
"Diantara miliaran manusia, pasti Tuhan memiliki alasan mengapa kau dan aku dipertemukan." --- Perahu Kertas
\========
Sudah hampir tengah malam saat aku mendarat dengan selamat di depan rumah dhewi. Selama perjalanan pulang dari rumah sakit kami hanya terdiam,tak sepatah katapun yang keluar dari bibir kami.
Karena memang kami sudah tak mampu untuk berbicara lagi setelah mengalami hal yang berat seharian ini. Perjalanan pulang ini pun terasa sangat lama untuk kami lewati.
Setelah tadi mendapat penjelasan dari dokter tentang penyebab kematian wulan yang ternyata dia mengalami penggumpalan darah karena kankernya yang memang sudah parah, dan menyebabkan serangan jantung.
Pak marjono meminta kami untuk segera pulang, selain karena waktu memang sudah malam dan kami masih harus menempuh perjalanan jauh, juga karena pak marjono ingin agar kami tidak terlalu merasa terlalu berduka dengan kepergian wulan.
Terlalu sulit rasanya bagiku untuk mempercayai bahwa kini Wulan sudah tiada, masih teringat dengan jelas di otakku semua tentang wulan, suaranya, senyuman manisnya, cara dia bermanja, hangat tubuhnya, bahkan aroma nafasnya pun masih kuingat dengan jelas.
Tak terasa air mata ini kembali menetes teringat ucapan Wulan “kamu harus tanggung jawab..”
“AAARGH..!!! INI TANGGUNG JAWAB YANG BERAT UNTUKKU...!!!”
Aku berteriak sekerasnya untuk melepaskan rasa duka ini, aku masih merasa tak sanggup untuk melepas kergian Wulan.
Dalam perjalanan pulangku dari rumah dhewi, aku memacu Bony dengan kecepatan yang tinggi, seakan akupun sudah tak sayang lagi dengan nyawaku. Aku kacau melebihi orang yang sedang mabok.
Seolah mengetahui apa yang telah terjadi, hanya karena melihatku kacau dengan mata yang masih berair, emak hanya menyuruhku untuk mencuci muka dan segera beristirahat.
Aku hanya diam dan menuruti perintah emak. Setelah itu aku merebahkan diri di atas tempat tidur, dan membuka semua fotoku bersama wulan yang ada di HPku.
Malam ini terasa sangat sunyi.. dan akupun telah terlelap dengan segala kenanganku bersama Wulan.
---
“Dasar cowok gak peka..”
“Kamu harus tanggung jawab”
“Aku merestui kalian.. kamu harus bahagia sama mbak wie...”
---
“Wul...”
“Wul.. jangan pergi... kumohon...”
“Wulaaaaan.....!!!”
Aku berteriak dengan keras dalam tidurku karena melihat wulan yang tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
Aku ingin meraih wulan namun aku tak bisa.
Emak yang mendengarku berteriak, segera mendatangi kamarku, beliau meemintaku untuk bercerita, namun aku masih belum sanggup untuk menceritakannya.
[03.30am]
Aku hanya tertidur beberapa jam saja, dan kini aku tak sanggup lagi untuk memejamkan mata. Aku putuskan untuk
duduk di ruang tamu rumahku.
“Nih, kopi hitamnya, kalau ada masalah kamu bisa cerita kok..”
Emak membawakanku kopi dan kembali memintaku unutuk bercerita, akupun berfikir, tak sanggup untuk memendam perasaan ini lebih jauh.
“Makasih mak....”
ucapku mulai meminum kopi buatan emak, dan memantapkan hatiku untuk bercerita semuanya kepada emak.
“Maak...”
“Wulan....” ucapku lirih.
“Iya, kenapa Wulan?”
Emak mulai cemas dengan kelanjutan ceritaku..
Aku menghela nafas lalu kembali melanjutkan ceritaku
“Maafin semua salah wulan ya maak, bantu Akbar buat ikhlasin kepergian Wulan..”
Tak sadar air mataku kembali menetes.
“Bar.. maksudmu Wulan.. sudah..?”
Emak ingin melanjutan pertanyaannya namun tertahan karena melihatku menitikkan air mata
“Iya mak.. Wulan sudah tenang.. dia gak bakal ngerasain sakit lagi..”
Emak terdiam, mungkin merasa menyesal karena memaksaku untuk bercerita dalam keadaanku yang sekarang. Beliau lalu memelukku dengan lembut.
__ADS_1
“Kamu yang sabar ya nak.. Wulan anaknya baik.. Tuhan pasti lebih sayang sama Wulan. Makanya Wulan dipanggil
duluan.”
Pagi ini hujan turun dengan derasnya, seolah ikut menangisi kepergian wulan, aku hanya bisa memandangi hujan pagi ini dan kembali meminum kopi yang sudah emak buat.
***
Siang ini Aku berencana untuk mengantar kepergian terakhirnya, saat aku membuka pintu rumahku, terlihat sosok perempuan yang sudah memakai pakaian serba hitam yang sedang duduk di kursi teras rumahku.
“Dhewi?? Kok gak masuk sih?”
“Iya, aku di sini aja. Gak apa – apa kok”
“Huss.. gak boleh gitu, masuk dulu yuk, abis itu ikut aku ke tempat Wulan..”
Setelah Dhewi berbasa – basi dengan emak, kamipun akhirnya berpamitan untuk mengantar kepergian Wulan menuju pusara terakhirnya.
Dhewi bercerita, kalau dia sebenarnya hanya ingin mengembalikan jaket dan helmku, lalu berencana naik bis ke tempat Wulan, dia tidak menyangka kalau aku juga akan ke sana hari ini.
Entah mengapa, hari ini Dhewi terlihat sedikit berbeda, dia selalu mengajakku berbicara. Dalam sepanjang perjalanan ini saja kita sudah saling bertukar canda, mungkin memang maksud Dhewi untuk menghiburku karena kepergian Wulan, aku pun mempunyai pikiran yang sama, karena pastinya Dhewi pun tidak bisa dengan mudah menerima kepergian teman dekatnya itu.
Setibanya di rumah Wulan ternyata prosesi pemakaman Wulan dan neneknya sudah selesai, kami pun diantar pak
Marjono menuju tempat pembaringan terakhir Wulan.
Di samping makam Wulan tiba-tiba pak Marjono memelukku dan mengelus – elus punggungku
“Bar, yang sabar yaa.. ikhlasin Wulan pergi, biar dia tenang, maafin juga semua salahnya..”
“Kamu sudah om anggap anak sendiri, biarpun Wulan sudah pergi, tapi pintu rumah om selalu terbuka untuk
kamu bar..”
“Dan mulai sekarang kalau kamu mau, kamu boleh panggil saya bapak, jangan sungkan –sungkan. Yaa bar”
“Nggih om..”
Eh pak..”
aku belum terbiasa memanggil om Marjono dengan sebutan pak, karena memang sudah lama sekali rasanya aku
mempunyai sosok yang aku anggap sebagai ayah.
“Bapak juga yang sabar.. dan juga semua keluarga semoga diberi ketabahan dan kekuatan..”
“Owh ya pak, makam nenek wulan di mana?” aku memang belum sempat mengenal nenek wulan, tapi memang tanpa beliau maka tidak akan ada wulan yang aku cintai, makanya aku memang sudah berencana
sekalian mengunjungi makam nenek wulan.
“Ini makamnya.” Pak marjono menunjuk makam yang ada di sebelah, yang ternyata makam Wulan dan neneknya
bersampingan.
“Maaf ya bar, bapak harus pulang dulu, masih banyak tamu di rumah, kalau kamu sudah selesai di sini, kamu mampir dulu ke rumah..”
“Makasih banyak pak, tapi sepertinya nanti akbar mau langsung pulang setelah selesai dari sini.”
Pak Marjono hanya tersenyum mengiyakan keputusanku, karena menyadari aku datang kemari tidak sendiri, melainkan bersama Dhewi.
Aku duduk di samping Dhewi yang dari tadi hanya diam dan memandangi batu nisan millik Wulan.
“Wie, silahkan..”
Aku memberikan sekantong plastik penuh bunga dan mempersilahkan dhewi untuk terlebih dahulu menaburkan bunga diatas makam wulan.
“Makasih bar..”
Dhewi tersenyum dan meraih bunga yang ada di tanganku.
Setelah kami menaburkan bunga di makam wulan dan makam neneknya, kami mulai berdo’a untuk mengantarkan mereka agar selamat pada perjalanan kehidupan kedua mereka di alam yang abadi.
***
“Hari ini kamu bolos sekolah ya wie?”
__ADS_1
“Nggak kok, aku ijin, aku bilang sama Wali kelas mau melayat ke rumah Wulan.”
“Berarti wali kelasmu udah tau kalau wulan gak ada?”
“Iya, udah tau, tapi karena Wulan dimakamkan di luar kota, makanya cuman perwakilan kelas yang nanti mau ke sini, aku juga udah ngasih tau alamat rumah Wulan yang di sini kok.”
“Terus abis dari sini, kamu mau aku anter kemana wie?”
“Pikir nanti aja bar, kita balik ke rumahmu dulu aja..”
“Ok deh..”
Aku dan Dhewi segera menaiki Bony dan menuju rumahku, karena memang dari tadi langit sudah mulai mendung.
Saat di tengah perjalanan tiba – tiba hujan turun dengan derasnya, aku menawarkan pada Dhewi untuk berteduh, tapi dia bilang lanjut saja, nanggung udah hampir sampai rumahku.
Alhasil kita berdua yang sudah basah kuyub ini menggigil dengan indahnya di atas Bony yang sedang melaju dengan cepat.
Aku merasakan sedikit rasa hangat yang menyelimuti punggungku, di tengah rasa dingin ini.
“Bar..” ucap Dhewi
Aku yang tau apa maksud dari ucapan dhewi, aku hanya menjawab
“Silahkan.”
Tanpa menunggu waktu yang lama, Dhewi sudah memelukku dengan erat dari jok belakang bony.
Aku tidak sedikitpun merasakan canggung saat dhewi memelukku dari belakang, beda sekali rasanya bila dibandingkan saat wulan yang memelukku.
Mungkin karena ukuran milik dhewi jauh sekali bila dibandingkan dengan milik wulan, makanya akupun hampir tidak
merasakan ada benda yang menempel di punggungku.
Kami tiba di rumah dengan keadaan yang hampir tidak mirip manusia lagi, lebih tepatnya kami mirip siluman air atau siluman lumpur, karena wajah dan baju kami basah kuyub dan tertutup oleh cipratan- cipratan lumpur yang datang dari mobil dan truck di sepanjang perjalanan tadi.
Emak menyambut kepulangan kami dengan wajah khawatir namun menahan tawa karena melihat keadaan kami yang seperti bukan manusia.
Segera emak mengambilkan handuk untuk kami, dan menyuruh Dhewi untuk mandi terlebih dahulu, sedangkan aku disuruh menunggu Dhewi selesai, karena kamar mandi kami hanya ada satu, nggak mungkin kan kalau emak menyuruh kami mandi bersama...
Memang awalnya Dhewi menolak untuk mandi di rumahku, namun siapa yang bisa membantah permintaan emakku? Gak ada kan?
Saat Dhewi mandi, emak mengambil beberapa baju di lemarinya dan emariku yang mungkin akan di pakai untuk Dhewi nanti.
Dan aku hanya menunggu di teras rumah sambil mencuci Bony supaya tidak karatan karena baru saja hujan-hujanan.
“Baaar.. Dhewi udah tuuuh, kamu mandi sana, tar masuk angin..!!”
Emak berteriak dengan kencang dari arah dapur. Saat aku berjalan menuju kamar mandi, aku sama sekali tidak
melihat Dhewi di manapun, mungkin kah Dhewi sedang berganti baju di kamarku?
Tiba-tiba rasa usilku muncul, aku mengubah arah langkahku menuju kamarku.. tapi [zooonk] saat aku membuka kamarku, tidak adaorang sama sekali, dan itu artinya dhewi ganti baju di kamar emak.
“Baar.. buruan mandiii...” emak kembali berteriak
“Iya maak..bentar..”
Dengan langkah penuh rasa kecewa akupun masuk ke kamar mandi.
Saat di dalam kamar mandi masih tersisa aroma sabun dan shampo yang baru saja dhewi pakai, tiba-tiba muncul kembali pikiran menakjubkan yang ada di otakku, namun aku segera menepisnya dan menyelesaikan mandiku karena perut ini sudah mulai terasa lapar dan tak sanggup untukku menahannya.
Setelah aku berganti baju, aku memilih untuk duduk di ruang tamu berniat untuk berbincang dengan dhewi dan menunggu hujan reda.
“Ini bar.. kopinya diminum..”
Tiba-tiba muncul suara menggemaskan yang kini sudah berdiri di sampingku dengan membawa dua cangkir kopi di atas nampan yang dia bawa.
Aku terdiam dan memandang wujud makhluk yang membawa kopi untukku, aku hampir tertawa melihat Dhewi memakai bajuku, tapi bukan aneh yang kulihat darinya, justru dhewi saat ini terlihat sangat menggemaskan.
Dhewi memakai kerudung hitam dan rok panjang berwarna serupa milik emak, tapi dia memakai baju putih lengan
panjang milikku.
Sedangkan semua baju basah kami berdua kini tengah berputar dengan di mesin cuci kesayangan emak.
Kini kami berdua menikmati kopi dan mengobrol berkenalan lebih dekat dan mengenang masa lalu. Dengan diiringi gemercik suara hujan yang hingga kini belum juga reda, bahkan bertambah deras.
“Tambah deres aja nih hujannya.”
Ucapku sambil menyeruput kopi
“Iya.. dari tadi pagi udah hujan.. seakan seharian ini langit ikut menangisi kepergian Wulan.”
Dhewi menjawab dengan menundukkan kepala dan memainkan jarinya di cangkir kopi.
__ADS_1
Kembali hening menghampiri kami berdua karena jawaban Dhewi barusan.