Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter
Ch.12 – Serasa Jadi Artis


__ADS_3

Teman baik itu seperti bintang.


Kamu tidak selalu melihatnya, tetapi kamu tahu mereka selalu ada di sana. --- quotes


\=====


Aroma khas dari singkong goreng yang dibawa oleh makhluk suram itu telah mengalahkan rasa takutku, dan beralih menjadi rasa puas.


“Wow.. Perfecto..!!”


Tanpa kusadari aku mengucapkan kalimat itu saat melihat lekuk indah bentuk singkong goreng yang telah merekah sempurna dengan warna coklat keemasan yang menambah gairahkku untuk segera menikmati renyahnya singkong goreng.


Sementara terlihat Hogy dan Topan yang kini berwajah pucat karena melihat suramnya wajah makhluk itu.


“Mak.. jangan gitu, nanti mereka takut lho sama emak..”


Terdengar lagi suara manis dari arah dapur, yang kemudian suara itu mewujudkan diri menjadi sesosok mbak vivi yang aduhai dengan membawa nampan berisikan tiga gelas minuman pesanan kami.


“Yo ben tho..(t/n ya biarin donk) biar mereka nggak ada yang berani ngutang di kantin.”


Mak mak suram itu dengan tegas menjawab ucapan mbak vivi, seakan tau kalau aku berencana kas bon di


kantin.


Tanpa ragu aku menyambut singkong yang dibawa makhluk suram itu, karena aku sudah tak sabar untuk segera


menyantapnya.


“Mak, biar akbar yang bawain singkongnya.”


Aku membawa piring berisi penuh singkong goreng dan mengambil satu potong untuk ku masukkan ke mulut indahku.


“Mak..mek..mak..mek.. sejak kapan kamu jadi anakku?”


Jawab mak suram itu saat aku mengambil piring dari tangannya.


“Yaa.. insya Allah doanya mak,semoga di segerakan..”


Jawabku nyeleneh dengan memainkan alis naik turun..


Mbak vivi hanya tersenyum geli melihat tingkahku, sedangkan hogy dan topan hanya menggelengkan kepala, karena aku telah mencuri start untuk merebutkan perhatian dari mbak vivi.


“Jangan panggil aku mbok samiatun kalau kalian masih berani hutang di kantin ini.!”


Kami bertiga seolah tidak mendengar peringatan dari mak-mak suram yang ternyata adalah ibunya mbak vivi, karena sangat bertolak belakang, yang satu suram kayak baru keluar dari sumur, sedangkan anaknya manis, kalem, kalau dipandang adem banget rasanya mirip ubin masjid.


“Ok mak..” Jawab kami bertiga secara kompak.


“Haaiiish... Tahun ini muncul lagi bocah bandel yang bakal nyusahin emak.”


Mbok samiatun hanya menghela nafas dan sedikit tersenyum melihat kami yang dengan lahapnya menikmati sarapan singkong goreng buatannya.


Piring yang tadinya penuh berisi singkong goreng, kini hanya menyisakan satu potong terakhir diatasnya, minuman yang kami pesan pun sudah berkurang setengahnya.


Kami menikmati waktu istirahat ini dengan santai dan penuh suasana ceria, namun anehnya kantin ini terlihat sepi, tidak banyak siswa yang jajan di sini.


Mungkinkah karena tampang mbok samiatun yang suram? Namun aku rasa bukan karena itu.


Belum selesai kami mengobrol, bel tanda masuk telah berbunyi, menandakan kini tiba waktunya untuk ujian kedua yaitu wawancara.


Tidak banyak informasi yang aku dapat dari wulan tentang ujian ini, wulan hanya berkata, berjuanglah di ujian kedua, karena penentu lolos atau tidaknya berada di ujian ini.


“Maaak..!! kas bon dulu yaa..,tak bayar nanti pas istirahat kedua..”


Aku berteriak sambil berjalan keluar dari kantin diikuti hogy dan topan.


“Heeeh..!! awas kalau kamu lupa..!!”


Mbok samiatun keluar dari dapur dengan membawa spatula di tangannya.


“hahaha...”


Aku hanya menjawabnya dengan tawa, kemudian kami bertiga berlari kecil menyusuri lorong sekolahan menuju ruang ujian kedua.


Di depan ruang ujian kulihat banyak calon siswa yang sedang duduk menunggu gilirannya dipanggil.


Kamipun ikut menunggu di depan ruangan tersebut, banyak wajah asing yang terlihat tegang di sini, namun sama sekali tak nampak pada wajah kami bertiga, karena kami tahu, seseram apapun keadaan di dalam, masih lebih seram wajah mbok samiatun.


Tiap tiga orang di panggil ke dalam untuk mengikuti ujian, dan kini hanya tersisa enam orang yang sedang menunggu.


Yaitu kami bertiga, dan tiga orang gadis yang seharusnya terlihat sedikit menarik, namun wajah mereka dipenuhi oleh aura negatif, karena lama menunggu dan juga karena tegang akan menghadapi ujian.


Sementara kami bertiga menunggu, kami hanya mengobrol dan bercanda, kadang sesekali menggoda tiga gadis yang ada di depan kami.


Dengan pose sok ganteng yang terlalu dipaksakan tiba-tiba topan bertanya kepada ketiga gadis itu.


“Ehm..ehm.. namaku topan eka serupawan.. Siapakah gerangan nama kalian wahai nona muda yang manis??”


wajah Topan yang tersenyum seperti itu membuatku dan hogy sangat mual..

__ADS_1


“Pffft... serupawan...”


Aku dan Hogy tak bisa lagi menahan tawa karena mendengar nama belakang topan yang sangat bertolak belakang dengan wujudnya.


Topan yang berwujud sebagai sesosok pemuda cukup tinggi berwarna kulit sawo matang yang terlalu agak matang, dihiasi rambut bergelombang namun berponi di kepalanya, dia juga punya tubuh yang agak atletis untuk ukuran cowok, dan juga seharusnya dia memang terlihat cukup menarik.


Dan kalau saja tingkahnya tidak konyol seperti itu, mungkin tubuhnya akan memberi nilai lebih untuk wajahnya yang pas-pasan.


Namun harus kuakui senyum topan cukup untuk memikat hati para gadis. Tapi tidak untuk para cowok, itu hanya akan membuat kami para cowok mual dan muntah.


Berbeda dengan Hogy, wajah Hogy terlihat lebih menjual dari pada milik topan, dia memiliki dagu yang belah dengan hidung yang agak mancung, rambut yang berponi agak lurus dan bibir yang cukup mungil untuk ukuran cowok.


Tinggi badan Hogy dan topan tidak beda jauh, hanya saja tubuh hogy lebih atletis karena dia atlet pencak silat sepertiku.


Aku dan Hogy mempunyai warna kulit yang hampir sama, yaitu coklat bersih dan hampir menuju kuning langsat, kalau saja kami tidak sering beraktifitas di luar ruangan, mungkin saja kami mirip artis korea itu, karena mata kami juga agak sipit.


Dan kalau aku sendiri pastinya paling jangkung diantara kami bertiga, dan tentunya akulah pemilik wajah paling


tamvan. Hahaha.


Ketiga gadis itu tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Topan yang konyol, apalagi mendengar aku dan hogy yang tertawa mengejek topan.


“Namaku Fitri..” salah satu dari ketiga gadis itu berdiri dan tersenyum dilanjutkan bersalaman kepada kami.


“Kalau aku yulia..” gadis yang paling mungil memberikan senyumannya.


Dan yang terakhir, yang paling cantik diantara mereka bertiga kini tersenyum


“Aku rita.”


Singkat padat dan jelas, namun berhasil membuat kaki kami bertiga lemas. Wajah yang cantik, suaranya yang merdu, ditambah badan yang cukup mendukung. Perpaduan ciptaan-Nya yang sangat sempurna yang seketika membuat kami bertiga hampir lupa caranya bernafas.


Belum sempat kami mengobrol lebih jauh dengan para gadis itu, seorang guru keluar dan memanggil nama mereka, kini mereka telah hilang dari pandangan dan memasuki ruang ujian.


Hanya tinggal kami bertiga yang belum dipanggil, sementara calon siswa lain yang telah selesai ujian kedua kini tengah menikmati waktu istirahat mereka. Aku hogy dan topan kini sedang berdiskusi dan berdebat dengan serius untuk membandingkan siapa yang paling cantik diantara mereka bertiga, dan siapa yang akan memilih siapa.


Aku hanya mengikuti kemauan mereka, karena bagiku mereka bertiga masih jauh dibandingkan dengan wulan, baik dari wajah maupun bodinya.


Setelah perdebatan panas akhirnya kita memutuskan bahwa Rita berhasil memenangkan kontes kecantikan yang kami adakan, disusul oleh Yulia yang bertubuh mungil namun imut dan manis saat dipandang, posisi terakhir ditempati oleh Fitri yang memiliki wajah cukup manis namun bodinya dapat meruntuhkan pertahanan cowok yang beriman lemah.


Kamipun sepakat, kalau Hogy akan mengincar Rita, lalu topan dengan Yulia, sedangkan aku mengalah dan mendapatkan jatah untuk mendekati Yitri.


Aku mengalah karena memang karena kupikir aku masih ada Wulan, jadi aku tidak terlalu serius saat berebut dengan mereka,


namun setelah kupikir – pikir mobil yang sudah punya empat roda saja masih punya ban serep yang disimpan, begitu pula dengan vespa yang memunyai ban serep untuk digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan.


Saat kami sedang berdiskusi dengan panasnya tiba-tiba muncul seorang guru bertubuh mungil namun cukup hot untuk ukurannya dan juga berwajah judes namun manis


“Eh, iya buk, ikut..”


Jawabku dan Topan, sementara Hogy, dia masih terdiam, terpesona dengan sosok guru itu.


“Ayo masuuuuk..”


Aku dan topan mendorong tubuh hogy yang seolah kaku karena terkena efek STUN dari guru imut itu.


Takdir berkata lain saat kami memasuki ruangan, Hogy kini tengah duduk dan di wawancarai oleh guru pria yang cukup berumur dan memakai kaca mata, lalu Topan juga hampir sama nasibnya, dia sedang berhadapan dengan guru pemilik wajah sangar, sedangkan aku mempunyai nasib yang cukup mujur, guru imut tadi berada di depanku sekarang.


“Oi.. bar?!..Akbar alimsyah bin Maryadi.!!


“Eh iya buk..saya..”


Jawabku agak kaget karena sedang melihat nasib dua temanku yang kini sedang berhadapan dengan macan garang.


“Kamu ini yaa.. niat gak sih ikut ujian?!


Kalau gak niat, keluar kamu sekarang..!”


Ternyata pikiranku salah, akulah yang sedang menghadapi macan betina lagi ngamuk.


“Maaf,, buk,, jangan,, akbar niat kok..”


Jawabku dengan nada memelas dan memasang wajah menyesal.


“Ok jangan kamu ulangi lagi, ini kesempatan terakhirmu.”


Si macan betina memberiku kesempatan terakhir.


Aku memperbaiki posisi duduk supaya terlihat sopan dan formal


“Sebutkan nama lengkapmu.”


‘Akbar Alimsyah buk.”


Jawabku, padahal dia juga sudah punya biodataku, ngapain tanya-tanya lagi.


“Umur?”


“Tahun ini genap 17 tahun buk.”

__ADS_1


“Tinggi badan?”


“173 cm mungkin masih bisa nambah buk.” Jawabku tegas


“Kamu umur 17 tahun baru daftar SMA, dulu waktu SMP sering gak naik kelas ya?”


Tiba-tiba bu Sofiana bertanya menyelidiki masa laluku, aku mengetahui nama guru wanita itu dari papan nama


yang terpasang di mejanya.


“Alhamdulillah, nggak buk, saya SMP lulus dengan lancar buk.”


Jawabku dan mulai menceritakan masa laluku yang suram itu.


“Kamu mantan pekerja bangunan di Jakarta, kamu merokok?”


“Iya buk, sekarang lagi proses berhenti.” Aku menjawab dengan jujur


“Kalau nanti kamu ketahuan merokok, apa kamu bersedia dikeluarkan dari sekolah?”


“Ya buk, saya siap..”


Aku menjawab dengan mantap, karena ini juga akan membuatku bertambah semangat untuk berhenti merokok.


Setelah itu bu Sofiana hanya menanyakan tentang latar belakang keluargaku, dan beberapa pertanyaan tentang masa depan studyku.


Kami bertiga kembali ke kantin mbok samiatun setelah selesai di wawancarai layaknya artis terkenal.


“Yaah, kopiku udah dingin gaes..”


Aku memasang wajah murung karena aku menemukan secangkir kopi pesananku yang terabaikan di meja kantin


“Iya.. es jerukku juga nih..”


Hogy juga pura-pura ikut memasang wajah murung


“Apalagi es tehku.. eh, mana estehku..?” Topan terlihat sedikit panik karena minumannya hilang.


“Lah bukannya es teh mas Topan udah habis ya? Tadi gelasnya udah diambil emak.”


mbak vivi mencoba menyadarkan Topan yang kini terlihat lebih konyol karena lupa minumannya sudah habis.


Aku dan Hogy kini agak menyesal karena sudah mengenal Topan.


“mas Hogy juga ada-ada , es jeruk kan udah dingin, aduh.. mas.. mas..”


Mbak vivi menanggapi lelucon receh yang dibuat oleh hogy dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Dan kini hogy tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil mencuri perhatian mbak vivi.


“satu-sama bar..”


Hogy membisikkan skor kemenangannya.


“Iya.. satu sama, tTopan juga dapat.”


“Hahahaha....’ aku dan hogy tertawa bersama karena melihat topan mendapatkan skor dengan cara yang aneh.


Sementara topan dan mbak vivi terlihat bingung karena melihatku dan hogy tertawa.


“Mbak, kok gak ada anak yang jajan di sini sih?”


Aku bertanya pada mbak vivi yang kini sedang duduk dengan santai di belakang meja kasir.


“Iya, di sini memang seharusnya kantin khusus guru. Namun terkadang ada juga anak perempuan yang jajan ke sini.


Lalu mbak vivi menjelaskan, bahwa di SMA ini ada tiga kantin, khusus guru dan karyawan, dimana kami sedang berada di sini sekarang, lalu kantin putra yang berada di belakang, dekat dengan gerbang belakang, dan yang terakhir kantin putri yang berada di sebelah gerbang utama.


Memang dari awal aku merasa aneh, saat pertama kali datang ke SMA ini setelah melewati gerbang, aku akan disambut harumnya aroma masakan yang ternyata datang dari kantin putri.


Lalu posisi parkiran motor utama yang berada tepat di sebelah lapangan serba guna, bisa jadi lapangan basket, bola voly, sepak takraw dan bulu tangkis, namun sebenarnya itu adalah lapangan upacara.karena tepat berada di tengah area sekolahan dan ditandai dengan berkibarnya sang saka merah putih diatas tiang.


Dan pastinya parkiran motor sebesar itu tidak akan muat untuk menampung semua motor siswa yang ada di sekolah ini, maka dibuatlah parkiran motor di belakang, dekat dengan gerbang belakang dan kantin putra.


“Eh, tadi menurut kalian gimana? Si topan lucu yaa.. dia aneh gitu, tapi manis..”


Terdengar ada suara perempuan mendekat ke arah kami, dan tampaknya mereka sedang memmbicarakan Topan.


\=== Author Note===


Hai gaes, hari ini hari yang spesial menurut author, makanya hari ini Bony up 2 kali, ch.11 dan ch.12


Apa yang spesial?


saat author up ch.12 ini\, author sedang duduk di teras rumah\, ditemani secangkir kopi yang hampir dingin dan****singkong goreng.


Bukan hanya itu, author juga sedang menikmati fenomena alam Super Moon yang katanya fenomena ini ke tiga kalinya dari keempat sepanjang tahun 2020.


dan juga insya Allah malam ini adalah malam nisfu sya'ban.

__ADS_1


untuk itu, Author mengingatkan para reader Bony supaya memperbanyak amalan yang sekiranya patut diamalkan pada hari yang spesial ini.


Akhir kata, selamat menikmati Super Moon, namun ingat, stay safe, hindari kerumunan dan jaga kesehatan.


__ADS_2