Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.16 Makhluk menggemaskan itu Menginap di Rumahku


__ADS_3

"Cintaitu burung yang indah,


yang mengemis untuk ditangkap tapi menolak untuk dilukai."  --- Khalil Gibran


 


 


 


\=====


 


 


“Kalau hujan nggak reda sampai malam, kamu nginep aja di sini wie.. lagian bajumu juga masih di mesin pengering.”


Tiba – tiba emak muncul dengan membawa tiga mangkok berisi soto


“Temenin emak makan yuk wie..”


pinta emak kepada Dhewi


Aku langsung menuju meja makan dan mengambil sekaleng kerupuk dan mengambil tempat nasi yang ada di rice


cooker untukku bawa ke depan.


“Nah gitu donk, gak usah emak perintah, udah jalan sendiri, anak emak emang pinter banget..”


Emak tersenyum dan memujiku karena tindakanku barusan, namun aku curiga, karena pasti emak ada maunya kalau dia memujiku seperti itu.


“Makasih mak, Dhewi jadi ngerepotin emak nih..”


“Huss, jangan gitu, ini cuman makanan, gak bakal ngerepotin emak kok, dah yok dimakan seadanya.”


Setelah emak mempersilahkan kami makan, tanpa menunggu komando akupun langsung mengambil nasi dan kucampur dengan soto, karena memang sudah sedari tadi aku menahan lapar.


“Ayok wie makan..”


Aku menawarkan kepada Dhewi yang sepertinya masih malu – malu memakan soto miliknya.


Setelah kami selesai melepas rasa lapar, Dhewi dan emak menghilang menuju dapur,


aku yang belum terbiasa berhenti merokok, memang mengganti kegiatanku setelah makan yang tadinya langsung


menghisap rokok, kini aku mengganinya dengan ngemil.


Makanya di rumahkku selau tersedia berbagai macam cemilan yang aku simpan di kala mulutkku ini terasa


ingin merokok, segera aku ambil cemilan untuk memuaskan mulutku.  Namun anehnya walaupun aku banyak ngemil, berat badanku seoalah sama sekali tidak bertambah.


Dan cemilan kali ini yang aku ambil adalah biskuit cokelat yang bertabur dengan chocochips


Aku yang kini sedang ngemil sendiri di ruang tamu rasanya tidak enak karena Dhewi dari tadi belum keluar dari dapur, jangan – jangan dia ketularan emak yang suka ngobrol sama timun.


Ada sedikit rasa khawatir yang muncul di hati ini.


Segera aku menyusul Dhewi ke dapur dengan mulutku yang belepotan penuh dengan cokelat.


“Eh kirain lagi pada ngobrol sama timun..hehehe”


Aku melihat Dhewi sedang mencuci piring bekas tadi kami makan, sedangkan emak masih sok sibuk dengan bahan


masakannya.


“Iya tuuh bar, dari tadi emak udah ngelarang Dhewi buat cuci piring, malah dia maksain buat nyuci, yaudah..


emak pasrah aja.”


Jawab emak dengan tersenyum penuh arti kepadaku


“Gak papa kok mak, biar Dhewi ikutan bantu emak..”


Jawab dhewi dengan senyum manisnya.


Aku yang bingung dengan drama dapur ini, segera meninggalkan dapur, karena tidak mau ikut – ikutan masuk dalam alur drama yang mereka buat.


Aku masuk ke dalam kamar dan memutar musik slow rock dengan volume agak keras untuk mengusir rasa sepiku.


 


***


 


“Bar, ini gimana?”


Dhewi terlihat cemas


“Gimana apanya??”


Jawabku yangbingung dengan pertanyaan Dhewi


“Aku dari tadi ngobrol sama emak,sampai lupa waktu..bis terakhir udah lewat 30 menit yang lalu.”


“Yaah, mau gimana lagi? Ujan juga belum reda, kamu udah pamit sama keluargamu kan?”


“Iya, tapi aku nggak pamitan kalau mau nginep..”


“Halah gampang, kamu tinggal pamit lagi, kalau hujan belum reda, terus nginep di rumah temen gitu.”


“Gak segampang itu Fergusooo.. keluargaku cukup ketat masalah ginian, paling malem aja jam 10 harus sudah di Rumah. Aku belum pernah nginep di rumah temen sebelumnya.”


“Ya paling keluargamu mikir kalau kamu nginep di tempat Wulan.” Aku menjawab dengan santainya


“Dan itu berarti aku nginep di luar kota gitu?” jawab Dhewi yang mulai cemberut dengan imutnya.


“Yaudah, kalau sampai jam 9 malam hujan masih deras kayak gini, berarti kamu harus nginep, atau kamu mau masuk angin kehujanan seharian? Nanti kalau reda juga bakal aku antar pulang kok..”


Dhewi mulai agak tenang setelah mendapat jawaban memuaskan dariku.


“Yaudah sini, pinjam Hpmu aku mau nelpon mbak iis, pulsaku habis..”

__ADS_1


pinta Dhewi dengan menyodorkan tangannya.


“Halo, Assalamualaikum.. mbak, ini Dhewi..”


“Iya gimana wie?”


“Mbak, disini ujan deres banget, mungkin nanti Dhewi pulang agak malam kalau udah reda ujannya.”


“Sama wie, di rumah juga dari tadi pagi hujan gak berhenti.”


“kata bapak, kalau memang gak bisa pulang, Dhewi boleh nginep di rumah temen Dhewi, asal harus jaga diri,


jaga sikap di rumah orang lain, jangan ngerepotin orang.”


“Haaa?!! Beneran nih Mbak??”


Dhewi kaget dengan jawaban dari kakak perempuannya.


“iya serius, mbak juga tadi kaget pas bapak ngomong kayak gitu, tapi mau gimana lagi, hujan juga belum reda dari


pagi, reda bentar, abis itu tambah deres, gitu terus sampai sekarang.”


“Tapi Dhewi tadi pas di tempat wulan alhamdulillah gak hujan mbak, cuma mendung aja, nah pas pulang abis deh


basah baju Dhewi sama Akbar.”


“Hahaha, jadi bener dugaan mbak, kamu pergi sama Akbar.”


“Eh... aduh... mbak.... jangan bilang bapak yaa..”


“Hahaha, santai aja, tapi harus ada pajaknya lho yaa.... uang tutup muluut”


“Berarti kamu bakal nginep di rumah akbar po wie? Wah beraat hahahaha.. pajaknya harus gede nih...”


“Aduh iya iya baweel..”


“Sampaiin pamitku ke bapak lho mbak, tanpa ada embel – embel Akbar pokoknya.”


“Awas kalau sampai ketahuan.”


Dhewi menutup telfonnya dengan ancaman yang diberikan untuk kakak perempuannya.


“Nih HPmu, makasih..” dhewi menyodorkan hp ku


“Tadi apaan tuh? Kok namaku disebut – sebut sih?”


Tanyaku yang penasaran dengan percakapan kakak beradik tadi.


“Haduuuh, tadi aku keceplosan, untung Mbak Iis pengertian banget sama aku.”


“Hahaha dasar... terus gimana? Nginep sini atau mau pulang?”


“Kalau nanti sebelum jam 10 malam udah reda, ya pulang, kalau belum reda juga apa boleh buat...”


“Yaudah, sana kamu santai saja tiduran di kamarku.”


“Nanti aja deh, jam segini masuk kamar, kayak pengantin baru aja. Aku mau ngobrol lagi sama emak.”


Jawab dhewi tersenyum penuh arti, aku tahu kalau dhewi sedang bercanda, tapi apa memang seperti ini selera humornya?


Aku mencium aroma sedap dari arah dapur saat aku sedang menyiapkan kamar tidurku untuk dhewi, tak terasa perutku kembali terasa lapar.


Dengan rasa penasaran aku melangkahkan kaki menuju sumber dari aroma sedap yang berada di dapur. Aku sungguh tak menyangka saat wilayah kekuasaan emak kini dikuasai oleh Dhewi.


Terlihat kini dhewi sedang berdiri berhadapan dengan wajan beraroma sedap, dia dengan lincah menggerakkan spatula yang berada di tangannya. Aku sedikit terpesona saat melihat dhewi sedang memasak, dia sungguh terlihat mempesona.


Dengan langkah kaki yang pelan, aku meninggalkan area dapur dan menuju ruang tengah untuk menonton TV aku


berpura – pura seolah tak melihat Dhewi yang sedang memasak.


“Waktunya makaaan...”


Dhewi keluar dari dapur bersama emak yang membawa masakan hasil kolaborasi mereka menuju meja makan yang berada di belakang ruang tengah.


Aku menyusul mereka yang kini tengah mempersiapkan makan malam.


“Walaaah Cap Cay..”


Aku berteriak dengan girang karena memang sudah lama tidak makan cap cay.


“Sudah lama banget Akbar gak makan cap cay, apalagi masakan cap cay buatan emak, pasti enak banget niih.”


Aku berpura – pura seolah tak tahu kalau ini hasil masakan Dhewi


“Udah makan dulu, komentarnya nanti.”


Jawab Dhewi dengan senyum manisnya.


Kami bertiga menikmati makan malam ini dengan suka cita dan penuh dengan canda dan tawa, karena entah kenapa saat ini emakku terlihat sangat senang, mungkin karena ada ada yang membantunya memasak untuk makan malam kali ini.


“Gimana rasanya bar?”


Dhewi bertanya kepadaku tentang rasa masakannya.


“Hmmm.. cap cay ini rasanya mirip buatan emak, tapi entah kok rasanya ada yang beda yaa.”


“Beda gimana bar?” tanya Dhewi


“Cap cay ini kayaknya agak lebih manis deh dari pada buatan emak yang biasanya. Tapi enak kok, aku suka.”


Jawabku berwajah sok polos.


“Hahaha.. pasti lah yang masak aja manisnya kayak gini..”


Tiba – tiba emak tertawa menimpali omonganku dengan menunjuk hidung dhewi.


“Haaa??!!”


Aku pura – pura kaget dengan jawaban emak.


“Ini kamu yang masak wie?”


Dhewi hanya tertunduk malu dan mengangguk mengiyakan pertanyaanku.

__ADS_1


“Hehehe, masakanmu enak kok, jangan malu gitu lah... semangaat..”


Aku tersenyum dengan menepuk – nepuk pundak dhewi.


Sedangkan emak hanya tersenyummelihat tingkahku dan dhewi.


Setelah kami selesai makan malam, dhewi meminta ijin kepada emak, jikalau memang hujan belum reda, maka  dia akan menginap di sini, namun bila reda, dia akan pulang ke rumahnya dengan diantar olehku, dia juga menceritakan kalau dia sudah mendapat ijin dari keluarganya jika akhirnya nanti Dhewi harus menginap.


Takdir seolah berkata lain, saat ini aku dan Dhewi sedang menonton TV dan waktu sudah lewat dari jam sembilan malam namun hujan belum juga reda, bahkan kini semakin deras dan disertai dengan angin yang kencang, maka sudah dipastikan Dhewi menginap di rumahku malam ini.


Sedangkan emak, seusai makan, beliau tak mampu untu mempertahankan kesadarannya lebih lama dan sudah tertidur dengan pulas di kamarnya.


“Walah wie, badai, hujannya deras banget.


“Iya bar..aku takut kalau ujan deres kayak gini..”


jawab Dhewi dengan meringkukkan kakinya dan mendekat kepadaku. Aku tak tahu apa yang dhewi takutkan maka aku hanya tersenyum dan tak menanggapinya.


Terdengar suara petir bersahut – sahutan dari kejauhan.


Aku merasa badai kali ini adalah puncak dari hujan seharian tadi.


[DUUUUAAAR..!!!!]


Gluguur...


Gluguur...


Tiba – tiba terdengar petir yang sangat keras sekali seolah berada di atas rumah saja, disertai dengan padamnya arus listrik yang ada di rumahku.


“Kyaaaa...!!!”


Dhewi berteriak dengan keras karena kaget dengan petir yang mengakibatkan rumahkku menjadi gelap gulita seperti ini.


“Astaga odol...!!”


Jawabku kaget karena mendengar Dhewi berteriak seperti itu.


“Bentar wie, aku cari korek api sama lilin, kamu tunggu di sini aja”


Aku yang sudah lama tidak merokok, cukup kesulitan pada situasi yang seperti ini, dimana sekarang sama sekali tidak pernah mengantongi korek api lagi. Aku mulai berdiri dan meraba – raba ke sekitar lemari TV, dimana biasanya emak menaruh korek api dan lilin.


Penglihatanku yang tajam ini nyatanya sama sekali tidak berguna di kondisi yang gelap gulita seperti saat ini, karena yang ada hanya cahaya dari kilatan – kilatan petir  sepanjang sekian detik namun cukup untukku mencoba mencari korek api.


Aku yang tak menemukan korek api dan lilin di lemari TV kembali berusaha mencarinya di sekitar ruang makan, saat aku berbalik badan dan mencoba melangkah, tiba – tiba kaki ini tersandung sesuatu dan aku hampir terjatuh. Namun tanganku menangkap sesuatu yang empuk tapi agak datar, aku yang penasaran dengan benda apa itu, mencoba meremasnya sedikit.


“Hmmmph..”


“Kamu ngapain bar?”


“Eh ini apaan??”


Aku kembali meremasnya.


“Ssst.. aah.. baar..”


Aku mulai curiga kalau benda yang baru saja ku sentuh itu berasal dari tubuh Dhewi


[ding]


Lampu kembali menyala dengan penuh rasa malu, aku segera menjauh dari dhewi untuk mencari lilin dan juga korek api.


Saat aku sudah menemukannya dan membawanya ke ruang TV tiba – tiba lampu kembali padam.


“Baar..Akbaar... buruan aku takut gelaap..”


Dhewi memanggilku dengan nada penuh ketakutan. Aku kembali ke ruang tamu dengan membawa lilin yang sudah


menyala.


Melihatku berjalan dengan seberkas cahaya, dhewi berlari mendekat kepadaku, dan menceritakan kalau dia


sangat takut dengan petir dan juga gelap.


Aku menaruh berapa lilin di sepanjang ruang tengah menuju ke belakang, supaya rumah ku ini tidak terlalu


suram saat gelap  seperti ini.


“Eh bar, anterin ke belakang... aku pingin pipis..”


Ucap Dhewi dengan manja


“Tapi kamu tunggu di luar!!”


“Haisshh.. iya iyaa.. ayok”


Aku kini menunggu dhewi di dekat dapur karena risih sekali rasanya jika aku harus menunggu di depan kamar mandi.


“Udah yok bar, ke kamar..”


“Kita tidur bareng nih?”tanyaku dengan senyum sedikit menggodanya


“Walaupun aku takut gelap, tapi aku gak bakal biarin kamu ambil kesempatan ini bar..”


Kamu tidur di sini aja,”


Dhewi menunjuk depan pintu kamarku


“Haiiishh..”


Aku hanya bisa menghela nafas, melihat kamarku dikuasai dhewi.


Saat dhewi membuka pintu kamarku tiba- tiba petir kembali menyambar dan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.


“Kyaaa...!!!”


Dhewi berteriak dan tanpa sadar kini dia sedang memelukku, aku hanya tertawa kecil untuk membuatnya menyadari apa yang sedang dia lakukan.


“Huh.. jangan berpikiran macam – macam ya, aku cuma takut petir.“


“Dan sebagai ganti karena aku sudah memelukmu, kamu harus tungguin aku sampai aku tertidur, baru kamu boleh


tidur di depan pintu.”

__ADS_1


“Ini juga karena apa yang sudah kamu perbuat padaku tadi saat lampu padam.”


Aku hanya terdiam dan menuruti permintan dhewi karena baru melihat sifat tsundere milik dhewi, dan juga karena aku menyadari apa yang tak sengaja telah aku remas tadi.


__ADS_2