Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
ch.7 – Malam Minggu yang Tidak Panjang


__ADS_3

"Semoga kelak selimutku adalah kamu yang senantiasa menghangatkanku


di kala dingin menyerang tubuh dan jiwaku." --- quotes


\==========


Tak bisa aku lalui hari – hari dengan tenang seperti sebelumnya, aku harus selalu menjaga sikap didepan emak,


karena aku tidak ingin semua rencana malam mingguku berakhir dengan kegagalan.


Itu semua karena ulah si Kipli yang tega membocorkan rahasiaku kepada emak, namun anehnya setelah kejadian itu, tak pernah sekalipun emak menanyakan perihal malam minggu kepadaku, apakah ini artinya emak mengijinkanku berpacaran?


Atau karena sikapku yang berhasil membuat emak tidak curiga?


Semua ini terlalu aneh dan aku sama sekali tidak pernah bisa menebak apa yang ada di pikiran emak - emak.


Hari yang aku tunggu akhirnya tiba, namun aku sama sekali tidak merasakan senang, selama beberapa hari ini semuanya berjalan terlalu lancar, aku mempunyai firasat buruk, ini seperti malam yang tenang sebelum badai.


Aku sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk hari ini, termasuk kado yang akan aku berikan untuk wulan yang kini aku simpan di box belakang vespa.


Malam minggu ini adalah kencan pertamaku, yang memang sudah aku persiapkan jauh –jauh hari, karena aku ingin hari ini akan berakhir dengan indah.


Aku menepuk-nepuk kedua pipiku dihadapan cermin untuk menghilangkan seluruh rasa grogi,karena waktu sudah semakin sore.


Aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi, sambil berkomat-kamit mencari kalimat yang akan aku ucapkan saat nanti bertemu dengan wulan.


“Hai, udah lama nunggu?”, “Widih, cantik bener kamu..”


aku berulang kali menggelengkan kepala karena tidak bisa menemukan kalimat yang aku rasa pas yang akan menjadi kesan pertama wulan untukku.


“tumben jam segini udah mau mandi bar?”


Karena terlalu banyak berfikir, aku sama sekali tidak menyadari telah memasuki teritori kekuasaan emak, dapur dan kamar mandi di rumahku berdekatan, jadi akan terlihat dari dapur, siapa saja yang akan masuk ke kamar mandi.


*Degg serasa tersengat aliran listrik saat mendengar pertanyaan emak barusan.


“eh, iya nih mak, Akbar mau maen ke rumah Wulan..”


“Alamaaaak, matilah aku.. keceplosan pula di depan emak”


Batinku yang mengutuki jawabanku barusan.


“Wulan?? Anaknya pak marjono??”


Tanya emakku memastikan


“Enggggg... iya mak, emak kenal?”


“kalau gak salah, bapaknya wulan dulu pernah satu kelas sama emak di SMP.”


“Ooowh gituu...”


Jawabku singkat karena menahan rasa malu dan ingin rasanya segera kabur dari hadapan emak.


“Yaudah, sono mandi, dandan yang cakep, biar Wulan kesengsem sama kamu..”


“Heeeeeh???!! Emak ndak marah? Kalo Akbar pergi malam mingguan?"


“Lha buat apa marah bar?? Emak juga pernah muda kok, emak juga percaya kamu udah tau batasan-batasannya orang pacaran kan?? Atau perlu emak ajarin?”


“Hidih, apaan sih emak ini,beda donk mak pacarannya jaman emak dulu sama jaman Akbar.”


Aku menjawab dengan sedikit malu dan langsung kabur ke kamar mandi.


Setelah semua ritual selesai dilaksanakan, akupun berangkat ke rumah Wulan, tak lupa aku berpamitan sama emak yang ternyata hasilnya tidak seburuk bayanganku selama ini, berarti percuma saja selama ini aku bertingkah untuk menyembunyikan rahasia dari emak, karena pada akhirnya malah aku yang keceplosan.


Tepat jam 5 sore aku berangkat ke rumah Wulan.


 


***


 


Sejujurnya Wulan awalnya agak sedikit ragu menerima permintaan dhewi untuk menjadi mata-matanya.


Karena ada hal yang tidak pernah seorangpun tahu tentang wulan, yaitu perasaannya terhadap Akbar.


Pernah suatu ketika Wulan dibully oleh teman-teman sekelasnya di SMP dulu hanya karena wulan berparas manis namun tomboy, wajah dan kelakuan yang sangat bertolak belakang ini akhirnya menjadi sumber masalah bagi wulan.


Karena banyak anak cowok yang ingin menguutarakan perasaannya namun tidak berani dikarenakan kelakuan Wulan yang tomboy.


Itulah yang akhirnya membuat beberapa anak cowok mengatainya dengan sebutan Lesb*an, padahal memang sudah sewajarnya bagi anak cewek pergi bergerombol bersama sesama jenisnya, walaupun memang penampilan wulan yang tomboy sangat kontras dengan gerombolannya.


Bullying itu juga sebetulnya juga termasuk salah dari teman-teman cewek segerombolannya, karena banyak dari mereka yang sering memuji kecantikan Wulan yang dipadu dengan sikap tomboy.


Itu membuatnya seolah-olah menjadi cowok berwajah cantik, mereka memuji wulan sekaligus iri dengan wulan.


Namun biarpun begitu, Wulan yang merasa sakit hati selalu cuek ketika banyak yang mem-bully-nya, hanya ada segelintir orang dikelasnya yang tidak pernah membully Wulan, salah satunya adalah Akbar.


Bahkan tak jarang Akbar membela dan menolongnya saat dibully, Akbar juga sering memberi semangat pada wulan agar tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi.


“Biarkan orang lain berkata apa, kamu adalah kamu. Tetaplah jadi diri sendiri, gak usah minder.”


Kata-kata Akbar itulah yang sampai kini wulan ingat, dan secara tidak langsung tumbuhlah sebuah benih di hati wulan yang membuatnya berubah menjadi lebih feminim seperti sekarang.


“Sebelum semua terlambat, aku harus ngomong sama Akbar.”


Gumam Wulan sembari bercermin merapikan jilbabnya.


[Treng, teng.. teng.. dut..]  Akhirnya Bony mendarat dengan sempurna di halaman rumah Wulan.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam..”


Terdengar suara manis dari dalam rumah Wulan.


“mau masuk dulu atau langsung jalan?”


Wulan membukakan pintu dan langsung menanyakan hal itu kepadaku.


 

__ADS_1


"......"


Aku terdiam cukup lama memandangi penampilan Wulan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Ini adalah kali pertamaku melihat Wulan memakai baju perempuan, walaupun saat memakai seragam sekolah, Wulan sudah termasuk feminim menurutku namun saat ini dihadapanku telah terwujud evolusi dari makhluk cantik yang tomboy menjadi bidadari yang sedang tersenyum dengan indahnya di depanku.


“oi, kok malah bengong sih bar?”


Aku masih terdiam melihat Wulan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki,


kulihat dia memakai jilbab dan kaos berwarna serupa, yang membalut kepalanya dengan indah.


kaosnya ditutup dengan cardigan panjang berwarna hitam, dan memakai celana panjang berwarna hitam yang membuat Wulan nampak tinggi dan anggun.


“.....bar?? Akbar??”


wulan berhasil menyadarkan lamunanku saat tangan halusnya mendarat di pundakku.


“E.. ehh, iya wul.. ayok berangkat..”


Jawabku dengan sedikit terbata-bata


“Ehm.. ehm, pada mau kemana ini udah sore gini?”


terdengar suara ngebass bernada rendah di belakang Wulan.


Suara yang berhasil membuat keringat muncul di pelipis kepalaku.


Ya itu adalah suara berwibawa milik seorang Ayah yang mencoba melindungi anak gadisnya dari terkaman serigala berbulu domba sepertiku.


“ Eh, ini om, Akbar mau ngajakin Wulan makan di luar, gak lama kok..”


jawabku mencoba meyakinkan Ayah Wulan.


“Akbar..? kamu anaknya bu Martini?”


Ayah Wulan bertanya menyelidik kepadaku seolah tak rela anak gadisnya akan terlepas dari tangannya.


“Iya om, betul sekali, maaf Akbar lama bnget gak pernah main kesini.”


Jawabku sambil mencium tangan om marjono.


“hahaha.. pantesan om kayak kenal sama kamu, tapi om pangling, hahaha, kamu udah tambah gede aja. Bapak ibumu sehat po bar?”


Tanya om marjono yang mulai sok akrab sama aku.


“Alhamdulillah om, insya Allah sehat semuanya.”


Jawabku karena memang tidak tahu bagaimana kabar ayahku sekarang.


“iih, kok malah bapak yang ngobrol sama Akbar sih?, Jadi gimana nih?


Wulan boleh jalan sama Akbar gak?”


Wulan mulai merengek di depan ayahnya


“hahaha.. iya boleh kok boleh,tapii..”


Om Marjono tidak menyelesaikan perkataannya dan langsung menoleh kearahku.


“eh ok om shiyap, tenang om, Akbar sama Wulan cuma teman kok, ini aja Akbar cuma pengen ngajakin reuni. ”


“yaudah yok bar, kita berangkat..”


Ajak Wulan sambil menarik tanganku


“Om, kita berangkat dulu ya..”


aku berpamitan dengan om Marjono, tak lupa aku kembali mencium tangannya.


“yo.. hati-hati di jalan, ingat jangan pulang terlalu malam”


Ayah Wulan kembali mengingatkanku.


Aku dan wulan langsung melesat bersama Bony menuju kedai kopi yang belum lama buka di kecamatan sebelah.


Dan karena kedai kopi itu belum lama buka, maka antusiasme para kawula muda untuk menikmati kopi sangat tinggi, alhasil malam minggu ini sangat ramai di sini.


Saat aku dan Wulan mulai memasuki kedai, hampir semua mata pengunjung mengarah kepada kami.


Aku dan Wulan tidak terlalu memperdulikannya dan langsung menuju sofa kosong yang berada di pojok untuk menghindari perhatian mereka.


“Selamat datang kak, mau pesan apa?”


Seorang pelayan menghampiri kami dan menyodorkan menu ke meja kami.


“Aku yang sudah terbiasa nongkrong di kedai ini tanpa ba-bi-bu langsung memesan menu langgananku.


“v-60 medium, gula nya di pisah, sama singkong goreng original, sausnya banyakin.”


“mmm.... kalau aku ini aja, jus jeruk sama sosis bakar donk.”


Jawab wulan yang masih bingung melihat-lihat menu.


“hmm, ok ada lagi kak?”


Pelayan itu mengangguk sambil mencatat pesanan kami.


“nanti kita pesan lagi kalau mau nambah”


Jawabku dengan cepat karena tak sabar ingin segera mengobrol berdua dengan Wulan.


“ok kak, ditunggu sebentar yaa..”


Pelayan itupun akhirnya pergi meninggalkan kami.


Aku kembali bingung harus mulai dari mana obrolan kami, tak terasa keringat kembali membasahi pelipisku.


Melihat tingkahku yang sedikit aneh akhirnya Wulan mulai membuka percakapan ini.


“Kamu ini kenapa sih  bar? Dari tadi kamu sering bengong deh..”


“Gak tau nih, rasanya kamu beda banget wul, gak kayak Wulan yang dulu aku kenal.”

__ADS_1


Aku menjawab pertanyaan wulan dengan sedikit menyesal karena belum mampu untuk mengakui kalau wulan yang sekarang di depanku adalah wulan yang berubah menjadi makhluk yang sangat cantik.


Akupun mulai menyadari mengapa saat tadi kita berdua masuk kedai ini menjadi pusat perhatian, itu semua karena ada seorang bidadari cantik yang berjalan dengan pangeran berwajah tampan sepertiku.


"Beda gimana sih??aku masih sama kok, gak berubah, aku masih wulan yang kayak dulu, yang sering kamu tolongin jaman SMP.”


Jawab Wulan yang sepertinya memancingku untuk mengucapkan sesuatu.


“iya wul, kamu beda, gak sama kayak dulu lagi, kamu sekarang cantik udah pantes disebut bidadari yang turun dari vespa.”


Jawabku dengan senyum untuk memutus urat malu ku.


Aku menyadari ada perubahan pada pipi wulan yang berubah warna menjadi merah merona setelah mendengar kejujuranku tadi.


“wul.. aku...”


Ucapku tertahan saat mulai mencoba memberanikan diri untuk menggenggam tangan wulan yang saat ini berada di atas meja.


namun saat tanganku menyentuh tangannya


 


“permisi kak, ini pesanannya..”


Tiba-tiba pelayan datang dengan senyum canggungnya


karena melihat kami berdua dengan segera menarik tangan di waktu yang hampir bersamaan.


“eh iya, terima kasih kak,”


Jawabku dengan senyum sinis karena pelayan itu datang di saat yang sangat tidak tepat.


Dalam hati ini muncul segala sumpah serapah mengutuk pelayan itu.


“silahkan dinikmati kak”


ucap pelayan itu berlalu dan meninggalkan senyum penuh arti kepadaku.


“Yang dinikmati apanya nih? Kopiku atau...??”


Batinku mencoba mengartikan senyum dari pelayan tadi.


Aku mulai meracik kopi sesuai seleraku, dan terlihat Wulan masih tersipu malu sambil meminum sedikit jus jeruknya.


“sampai mana tadi kita?”


Tanyaku kepada Wulan.


*bluush kulihat pipi wulan kembali memerah saat aku menanyakan hal tersebut.


“oh, uh..”


Aku menyadari kesalahan dari pertanyaanku barusan.


Ada rasa aneh yang muncul di dalam dadaku setiap kali aku memandang wulan.


Rasanya jantung ini berdetak lebih kencang dari biasanya, dan memompa darah untuk mengalir lebih cepat ke seluruh tubuh yang mengakibatkan pipiku mulai berwarna memerah.


Aku dan wulan sama-sama terdiam dan memilih untuk saling mencuri pandang sembari menikmati hidangan di depan kami.


Ternyata pelayan yang tadi mengantarkan pesanan sedang tersenyum ke arah tempat duduk kami, dan membisikkan sesuatu kepada kasir yang sekaligus operator musik, sampai terdengar sebuah alunan lagu barat romantis yang menggema di seluruh kedai, aku menyadarinya karena tiba-tiba lagu di kedai ini berganti secara tidak wajar, saat aku menoleh ke arah operator musik, yang kulihat hanya pelayan tadi sedang melihatku dan mengacungkan dua jempol ke arahku.


Diiringi lagu ini membuat suasana kami lebih romantis.


Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku secara perlahan


karena sudah mendapat dukungan dari pelayan kedai itu.


“Wul, aku..”


“Bar..”


Tanpa adanya komando, aku dan wulan saling memanggil bersamaan.


Dan tanpa sengaja pandangan  mata kami bertemu, lalu kami  sejenak saling memandang, kemudian menundukkan kepala secara bersama karena tak kuat menahan rasa malu dan grogi.


“Ladies first..”


Ucapku untuk Wulan


“Nggak bar, kamu dulu aja.”


“Nggak apa-apa kok, kamu dulu aja gih ngomong..”


Ucapku dengan tersenyum


Sebenarnya aku ingin segera menyatakan cintaku untuk wulan dan ingin segera rasanya membuang status jombloku.


Namun aku rasa ini terlalu cepat untukku dan untuk wulan, dan aku berfikir kalau ini tidak baik untuk hubungan kami kedepannya, maka aku urungkan niatku untuk menyatakan cinta padanya.


Lagipula aku sendiripun tak yakin apakah rasa ini yang dinamakan cinta?


Karena selama ini aku hanya menganggap wulan sebagai teman, tidak lebih dan tidak kurang.


Aku juga takut kalau aku menyatakan cinta hanya akan merusak hubungan pertemananku dengannya.


Tiba-tiba Wulan menatapku dengan serius


“Bar.. menurutmu. Aku ini orangnya kayak gimana?”


Pertanyaan menjebak ini, berhasil membuatku kelimpungan, bingung untuk merangkai kata yang tepat, agar ketika aku menjawab tidak terjadi kesalah pahaman diantara kami.


“mmm.. menurutku kamu orangnya baik, cantik, tinggi, sexy.. ukuran tubuhmu juga proporsional,idaman cowok banget lah wul.”


Jawabku mantap


Haaiish, bukan itu maksudku..”


Wulan menghela nafas kecewa namun pipinya bertambah merah.


“Terus gimana mksudnya?”


Tanyaku yang tidak berhasil memahami pertanyaan wulan.

__ADS_1


“aku ini siapa menurutmu?, aku ini siapa untukmu?”


Wulan kembali mengajukan pertanyaan yang membuatku ragu untuk menjawabnya.


__ADS_2