
"Karena cinta, duri menjadi mawar.
Karena cinta, cuka menjelma anggur segar." --- Jalaluddin Rumi
\=======
Jika kalian mengira dari judul chapter ini akan membawakan sebuah cerita beradegan panas seperti di kisah – kisah novel cinta, maka aku pun juga berharap begitu, karena siapa juga yang akan dapat menahan gejolak cinta masa remaja? Apalagi dengan situasi dan kondisi yang sangat mendukung seperti ini.
Mati lampu, hujan deras, muda dan mudi berada dalam satu kamar, yang namanya kucing kalau di kasih daging pasti gak bakal nolak ya kaaan??
Apalagi aku? Hanya seorang perjaka, yang bahkan belum pernah pacaran, aku juga tidak tahu bagaimana statusku dengan wulan, aku rasa kami bukanlah pacar, kami hanya teman yang sedikit lebih mesra dari pada hubungan teman yang biasanya.
Jujur saja kali ini pikiranku melayang entah kemana, karena tak pernah aku sangka akan mengalami pada situasi yang seperti ini, seorang makhluk yang menggemaskan kini tengah terbaring dengan lelapnya di atas tempat tidurku.
Kalau di film – film pasti kali ini ada dua makhluk di atas pundakku, yang satu setan dengan segala bujuk rayunya, dan yang satu adalah malaikat yang melarangku untuk melakukan hal – hal yang diinginkan setan.
Setan : “Ayo baar... sikaat kapan lagi ada kesempatan kayak gini??”
Malaikat : “Bar, jangan kamu lakukan hal yang tercela itu, atau kelak kau akan menyesalinya.”
Setan : “Dasar malaikat gak punya nafsu, biarpun gadis itu berdada rata, tapi pasti masih enak kok.”
Malaikat : “Dasar setan otaknya di selangk*ngan\, milih – milih donk kalau mau ena ena\, masa yang kaya gitu aja udah s*nge?.”
“Haiiishh... “
Aku menghela nafas agak keras karena pada akhirnya pikiranku tetap aja ingin mengambil kesempatan melihat Dhewi yang telah tertidur dengan pulas seperti itu.
Namun segera kusingkirkan berbagai rencana yang telah merusak akal sehatku ini, malam ini aku terlalu lelah untuk melakukannya, aku hanya ingin tidur dan segera move on dari Wulan yang kini sudah tenang di alamnya yang abadi.
Aku segera masuk ke dalam sleeping bag dan tidur diatas matras tepat di depan pintu kamarku, hanya satu yang aku lupa untuk melengkapi tidurku malam ini, yaitu bantal kecil yang kini berada di pelukan Dhewi, aku ingin mengambilnya, tapi aku takut jika aku akan membangunkannya.
Ada rasa hangat yang kini aku rasakan di seluruh tubuhku dan di keningku, aku ingin membuka mataku untuk melihat apa yang tengah terjadi, tapi mata ini terlalu berat untukku buka. Hingga aku yakin saat ini aku merasakan ada tangan kecil hangat yang sedang mengelus pipiku.
Aku beranikan diri untuk membuka mata ini dengan perlahan, dan aku melihat sosok bayangan peremuan sedang duduk di samping sleeping bag.
Dia terlihat sangat tulus mengelus pipiku, kadang dia juga mengusap bibirku dengan jarinya. Aku tidak bisa mengetahui siapa sosok perempuan itu, karena kondisi yang gelap, hingga beberapa cahaya dari kilatan petir masuk dari celah ventilasi kamar.
“Wulan???!!!”
aku terperanjat kaget melihat sosok perempuan yang sedang duduk di sampingku itu adalah Wulan. Aku sangat sadar kalau Wulan sudah tiada, namun kenapa saat ini dia ada di hadapanku?
Dia terlihat sangat tenang, hanya diam dan tersenyum, tak mengucapkan satu patah kata pun.
Dengan penuh senyum dia membisikkan di telingaku.
“Wulan sudah tiada bar.. kamu harus ikhlasin Wulan, dan mulailah membuka lembar baru di hatimu.”
__ADS_1
Aku yang merasa tidak ingin ditinggalkan oleh wulan lagi segera ku gerakkan tubuhku ini untuk memeluknya.
Aku tak habis pikir, entah apa yang sedang aku lakukan ini, namun yang pasti saat ini aku benar – benar merindukan sosok Wulan.
Aku saat ini sedang memeluk erat sosok yang menurutku itu adalah Wulan, segera aku cium dengan lembut bibirnya, saat tanganku bergerak mencari pegangan, terasa ada yang berbeda dengan milik Wulan.
“hmmph..”
Aku menyadari suara itu berbeda dengan suara Wulan, dan tentu saja pegangan yang sedang aku remas saat ini bukanlah milik Wulan.
“D.. Dhewii..??!!”
[ding] lampu kembali menyala
Dengan gugup aku segera melepas tanganku yang tengah berada di dada sebelah kirinya, dan juga bibirku yang tadi telah m**** bibirnya kini telah terlepas dan menciptakan jembatan cinta yang terbentuk dari air liur kami.
“Ma.. maaf.. aku tidak sengaja.”
Aku benar – benar menyesal karena tidak sengaja telah melakukan itu kepada dhewi, dan saat ini Dhewi sedang tertunduk malu karena apa yang telah terjadi diantara kami.
“Bar...” dengan posisi kepala yang masih menunduk, Dhewi menarik lengan bajuku perlahan.
“Bukan maksudku untuk egois, tapi kamu harus segera move on dari Wulan, kamu harus belajar untuk mengikhlaskan Wulan, biarkan dia tenang di sana.”
“Wie... beri aku waktu, aku gak bisa secepat ini memutuskannya, ini terlalu cepat untukku.”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, kini sudah terlihat mata Dhewi yang telah basah.
Dan mungkin karena aku telah terbiasa dengan Wulan, maka aku tak ingin ada seorang gadis yang menungguku dan menangisiku lagi.
Dengan segera aku mengusap air mata Dhewi yang telah menetes di pipinya. Aku ingin menenangkan hatinya.
Dan aku berfikir apabila memang aku harus bersama dengan Dhewi seperti apa yang diminta oleh Wulan, maka mungkin aku tidak akan bisa menjadikan dirinya kekasih yang seutuhnya dan hanya setengah hati yang bisa aku berikan untuk Dhewi.
“Aku gak apa – apa bar.. aku tau.. aku datang di waktu yang tidak tepat, aku juga tidak pernah menyangka kalau Wulan telah memendam begitu lama perasaan untukmu.”
“Andaikan aku tau kalau Wulan juga menyukaimu, maka aku tidak akan pernah meminta tolong kepadanya, aku wanita, dan wulan juga wanita.. aku sangat tahu bagaimana perasaan wulan saat ini, jika dia masih ada di sini.”
“Wiee... sudah...aku juga tau kok...”
Aku menyudahi omongan Dhewi supaya dia tidak ngelantur tentang Wulan lagi.
Hanya kecupan lembut di kening Dhewi yang ku berikan untuknya, aku masih ingin menjaga perasaan Dhewi terhadapku dan akan terus ku jaga agar perasaanku ini tidak terlalu dalam kepadanya.
Pagi hari setelah kami sholat subuh, aku mengantar Dhewi pulang, karena dia masih harus berangkat sekolah, dan hari ini juga adalah hari pengumuman yang telah dinantikan oleh calon siswa baru, termasuk aku.
Aku tidak ingin terlalu lama di rumah Dhewi, hanya mengantarnya pulang saja lalu langsung berangkat ke sekolah,
__ADS_1
namun semua rencanaku ini gagal saat mbak iis menemuiku dan bertanya berbagai hal tentang malam pertamaku dengan Dhewi.
“Akbar kan?”
Tanya Mbak Iis saat pertama kali melihatku
Sedangkan Dhewi langsung masuk ke dalam untuk mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
“Eh, iya mbak..”
Aku yang gugup karena melihat makhluk manis yang wajahnya sangat mirip dengan Dhewi, dan Mbak Iis ini adalah benar – benar Dhewi versi dewasa, dan tentu saja versi “berisi” entah kenapa adiknya itu tidak menuruni isi dari kakak perempuannya, dan malah terasa sangat “rata”.
“Tadi malam gimana bar? Enak??”
Tanya mbak iis menggodaku
“Hahaha, mbak ini ada – ada aja, kalau masakannya Dhewi ya memang enak mbak.”
Jawabku agak canggung.
“Weleeh, Dhewi berani masak di rumahmu ya bar? Hebat banget dhewi, padahal di rumah dia jarang banget masuk dapur. hihihi.”
Mbak iis masih menggodaku dengan tema Dhewi.
“Hih, apaan sih mbak iis, pagi – pagi udah gosipin orang aja.”
Tiba- tiba dhewi muncul dengan membawa segelas kopi untukku.
“Bar, kopinya di minum dulu, sambil nunggu Dhewi ganti baju, atau mau ikut masuk kamar Dhewi?
Trus nanti kalian berangkat sekolahnya barengan aja..”
Mbak iis kembali berkata seenak jidatnya.
“Hahaha...”
Aku cuma bisa tertawa dengan canggungnya dengan sikap mbak iis yang terlihat sangat easy going dan open minded ini.
***
“Bar... makasih yaa...”
“Makasih buat apa?”
“Buat semuanya... hihihi....”
Dengan erat Dhewi memelukku dari jok belakang, aku rasa Dhewi sangat bahagia pagi ini.
__ADS_1
Di tengah perjalananku berangkat ke sekolah, Dhewi berterima kasih kepadaku, yang entah buat apa rasa terima kasih itu Dhewi ucapkan kepadaku.