Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
ch.13 – Ujian Terakhir


__ADS_3

Life was meant for good friends and great adventures.


Kehidupan itu akan berarti kita kita memiliki sahabat dan berpetualang bersama.--- quotes


\======


Mungkin hanya aku yang menyadari kedatangan mereka, namun aku tak berhasil mengetahui dengan pasti siapa pemilik suara yang tadi membicarakan topan.


Aku memang dari kecil dianugerahi dengan penglihatan dan pendengaran yang tajam, aku juga  masih ingat, waktu kecil bisa dengan mudah mengetahui kalau ada layangan yang putus, padahal layangan itu masih terbang di langit yang tinggi, namun aku dapat dengan mudah mengetahui itu dan siap – siap untuk mengejarnya.


Pernah juga pada waktu bermain petak umpet setelah pulang mengaji sehabis maghrib banyak anak yang bersembunyi di tempat – tempat aneh di sekitar surau, namun aku juga dapat dengan mudah menemukan mereka, karena aku mendengar mereka berbisik – bisik bahkan mereka sering menganggapku bermain curang.


Hogy dan Topan sedang gaduh, entah apa yang sedang mereka perdebatkan, saat trio cewek cantik itu memasuki kantin, sedangkan aku dengan tenang menikmati sisa kopi dinginku.


“Adek-adek mau pesan apa?” Mbak vivi menyadari kedatangan mereka dan bertanya kepada trio cewek itu.


Mereka bertiga hanya tertawa kecil melihat tingkah topan dan hogy yang seperti anak kecil, sedangkan duo cecurut itu kini terdiam menahan malu.


“Es jeruk tiga, ya kak..”


Rita yang menyawab pertanyaan mbak vivi dengan senyuman manisnya.


“Ok, ditunggu bentar yaa..”


“Eh, hati – hati sama ketiga cowok yang ada di sana yaa, mereka jahil semua, hehehe” Mbak vivi


mencoba mengingatkan tentang kami kepada trio cewek itu


Mbak vivi tersenyum penuh arti kepadaku, sebelum menghilang ke arah dapur. Namun aku tak berhasil mengartikannya.


Setelah mbak vivi menghilang ke arah dapur, hogy dan topan yang tadi hanya diam menahan malu, kini mereka sedang beraksi dengan buasnya,mendekati fitri dan yulia.


Aku masih dengan tenang menikmati kopi dinginku, saat rita datang mendekatiku untuk mengajak bicara


“Akbar kan? Tadi wawancara ketemu siapa?” tanya Rita kepadaku


“Hahahaha...ketemu bu Sofiana aku.. apess”


“Hihihi, nasibmu kayak Fitri, dia hampir nangis abis ditnyain sama bu Sofiana..”


“Heeeeee...”


Tiba-tiba fitri berlari dan menutup mulut Rita.


Aku sebetulnya penasaran dengan kelanjutan ceritanya, tapi aku berpura-pura cuek seolah tak ingin mengetahui kelanjutan cerita itu.


“Hahaha, tanya fitri aja deh bar..”


Rita tertawa dan segera menghambur ke Hogy, Topan dan Yulia.


“Hahaha, tadi kenapa fit? Kok sampai segitunya nutupin si Rita?”


Tanyaku memulai obrolan dengan Fitri.

__ADS_1


Fitri menghela nafasnya lalu mulai bercerita kepadaku.


“Aku sebel banget sama bu sofiana tadi..”


“Awalnya dia nanya biasa aja..”


“Tapi abis itu dia liatin aku dari atas sampe bawah..”


“Terus?”


Aku mulai penasaran dengan cerita fitri.


“Ya... itu.. bu sofiana nanyain hal aneh, kayak.., aku sudah pacaran berapa kali, pernah ngapain aja waktu pacaran..”


“Terus..teruus??”


Tanyaku semakin penasaran.


“Yaa, aku jawab jujur aja, belum pernah pacaran sama sekali, tapi bu guru itu nggak percaya sama aku..”


“Dia bilang kalau anak gadis seumuranku hampir tidak mungkin kalau bisa punya tubuh kayak gini.. padahal tubuhku ini, emang bongsor dari sononya..”


Mata Fitri mulai berkaca – kaca saat bercerita seperti itu.


Aku yang tidak terlalu paham dengan perkembangan standar anatomi tubuh gadis seumuran Fitri, hanya bisa mengiyakan dan mencoba menenangkan hati Fitri yang kini terlihat sangat terpukul dengan pertanyaan dari bu Sofiana.


“Jadi bu guru pikir, kamu sudah tidak perawan gitu?”


Tanyaku dengan menarik kesimpulanku sendiri..


“Nah emang kamu masih perawan fit?”


Tanyaku bercanda dan menggoda fitri namun hanya bermaksud untuk merubah moodnya menjadi lebih baik.


“Hiiiih, kamu tuh jahat banget yaa..”


Fitri mencubit perut atletisku dan kemudian memukul-mukul pundakku dengan gemas.


“Ya aku masih perawan laah., masa iya anak baru lulus SMP udah pernah gituan.”


Fitri menjawabku dengan kesal dan menggembungkan pipinya yang chubby itu.


“Haiish, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontraak..”


Hogy agak kesal melihatku dan fitri bercanda seperti itu, lalu diiringi tawa kami berenam.


Mbak vivi datang dan membawa tiga gelas es jeruk yang sudah di pesan tadi, kami melanjutkan obrolan kami dengan perkenalan yang lebih dalam dan berakhir dengan saling bertukar nomor HP.


Ujian terakhir kami, adalah baca tulis Al-qur’an, dimana kami berenam dapat melaluinya dengan mudah tanpa


mendapat kesulitan yang berarti.


Aku rasa ujian terakhir ini hanyalah sebuah formalitas saja. Atau mungkin untuk menyeleksi sejak dini, siapa yang dapat membaca ayat suci dengan suara indah, maka akan diikutkan lomba seni membaca al qur’an.

__ADS_1


Begitu pula siapa saja yang dapat menulis ayat suci dengan baik dan benar maka akan diikutkan lomba kaligrafi. Namun itu hanya menurut pendapatku saja.


Yang terpenting, kini kami semua sedang harap – harap cemas dengan hasil ujian kami, yang akan diiumumkan tiga hari lagi.


 


***


 


Seharian di sekolah, tapi aku sama sekali tidak melihat wulan, apa mungkin wulan menjadi panitia di kampus satu? Dari tadi aku mencoba untuk menelponnya namun tidak aktif.


Aku memberanikan diri untuk naik ke lantai tiga, tempat dimana kelas wulan berada, aku ingin sekedar menanyakan kabarnya.


Namun saat aku baru sampai di lantai dua aku bertemu dengan Dhewi, sebenarnya aku tak ingin menyapanya, karena dialah yang membuat Wulan menderita, namun aku juga menyadari kalau bukan karenanya, mungkin aku dan wulan tidak akan pernah sedekat ini.


Aku memaksakan diri untuk menyapanya, karena ingin tahu kabar wulan yang dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya.


“Eh, Akbar, mau kemana?”


Aku yang berniat menyapanya terlebih dahulu, malah terlambat untuk mengucapkan.


“Eh Dhewi kan?


Mau cari Wulan nih, dari tadi kayaknya gak kelihatan, aku telpon juga gak aktif nomernya.”


Aku berpura-pura lupa sama d\Dhewi, supaya terlihat natural, padahal dalam hatiku agak sebel aku melihatnya.


“Oh, kebetulan banget, ini aku juga mau ke rumah Wulan, hari ini dia ijin sakit. Makanya aku lagi cari temen buat jenguk dia.


“Hah? Sakit? Sakit apaan?”


Sontak saja aku kaget karena baru mendengar kabar wulan sakit.


“Padahal kemarin dia masih sehat kok.”


Aku mengatakannya karena masih tidak percaya dengan kabar yang dibawa Dhewi..


“Yaudah ayok, makanya kita jenguk Wulan.” Dhewi menarik tanganku karena tak sabar ingin menjenguk Wulan.


Aku dan Dhewi menaiki Bony menuju rumah Wulan, namun di sana sangat sepi, tak ada orang. Ketika kami ingin beranjak dari rumah Wulan, ada seorang tetangga wulan yang mengenaliku.


“Mas Akbar ya?”


“Iya pak, gimana?”


“Tadi mbak Wulan nitipin surat ini kalau mas Akbar ke sini.”


“Maksudnya pak?” aku ingin bapak itu menjelaskan semuanya kepadaku.


“kata mbak Wulan, kalau ada cowok naik Vespa ke sini, itu pasti mas Akbar, makanya mbak Wulan nitipin surat ini. Mbak Wulan juga nitip pesan semuanya ada di surat ini. Gitu mas...”


“Ok pak, matur nuwun..”

__ADS_1


Aku dan Dhewi kini duduk di teras rumah wulan dan membaca bersama surat dari wulan yang masih tersegel di dalam amplop.


__ADS_2