Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Makhluk Ribet yang Disebut Perempuan


__ADS_3

"Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi.


Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam." --- Mahatma Ghandi


\========


Aku hampir lupa caranya bernafas saat melihat Dhewi yang kini sedang berdiri di ambang pintu kantin, yang aku takutkan jikalau Dhewi mendengar dari awal tentang kesepakatan ini, semoga saja Dhewi tidak mendengarnya.


Mendengar Dhewi menanyakannya lagi, kami semua berubah menjadi pucat dan gagap, apalagi aku dan Rayhan yang kini sedang berfikir keras harus menjawab apa.


“Kenapa kalian diam saja?!, aku tanya lagi, apa yang sedang kalian sepakati?!”


“E..Eh ini anu...”


Rayhan sangat terlihat gugup saat mencoba merangkai kata agar Dhewi percaya padanya.


“Ini tentang vespaku, Rayhan mau bertanggung jawab untuk semua kerusakan vespaku yang telah dia rusak tadi. Bukan begitu ray?”


Aku membantu rayhan untuk mengarang cerita di depan Dhewi.


.......PLAK!!! sebuah tamparan keras dari tangan Dhewi mendarat di pipiku


“Ini karena kamu sudah berkelahi di sekolah.”


.......PLAK!!! kini tamparan dari Dhewi mendarat di pipi Rayhan.


“Kamu pasti tau alasanku menamparmu, tak perlu aku menjelaskannya padamu!”


Kami berdua meringis kesakitan sambil mengelus – elus pipi kami yang terkena tamparan Dhewi


“Bar, kayaknya kita gak jadi nongkrong aja deh, semangat yaa..”


Hogy berjalan meninggalkanku dan menepuk - nepuk pundakku memberi semangat.


“Ayo kalian juga pergi... gak baik buat kesehatan kalau terlalu lama di sini.”


Topan mengajak dua orang pengikut Rayhan untuk keluar dari kantin mbak vivi, dan hanya menatapku dengan penuh rasa iba saat meninggalkan kantin.


“Jadi, siapa yang mau memberi penjelasan?!”


Dhewi yang sudah duduk kini bertanya kepada kami yang masih berdiri dengan bengong. Mungkin ini adalah  kali pertamanya rayhan ditampar oleh cewek.

__ADS_1


“Wie...”


aku ingin menjelaskan kepada Dhewi perihal masalahku dengan Rayhan, yang tentu saja penjelasan ini hanya kebohongan lain yang akan aku karang ceritanya, namun belum sempat aku menjelaskannya, Rayhan sudah menepuk pundakku, bermaksud dia yang akan menjelaskan semuanya kepada Dhewi. aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan Rayhan, karena memang sekarang sudah waktunya Rayhan yang melakukan pendekatan kepada Dhewi.


Kini Rayhan dan aku duduk berdampingan di hadapan Dhewi, seolah kami adalah terdakwa yang sedang disidang.


“Boleh aku yang menjelaskannya?”


Tanya Rayhan kepada Dhewi, yang hanya ditanggapi dengan perubahan mimik wajah Dhewi yang menandakan dia siap untuk mendengar penjelasan dari Rayhan.


“Kamu tau kan wie? Kalau aku suka sama kamu dari kita kelas satu, dan sampai sekarang rasa itu belum berubah dan semakin dalam setiap kali aku melihatmu. Tapi hari ini aku melihatmu yang tersenyum dengan bahagia walau dibonceng sama Akbar menggunakan vespa bututnya, sementara aku selalu kamu tolak, tak peduli motor apa yang aku bawa, kamu selalu menolaknya. Tentu saja ku tidak terima dengan perlakuan ini, dan aku sengaja melampiaskan semua ini kepada Akbar. Yang akhirnya aku tersadar kalau aku salah, setelah akbar memberiku pelajaran berharga tadi.”


Dhewi melihat kearahku, seolah menanyakan kebenaran dari penjelasan Rayhan, yang tentu saja aku membalas tatapan Dhewi dengan senyuman dan anggukan kepala dariku.


“Baguslah kalau kamu sudah sadar Ray, itu artinya kamu tahu kalau aku bukanlah cewek yang hanya melihat cowok dari hartanya saja, tak peduli cowok itu sekaya apa, kalau menurutku aku tak suka, ya berarti aku tak suka. Aku punya penilaian sendiri buat cowok, dan menurutku saat ini Akbar lebih pantas untukku daripada kamu Ray.”


“Tapi Akbar sudah memberiku pelajaran tadi, dan aku sekarang sudah sadar, aku berjanji akan berubah, aku harap kamu bisa kembali memberiku kesempatan.”


“Ya, aku sudah melihat semuanya tadi, aku berada di depan kelas saat kalian berkelahi di area parkir depan. Lalu jikalau aku memberikanmu kesempatan lagi, maka ini akan menjadi kesempatan terakhirmu. Dan tentunya aku akan selalu  membandingkanmu dengan kriteria cowok pilihanku. Aku harap kamu bisa mengerti itu.”


Dhewi memberikan kesempatan terakhir pada rayhan dengan mendengus kesal dan lalu membuang muka ke arahku.


“Akbar, sekarang giliranmu memberiku sebuah penjelasan.”


“Yaa.. seperti yang tadi diceritakan Rayhan, aku hanya memberinya peringatan karena telah merusak motorku. Dan yang tidak aku sangka, ternyata Rayhan adalah anak dari pelatih silatku dulu di SMP, makanya aku tidak segan - segan untuk memberinya beberapa tambahan pelajaran berharga buatnya.”


“Ja.. jadi kamu beneran kenal sama ayahku?” Rayhan menatap seolah tak percaya kepadaku


“Haiiish, kan tadi Hogy udah bilang, kalau pelajaran Olahraga, aku memangglinya “pak” sedangkan kalau sudah memakai seragam pencak silat, maka aku memanggilnya “mas”. Pikir sendiri aja seberapa dekat aku sama ayahmu.”


Aku kembali tersenyum licik kepada Rayhan.


“Ok, stop, aku udah paham semuanya, sekarang Rayhan, aku mau kamu minta maaf ke Akbar di depanku, walaupun kalian sudah saling memaafkan, dan sudah sepakat, tapi aku mau lihat langsung permintaan maafmu.”


Dengan tegas Dhewi memberi perintah kepada kami untuk mengulangi adegan saling bersalaman dan memaafkan.


Haiiish, ini cewek tsundere bisa tegas gini yaa? Salah pake shampo kali yak? batinku


“Bar, sekali lagi, aku mohon kamu bisa memberiku maaf, bukan karena kamu kenal dekat dengan ayahku, tapi karena aku benar – benar menyesal telah berbuat salah kepadamu.”


Rayhan mengulurkan tangannya mengajakkku bersalaman, dan akupun dengan senang hati menyambut tangan rayhan.

__ADS_1


“Ok ray, kali ini saja aku memaafkanmu, kalau kamu mengulanginya lagi kepada siapapun itu, maka tangan kananku ini yang akan menyadarkanmu, dan pastinya ayahmu tidak akan menyalahkanku.”


Dhewi tersenyum penuh bangga melihat kami sudah saling memaafkan, namun kini dia sedang menatapku dengan tajam.


“Ray, kamu pergi dulu, aku mau bicara berdua sama Akbar!”


Rayhan pergi meninggalkan kantin dengan wajah yang cemas, dia sempat menengok ke belakang melihatku seolah ingin berkata, “Jangan merebut Dhewi dariku.”


“Bar... kamu gak apa – apa kan? Aku sangat takut melihatmu tadi berkelahi dengan Rayhan, ini semua salahku, aku tidak ingin kamu terluka karenaku.”


Wajah Dhewi mendadak berubah cemas dan penuh penyesalan, karena dia tidak pernah bercerita tentang Rayhan kepadaku.


“Kamu lihat sendiri kan tadi? Kami tidak berkelahi, itu akan lebih tepat jika dibilang aku yang menghajarnya. Salah sendiri, dia berani merusak Bony, padahal kan Bony gak salah apa – apa ya kan?”


“Jadi.. menurutmu ini semua karena Rayhan merusak vespamu? Itu saja? Gak ada yang lain gitu?”


“Ya.. apalagi?? Kan emang itu masalahnya, kalau Rayhan gak ngapa – ngapain vespaku, mungkin aku bakal lebih lunak lagi menghadapi masalah ini. Emang dari pagi dia udah nyari masalah sama aku.”


Hadeeeuh, bener apa kata wulan, akbar emang parah, gak peka sama sekali.


“Oooowh gitu...hmmph!!”


Dhewi membuang muka dariku dan cemberut dengan imutnya.


“Kamu kenapa jadi sensi gitu sih wie??”


Aku bertanya karena bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba – tiba ini.


“Bukan aku yang sensi..!! dasar kamu aja yang gak PEKA!!!”


“Dah, sekarang traktir aku makan, dan aku bakal lupain masalah ini.!!”


“Yaudah, tinggal pesen aja sama mbak vivi, kamu mau makan apa..”


Dhewi mencubit hidungku yang mancung ini dan berkata


“Iiiiih gemesin banget sih Akbar, jadi sebel deh, aku mau makan soto, dan bukan di sini.”


“Haiish... ribeeet... ayok lah aku anter kamu pulang sekalian nyari warung soto.”


Sesuai permintaan dari Dhewi, aku dan dia pulang bersama untuk mencari warung soto favoritnya, yang ternyata satu arah dengan rumah Dhewi, akan tetapi  Dhewi tidak mau kalau sotonya di makan di sana dan lebih memilih membungkusnya untuk dia makan di rumah.

__ADS_1


Akhirnya hari ini aku tidak jadi hang out bersama Hogy dan Topan, karena takdir telah mempertemukanku dengan makhluk menggemaskan yang super ribet ini, yang menyuruhku untuk makan siang bersama di rumahnya, dan tentunya menu makan siang kali ini adalah soto yang baru saja kami beli.


__ADS_2