Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.29 – Pergerakan Topan


__ADS_3

"Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari.


Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu."


--- (Ibnu Qayyim Al Jauziyyah)


\=\=\=\=\=\=\=


Hogy masih tersenyum kecut dan sesekali mencibir Topan, karena memang dari tadi yang dia ceritakan hanyalah tentang insiden dimana Aisyah bisa mendarat di dalam pelukannya.


Bahkan tak jarang pula Topan berandai – andai apabila suatu saat dia bisa menghabiskan waktu bersama Aisyah.


Aku juga masih bingung dengan apa yang aku rasakan ini, setengah hatiku seolah tak rela jika Aisyah bersama dengan orang lain, namun setengah hatiku juga merasa turut bahagia apabila temanku telah menemukan tambatan hatinya.


Dan tanpa aku sadari ekspresi wajahku berubah yang semula masih biasa saja saat mendengar celotehan Topan, kini menjadi seolah ingin memakan manusia saat Topan memantapkan dirinya ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Aisyah.


“Memang apa spesialnya Aisyah sih?”


Hogy bertanya kepada Topan yang saat ini masih tersenyum sendiri membayangkan hubungannya dengan Aisyah.


“Aisyah? Dia itu manis, ramah, ceria, suaranya juga lembut, apalagi kalu dia tersenyum, gigi gingsulnya muncul di sudut bibir. Aaah manis sekali.” Jawab Topan yang masih tersenyum seolah kini hatinya penuh dengan bunga yang sedang bermekaran.


“Haish.. ayok ah pulang.”


Aku merasa suasana hatiku semakin memburuk tiap kali Topan berbicara tentang Aisyah seperti itu.


Sebelum berpisah hari ini, kami bertiga mampir ke toko seragam untuk membeli perlengkapan pramuka yang akan dipakai untuk besok, dan setelah itu kami berpisah untuk pulang ke rumah masing – masing.


***


Pagi ini terlalu cerah untuk hatiku yang gundah, semalam aku hampir tak dapat tidur memikirkan sejuta alasanku yang tidak bisa menerima Topan bersama dengan Aisyah, namun semua alasanku memang tak masuk akal, sehingga mau tak mau aku herus belajar untuk menerimanya.


“Selamat pagi semuanya, namaku Hisyam dan akan menjadi pendamping kelompok kalian selama masa orientasi pramuka.”


Sebuah perkenalan singkat dari seorang kakak kelas, saat pembagian kelompok pagi ini.


Sedikit aneh rasanya tidak satu kelompok bersama Hogy dan Topan, namun setidaknya keadaan ini membuat suasana yang sedikit baru untukku dan juga sedikit menekan rasa kecewaku terhadap Topan.


“Selamat pagi kak.” Jawab kompak kelompok ini, aku hanya tersenyum canggung saat teman – teman satu kelompokku terlihat kompak seperti ini.


“Mohon bantuannya.”


Jawabku berbeda dengan kelompok ini dan tentu saja aku langsung mendapat sorotan mata dari seluruh teman satu kelompokku.


“Ok!! Setelah ini akan datang rekan yang akan membantu saya, dan saya harap kalian semua dapat bekerja sama dengan baik, jangan gaduh, ikuti instruksi dari rekan saya.”

__ADS_1


Begitu perintah dari kak Hisyam selesai, terlihat seorang kakak kelas perempuan yang datang mendekat ke arah kelompok kami, dia berjalan dengan sangat anggun dan dihiasi senyum manisnya yang sontak membuat kegaduhan di kelompok kami.


“Uwwuuuuu...”


Mereka bersorak kegirangan melihat kakak kelas perempuan yang menjadi rekan kak Hisyam.


Aku hanya terdiam  melihatnya kini berada di depan barisanku, ada sedikit rasa lega, namun lebih banyak rasa kecewa.


“Hai, namaku Aisyah Sarasvati, kalian cukup memanggilku dengan panggilan kak Aisyah atau kak Icha. Terserah kalian, jadi selama orientasi pramuka, mohon kerja samanya ya?”


Suara gaduh segera memenuhi kelompok kami, mereka saling berbicara satu sama lain tepat setelah Aisyah selesai memperkenalkan dirinya kepada kami.


Aku tahu mereka pasti merasa kagum dengan kecantikan dan keanggunan dari Aisyah, itulah yang membuatku merasa kecewa kepadanya, kenapa harus dia yang mendampingi kelompokku.


“Ok, kami sudah memperkenalkan diri kami, selanjutnya saya ingin kalian yang saling memperkenalkan diri kepada teman satu kelompok kalian, silahkan maju satu persatu dan mulailah memperkenalkan diri, dimulai dari pojok kanan belakang.” Perintah kak Hisyam segera disambut antusias oleh kelompok kami, yang mungkin hanya untuk mencari perhatian dengan Aisyah.


Aku yang mempunyai badan paling tinggi harus berada di pojok kanan depan barisan ini, dan tentu saja aku mendapat urutan terakhir dari perkenalan ini.


“Namaku Akbar Alimsyah, dan aku lulusan dari SMP Negeri 01.”


Terlihat sebuah senyuman manis terbentuk di bibir Aisyah saat aku maju ke depan, dan sengaja aku menanggapi senyuman itu hanya dengan tatapan datar seolah aku tak mengenalnya.


Kak Hisyam mulai menjelaskan kepada kami, bahwa kami semua datang dari asal dan latar belakang yang berbeda – beda dimana kami semua akan menjadi keluarga besar SMA Islam Nusantara, tidak peduli nantinya akan masuk kampus satu atau kampus dua, kami semua harus menjaga kekompakan dan kebersamaan ini.


Kelompok ini akan terus ada sampai semua rentetan acara pramuka selesai, dan dibubarkan pada saat pembagian kelas di akhir acara perkemahan nantinya.


Kak Hisyam juga mulai membentuk susunan kelompok ini, dan tentu saja aku tidak mau menjadi ketua kelompoknya, aku hanya merasa tidak ingin repot dengan semua beban dan tanggung jawab yang akan diterima oleh ketua kelompok.


Setelah semua selesai diatur, kami mulai mendapatkan bekal berupa materi kepramukaan, dan berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap anak pramuka, tidak hanya baris berbaris saja, namun termasuk berlatih berbicara di depan umum, dan berlatih membuat drag bar atau tandu darurat yang terbuat dari dua buah tongkat pramuka dan seutas tali yang akan berguna untuk pertolongan pertama di keadaan darurat.


Dia menjelaskan, semisal kita sedang berada di tengah hutan dan ada teman yang pingsan, maka akan lebih mudah membanya dengan drag bar tersebut.


Kami juga mendapatkan materi bagaimana cara bertahan hidup di alam bebas hanya dengan bermodalkan pisau belati dan korek api saja.


Mendengar itu semua, aku merasa telah menemukan sebuah pencerahan dan merasa tertantang untuk menjelajah alam, aku memang memiliki perlengkapan naik gunung, namun ittu sama sekali belum pernah aku gunakan di alam bebas, aku hanya membeli itu semua karena disarankan oleh kakak sepupu yang memang memiliki hobi menjelajah alam.


Kini giliran kami untuk mencoba membuat drag bar kami sendiri, kelompok yang berisi sepuluh orang ini dibagi menjadi dua bagian dan kami mulai membuat drag bar masing - masing.


Saat ini bagian kelompokku diawasi oleh Aisyah, dan kelompok yang satunya diawasi oleh Hisyam.


Aku berdiri dan mendekat ke arah Aisyah, meninggalkan mereka yang sedang membuat drag bar.


“Kak Aisyah sarasvati kan? Saya mendapat amanat untuk menyampaikan salam kepada kakak dari Topan.”


Ucapku dengan nada dingin saat mengatakan kebohongan itu, padahal Topan sama sekali tidak memintaku untuk menyampaikan salam kepada Aisyah, hanya saja aku ingin melihat reaksinya ketika aku mengucapkan itu.

__ADS_1


“Terima kasih dik Akbar sudah mau menyampaikan salam dari Topan.”


Jawabnya tak acuh namun diselingi senyum hangat darinya yang membuatku tak dapat mengartikan semua ini.


Melihat teman satu kelompokku kesulitan untuk membuat drag bar membuatku merasa sedikit gemas, aku segera meninggalkan Aisyah dan mulai membuat drag bar.


Aku yang memang mantan aktivis pramuka di SMP dapat dengan mudah membuat drag bar yang kokoh dengan berbagai macam simpul talinya.


Hanya saja tingkatan materi pramuka yang ada di SMP memang dikhususkan untuk anak – anak yang beranjak remaja, sedangkan di SMA materinya untuk remaja yang beranjak dewasa.


Melihat kelompokku yang berhasil membuat drag bar dengan cepat dan tepat, membuat kak Hisyam merasa bangga dan menyuruh mereka untuk mencoba kekuatan dari drag bar tersebut.


Kak Hisyam menyuruh seseorang yang bertubuh cukup tambun untuk berbaring di atas drag bar, dan menyuruh dua orang lainnya untuk mencoba mengangkatnya.


[Krakk!!] suara keras terdengar saat mereka mencoba mengangkat bocah gendut itu, namun walaupun cukup tambun ternyata dia cukup gesit dan berhasil melompat sesaat setelah terdengar suara retakan yang datang dari salah satu tongkat pramuka.


“Bwahahahaha.” Kami semua tertawa saat melihat bocah tambun itu melompat dari drag bar dengan wajah pucat.


“Simpul talinya sudah benar semua dan kuat, hanya saja kualitas bambunya yang jelek, jadi tidak kuat untuk menahan berat badan si gendut.” Ucap kak Hisyam


“Akbar, kamu ajari teman – temanmu untuk membuat simpul tadi.”


Mendengar perintah dari kak Hisyam, mereka semua segera duduk membuat lingkaran dan aku yang berada di tengahnya menjelaskan tata cara membuat drag bar seperti tadi.


***


Aku berjalan menuju kantin mbak Vivi setelah semua materi hari ini selesai, aku bertemu dengan Hogy di lorong sekolah yang menuju kantin.


“Tumben sendirian, Topan mana?”


“Mana aku tahu, emang aku ibunya? Dia juga tadi gak satu kelompok sama aku.”


“Hahaha, palingan udah di kantin.” Jawabku singkat.


Dan benar saja sebuah pemandangan ganjil terlihat di depan kantin mbak vivi, kami berpapasan dengan Topan yang sedang berjalan meninggalkan kantin dan berdampingan dengan seorang perempuan.


“Eh gaes, aku nganterin kak Aisyah pulang dulu ya, tar aku balik lagi kesini.”


“Gak usah balik kesini juga gak apa – apa kok, setelah ini aku juga mau pulang.” Jawabku dengan nada dingin.


“Hahaha, ok deh..” jawab Topan dari kejauhan dan melambaikan tangan.


“Bar, ngopi di rumahku aja yok?” ajak Hogy yang sepertinya menyadari perubahan suasana hatiku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Selamat berbuka puasa, disarankan berbuka dengan yang manis, apalagi pakai sayang 😍😁😁😁


__ADS_2