
Aku menginginkanmu seutuhnya, selamanya, kamu dan aku, setiap hari." --- The Notebook, Nicholas Sparks.
\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah topi kerucut dari kertas dengan dihiasi dua buah balon di ujungnya, dan sebuah papan nama segede gaban tengah menggantung dengan santainya di leherku. Hari ini adalah hari pertama dimana masa orientasi peserta didik (MOPDIK) dimulai, dimana semua calon siswa baru yang telah lolos tes masuk wajib untuk mengikutinya, baik calon siswa dari kampus satu maupun kampus dua kini tengah berkumpul di kampus dua untuk mengikuti mopdik hari pertama ini.
Semua peserta wajib menggunakan atribut OSIS SMP dan menggunakan perlengkapan tambahan tersebut, dan juga wajib membawa bekal makan siang berupa lontong dan tempe goreng berbentuk bintang dan membawa minuman bermerek ponary sweat.
Sementara aku, baju OSIS SMP milikku sudah tidak muat untukku pakai lagi, dan alhasil hari ini aku memakai seragam OSIS SMA. Untung saja kali ini aku tidak sendiri entah apapun alasan mereka, Topan dan Hogy ikut menemaniku menggunakan seragam OSIS SMA.
Saat ini kami semua sedang mengikuti Apel pagi, dan bagi calon siswa yang memakai seragam SMA mendapatkan barisan khusus yang berada di depan calon siswa lain dan menghadap ke arah mereka.
Di barisanku hanya ada enam calon siswa yang memakai seragam OSIS SMA termasuk aku, Hogy dan Topan. Selain itu aku sama sekali belum mengenal mereka, entah mereka dari kampus satu atau kampus dua, aku sama sekali tidak ingat pernah bertemu dengan mereka.
“Lihatah mereka, mereka ini adalah contoh dari ketidak disiplinan yang dilakukan oleh calon siswa baru.” Seorang kakak kelas yang juga anggota OSIS berpidato di depan kami semua dengan menyalahkan barisan kami karena telah memakai seragam SMA, tanpa mau mengetahui alasan kami terlebih dahulu.
Kakak kelas yang tadi berpidato itu kini terlihat sedang mencoret pipi Topan dan Hogy.
[Sret.. sret..] Sebuah coretan dari spidol berwarna merah mendarat di pipiku juga, entah coretan apa itu, tapi aku merasa itu adalah tanda tangan darinya.
Sebenarnya ada rasa tidak terima dan ingin memberontak saat coretan dari kakak kelas itu mendarat di pipiku, tapi belum sempat untuk bertindak aku sudah melihat kode dari Topan dan juga Hogy yang menyuruhku untuk sabar dan tetap mengikuti kemauan dari kakak kelas itu.
“Kak..” Aku memanggil kakak kelas itu dan menepuk pundaknya sebelum dia terlalu jauh dariku dan menghampiri tiga orang calon siswa yang belum kukenal.
Dia menengok kepadaku dengan tatapan tak suka karena telah menyela perbuatan arogan yang sedang dia lakukan.
“Ada apa? Pipi kananmu juga mau aku kasih tanda tangan?”
Tangannya yang sedang membawa spidol merah kini mendekat ke pipi kananku, Dengan cepat aku segera menangkap tangannya sesaat sebelum berhasil menyentuh pipi kananku.
“Apa kakak tidak ingin tahu alasan kami memakai seragam OSIS SMA? Kenapa kami langsung diberi hukuman semacam ini? Bukankah ini namanya main hakim sendiri?” Dengan tegas aku bertanya kepadanya tentang hukuman yang terlihat sangat dibuat – buat ini.
Dengan tatapan yang masih penuh rasa kebencian itu dia melepaskan genggaman tanganku dan melihatku dari atas sampai bawah.
“Akbar... akan kuingat namamu itu...”
__ADS_1
Dia membaca profilku yang tertulis di papan yang menggantung dengan santainya di leherku, papan nama itu aku buat dari kardus bekas, dan kemudian dia melangkahkan kaki menuju tiga calon siswa baru yang lain.
Sesaat setelah dia selesai menandatangani pipi kami berenam, kami semua para calon siswa baru digiring menuju aula dan melakukan perkenalan disana.
Perkenalan pertama dilakukan oleh seluruh jajaran guru dan karyawan SMA Islam Nusantara baik dari kampus satu maupun kampus dua, yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah.
Dan yang kedua dilakukan oleh seluruh jajaran Anggota OSIS, disitu aku mengetahui sosok yang tadi mencoreng kemulusan pipiku ini ternyata adalah Dimas, Sang ketua OSIS.
Saat mereka sedang melakukan perkenalan yang menurutku sangat tidak penting, karena ini adalah ajang bagi kakak kelas untuk mencari perhatian kepada adik kelas yang baru.
Aku yang sudah mulai merasa bosan dengan kegiatan ini memutuskan untuk mengobrol dengan Hogy dan Topan, dan menanyakan alasan mereka yang memakai seragam OSIS SMA, padahal aku sangat yakin kalau ukuran baju SMP mereka masih muat.
“Seragam SMP? Benda apa itu? Kayaknya aku gak pernah pakai benda lusuh seperti itu.” Dengan songongnya Hogy menjawab pertanyaanku.
“ck..ck.. ck.. dasar tuan muda baik hati yang tidak mau jujur, Hogy itu bilang sama aku untuk menemanimu memakai seragam SMA, karena kami pikir hanya kamu calon siswa baru yang udah pakai seragam SMA yang pasti akan menimbulkan masalah untukmu nanti, makanya kami ikutan pakai seragam SMA biar bisa menemanimu dihukum.. hahaha..” Jawaban Topan membuatku sedikit tersentuh, dengan sedikit gurauan aku memperagakan
gerakan mengusap air mata di depan mereka.
“Dasar anak preman, gak bisa disuruh buat diem bentar aja.” Hogy mendengus kesal karena rencana yang dia buat sudah dibocorkan oleh Topan.
“Sepertinya teman baru kita ini terlalu sibuk dengan dunianya sehingga tidak mendengar kita memanggil mereka.” Sebuah suara nyaring terdengar dari pengeras suara yang ada di aula ini, dan nampaknya sedang menyindir seseorang.
Terlihat seseorang mendekati kami bertiga, dia berjalan dengan menundukkan kepalanya.
“Bar.. kalian bertiga disuruh maju kedepan, dan tolong untuk mengalah saja, ikuti kemauan mereka, tidak perlu untuk memperbesar masalah ini.”
Aku menepuk pundaknya yang sedikit gemetar karena menyuruhku untuk maju kedepan bersama Hogy dan Topan, aku juga merasa hari ini tidak akan berakhir dengan mulus.
“Kamu tenang saja ray, selama aku merasa mereka tidak melukai harga diriku, maka tidak akan terjadi apapun seperti yang kamu takutkan.”
Kami bertiga melangkah menuju panggung yang berada di ujung aula ini setelah menenangkan Rayhan yang sedikit merasa tidak enak karena menyuruhku seperti itu.
“Akhirnya mereka datang, mari kita Sambut enam teman baru kita yang dari pagi sudah sok menjadi anak SMA.” Aku mulai menatap Dimas dengan tajam setelah ucapannya barusan, tapi di belakang dimas terlihat seorang kakak kelas cantik, imut dan wajahnya sangat polos sekali, dia sedang duduk di deretan kursi anggota OSIS.
Wajahnya sungguh mengingatkanku pada seseorang yang tentu saja aku tidak mengingatnya dimana pernah melihat senyuman polos itu. Dia benar – benar membuatku lupa dengan rasa amarahku kepada Dimas.
__ADS_1
Saat kami berenam sudah berada di atas panggung, Dimas menanyakan alasan kami yang memakai seragam SMA, dan tentu saja alasan kami berenam hampir sama, yaitu sudah tidak bisa memakainya, ada yang sudah tidak muat sepertiku, ada pula yang sudah memberikan seragam bekasnya kepada tetangga, kepada adiknya, dan yang paling lucu adalah alasan Topan dan Hogy dimana Hogy beralasan kalau seragamnya sudah dia berikan untuk Topan, sedangkan Topan beralasan kalau seragamnya dan seragam Hogy sudah dia sumbangkan ke panti asuhan yang berada di kecamatan sebelah.
Mendengar alasan yang dibuat oleh Hogy dan Topan, gadis yang daritadi aku perhatikan itu tersenyum dengan manisnya, tanpa aku sadari, akupun ikut tersenyum saat melihatnya tersenyum seolah dia sedang tersenyum kepadaku.
Setelah kami mengutarakan alasan kami yang tidak disiplin karena sudah memakai seragam SMA terlalu awal, kami hanya dihukum menyanyi dan menari untuk menghibur semua yang ada di sini, namun aku sama sekali tidak merasa keberatan , karena menurutku ini bukanlah perploncoan yang dilakukan oleh kakak kelas, namun ini juga merupakan cara berkenalan yang cukup asik buatku.
Setidaknya Dimas sebagai Ketua OSIS telah mendengarkan permintaanku tadi pagi untuk menanyakan alasan kami yang sudah memakai seragam SMA sebelum menghukum kami, sepertinya dia tidak terlalu buruk untuk menjadi ketua OSIS.
Kegiatan hari ini berakhir dengan acara makan siang bersama, kami semua duduk berbaris di halaman belakang sekolah dan saling berhadap - hadapan dan memakan bekal yang sudah kami bawa tadi.
Mungkin aku beruntung karena sekarang dihadapanku sedang duduk wanita manis bertubuh cukup bohai untuk seumuranya.
“Ok, dalam hitungan ke – tiga, kalian menyuapi teman baru yang ada di depan kalian.”
Perintah kakak kelas yang terdengar cukup jelas karena dia memakai Megaphone untuk mngeraskan suaranya.
“Satu.....”
“Dua.....”
“Tiga!! Ayo jangan malu – malu, kalian saling menyuapi, karena akan menjadi keluarga baru di SMA ini.”
Aku dan Fitri tersenyum setelah saling menyuapi, siang itu Fitri terlihat sangat lucu mungkin merasa malu karena telah menyuapiku.
Semua agenda hari ini telah selesai, aku mencari Hogy dan Topan untuk mengajaknya nongkrong, karena waktu
itu kita tidak jadi untuk pergi bersama.
“Ayolah gaes, kita berangkat..” Ucapku yang tengah berada di atas Bony.
“Ok kita cuss..” Jawab mereka serempak di atas motor masing – masing.
Aku dan Hogy yang menaiki vespa berada di belakang Topan yang menaiki GL – Pro karena memang Topanlah yang menjadi penunjuk jalan kali ini.
Terlihat sebuah bangunan Tua yang belum jadi, dan ada beberapa orang kekar memakai kaos hitam tak berlengan dengan kalung rantai yang berada di leher mereka, seolah itu adalah seragam mereka, karena semua yang berada di sana memakai atribut yang sama.
__ADS_1