Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.26 – Hogy dan Topan Kurang Kerjaan


__ADS_3

"Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu." --- (Ali bin Abi Thalib)


\=\=\=\=\=


Makan siang kali ini cukup mewah untukku, ikan bakar dengan berbagai jenis sambal, dengan sebakul nasi untuk bertiga, dan minuman spesial dari bahan yang kami petik sendiri langsung dari pohonnya ya, Es Kelapa Jeruk dengan rasa spesial buatan mbok Ijah lalu dengan nuansa alam yang ada di sekitar rumah topan menambah cita rasa yang sungguh tak bisa aku ungkapkan.


Akhirnya Kami berhasil nongkrong dengan cara spesial yang telah Topan dan Hogy persiapkan khusus untukku, setelah edisi nongkrong yang sebelumnya telah gagal karena ulah Rayhan dan Dhewi.


Secara tidak langsung aku mulai mengetahui latar belakang yang dimiliki oleh Topan, tapi rasa penasaran ini sudah tidak bisa kubendung lagi, dan lebih baik aku bertanya kepada Topan secara langsung daripada hanya mengira – ngira.


“Jadi.. apa aku udah boleh tanya?”


“Hahaha, kayaknya udah gak bisa ditahan lagi ya bar?”


Jawab Topan sembari melepaskan kepulan asap rokok dari mulutnya.


“Haish.. udah sono kalian ngobrol berdua aja, aku mau main gitar di dalam kamar.” Timpal Hogy yang sedang menginjak puntung rokoknya.


Aku dan Topan masih duduk di Teras kamar Topan, sementara Hogy berjalan masuk ke dalamnya.


Topan menceritakan semuanya kepadaku tanpa ada yang di tutup – tutupi, bahwa semua orang yang tadi saya temui di sekitaran rumah Topan adalah karyawan utama milik perusahaan yang dikelola oleh ayah Topan. Sementara beberapa orang yang berada di dekat gedung tua itu hanyalah karyawan magang, yang belum tentu diangkat menjadi karyawan utama.


Ayah Topan adalah seorang kepala cabang dari perusahaan yang bergerak di bidang jasa keamanan lokal, bukan polisi, bukan pula sekuriti, dan dari kesimpulanku, mereka lebih pantas disebut  dengan mafia rasa lokal. Pantas saja waktu itu Hogy menyebut Topan sebagai anak preman.


Dia juga bercerita bahwa pernah perusahaan milik ayahnya ini di sewa sebagai body guard oleh beberapa elit dari pemerintahan kota. Namun Topan sendiri tidak tahu siapa pimpinan pusat tempat ayah topan bekerja.


Banyak pertanyaanku tentang Topan yang kini telah terjawab, hanya tinggal beberapa pertanyaan lagi, salah satunya adalah dari mana mobil jeep sebanyak itu datang ke dalam hutan ini.


Topan mengajakku berkeliling halaman kamar pribadinya sebelum mengajakku berkeliling halaman rumahnya yang terbilang sangat luas, dia menunjuk ke arah hutan yang ada di seberang, dia mengatakan kalau hutan itu sudah berada di kabupaten sebelah, dan sungai yang ada di dasar lembah inilah yang menjadi perbatasannya.

__ADS_1


Setelah Topan mengatakan itu, aku jadi teringat dengan “sungai Lampir” yang menjadi perbatasan antara kabupatenku dan kabupaten sebelah. namun saat aku menanyakan pada Topan dia hanya menanggapi pertanyaanku dengan senyum simpulnya.


Jika  memang benar sungai Lampirlah yang berada di bawah sana, maka seharusnya daerah ini tidak jauh dengan jalan raya yang pernah aku lewati, namun aku urungkan niatku untuk bertanya lagi kepada Topan, karena dia sedang mengajakku berkeliling halaman belakang rumahnya dimana terdapat kebun bunga mawar merah yang cukup luas dan dihiasi dengan kolam ikan.


Dia mengatakan bahwa gerbang yang tadi kita lewati adalah gerbang samping dan bukannya gerbang utama.


Dari gerbang samping terdapat jalan setapak yang terbuat dari batu kecil yang tersusun rapi dan langsung menuju ke gazebo dan kamar Topan yang berada di ujung belakang sana, sedangkan wilayah lainnya masih alami berupa tanah merah yang padat dengan sedikit lumut diatasnya.


Saat aku dan Topan sampai di gerbang depan aku mendapati pemandangan yang cukup kontras dengan lingkungan hutan yang asri, aku masih mengira kalau semua jeep ini menembus hutan dengan melalui jalur tanah.


Aspal kasar yang membelah hutan dan menuju langsung ke depan gerbang utama rumah Topan, sementara jalanan di sekitar rumah Topan hanya menggunakan pecahan batu besar yang tersusun rapi.


Semua ini telah menjawab pertanyaanku tentang semua jeep yang bisa melewati hutan ini, dan benar saja, saat aku memandang jauh ke ujung aspal disana samar – samar aku melihat bangunan mirip gedung tua tempat parkir Bony.


“Pan, gedung itu kok mirip tempat parkir motor kita ya?”


Belum  sempat untuk Topan menjawab pertanyaanku, tiba – tiba seseorang pemilik tubuh kekar berlari kearah kami.


“Gak tau, gak liat, ada di dalam rumah mungkin.”


Jawab Topan singkat diiringi gerakan naik turun dari pundaknya. Pria bertubuh kekar itu menghilang masuk ke dalam rumah utama setelah mendengar jawaban dari Topan.


“Tadi kamu tanya apa bar? Sampe lupa aku gara – gara ada iklan lewat.”


“itu lho, gedung di ujung aspal kok mirip tempat parkir motor kita ya?”


“Hahahaha..nanti juga kamu bakal ngerti kok, yok ah, kita balik ke kamar, kasian Hogy sendirian.”


Setelah Topan menjawab pertanyaanku dengan tawa miliknya, diapun mengajakku kembali ke kamar pribadi Topan melalui jalur yang berbeda dengan jalur yang telah kami lewati sebelumnya, dan ini adalah jalur yang dapat di lewati mobil jeep, karena struktur jalan ini sudah memakai susunan batu besar yang rapi. Walaupun jalur ini sedikit memutar, namun semua rasa lelah ini terbayarkan oleh pemandangan hutan yang terlihat sangat asri dan menyejukkan mata.

__ADS_1


Hogy masih tertidur pulas dengan posisi sedang memeluk gitar milik Topan saat kami kembali, entah mimpi apa yang sedang dialaminya. Kami hanya tersenyum geli melihat kondisi sahabat kami saat ini.


Kini aku berada di dalam sebuah kamar yang lebih tepat untuk kusebut dengan rumah kecil lengkap dengan segala fasilitasnya, kamar mandi di dalam, dan juga ada sebuah dapur mini untuk sekedar memasak mie instan.


“Pan, tadi siapa nama bapakmu?”


“Pak mawar, memangnya kenapa bar?”


“Hahaha gak apa – apa, cuma kok seorang kepala cabang namanya mawar sih? Kayak nama perempuan aja.”


“Bwahahahaha, nama bapakku tuh Ma...war...di... dan lebih indah jika dipanggil Mawar hahaha.”


Aku hampir tersedak nafasku sendiri setelah mendengar nama lengkap bapaknya Topan, bukan hanya nama miliknya saja yang cukup aneh, tapi nama bapaknya pun terbilang unik, aku sampai merinding sendiri membayangkan bagaimana wujud dari penampakan bapaknya Topan.


Waktu sudah semakin sore saat kami bertiga diantar menuju parkiran motor menggunakan salah satu mobil jeep milik pak Mawardi, dan benar saja tidak sampai 10 menit untuk sampai di gedung tua tempat parkir motor kami menggunakan jalur aspal kasar dari depan gerbang utama, sementara tadi hampir memakan waktu 40 menit saat kami berjalan kaki.


“ada yang mau diucapkan bar?”


Hogy bertanya kepadaku lengkap dengan senyuman songong miliknya.


“Bajinguuuk..!!! kenapa kita gak lewat sini aja tadi? Segala pakai petualangan lompat batu buat menyeberangi sungai, masuk kebun singkong juga! Gak tau apa? Tubuhku yang mulus ini bentol – bentol digigitin nyamuk!!”


Jawabku dengan menunjukkan tangan yang bentol – bentol ini.


“Bwahahaha.. ya biar kamu juga ngerasain apa yang aku rasain dulu bar, dulu pas kamu nganterin mbak wie pulang, aku juga dikerjain Topan lewat jalur itu.


Dengan satu tarikan nafas aku mendaratkan jitakan di kepala mereka berdua yang sedang menertawaiku tanpa sempat mereka hindari, mereka benar – benar kompak saat mengerjaiku.


***

__ADS_1


Hari kedua MOPDIK dilaksanakan di kampus utama, dan seperti biasa acara ini dimulai dari pukul enam pagi sampai dengan jam satu siang, kami bertiga janjian untuk berkumpul di rumahku  terlebih dahulu sebelum berangkat bersama menuju kampus utama.


Tepat pukul setengah enam pagi Hogy sudah mendarat dengan selamat di depan rumahku, sementara Topan sama sekali belum nampak batang hidungnya.


__ADS_2