan memang terlihat sangat bagus pemandangannya, hutan di seberang sana, sungai yang ada di dasar lembah, dan kebun bunga yang berada di sekitar kamar Topan, bahkan ada ayunan dan rumah pohon di sebelah kamar Topan.
Aku hampir tersedak nafasku sendiri saat melihat semua ini, dan juga karena kenyataan bahwa Topan dan Hogy adalah seorang pewaris dari keluarga kaya, sedangkan aku, siapa aku?
Kini kutelan semua rasa pahit dari sumpah serapah yang sedari tadi tertahan di mulutku, setelah melihat semua
ini, dan benar saja mengapa dari tadi Hogy marah kepadaku yang bawel karena memang tempat ini sungguh luar biasa indah, dan tentunya sangat rindang dan asri, cocok untuk kabur dari hiruk pikuknya kota.
Kini muncul lagi berbagai pertanyaan tentang Topan yang tadi sempat kupendam.
Namun belum sempat aku bertanya, terlihat sebuah mobil jeep mendekat kepada kami dari arah yang berbeda dengan yang telah kami lewati tadi.
“Nah ini, kenapa di dalam hutan ini ada rumahmu dan juga kamar pribadimu yang sebesar rumahku, terus dari mana mobil jeep itu datang? Apa ada jalan yang bisa di lewati mobil di hutan ini?”
“Halah.. Akbar mulai lagi bawelnya.”
Hogy kembali mendegus kesal mendengar berbagai pertanyaanku.
“Hahaha, simpan rasa penasaranmu buat nanti bar, sekarang kita makan dulu aja, tuh makan siang kita udah datang.” Ujar Topan dengan menujuk mobil jeep yang mendekat.
\=\=\=
Author Note :
Hai.. hai.. ketemu lagi dengan author yang super tamvan ini, gimana kabar kalian para sahabat bony yang budiman dan budigirl? Pada sehat kan? Iya donk harus sehat selalu..
Pertama Author ingin meminta maaf karena kemarin – kemarin ini sering terlambatnya update bony, karena urusan pekerjaan yang mulai aktif lagi, namun akan selalu author usahakan untuk bisa memenuhi asupan gizi kalian.
Dan yang kedua author ingin mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1441H untuk semua saudaraku yang melaksanakannya, mohon maaf lahir bathin atas segala khilaf yang telah author lakukan.
Lalu selanjutnya untuk semuanya, author ingin berpesan, agar selalu jaga diri, jaga kesehatan, kebersihan. Karena melihat parahnya perkembangan pandemi covid-19 di wilayah author yang kini berubah statusm menjadi zona merah.
Semoga kita semua selalu diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini, dan selalu dalam perlindungan–Nya.
Dan yang terakhir, buat yang sedang berpuasa jangan terbayang dengan segarnya es kelapa jeruk yang dipesan oleh Topan. Hahaha, author sendiri juga merinding enak tiap kali nulis “Es Kelapa Jeruk.”
__ADS_1
Hahaha.. Stay Safe and Sukses selalu buat kita semua, see you next chapt.. [wink]