Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.8 – Ternyata Malam Minggu Memang Panjang


__ADS_3

"Menjalin hubungan bukan berarti tanpa ada pertengkaran.


Kita bertengkar, tapi setelah itu kita saling memaafkan dan mencintai satu sama lain, lebih dari sebelumnya." --- quotes


 


\=======


 


Aku terdiam mendengar pertanyaan Wulan, dan tak ingin menjawab dengan gegabah, aku ingin menjawab jujur sesuai apa kata hati kecilku.


Memang penampilan wulan yang sekarang berbeda jauh dengan wulan yang dulu.


Tapi bagiku wulan ya wulan, dia temanku, adikku, aku menganggapnya sebagai sosok yang ingin aku lindungi.


Walaupun aku mengagumi elok parasnya, dan juga tubuhnya yang aku yakin tak ada satupun cowok di dunia ini


yang bisa menolak untuk mengagumi keindahannya.


Aku kembali ragu dengan perasaanku, ya, walaupun aku ingin segera membuang status jombloku,


namun aku tak ingin seperti ini caranya.


Aku benar-benar takut kalau aku sampai merusak hubungan pertemananku dengan wulan hanya karena aku mengungkapkan perasaanku kepadanya.


Aku hanya ingin seperti ini terus sama wulan, aku sudah nyaman dengan hubungan yang sekarang ini.


Aku beranikan diri untuk menggenggam tangan wulan yang kini sudah berada di atas meja, dan aku menatap matanya dalam-dalam.


“Wul.. aku.. jujur suka sama kamu, tapi aku sendiri gak yakin dengan perasaan ini, aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta sebelumnya.”


“aku selalu menganggapmu sebagai teman, sahabat, adikku, sosok yang selalu membuatku nyaman saat bersama, dan selalu ingin kulindungi, tempat di mana aku kembali untuk berbagi semua keluh kesahku, seseorang yang ingin aku nantikan senyum dan tawanya saat aku berbagi canda.”


Mata Wulan berkaca-kaca saat mendengar jawabanku, senyum yang tulus tergores di bibirnya.


“Makasih bar, aku bahagia..”


Wulan mulai menitikkan air mata


Aku bingung melihat reaksi wulan, dia mengatakan bahagia, namun menangis, ini sangat bertolak belakang, dan otakku tak bisa mengartikan ini semua.


Aku tak sanggup melihat wulan menangis, akupun mengusap air mata wulan yang mulai membasahi pipinya.


“Kamu kenapa? Kok malah nangis sih?”


“gapapa kok bar...”


Jawab wulan sambil memaksakan senyumnya.


Namun yang terjadi air mata Wulan semakin deras mengalir. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berpindah di samping wulan mencoba untuk menenangkan wulan, karena kami kembali menjadi pusat perhatian.


Akupun mulai panik dengan semua tatapan tak suka yang mengarah kepadaku.


Padahal aku sendiripun bingung kenapa hal ini sampai terjadi, perasaan aku menjawab dengan jujur dan sudah merangkai kata yang terbaik agar Wulan mengerti perasaanku yang sebenarnya.


“bar.. boleh aku pinjam punggungmu?”


Aku tau wulan mau menangis di punggungku, tapi itu akan membuatku semakin tak nyaman dengan keadaan ini.


“jangan punggungku, aku bakal susah meluk kalau kamu nangis dipunggungku.”


Jawabku seraya merengkuh tubuh wulan untuk berada dalam pelukanku.


“Nangis aja wul, luapkan saja  emosimu, mungkin aku memang salah, kamu boleh nyalahin aku sepuasmu kok.”


Ucapku pasrah melihat wulan yang menangis di dadaku


“Kamu jahat..kamu bilang kamu belum pernah merasakan jatuh cinta, kamu pasti bohong..”


“Dulu di SMP banyak adik kelas yang suka sama kamu, bahkan ada yang ngasi coklat di hari Valentine.”


“kamu juga sering jalan berdua sama adik kelas, dan tak terhitung pula surat dari para penggemarmu itu yang dititipkan padaku.”


Wulan mengoceh dengan terbata-bata di dadaku, dia juga memukul-mukul dadaku saat bercerita tentang adik kelasku yang bahkan aku saja sudah tak mengingatnya.


“Wul.. itu cuma cerita masa lalu.. itu cuma kisah monyet yang bahkan sekarangpun aku sudah tak mengingatnya lagi.”


Jawabku lembut sambil mengelus-elus kepala wulan yang masih menempel erat di dadaku.


“terus gimana sama mbak dhewi?”


“kenapa sama dia? Bukannya aku udah bilang kalau aku cuma nebengin dia berangkat ke sekolah, itupun kita gak sengaja ketemu.”


“bar, mbak Dhewi itu juga penggemarmu dari jaman SMP lho, kamu gak tau kan?”


Tangis wulan mulai reda saat dia bercerita tentang masa lalu dhewi, namun wajah wulan masih bersembunyi di dadaku.


Dia juga bercerita dengan detail saat pertama aku bertemu dhewi di rumah Pipin.


“Aku bener-bener gak ingat wul, kalau pernah ada cerita kayak gitu antara aku sama dhewi.”


“Andai aja gak kamu ceritain, aku juga gak bakalan tau kalau aku pernah ketemu dhewi sebelumnya.”


“tuh kan.. kamu emang suka kelupaan sama wajah orang dari dulu..”


Aku merasa mood wulan mulai membaik karena dia berkata seperti itu sambil mencubit perutku yang atletis ini.


“Kebiasaan banget sih amnesianya, ada yang salah ya sama otakmu bar..?”


Wajah wulan kembali muncul dari balik dadaku yang bidang ini, dia muncul dengan dihiasi senyuman indahnya, namun wajahnya masih basah dengan air mata.


“hehehe, gapapa amnesia, yang penting aku ganteng..”


jawabku nyeleneh karena ingin segera mengembalikan moodnya wulan seperti sedia kala.


“dasar kamu ini ya..”


Wulan mencubit perutku dengan gemas sambil tertawa kecil


“nah gitu donk senyum.. kalau gini kan enak aku liatnya.”


“hmmph. aku mau ke kamar mandi dulu.. “


Jawab wulan sambil menggembungkan pipinya.


Saat Wulan pergi, Aku bergegas kembali ke tempat dudukku semula


dan menikmati kopiku yang sudah dingin, dan juga memakan singkong goreng yang tinggal beberapa potong.


“Hmm.. emang kopi enaknya sama singkong goreng, apalagi sama rokok, pasti perfect nih.”


Gumamku yang sedang menikmati sisa-sisa kopi, namun aku tak ingin menyalakan rokok di sini, terlebih di depan wulan yang tidak suka cowok merokok, walaupun dia tau aku merokok, namun setidaknya aku ingin menghormatinya dengan cara tidak merokok di depannya.


Akupun kembali teringat dengan cerita  wulan tentang dhewi, aku mencoba dengan keras mengingatnya, menggali lebih dalam memori di otakku yang mungkin sudah berdebu.


Karena tidak pernah aku gunakan untuk mengingat hal yang aku anggap sepele.


“huuuft...”


Aku menghela nafasku, karena tidak berhasil mengingat dengan jelas kejadian masa itu, memang saat kemarin aku kembali bertemu dhewi setelah sekian lama, aku merasa wajahnya sangat familiar bagiku, namun aku tak berhasil mengingatnya.


Tiba-tiba aku teringat lagi dengan senyuman manis dhewi


“aaah...!! dia...!! dia gadis yang terus melihatku saat aku memainkan gitar untuk Sukma yang sedang merayu Pipin.”


Akhirnya aku berhasil mengingat kejadian itu dan tanpa kusadari akupun tersenyum geli karena mengingat kejadian memalukan di masa itu.


“Hayoo... senyam-senyum sendiri..mikirin apa kamu bar?”


Aku tak menyadari kehadiran Wulan yang kini ada di depanku, namun yang aku sadari adalah perubahan wajah Wulan, tak ada lagi bekas air mata dan kini wulan kembali terlihat cantik seperti sedia kala.


“Hehehe, nggak kok.. kamu jadi cantik lagi sekarang wul..”

__ADS_1


Aku memuji perubahan Wulan


“ooowh, jadi kamu ngerayu aku? Setelah ketahuan mikirin cewek lain saat kencan ?”


Gerutu Wulan yang cemberut dengan imutnya seolah Wulan dapat membaca pikiranku.


“Jujur, tadi kamu lagi mikirin apa bar..? kok sampai senyum-senyum kayak gitu sih?”


“itu.. tadi aku keinget cerita yang malu-maluin pas pertama ketemu Dhewi.”


“tuh kan beneer... kamu emang jahat banget bar, lagi kencan sama aku aja masih sempet mikirin cewek lain..”


Wulanpun kembali cemberut dengan imutnya.


“Aduuh, buukan gituuu..”


Aku mulai menceritakan kejadian waktu itu dari sudut pandangku, bahwa aku sedang dimintai tolong oleh sukma untuk memainkan gitar saat sukma merayu pipin untuk menjadi pacarnya, padahal aku tau kalau pipin gak mau pacaran sampai dia lulus SMA.


Saat aku memainkan gitar, memang ada teman desti yang terus-terusan memandangiku, aku tak pernah tau kalau dia bernama dhewi.


Dan yang menjadi kejadian itu menggelikan adalah munculnya emak pipin dari dapur dan berkata.


“Maaf mas, kalo mau ngamen jangan di sini.”


Ucapan itu langsung membuatku dan Sukma mengambil langkah seribu dari rumah Pipin.


“Hahahaha, jadi gitu ceritanya?


Pantesan kamu bilang kamu gak pernah kenal sama mbak Dhewi.”


Ucap Wulan yang kembali tersenyum.


“hahaha, iya, aku aja kalo inget masih geli sendiri. Kamu siih pake ingetin aku segala sama cerita memalukan itu.”


Ucapku sambil mencibir wulan karena sudah cemburu buta terhadapku.


“eh bar..pindah yok?”


“Kemana?”


“Kemana aja yang penting ganti suasana.”


“yaudah yok, tapi kita mampir masjid dulu yah. Ajakku


Setelah membayar, kamipun pergi ke masjid terdekat untuk sholat maghrib.


“kemana lagi niih?”


Tanyaku ke wulan seusai sholat


“Beli Jagung bakar yuk di deket taman kota.” Ajak Wulan


“kamu belum kenyang?”


“Belomlah, makan sosis aja mana kenyang”


Jawab wulan sambil menjulurkan lidahnya.


“Yaudah, abis beli jagung bakar, aku bakal ngajakin kamu ke tempat yang bagus banget.”


Aku ingin nengajaknya ke tempat dimana ku bisa dengan leluasa memberikan kado untuknya.


Setelah kami membeli jagung bakar, aku mengajak wulan ke sebuah bukit yang tak jauh dari taman kota,


mungkin cuma 30 menit perjalanan, saat menuju ke sana kami melihat banyak vespa terparkir dengan rapi di dekat taman kota.


Aku baru tahu kalu ternyata ada club vespa di sini, terlihat disana ada Hogy dan beberapa temanku yang ikut nongkrong sama anak-anak vespa.


Kami akhirnya sampai di bukit yang kami tuju. Untuk disebut sebuah bukitpun rasanya ini tak pantas, karena ini cuma jalan alternatif antar kota yang menanjak,


dan terdapat gardu pandang di bahu jalan,


Yang dapat melihat gemerlapnya kota dari ketinggian.


Karena menurut cerita banyak pasangan yang berhasil menjadi kekasih setelah menyatakan cinta di tempat ini,


Setelah memarkirkan Bony, kami segera duduk di gardu pandang,


untuk menikmati indahnya pemandangan malam kota dari ketinggian,


dan juga menikmati jagung bakar yang sudah kami beli tadi.


Belum selesai aku menikmati jagung bakar,


tiba-tiba wulan berdiri dan menarikku.


“bar, coba lihat ke sana deh.”


Wulan menunjuk arah kota yang jika aku melihatnya maka posisi tubuhku akan membelakangi wulan.


Tiba-tiba wulan memelukku dari belakang,


dan yang aku rasakan ada dua buah benda kenyal nan hangat menempel di punggungku.


“wul..” ucapku memanggil wulan karena merasa enak saat berada di pelukannya


“..ssst..kamu diem aja.. aku mau ngomong sesuatu..kamu jangan ngomong kalau aku belum selesai ngomong..”


begitu pinta wulan yang tetap memelukku erat dari belakang.


“bar.. kamu tadi bilang kalau kamu suka aku,


tapi sebagai teman, sebagai adik, sebagai orang yang bakal kamu bagi cerita suka maupun dukamu..”


“sebagai orang yang bakal kamu lindungi..”


“bukankah itu artinya kamu cinta sama aku bar..?”


“tapi aku sadar kok siapa aku ini, kamu berhak, dan sangat berhak untuk mendapatkan gadis yang lebih dari aku..”


Aku merasakan ada cairan hangat yang membasahi punggungku.


“pasti wulan nangis lagi.” Batinku


“Gak apa - apa kok bar, aku juga udah nyaman sama hubungan kita ini, walaupun akhirnya kita ketemu lagi setelah sekian lama, tapi rasa ini gak pernah berubah, dan semakin dalam..”


“Aku juga berharap, setelah hari ini, hubungan kita tetap sama seperti ini..”


“Aku gak bakal halangin kamu mau suka, mau pacaran sama siapapun, yang penting kamu selalu ada untukku,


itu sudah lebih dari cukup kok..”


Aku yang tak sabar dengan ucapan Wulan barusan langsung membuatku membalikkan badan dan mencium lembut bibirnya, agar dia berhenti mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatiku.


Aku ***** bibir merahnya, dan ibu jariku kugunakan untuk mengusap air matanya.


Aku hanya memejamkan mata menikmati sensasi lembut dari bibir Wulan, aroma nafas Wulan yang wangi sangat memabukkanku, membuatku melayang.


Bibir kami berpagutan dengan intens, Wulan yang awalnya hanya mengikuti gerakan bibirku dengan pelan, kini dia mulai membalas ciumanku dengan sedikit liar.


Dua buah benda empuk yang awalnya menempel di punggungku tadi, kini menempel dengan indahnya di dadaku.


“mmph”


Wulan mulai mengeluarkan suara indah saat tak sengaja aku menyenggol benda empuk tersebut, dan desahan Wulan barusan telah menyadarkanku dari khilafku.


“Akbar..kamu sadar kan apa yang sudah kamu lakukan?”


Tanya Wulan yang wajahnya mulai memerah menatapku.


“Iya.. aku sadar, sadar banget, aku ngelakuin itu biar kamu gak ngoceh yang aneh-aneh lagi.”


“ini ciuman pertamaku, dan kamu harus bertanggung jawab..”

__ADS_1


Ucap Wulan sambil tertunduk malu.


Kami pun melanjutkan ronde ke dua ciuman kami yang bahkan lebih Hot dari ronde pertama.


Setelah kami selesai berciuman, kami hanya mengobrol dan menikmati pemandangan malam ditemani oleh jagung bakar yang sudah dingin.


Tak terasa sudah waktunya pulang, sekarang waktu menunjukkan pukul 9.30 malam.


Sebelum pulang aku menyerahkan kado yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari, kado itu berisi sebuah boneka teddy bear yang memeluk hati bertuliskan “Have a nice dream”


Di dalam kado tersebut akupun sudah menuliskan memo


“kalau kamu kangen, peluk boneka ini dan telfon aku di nomor 081 564 xxx xxx”


“Apaan nih bar?” Tanya wulan saat aku memberikan kado tersebut


“ada deeh, buka aja nanti di rumah.”


Wulan tersenyum bahagia dan kembali mengecup bibirku.


“Makasih ya bar..”


“ya.. sama-sama.. yok pulang.. kalau kemaleman bisa berabe ntar.”


Kami pun meluncur dengan santai menikmati sisa-sisa malam ini menuju ke rumah wulan.


Di tengah perjalanan pulang, aku membeli pajak untuk pak marjono berupa martabak manis dan martabak telor, dengan tujuan untuk membungkam mulutnya kalau-kalau dia marah karena kami pulang terlalu malam.


Namun naas, saat sampai di depan gang rumah wulan si Bony yang kedinginan akhirnya masuk angin dan ngambek begitu saja.


Alhasil kami harus mendorong bony sampai ke rumah wulan yang untungnya tidak terlalu jauh dari tempat bony mogok.


Di teras rumah wulan sudah makhluk yang sedang duduk dengan santainya sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, seolah sengaja menunggu kepulangan kami.


“Lah, kok di dorong-dorong motornya? Pak marjono bertanya dengan basa basi."


“iya nih om, mogok barusan di depan gang.”


Jawabku sambil mendorong bony ke halaman rumah Wulan.


Aku mencium tangan om marjono, mengisyaratkan kalau aku sudah membawa kembali anaknya dengan utuh tanpa kekurangan suatu apapun.


“Wul, ambilin minum buat akbar gih, kasian dia dorong vespa sampai keringetan gitu.”


Pak marjono memberi perintah pada wulan, aku sempat curiga kalau pak marjono bakal mengintrogasiku selama wulan membuat minuman untukku.


“Anu wul, air putih dingin aja kalau boleh..”


Aku memberi isyarat pada wulan agar tidak terlalu lama saat mengambil minuman untukku.


Akupun teringat pajak yang sudah ku belikan khusus untuk pak marjono, biar dia sedikit lunak kepadaku.


“Ini om, tadi Akbar sama wulan beli martabak di dekat taman kota." Siapa tau om suka.


“Wah, martabak telor yaa? Bocah pinteer, makasih lho..”


Tanpa ragu-ragu pak marjono langsung menyantap martabak yang sudah ku belikan tadi akupun hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.


Wulanpun datang membawa minuman pesananku.


Aku langsung menenggak habis satu gelas air putih dingin itu, karena walaupun hanya mendorong vespa yang mungkin sejauh 50an meter, tapi bokong vespa yang semok ternyata cukup berat juga saat didorong, makanya tenggorokan ini benar-benar terasa kering.


“Permisi om, Akbar mau coba lihat vespa dulu, siapa tau bisa bener lagi.”


Aku meminta ijin pada pak marjono untuk mencari tahu dimana letak kerusakan Bony, dan Pak Marjono hanya menganggukkan kepala pertanda dia setuju.


Akupun langsung mengotak atik bony, mencari-cari dimana kerusakannya, sambil mengingat-ingat kembali pelajaran perbengkelan vespa yang suda paman ajarkan kepadaku.


“coba kamu lepas busi vespamu bar, om mau lihat..awas, panas..”


Dengan segera, aku melepas busi vespa dan menyerahkannya pada pak marjono.


“wul, ambilin amplas yang ada di kotak perkakas bapak di dapur, ambil yang potongan kecil aja.”


Wulan kembali menghilang ke dalam rumah.


“ini bar, liat, yang namanya vespa tuh mesinnya 2 tak dan memakai oli samping untuk membantu menjaga kinerja pembakarannya. Dan kalau  memakai oli samping yang buruk hasilnya busi vespa pasti cepat kotor kayak gini.”


Pak marjono mencoba menjelaskan kepadaku


“Lalu biar vespamu bisa nyala lagi kamu harus membersihkan kerak yang menempel di busimu ini.”


Kemudian Pak Marjono mulai membersihkan busi vespaku menggunakan amplas yang sudah Wulan bawakan untuknya.


Sebelum dia menyerahkan busi kepadaku, pak marjono memberikan sentuhan akhir dengan membakar ujung busi menggunakan korek apinya.


“Udah, coba sekarang kamu pasang busi ini dan nyalain lagi vespamu.”


Betul saja bony yang tadinya ngambek, kini kembali tertawa dengan riang melalui kenalpotnya.


[treng teng..teng..teng..teng....]


“Wul, kamu masuk kamar sana, udah malam, bapak mau ngobrol sebentar sama Akbar.”


*degg aku mempunyai firasat yang buruk, rasanya aku percuma saja membelikan martabak buat Pak Marjono, kalau akhirnya aku tetap di introgasi.


Namun ternyata firasatku salah, beliau hanya menanyakan kabar bapak dan ibuku.


Akupun menceritakan semuanya pada pak marjono, bagaimana keadaan hidup keluargaku selama ini, kami mengobrol panjang lebar dan menikmati bersama martabak yang telah aku belikan.


Dari obrolan ini aku mengetahui, ternyata pak marjono juga anak vespa pada jaman muda dulu, beliau juga tahu kalau vespaku ini sebenernya milik paman, karena dulu pak marjono dan paman sering touring bersama.


“Di usiamu yang masih muda ini, kamu sudah melakukan semuanya dengan sangat baik.


Om sangat bangga sama kamu bar.”


Pak marjono menepuk – nepuk pundakku dengan penuh rasa bangga karena telah mendengar pengalaman hidupku.


“eh bar, bukan om mau ngusir kamu, tapi ini sudah jam 12 malem, kamu mau pulang terus nemenin ibukmu di rumah? Atau mau ngobrol sama om sampai pagi di sini?”


“Om sama sekali gak keberatan kok kalau Akbar mau nginep sini.”


“makasih banyak om, atas bantuan dan wejangannya, tapi Akbar harus pulang, kasian emak sendirian di rumah.”


“Kapan – kapan kalau boleh Akbar bakal mampir kesini dan ngobrol lagi sama om..”


Jawabku yang kemudian kembali mencium tangan pak marjono untuk berpamitan.


 


***


 


Sesampainya di rumah aku langsung merebahkan tubuh indahku ini di atas kasur tercinta.


Aku kembali teringat dengan adegan panas yang tadi aku dan wulan lakukan di gardu pandang bukit cinta.


“hmm emang legend banget tuh bukit..”


aku kembali memuji kehebatan bukit cinta yang ternyata benar-benar ampuh, seperti banyak orang bilang.


 


[bzzt..bzzt..ding..]


 


--“Kamu harus tanggung jawab..”--


Tiba-tiba saja ada pesan masuk di HPku.


Namun Karena mata ini sudah tak mampu untuk diajak kompromi, akhirnya akupun terjatuh dalam buaian mimpi indah.

__ADS_1


__ADS_2