
Kita adalah rasa yang tepat, di waktu yang salah” --- Fiersa Besari
\=\=\=\=\=\=\=
Entah mimpi apa aku semalam, aku kembali merasakan sensasi satu meja makan bersama sosok seorang ayah, aku mempersilahkan kepada beliau untuk mengambil nasi dan soto yang tadi kita beli, walaupun kami hanya membeli dua bungkus, tapi kita gabung dalam satu mangkok, yang bisa dimakan untuk tiga orang.
“Ayok dek, nambah lagi nasinya.” Ayah Dhewi menawarkan kepadaku.
“Eh i..iya pak, makasih, ini udah cukup buat Akbar.” Tanpa kusadari aku menjawab tawaran dari ayah Dhewi dengan menyebutkan namaku.
“Owh, jadi kamu yang namanya Akbar? Maaf ya, udah sering direpotin sama Dhewi, kemarin abis nganterin ke
tempat Wulan kan?”
[degg] Mendadak aku menjadi gugup karena ayah Dhewi mulai membahas tentang hal itu, aku sangat khawatir kalau seandainya pertanyaan selanjutnya adalah dimana tempat Dhewi menginap setelah dari tempat Wulan.
“Bar, mau minum apa?” Tiba – tiba Dhewi menawarkan minuman kepadaku, untuk mengalihkan pembicaraan ayah Dhewi.
“Nice timing wie” Batinku.
“Apa aja boleh wie..”
Jawabku yang dengan segera Dhewi masuk ke dalam untuk mengambilkan kami air minum.
“Cih, nawarin minum buat kabur dari pertanyaan bapaknya yaa.. pinter juga nih bocah”
Aku meralat dugaanku yang tadi sempat berfikiran Dhewi akan mengalihkan pertanyaan dari ayahnya.
“Eh, Akbar gak merasa direpotin sama Dhewi kok pak.”
Dengan berat hati akhirnya aku menjawab pertanyaan dari ayahnya Dhewi, karena pastinya tidak sopan kalau aku juga mengalihkan pertanyaannya.
“Berarti kemarin waktu ke tempat Wulan kalian naik vespa itu?”
“Eh, iya pak, kami naik vespa kesana.”
“Gak mogok di tengah jalan?”
“Alhamdulillah lancar pak, gak mogok, gak kehujanan, gak ketemu polisi hehehe.. cuman pas pulang aja kehujanan, itupun udah deket rumah Akbar.”
Aku mulai tenang, karena ayah Dhewi tidak menanyakan masalah Dhewi menginap dimana malam itu.
“Hahaha, bapak udah lama banget gak naik Vespa, dulu bapak juga punya vespa dan itu motor pertama milik bapak, tapi sekarang udah gak tau dimana, dulu udah bapak jual ke Pak Lurah cuman 250 ribu Rupiah aja jaman dulu.”
__ADS_1
“Appaaaa??!!” Aku tersentak kaget mendengar harga vespa cuma segitu.
“Hahahaha... itu jaman dulu bar, 250 ribu aja udah dapat sawah dua petak.”
“Hehehe, gitu ya pak?! Emang tahun berapa itu pak? Terus vespa seri apa yang dulu bapak jual?”
“Kalau gak salah awal tahun 60an bapak jual ke Pak Lurahnya, vespa apa yaa? Kalau gak salah ingat, vespa seri Lambetto tahun 50an.. Waktu itu bapak pingin beli sawah yang deket sama rumah, trus juga biar enak nantinya kalau mau di bagi buat anak – anak bapak, yah walaupun waktu itu ibunya Dhewi baru mengandung anak pertama, tapi bapak udah siapin semuanya.”
Aku hampir tersedak nafasku sendiri saat beliau menyebut seri vespa yang dijualnya, walaupun beliau salah sebut, namun aku yakin sekali kalau yang dia maksud adalah vespa Lambretta tahun 50an, yang sekarang harganya mencapai puluhan juta Rupiah.
“A..Apa Maksud bapak vespa Lambretta?” Aku menanyakan kepada beliau untuk memastikan dugaanku.
“Naaah.. itu lambretta, hahaha, bapak udah lupa...”
“Bapak tau harga lambretta sekarang?”
Aku bertanya, karena aku merasa kecewa mendengar Lambretta dijual dengan harga 250 ribu rupiah saja.
“Hahaha, gak tau, emang berapa?”
“Dari yang Akbar dengar, harga Lambretta sekarang bisa sampai 50 jutaan, itu juga tergantung dari kondisinya, semakin orisinil vespanya, semakin mahal harganya.”
“Hahahahaha....bagus.. bagus....”
“Bagus dari mananya pak?”
Dengan penuh heran aku bertanya kepada beliau, karena tidak berhasil memahami, maksud perkataannya.
“Ya bagus donk, berarti bapak ndak rugi dulu udah jual vespa, coba sekarang dipikir, berapa harga sawah yang bapak punya dari hasil jual vespa?”
“Haiissh.. bener juga ya pak.. harga tanah pasti jauh lebih mahal sekarang..”
Aku menghela nafas lega saat mendengar penjelasan dari ayah Dhewi, aku memang lebih senang berbincang dengan orang yang lebih dewasa, karena pasti ada manfaatnya, dibanding jika hanya mengobrol dengan teman sebaya, yang hanya bercanda saja setiap topik obrolannya.
Ini juga yang menjadi alasan mengapa aku jauh lebih dewasa daripada teman – teman seusiaku. Tentunya karena pergaulanku yang sering bersama dengan orang – orang yang jauh lebih dewasa.
“Hahaha.. bukan hanya itu, dari hasil sawah juga bapak sama anak – anak bisa makan, bisa sekolah, dan lain – lain, coba kalau vespa itu gak dijual? Gak bisa bayangin kan? Itulah yang namanya berkah, kalau kita ikhlas, merelakan sesuatu untuk tujuan yang lebih baik, pasti Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik dan tentunya dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya.”
“Hayooh, asik bener, lagi ngobrolin apa sih? Ayok diminum dulu tehnya”
Akhirnya Dhewi muncul kembali dengan membawa tiga gelas teh hangat, setelah menghilang karena pertanyaan ayahnya tadi.
“Hahaha, ada deeh..” Aku menjawab Dhewi dengan tersenyum tengil muncul dari bibirku.
__ADS_1
Kami bertiga mengobrol dengan seru dan tak jarang pula ayah Dhewi menyelipkan petuah tentang kehidupan di tengah canda tawa kami.
Sampai tak terasa waktu makin sore, dan ayah Dhewi lebih memilih mengobrol denganku daripada kembali ke pangkalan Ojek, padahal biasanya setelah selesai makan siang, beliau akan kembali kembali kesana untuk sekedar mencari tambahan uang makan, lalu sore harinya beliau pergi ke sawah untuk merawat tanamannya.
“Bapak gak ke pangkalan ojek lagi? Ini udah sore lho..” Dhewi mencoba mengingatkan ayahnya.
“Huss, ada tamu agung kok malah ditinggal sih, itu namanya gak sopan lho nduk..”
Jawab ayah Dhewi dengan senyum ramahnya.
“Lagian nanti bapak juga mau ngajak Akbar jalan – jalan naik vespa, itu juga kalau Akbar gak keberatan.”
Ayah Dhewi menengok ke arahku dan memainkan alisnya.
“Hahahaha... boleh... boleh sekali... Akbar juga gak ada acara kok pak.”
Aku menjawab ajakan dari Ayah Dhewi dengan senyum canggung yang kupaksakan agar terlihat tulus.
Aku mempersilahkan Ayah Dhewi untuk mengendarai vespa, mungkin dia juga kangen dengan sensasi motor bermesin kanan itu, sedangkan aku hanya duduk di jok belakang membonceng ayah Dhewi yang mengajakku berkeliling kampung dan memberitahuku dimana saja letak sawah dan kebun miliknya.
Sampai akhirnya kami berhenti di pinggir hamparan tanah luas yang bertanamkan padi muda, dan tanaman jagung di petak lainnya.
“Sawah ini, dan juga jagung di sebelah sana milik Dhewi, terus yang tadi kita lewati itu milik kakak – kakaknya Dhewi, cuman Anton Saja yang sudah bapak kasih, soalnya dia udah hidup sama anak istrinya, sementara yang belum menikah, masih bapak rawat sendiri sawahnya.”
Ayah Dhewi memberitahukan ini semua seolah aku akan menjadi calon menantunya saja. Aku merasa sangat canggung dengan perlakuan ayah Dhewi yang seolah menganggaku sebagai anaknya sendiri. Dan juga mungkin karena aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya dari ayah kandungku sendiri.
Walaupun kami baru saja bertemu, namun aku merasa sudah sangat dekat sekali dengan beliau, akhirnya aku menceritakan semua masa lalu suramku, termasuk saat Dhewi yang menginap di rumahku, dan anehnya reaksi beliau tidak seperti yang aku dan Dhewi takutkan, dia memaklumi keadaan kami waktu itu. Atau mungikin beliau merasa lega karena ternyata Dhewi menginap di Rumahku yang sudah beliau percayai.
“Hahaha, kamu masih terlalu muda untuk menikmati asam garam kehidupan ini, mungkin sekarang kamu hanya bisa merasakan pahitnya kehidupan, tapi bapak yakin suatu saat nanti kamu akan mengerti maksud dari ucapan bapak ini, dan sudah merasakan manisnya kehidupan.”
Ayah Dhewi hanya tertawa sambil menepuk nepuk pundakku, setelah selesai mendengarku bercerita tentang masa lalu suramku.
Kami mengakhiri perjalanan sore ini, dengan mengantar beliau kembali ke rumahnya, yang disana sudah di hadang oleh Dhewi, Mbak Iis, dan ibunya.
Aku yang sempat ditawari untuk mampir lagi, hanya bisa menolak dengan halus, karena waktu sudah hampir maghrib saat aku berpamitan kepada mereka.dan benar saja, aku merasakan kehangatan dari sebuah keluarga. Yang membuatku sedikit merasakan sakit di hati ini.
“Jangan kapok yaa... kapan – kapan mampir kesini lagi..!!”
Mbak Iis melambaikan tangannya saat aku memacu Bony pergi menjauh dari rumah Dhewi.
Pengalaman hari ini dengan ayah Dhewi membuatku sedikit mengingat kembali bagaimana rasanya memiliki sosok yang bisa kusebut sebagai ayah, terus terang aku merasa sedikit iri melihat kehangatan keluarga mereka, dimana kehangatan ini adalah rasa yang sudah aku lupakan sejak lama sekali.
Dan tanpa aku sadari muncul sebuah rasa aneh dari dalam hatiku, rasa ini muncul di waktu yang sangat tidak tepat, apalagi dengan perjanjian satu semesterku yang kini mulai terasa agak memberatkanku.
__ADS_1