
"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik." --- (Ali bin Abi Thalib)
\=\=\=\=\=\=
Kini terlihat di depanku sebuah rumah besar nan megah dengan dua buah mobil yang berada di halaman depan, sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di rumah Hogy, dan seingatku terakhir kali aku berada di sini adalah saat SMP.
Dulu setiap kami selesai berlatih pencak silat, aku sering menumpang mandi di rumah Hogy dan juga sering makan malam di sini.
Rumah ini nampak sedikit berbeda dari ingatanku, terutama halaman rumah Hogy yang kini terlihat lebih indah dengan berbagai macam bunga yang menghiasi halaman dan juga sebuah air mancur kecil yang berada
di tengah halaman tersebut.
Menurutku kalau rumah Hogy ini mirip sebuah istana kecil, dan rumah Topan adalah sebuah markas rahasia, sedangkan rumahku hanyalah gubuk yang bisa terbang kapan saja ketika ada angin besar datang.
“Ayo ah masuk, langsung ke kamar aja.” Ajak Hogy yang sedang memandang halaman rumah Hogy yang terasa agak asing buatku.
Aku merebahkan tubuh ini di kasur empuk milik Hogy, sejenak melepas penatku dan gundah yang melanda hati ini.
“She's gone
Out of my life
I was wrong
I'm to blame
I was so untrue
I can't live without her love..”
Terdengar sebuah lagu mendayu menyayat hati dari ruang tengah,aku juga mendengar suara Hogy yang sedang tertawa saat memutar lagu itu.
“Oi coeg, nih kopinya di meja.” Hogy berteriak dari ruang tengah, sementara aku masih sedikit menahan geram karena tingkahnya yang mencoba menyindirku melalui lagu milik steelheart.
Aku mendengar langkah kaki hogy yang mendekat ke arahku, dengan segera aku berdiri di samping pintu kamar untuk menyergap Hogy ketika dia mencoba masuk ke kamar.
“Coeg?” Hogy kini berada di ambang pintu kamar dan sedang mencariku.
[Buakk!!] Sebuah pukulan keras dari tangan kananku berhasil mendarat dengan mulus di perut Hogy, namun memang reflek dari otot perut hogy sangat terlatih sehingga pukulan kerasku tidak berakibat fatal dan berhasil menahan pukulanku.
__ADS_1
“Guobl*g!! kaget aku coeg!! Untung nafasku siap, kalo nggak bisa pecah lho lambungku.”
Aku hanya tersenyum kecut melihat reaksi dari Hogy dan melangkahkan kaki menuju arah segelas kopi yang sudah menungguku di meja tengah.
Aku tidak ingat kalau Hogy mempunyai seorang kakak perempuan, dan aku memang terbiasa bertelanjang dada di rumah Hogy, saat aku dan Hogy sedang menikmati kopi kami, tiba – tiba ada seorang perempuan yang lewat di samping kami dan masuk ke kamar yang ada di belakang.
Setelah melihat kakak perempuan Hogy menghilang ke dalam kamarnya, aku segera meraih kaosku yang ada di belakang pintu kamar Hogy karena agak risih dengan kejadian ini.
Melihatku sudah memakai kaos dan berjalan dengan cengar – cengir kini hogy menertawakanku dan mengajakku untuk duduk di gazebo yang ada di belakang rumahnya.
“Mbaak, gorengin singkong yaa, bawa ke belakang!!” Hogy berteriak di depan kamar mbak Siska
“Bar..” Hogy menawarkan rokok yang asih bersarang dalam bungkusnya.
“Aku tau kamu mau berhenti merokok, dan udah berapa minggu ini kamu berhenti ya kan?”
“Aku juga tau kalau kamu sedang merasa tak enak sama Topan, makanya nih nyalain rokok biar tidak pusing.”
“Terus nanti kalau mau berhenti merokok ya sudah tinggal berhenti saja.”
“Haish Hog, kamu mau jadi setan penggoda? Orang mau berhenti merokok malah ditawarin rokok, lagian masalah gini aja masa iya bisa bikin aku patah semangat sih? Tak mungkin laah.”
“cocok sih, tapi kurraang.”
“Nah kurangnya apa?”
“Kurang saos sambal hahahaha.”
“Terus? Ada lagi apa tidak?”
“haiissh, iya iya.. kurang rokok.”
“bwahahaha, tuh kan benar apa aku bilang.”
Akhirnya dengan berat hati dan sedikit rasa bersalah, aku menerima tawaran Hogy untuk kembali menghisap gulungan daun tembakau itu hanya ketika aku sedang merasa pusing seperti ini saja, selain itu aku harus berusaha untuk menahan rasa candu ini.
Tak selang lama muncul sebuah aroma sedap dari arah dapur menggelitik hidungku, aku sangat yakin bahwa ini aroma yang muncul dari singkong goreng.
Hogy bertanya kepadaku tentang cerita sebenarnya hubunganku dengan Aisyah, dan mengapa aku bisa menjadi marah hanya karena Topan bercerita tentangnya.
__ADS_1
Aku hanya menertawai pertanyaan Hogy, karena memang aku tak memiliki hubungan apapun dengan Aisyah.
Lalu Aku bercerita semuanya, termasuk tentang Wulan dan Dhewi, bagaimana kami bertemu, dan bagaimana hubungan kami, Hogy sempat kaget karena tak menyangka kalau aku juga mempunyai hubungan dengan Wulan.
Hogy hanya menyarankan kepadaku untuk menuruti kata hatiku, dan jangan dengarkan rumor apapun dari orang lain, termasuk dari Topan.
Aku menikmati kembali hembusan demi hembusan nafasku melalui rokok yang sebatang rokok pemberian Hogy, aku sudah cukup lama tidak merasakan sensasi ini, ada sedikit rasa pusing di kepalaku, tapi ini reaksi yang wajar ketika seorang perokok aktif yang telah cukup lama berhenti merokok, lalu kembali menyalakan rokoknya.
Kami berbincang tentang berbagai hal termasuk masalah wanita, saat kami sedang asyik berbincang di gazebo, tampak seorang wanita mendekat ke arah kami dengan membawa nampan berisikan singkong goreng dan juga air putih dingin.
“Makasih lho mbak, repot – repot segala ini.” Aku tertawa basa – basi menyambut datangnya singkong goreng kesukaanku.
“Heleh, basa – basi banget, kamu kemana aja bar? Kayaknya lama banget Gak pernah main kesini, kemana aja kamu bar?”
“hahaha..” Tanpa merasa malu, aku menceritakan masa laluku kepada mbak siska, walaupun usia kami hanya selisih satu tahun, tapi aku memanggilnya dengan panggilan mbak, karena aku memang menghormati mbak siska yang dari dulu sering direpotkan olehku saat pulang dari latihan silat.
Aku bercerita panjang lebar kepada mereka tentang keadaan keluargaku, mendengar ceritaku, mata mbak siska mulai berkaca – kaca, dia tersenyum dengan getir saat memandangku.
“aku gak menyangka, ternyata hidupmu seperti itu bar, padahal dulu keluargamu termasuk keluarga yang cukup dipandang, apalagi ayahmu yang juga bekerja di pemerintahan, masa sih sampai sekarang gak ada yang pernah lihat ayahmu?”
Aku hanya menggelengkan kepalaku pertanda memang tak pernah ada yang mengabariku atau ibuku perihal tentang ayahku, yang telah menghilang selama ini, aku juga sempat melarang ibuku untuk berusaha mencari laki – laki yang tak bertanggung jawab itu, kalau memang nanti suatu saat dia ingin pulang, biar saja dia pulang, tapi aku tak akan pernah menganggap dia ada di rumahku.
“ya sudah, kalian lanjut ngobrolnya, aku mau masuk ke dalam dulu.” Mbak siska meninggalkan kami dan menghilang ke dalam rumah.
“Hog, apa kamu gak pengen punya pacar?” Tanyaku menggoda Hogy yang kini sedang menikmati kopi dan rokoknya.
“Hahaha, gak tau, lagi males, belum pingin ngerasa ribet punya pacar, masih pingin bebas!”
Aku menertawakan Hogy yang menjawab pertanyaanku dengan begitu detail.
***
Aku tiba di tiba di rumahku ketika matahari hampir terbenam, dan tentu saja segera disambut dengan semprotan merdu dari tenggorokan emak.
“Kamu kemana saja? Pulang sekolah gak langsung pulang dulu malah main! Itu Dhewi nungguin kamu sampai tumbuh lumut di kakinya!.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat santap sahur, semoga kuat puasanya, bagi yang berpuasa 😁😝
__ADS_1