
"Bila Allah menginginkan dua hati untuk bersatu, Dia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu." --- quotes
\======
Aku dan Dhewi kini sedang harap–harap cemas, karena ingin segera mengetahui isi dari surat yang dititipkan oleh Wulan.
Aku bertanya kepada Dhewi, bagaimana dia bisa tahu kalau Wulan sedang sakit, dia hanya menjawab bahwa wali kelas yang mendapat telfon dari orang tua Wulan dan mengijinkannya untuk tidak masuk sekolah hari ini.
Aku mempunyai firasat yang tidak enak tentang hal ini, karena seharusnya orang tua Wulan masih berada di luar kota untuk merawat neneknya Wulan, tapi kenapa kok bisa pak Marjono menelpon wali kelas dan bilang kalau Wulan sakit?
Apa Wulan sekarang ada di luar kota dan bersama dengan orang tuanya?
Kalau memang begitu, berarti wulan bohong lagi kepadaku, karena kemarin dia masih bersamaku, dan mengatakan kalau dia tidak ingin ke luar kota dan akan menjadi panitia penerimaan siswa baru.
Aku dan Dhewi mulai membaca surat dari wulan yang kini berada di tanganku.
\====
Dear Akbar,
Aku mohon kamu tidak marah lagi kepadaku, aku yang selalu berbohong kepadamu, bahkan dengan egoisnya aku merebutmu dari Dhewi.
Namun hanya ini kesempatanku bar.. aku merasa tak akan mempunyai kesempatan yang lain. Aku ingin kamu bisa mengerti
Aku berbohong kepadamu kalau aku akan jadi panitia penerimaan siswa baru, aku ingin... tapi aku tak bisa...
Hari dimana kamu akan mendapatkan ujian dari sekolah, adalah hari dimana aku juga mendapatkan ujian dari dokter..
Satu hal lagi yang aku sembunyikan darimu, sebenarnya aku menderita kanker darah akut dan menurut dokter sisa usiaku hanya tinggal beberapa bulan saja.
Namun aku berhasil bertahan hingga lima tahun ini, itu semua karena keinginanku untuk terus bersamamu
Dokter juga bilang kalau aku harus dirawat di luar negeri agar bisa mendapatkan pengobatan yang kebih baik, walaupun itu juga belum tentu bisa memperpanjang usiaku
Saat kita lulus SMP dan kamu jauh dariku itu sungguh menyiksa batinku.
Namun kini kamu telah kembali dan aku sangat bersyukur bisa kembali bersamamu walau hanya sesaat.
Tapi maaf.. mungkin kali ini giliranku untuk pergi meninggalkanmu.
Saat kamu membaca surat ini, aku tak tahu lagi sudah seperti apa nasibku, namun aku berharap aku bisa kembali bersamamu lagi seperti kemarin.
Tolong sampaikan maafku untuk Dhewi, karena telah merebutmu darinya.
Aku sungguh mencintaimu bar.. aku sudah memendam perasaan ini sejak lama...
Semoga kamu selalu sehat, dan akan menemukan gadis yang pantas untukmu.
Aku yang selalu mencintaimu,
Wulan
\====
Tanganku tak berhenti bergetar saat membaca surat dari Wulan, karena terlihat ada bercak darah kering yang menetes di surat itu. Aku bahkan sempat lupa bernafas saat membaca surat dari Wulan.
Terlihat wajah Dhewi yang pucat pasi dan seolah tampak menua beberapa tahun karena mengulangi lagi membaca surat dari Wulan yang kini berada di tangannya.
Aku dan Dhewi menyimpulkan kalau Wulan saat ini berada di luar kota, tepatnya di rumah sakit tempat neneknya di
rawat.
Aku mencoba memastikannya dan menanyakan alamat rumah sakit itu kepada tetangga Wulan yang tadi memberikan surat untukku.
Setelah aku mendapatkan alamatnya, aku segera menaiki Bony, karena tak ingin membuat Wulan lebih lama menunggu.
“Kamu mau ke ruma sakit itu bar? Aku ikut yaa..”
“Itu ada di luar kota, kalau kamu mau ikut, kita pulang ke rumahku dulu, aku mau ambil perlengkapan.”
Saat di rumahku aku segera berpamitan dengan emak untuk menjenguk Wulan di rumah sakit. Beliau mengijinkan
__ADS_1
dan menyuruhku untuk berhati- hati karena akan menempuh perjalanan jauh.
Aku pun meminjami Dhewi jaket dan helm untuk dia pakai selama perjalanan ini. Rasanya aku ingin segera terbang kesana, aku sungguh tak sabar ingin segera menemui Wulan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, kamipun sampai di rumah sakit itu. Dan segera bertanya pada pusat informasi tentang ruangan yang di gunakan Wulan.
“Permisi buk, mau tanya, pasien atas nama Eka Wulan Sari binti Bapak Sumarjono ada di ruangan mana ya?”
Aku bertanya pada petugas yang berada di ruang informasi.
“Sebentar yaa..”
Perempuan setengah baya itu menyuruhku untuk menunggu lalu dia mencari data yang kutanyakan, dikomputernya.
“Mbak Wulan yang dari kota sebelah ya?” Tanya perempuan itu memastikan.
“Iya buk.”
“Ada di lantai empat, ruang kepodang 1.”
Petugas itu memberikan informasi bahwa itu adalah ruangan khusus, dan tidak boleh sembarang orang bisa menjenguk pasien yang berada di ruangan tersebut.
Aku dan dhewi segera mencari lift untuk menuju lantai empat, dan berharap bisa menjenguk wulan.
Saat keluar dari lift, aku bertemu dengan pak Marjono yang kini sedang berbincang di depan ruang petugas yang ada di lantai itu.
Aku menghampiri beliau, dari dekat nampak sekali ekspresi gelisah yang terlukis pada raut wajahnya.
“Pak.. gimana Wulan?” aku dan Dhewi bersalaman dengan beliau dan menanyakan keadaan Wulan.
Pak marjono menghela nafas saat aku menanyakan keadaan Wulan.
“Kamu lihat sendiri saja. Wulan juga sepertinya ingin bertemu sama kamu bar.. ”
Pak marjono menjawab pertanyaanku seolah tak kuasa untuk menceritakannya
Kamipun mengikuti pak Marjono menuju ruangan Wulan yang ternyata di ruangan itu ada dua orang petugas khusus yang sedang berjaga.
Kamipun harus masuk ruangan khusus terlebih dahulu untuk mensterilkan seluruh tubuh kami.
Terlihat ada dua orang pasien yang kini terbaring lemah di atas tempat tidur mereka, yang satu adalah perempuan tua, yang kupikir itu adalah nenek Wulan, dan yang satu seseorang yang ku kenal. Yaitu wulan.
Kami mendekat dengan hati-hati karena tak ingin mengganggu istirahat Wulan, aku dan Dhewi hanya bisa diam dan saling memandang. Tak menyangka wulan bisa terbaring lemah seperti ini.
Dhewi berbisik kepadaku untuk mendekat dan duduk di samping Wulan, aku pun menurutinya
Terlihat ada setetes air diujung mata Wulan, entah apa yang kini wulan pikirkan, atau sedang menahan rasa sakutnya.
Aku menggenggam tangan Wulan dengan lembut yang kini terasa dingin.
“...Akbar?”
Wulan memanggilku lirih dan membuka matanya perlahan
“Sst...aku udah di sini.., kamu jangan khawatir wul..”
jawabku dengan tersenyum untuk menutupi rasa sedihku di depan wulan.
“Mbak wiie..”
wulan menyadari keberadaan dhewi yang kini berdiri dibelakangku.
“Wulan....”
Dhewi ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan karena kini mata Dhewi mulai basah oleh air matanya sendiri
Aku menahan tubuh wulan yang berusaha untuk duduk, karena melihat Dhewi menitikkan air matanya.
“Kamu tiduran aja wul, dhewi gapapa...” Aku berusaha menenangkan Wulan
“Mbak wie.. wulan minta maaf..”
__ADS_1
Aku terpaksa mengalah, dan Dhewi kini duduk menggantikanku di samping Wulan, karena aku tahu Wulan pasti sangat merasa bersalah kepada Dhewi, dan ingin berbicara dengannya.
“Gak papa wul..aku ngerti kok..”
Kini mereka berdua saling berpelukan dan saling meneteskan air mata.
Melihat mereka saling berbicara sambil menangis, tak terasa air mataku pun ikut menetes.dengan segera ku hapus air mata ini karena tak ingin mereka melihatku sedang menangis.
Wulan memanggilku dan menyuruhku untuk mendekatinya.
Seolah waktu berhenti sangat lama saat wulan mengecup kening dan bibirku dengan lembut di depan mata dhewi,
Dia juga berpesan seolah ini adalah pesan terakhirnya.
“Bar..makasih udah ke sini.. kalian berdua terlihat sangat cocok..kamu harus jaga mbak Dhewi.. buat dia bahagia untukku jangan sampai dia terluka..”
“Kamu jangan ngomong kayak gitu wul.. kamu pasti sembuh..”
Ucapku tak terima dengan permintaan dari Wulan, namun seolah tak mendengarku, kini Wulan tersenyum dengan manisnya dan berbicara kepada Dhewi.
“Mbak wie, makasih udah ke sini,setidaknya Wulan masih sempat minta maaf secara langsung sama mbak wie. Tolong gantiin Wulan buat bahagiain Akbar ya mbak..”
Dhewi tak mampu untuk menjawabnya, dia hanya menggelengkan kepalanya dan terisak menahan tangisnya.
Seorang petugas datang menemui kami, karena waktu besuk kami sudah habis, namun Wulan meminta sedikit waktu kepada petugas lalu menyatukan tanganku dengan tangan dhewi
“Aku merestui kalian.. semoga kalian bahagia..”
Wulan mengatakan itu dengan tersenyum manis namun matanya masih meneteskan air mata.
Aku merangkul dhewi yang kembali terisak tangis saat keluar dari ruangan diikuti oleh petugas yang sedari tadi menunggu kami untuk keluar.
[beep...beep..beep]
Saat kami kembali berada di ruang steril untuk mengganti pakaian kami, terdengar suara bip bertempo cepat dan diikuti beberapa langkah kaki memasuki ruangan wulan. Aku dan dhewi sangat khawatir dengan suara itu.
Namun kami tak ada kuasa untuk ikut masuk ke ruangan itu lagi.
Kini kami hanya duduk di depan ruangan bersama dengan pak Marjono yang sekarang sangat panik dan wajahnya seolah terlihat lebih tua beberapa tahun.
Pak Marjono mengatakan bahwa perempuan tua di ruangan tadi memanglah nenek dari Wulan. Beliau kini pasrah saat melihat beberapa perawat datang lagi ke ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Terlihat juga beberapa orang kini datang menemui pak Marjono, mereka semua terlihat sangat gelisah. Mungkin itu adalah keluarga besar Wulan yang baru saja mendapat kabar dari pak Marjono.
\====
Hampir empat jam lamanya aku dan Dhewi berada di depan ruangan, namun aku sama sekali tidak merasakan lapar. Aku menyuruh Dhewi untuk menghubungi keluarganya, karena kini hari sudah semakin malam.
Lututku sangat lemas dan aku sampai lupa bernafas saat melihat dua orang petugas yang kini mendorong ranjang
dengan pasien yang telah tertutup selimut putih di seluruh tubuhnya keluar dari ruangan.
Aku hanya bisa berdo’a kalau itu bukanlah Wulan, namun aku juga tidak berharap kalau itu bukan neneknya.
Suara tangis pecah saat dokter berkata kepada pak Marjono
“Maaf pak, kami sudah berusaha yang terbaik, namun Tuhan berkehendak lain.”
Dhewi dan aku tidak berani untuk bertanya pada pak Marjono siapa yang baru saja dibawa oleh petugas menuju kamar mayat. Karena kami tahu kalau itu bukan kabar yang baik untuk pak Marjono maupun untuk kami.
Dua jam kemudian hal yang sangat aku takutkan pun terjadi. Hal yang sama terulang kembali.
Namun aku sangat yakin, kalau kali ini yang keluar dari ruangan dan tertutup selimut seluruhnya itu adalah Wulan.
Entah apa yang meyakinkanku hal itu, namun saat tubuh tak bernyawa itu melewatiku, hati ini terasa sangat sakit. Dan waktu berjalan sangat lambat seolah mengijinkanku untuk melihatnya untuk terakhir kali.
Sedangkan Dhewi hanya bisa menundukkan wajah dan menutupinya dengan kedua tangan
__ADS_1
Kami semua yang berada di sini merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Mereka berdua telah pergi untuk selamanya di waktu yang hampir bersamaan.