Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.27 – Masa Orientasi Peserta Didik (MOPDIK) 2


__ADS_3

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." --- (QS Al Insyirah 5)


\=\=\=\=\=


Pagi ini aku dan Hogy menikmati secangkir kopi selagi menunggu Topan yang entah kapan akan tiba di rumahku,


memang rumahkulah yang memiliki jarak tempuh paling dekat dengan kampus utama hanya sekitar lima sampai


tujuh menit saja, sementara jarak rumah Hogy menuju kampus utama sekitar sepuluh menit, dan yang paling jauh adalah Topan, rumahnya berada di perbatasan kabupatenku dan kabupaten sebelah.


Untuk menuju kabupaten sebelah menggunakan jalur utama hanya memakan waktu sekitar 20 menit, tapi tentu banyak sekali polisi yang bertugas di sana, sedangkan untuk memakai jalur alternatif akan memakan waktu hampir satu jam dan akan melewati daerah rumah Topan.


“Topan mana nih? Sudah hampir jam enam belum datang juga, tinggalin aja yok ah.”


Ucap Hogy yang mulai kesal karena sudah terlalu lama menunggunya.


“Kaleem coy.. lima menit lagi kalau belum datang juga kita tinggal berangkat, maklumlah rumah dia kan di dalam


hutan, mungkin aja dia lagi nyebrang sungai.”


Jawabku yang menyindir Hogy karena telah menjahiliku kemarin.


“Heleh, gitu aja masih ngambeeeek...sekali kali laah kita berpeualang melintasi alam hahaha..”


Jawab Hogy dengan mencolek – colek lenganku.


Sayup – sayup terdengar suara khas motor Topan dari kejauhan.


“Tuh dia sudah datang.” Ujarku yang menjauhkan tangan Hogy dari lengan milikku.


“Sory gaes.. si Jagur ngambek, minta beli minuman dulu buat ngisi tangkinya.. hehehe..”


Ucap Topan yang baru datang dengan memasang muka cengar – cengir.


“Hiish si kampret ini emang minta di kasih bogem mentah dulu kayaknya biar dia tau rasa.”


Hogy yang daritadi sudah kesal mulai menghujani kepala Topan dengan jitakan.


“hayuk ah kita berangkat, biar bisa cuci mata liat cewek – cewek kampus utama.”


Ucapku saat melerai mereka berdua.


“Maaaaaak...!! Akbar berangkat dulu yaa.. Assalamualaikuuum..!!”


Bony, Vera dan Jagur berangkat bersama berjalan beriringan menembus keramaian kota menuju kampus utama milik SMA Islam Nusantara.


Tiga buah motor tua yang bersabat melalui tuannya, Bony si vespa semok berwarna putih kusam.

__ADS_1


Lalu ada Vera, vespa montok berwarna merah tua milik Hogy dan juga si Jagur motor paling bongsor milik Topan, GLPro dengan mesin masih orisinil hanya knalpotnya saja yang bersuara khas agak berisik.


Kami bertiga sukses menjadi pusat perhatian begitu tiba di parkiran motor kampus utama karena memang baru kami bertiga saja calon siswa baru yang memakai seragam SMA, aku juga melihat banyak sekali kakak kelas perempuan yang saling berbisik saat melihat kami turun dari motor, ada pula yang terang – terangan tersenyum kepada kami.


Namun dimana ada tatapan suka pasti ada pula tatapan benci, tidak sedikit kakak kelas laki – laki yang memandang kami dengan tatapan seolah ingin membunuh.


Begitu melihat kami datang, Rayhan segera menghampiri kami dan langsung mengajak kami mengobrol dengan


akrab.


Aku yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Rayhan merasa sedikit sungkan saat berbicara dengannya


terlebih dengan perjanjian satu semester yang kini cukup membuat kepalaku menjadi pusing saat memikirkannya.


Aku masih belum berniat untuk menyatakan keberatanku kepada Rayhan, karena aku masih cukup percaya diri jika


Dhewi lebih memilihku daripada memilih Rayhan.


Dan seperti biasa mopdik kali ini berakhir dengan cukup membosankan menurutku, selain materi yang berisi


pengenalan tentang sekolah, hanya diisi dengan permainan kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan kerja


sama dan kekompakan sebuah tim dengan puncak acara seperti biasa makan siang menggunakan bekal aneh yang kami bawa.


Tidak ada yang spesial juga saat makan siang bersama, kali ini aku berpasangan dengan seorang anak laki – laki


Tapi, sesaat sebelum kami bertiga meninggalkan kampus utama aku melihat Rayhan sedang berbicara dengan gadis itu di kantin depan.


Ya, gadis yang hanya dengan senyumannya saja dapat membuatku lupa pernah merasa marah dengan Dimas,


sebetulnya aku sangat penasaran, siapa kakak kelas itu, dimana kami pernah bertemu sebelumnya, dan mengapa


senyumannya sungguh terasa hangat di hatiku.


Saat aku sedang ragu untuk bertanya kepada Rayhan tentang siapa gadis itu, kini terlihat olehku Topan yang


menghampiri mereka berdua.


Melihat mereka bertiga berbincang dengan akrabnya membuat suatu sensasi rasa aneh yang muncul di hatiku,


terlebih saat melihat gadis itu tersenyum oleh tingkah dari Topan, ada sedikit rasa sakit, namun lebih banyak rasa


seolah tidak terima ketika melihatnya.


Hogy yang melihat perubahan ekspresiku segera menarik tanganku untuk mendekat ke arah mereka, aku merasa


sedikit canggung dengan percakapan ini, di satu sisi aku masih tidak terima karena Topan telah mendahuluiku,

__ADS_1


sedangkan di sisi lain aku masih ingin berbincang dengan gadis ini.


Setidaknya aku berhasil mengetahui namanya setelah bersusah payah menekan perasaan ini, memang sungguh


aneh gadis yang baru kutemui bisa dengan mudahnya mengaduk – aduk perasaanku hanya dengan senyumannya


saja.


Dia benar – benar bisa membuatku lupa dengan segalanya, aku tidak mengingat Dhewi, Wulan, apalagi semua cinta monyetku dari SMP, seolah dengan melihatnya tersenyum saja sudah bisa memenuhi semua asupan giziku.


Aisyah Sarasvati, seorang gadis manis yang terlihat polos dan aura ayu terpancar setiap kali dia tersenyum. Dia


bukanlah tipe gadis yang cantik dari penampilan fisik saja, apalagi jika dibandingkan dengan gadis yang hanya


mengandalkan make up namun terlihat dengan jelas kalau ada kecantikan yang memancar dari dalam dirinya.


Dan anehnya aku merasakan seolah diriku mempunyai ikatan yang kuat dengan Aisyah, padahal dia hanya seorang gadis yang baru kutemui.


Setiap kali aku mencoba menolak ikatan ini selalu muncul perasaan marah, entah itu marah kepada diri sendiri


maupun marah kepada yang ada di sekitarku, apalagi dia selalu tersenyum melihat tingkah konyol Topan yang


semakin membakar rasa amarahku ini.


Aku pulang engan tangan hampa, hanya mendapatkan sebuah nama dari gadis itu, namun dari pembicaraan kita tadi nampaknya kami tidak pernah bertemu sebelumnya, bahkan dia juga tidak satu sekolahan denganku saat SMP.


Dan dari yang kudengar tadi rumahnya terbilang lumayan dekat denganku, mempunyai jarak tempuh yang sama


dengan kampus utama, hanya arahnya saja yang berbeda. Jika dari rumahku menuju kampus utama tinggal lurus ke utara, maka untuk menuju rumah Aisyah harus belok menuju arah barat saat di tengah perjalanan menuju kampus utama.


“Assalamualaikum..”


“Waalaikumsalam.. lemes amat bar? Mau emak bikinin kopi gak?”


“Boleh mak, kalau gak ngerepotin.. hehehe.” Jawabku dengan menghempaskan pantatku ke sofa yang ada di ruang tamu rumahku.


“Yaudah tunggu bentar, daripada bengong di situ, mending kamu ganti baju dulu sana.”


“Ok shiyaap..”


Terkadang aku berfikir disaat aku sedang merasa gundah seperti ini, lalu bagaimana dengan perasaan ibuku yang


kini hampir genap empat tahun ditinggal ayahku menghilang entah kemana dan tidak ada kabar hidup atau matinya itu.


Aku memang sudah berusaha semampuku untuk menggantikan sosok ayah di keluargaku, namun aku juga tau dengan pasti bahwa ayahku juga merupakan sosok yang tidak tergantikan di sisi ibuku.


Aku merasa malu dengan keadaan ini, aku bisa merasa gundah dengan gadis yang bahkan bukan siapa – siapaku

__ADS_1


ini, sedangkan ibuku, aku tau beliau dapat menyembunyikan perasaannya dengan baik, terlebih di depan anak – anaknya.


__ADS_2