Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.28 – Aisyah Sarasvati


__ADS_3

"Kita adalah makhluk yang suka menyalahkan dari luar, tidak menyadari bahwa masalah biasanya dari dalam." --- (Abu Hamid Al Ghazali)


\=\=\=\=\=\=


(Aisyah POV)


Hari ini hari terakhir masa orientasi yang di dampingi oleh anggota OSIS dan kegiatan hari ini dilaksanakan di kampus dua, sedangkan besok dan selama dua hari kedepan adalah giliran Anggota Pramuka yang akan mendampingi calon peserta didik baru.


Kami berencana untuk memberikan kejutan pada saat upacara penutupan bagi calon peserta didik baru yang berulang tahun hari ini.


Aku selalu teringat dengan pesan almarhumah nenekku, beliau selalu mengatkan padaku tentang hakikat menjadi seorang wanita dan berbagai keuntungan menjadi seorang wanita.


“walaupun seorang wanita hanya bisa menunggu untuk dipinang, namun itulah salah satu keuntungan untuk wanita. Wanita mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk bersabar dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui do’a.”


Saat pertama kali nenek berkata seperti itu, aku sama sekali tidak paham dengan ucapannya, namun beliau hanya tersenyum dengan lembut seraya berkata “berdo’alah untuk masa depanmu, suatu saat kau akan paham dengan ucapan nenek.”


Hal yang selalu aku lakukan saat mulai beranjak dewasa adalah mengikuti pesan nenek, aku selalu mencoba berlatih untuk menjadi wanita yang terbaik bagi calon pasangan hidupku nanti.


Dan mendo’akan agar siapapun yang menjadi calon pendampingku nanti juga mempunyai jalan hidup yang indah.


Pada MOPDIK hari pertama kemarin, aku merasa telah menemukan sosok yang seperti nenekku katakan dan aku juga merasa mempunyai sebuah ikatan yang kuat dengannya, saat dia menatapku dengan lembut, hatiku bergetar dan membuat seluruh tubuhku merasakan kehangatannya, namun aku hanya bisa tersenyum saat dia memandangku.


Lidahku terasa kaku untuk menyapanya, lalu saat hari kedua mopdik akupun kembali bertemu dengannya, namun kali ini aku merasa pandangannya terasa dingin sekali, seolah penuh amarah dan benci kepadaku.


Aku sungguh dibuat bingung dengan sikapnya ini, kadang dia terasa begitu hangat dan lembut, kadang dia bisa berubah menjadi dingin dan menakutkan.


Rayhan juga sudah memberitahuku,bahwa dia mempunyai hubungan yang dekat dengan mbak Wie, jika memang wanita idamannya adalah sosok seperti mbak wie, maka aku pastilah tidak akan dianggap olehnya.


Tapi kalu hanya untuk menjadi teman atau sahabat, mungkin aku masih mempunyai kesempatan. Aku juga yakin bahwa dia sebenarnya orang yang baik, terlihat sekali saat dia menatapku, aku dapat merasakan kehangatan darinya.


“Lalu kenapa tatapannya kemarin rasanya sangat dingin? Apakah ada sesuatu yang salah dariku? Aku sungguh penasaran dengannya, dan aku harap hari ini kita akan bertemu kembali.”


Hari ini aku tiba cukup pagi di kampus dua, hanya ada beberapa anggota OSIS yang baru datang, memang mereka terlalu menganggap sepele setiap kegiatan yang diadakan di kampus dua, namun tidak denganku, aku selalu merasa kampus satu dan kampus dua mempunyai porsi yang sama.


Pagi ini aku bertugas dengan Rayhan di depan gerbang untuk mengabsen calon peserta didik baru yang datang terlambat, aku merasa tugas kali ini sangat menyenangkan, karena aku bisa melihat saat dia datang.


Setelah cukup lama aku menunggu dan sudah banyak calon peserta didik yang datang, namun dia sama sekali belum terlihat akan muncul, aku sempat khawatir kalau dia bangun kesiangan dan akan datang terlambat hari ini.


Terlihat dari jauh ada tiga motor yang berjalan beriringan kemari, dua buah vespa dan sebuah motor yang entah tidak aku ketahui jenisnya itu, namun satu hal yang aku yakini salah satu pengendara vespa itu pastilah dia.

__ADS_1


Dia melewatiku dan melempar senyuman hangat kepadaku, ah rasanya sungguh membuatku melayang.


Menurutku dia adalah sosok pemuda yang unik, walaupun dia hanyalah calon peserta didik baru, tapi dia mempunyai aura aneh yang dapat menarik perhatian orang di sekitarnya, bahkan Dimas dan Rayhanpun terlihat segan ketika berada di hadapannya.


“Hai... selamat pagi...”


“Eh, pa.. pagi...”


Jawabku dengan gugup karena tidak siap dengan serangannya yang membuat jantungku hampir terlepas, tadi dia sudah melewatiku dan memberikan senyumannya saat berada di atas vespa, sekarang dia menghampiriku dan menyapaku.


Tanpa kusadari aku telah melangkahkan kakiku dan berlari menuju toilet, aku tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.


Aku yang menjadi bingung seperti ini hanya bisa menatap cermin yang ada di toilet, aku menatap lekat bayangan wajahku yang terpantul dari cermin, benar – benar merah seperti tomat.


“Apakah tadi dia juga melihat wajahku yang seperti ini ya? Duh malunya aku.. tapi aku harus kembali sekarang, acaranya akan segera dimulai, semoga Akbar sudah masuk ke aula.”


“Tinggal lorong depan lalu sampai ke aula, aku harus cepat, sudah tak ada waktu lagi.”


Aku berlari kecil supaya cepat sampai  di aula dan bisa memandang akbar dari jauh seperti yang biasa kulakukan.


[Brukk..] aku kehilangan keseimbangan karena menabrak seseorang dan hampir saja terjatuh hingga aku merasakan ada tangan yang menahan punggungku.


“Kamu tidak apa – apa?” Topan bertanya kepadaku saat aku masih dalam setengah pelukannya.


“Duuuh, kok jadi gini sih..? Semoga saja  Akbar tidak melihat kejadian ini.”


Aku kembali menyusuri lorong dengan kepala yang masih menunduk dan menuju aula, hingga sebuah ucapan bernada dingin muncul disampingku.


“Makanya kalau jalan matanya juga dipakai, jangan cuma asal lari saja.”


“Eh.. Akbaar?! Kamu melihat kejadian yang barusan?!”


“Nggak! Aku nggak merasa melihatmu dipeluk sama Topan.”


Jawab Akbar dengan nada yang bertambah dingin dan kemudian dia meninggalkanku menyusul Topan, sedangkan aku masih terdiam mematung bingung dengan sikapnya yang berubah – ubah terhadapku, tadi pagi dia masih bisa tersenyum hangat kepadaku, lalu tiba – tiba berubah menjadi dingin seperti ini.


“Apakah ini ada hubungannya dengan Topan? Sepertinya dia tidak suka melihatku dekat dengan Topan, tapi bukankah dia sudah punya mbak wie? Kenapa dia masih bersikap seperti itu terhadapku? Hmm.. Aku harus menyelidikinya, aku mulai dari Rayhan, sepetinya dia tau banyak  hal tentang Akbar.”


Rayhan bercerita banyak hal tentang Akbar dan kawan –kawannya, bagaimana mereka bisa saling mengenal dan juga termasuk perjanjian satu semester yang mereka sepakati, namun itu tidak memberikan jawaban atas pertanyaanku, bagaimana bisa seorang Akbar bisa bersikap sangat dingin kepadaku, tak ada jalan lain kecuali aku harus bertanya langsung kepadanya, atau aku harus memancingnya agar bersikap dingin terlebih dahulu baru menanyakannya.

__ADS_1


***


“Oi Bar! Seram amat mukanya, kayak abis lihat pacar digondol orang saja, eh maaf, kalian kan masih jomblo kan yak? Hahahaha...”


“Waah ini.. si curut ngajak ribut nih, kayak sendirinya udah punya pacar aja.” Jawab Hogy yang sepertinya kesal karena ucapan Topan kepadaku.


Aku masih diam tidak menanggapi ocehan mereka berdua, karena aku sendiri juga tidak mengetahui kenapa aku bisa merasa kesal seperti ini hanya  karena melihat Aisyah yang dekat dengan Topan, padahal aku juga tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, bahkan kita baru bertemu belum lama ini.


Tapi walaupun begitu aku merasa seolah sudah mengenal Aisyah dengan akrab, seperti pernah berbincang dengannya saat di dalam mimpi.


[Bruak!!] Tanganku menggebrak meja di kantin mbak Vivi dan aku berdiri dari kursi plastik karena baru teringat akan hal penting yang hampir saja aku lupakan.


“Ah, aku ingat!!”


“Ayaam.. ayaam!! Kaget aku bar! Mbok ya bilang – bilang kalau mau gebrak meja, biar akika siap – siap.”


“Bwahahaha, Topan ayamnya keluar.. hahahaha..”


Hogy menertawakan Topan yang terkejut saat aku mengingat akan mimpi itu, namun aku


belum ingin membicarakan hal ini kepada mereka, biarkan nanti mereka mengetahui


dengan sendirinya.


Kini aku sudah kembali mengingatnya, bahwa suara dan senyum Aisyah sangat mirip dengan gadis yang pernah kutemui dalam mimpi.


“Tapi kenapa waktu itu mimpiku jadi enak ya? Apakah aku dan Aisyah...”


Aku senyum – senyum sendiri mengingat mimpi “enak” itu, tidak kusangka aku dan Aisyah sudah pernah begituan di dalam mimpi, tapi kenapa harus Aisyah?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai gaes, ada sebuah info gak penting nih..


Pertama, selama bulan Ramadhan ini, author mengganti quotes yang ada di setiap awal chapter menjadi quotes yang berbau religi, semoga kalian semua tidak keberatan dengan ini.


Kedua, karena ada kebijakan dari MT dan NT tentang adegan dewasa yang ada di dalam novel, maka akan ada banyak adegan yang harus diganti di novel Bony, apalagi nanti, ketika Akbar sudah lulus dari sekolah dan bertunangan dengan seseorang (SPOILER ALERT)


Ketiga, rencana author nanti akan membuat laman khusus buat pendukung bony dan akbar, yang berisi chapter spesial, khususnya untuk beberapa adegan yang tidak bisa ditulis disini (masih rencana, tergantung ijin dari pihak MT/NT).

__ADS_1


Keempat, bagi kakak Author lain, sangat dipersilahkan untuk promot novel kalian maupun di grup chat, jangan ragu jangan gundah, kalau ada waktu pasti Akbar dan Bony datang berkunjung ke novel kalian.


Kelima, selamat membaca :) jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2