
"Kau mencintaiku tanpa sepatah kata,
aku mencintaimu, dengan satu kata yang tak pernah patah." --- quotes
\=======
“Oi Pli.. diem-diem bae.. mana paman?”
Aku memanggil Yanuar dengan panggilan mesra, yaitu kipli, entah kenapa rasanya aku suka banget dengan ekspresi wajahnya setiap aku memanggil adikku dengan sebutan itu.
Seperti biasa Yanuar langsung memasang ekspresi uniknya setelah kupanggil seperti itu.
“Tuh ada di dalam, mau ngapain kamu kesini mas?”
Yanuar menjawab dengan tetap memasang wajah cemberut.
Aku masuk ke rumah dan menemui paman, Yanuar otomatis berubah menjadi ekorku dan ikut masuk ke dalam rumah.
“Nih ada titipan dari emak, tapi ada syaratnya, setelah dapat ini jangan sampai turun nilai sekolahmu.”
Aku sengaja memberikan HP untuk Yanuar di depan paman, agar paman tau, dan aku juga meminta tolong pada paman supaya tetap ikut mengawasi Yanuar.
“Waaah HP baruu..”
Yanuar melompat kegirangan, karena tidak menyangka kedatanganku akan membawa hadiah untuknya.
“di dalem HP mu sudah kusimpan nomerku dan beberapa permainan yang suda aku beli dari konter tadi, terus nanti kalau aku sudah sampai di rumah, kamu bisa telpon emak buat ngucapin terima kasih.”
Ucapku mengingatkan Yanuar agak tak lupa berterima kasih pada emak.
“Ok..”
Jawab Yanuar singkat sambil mengembalikan HP paman yang tadi dia pinjam, setelah itu dia langsung menghilang ke kamarnya.
Aku hafal banget sifatnya, dari dulu dia pasti mengurung diri di kamar segera setelah mendapat mainan baru.
Akupun berbincang-bincang dengan paman dan bibi, sekedar untuk melepas lelahku dan juga untuk mendinginkan mesin Bony setelah perjalanan yang berat ini.
Setelah kurasa cukup basa basi dengan paman dan bibi, tanpa rasa malu aku segera menghilang ke ruang makan untuk memuaskan hasrat yang datang dari perutku.
“aaah…kenyaang…masakan bibi emang gak kalah dari masakan emak…”
ucapku memuji masakan bibi.
“kamu mau nginep di sini kan bar? Kalau kamu mau nginep sini, nanti malam bakal bibi masakin soto buat kamu.”
Bibi mengucapkannya dengan senyuman penuh arti, mungkin karena tadi bibi mendengar pujianku.
“Aduh, makasih bi, kasian emak sendirian di rumah, ntar kalau apa-apa di rumah gimana?”
Sebetulnya aku sedikit tergoda dengan rayuan bibi, bukan karena senyumnya yang penuh arti, gak mungkinlah adik kandung ibuku pun aku embat.
Namun karena soto.. ya soto adalah makanan kesukaanku, apalagi memang soto buatan bibiku tiada duanya, di warung manapun di seluruh Indonesia ga ada soto yang rasanya kayak punya bibi.
“lagian, Akbar harus nyiapin perlengkapan Akbar buat malam minggu nanti bi.”
“Heleh. Masih kecil aja udah mau malam mingguan, lagian ini juga masih hari Senin, kan bisa disiapin nanti hari kamis atau jum’at.”
Tiba-tiba paman muncul dan mengejekku.
__ADS_1
“Namaku Akbar, jangan panggil aku anak kecil paman.”
Jawabku sambil menjulurkan lidahku.
“Hahahaha, iya, iya.. eh kamu belum punya SIM kan? Mumpung waktunya masih sempat, ayok paman anterin kamu bikin SIM.”
“Yok cuss kita gas paman.” Jawabku tanpa basa basi.”
***
Sang Surya sudah bergeser ke arah barat saat aku berpamitan dengan paman dan bibi, walaupun mereka kembali memintaku untuk menginap barang satu atau dua hari, namun aku tetap beralasan kalau aku tak tega meninggalkan ibu yang cantik tidur sendirian di rumah, mereka pun setuju dengan alasanku itu, dan dengan segera aku memacu Bony untuk kembali ke rumah.
Dan tanpa halangan yang berarti akhirnya aku tiba dengan selamat sentosa di depan pintu rumahku, walaupun di sepanjang perjalanan tadi aku selalu terbayang-bayang nikmatnya Soto buatan Bibi.
Biarpun begitu, kabar baiknya adalah Aku sudah lolos ujian dari Bapak Polisi, dan kini kartu SIM sudah tersimpan dengan rapi di dompetku.
“Assalamualaikuuum…”
“Waalaikumsalam.”
Jawab emak dari dalam rumah.
Aku segera masuk dan mencium tangan ibuku.
“Loh kok pulang?? Emak kira kamu bakal nginep di rumah Pamanmu.”
“Yah, mana tega sih Akbar ninggalin emak yang cantiknya kayak gini tidur sendirian di rumah?”
Tiba – tiba dari arah dapur tercium aroma yang rasanya sangat menggoda hidungku.
Akupun segera melangkahkan kaki untuk mencari dari mana datangnya aroma yang sangat menggoda itu.
Aku hanya bisa menerka dari sisa – sisa ritual emak di dapur yang sepertinya sudah hampir selesai.
Aroma yang dari tadi aku cari itu ternyata datangnya dari kuah yang sedang mendidih dengan indahnya di dalam panci kesayangan emak.
“emak masak soto ya??”
Tanyaku menebak apa yang sedang emak masak.
“hahaha, iya donk, kan emak sengaja masak soto kesukaan kamu, siapa tau aja kamu nginep di rumah paman, jadi emak bisa makan sotonya sendirian sampe kenyang.”
Jawab emak sambil tertawa mengejekku.
“idih, apaan sih Emak, jahat bener sama anak sendiri juga.”
Jawabku sambil melangkah menuju kamar mandi.
Aku segera membasuh badanku dari keringat setelah seharian berpetualang, agar ketampananku tetap terjaga, aku memang sudah yakin, kalau yang namanya rejeki itu tidak akan tertukar, iya donk, tadi nolak soto buatan bibi karena khawatir emak sendirian di rumah, eh ini malah dimasakin soto sama emak, kebetulan yang sangat luar biasa bukan pemirsa?.
Seusai mandi dan sholat maghrib aku dan emak menyantap soto dengan cita rasa khas turun temurun warisan nenek moyang, yang merupakan salah satu hasil pengembangan jurus pisau dapur pemersatu bangsa.
Malam ini kami berdua menikmati makan malam dengan diiringi segudang cerita yang aku dapatkan dari petualangan seharian, sampai akhirnya terdengar alunan lagu dari dalam kamarku.
~~ Don't want to close my eyes
__ADS_1
I don't want to fall asleep
'Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
'Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing~~
“Bentar mak, ada yang telpon, Akbar ambil HP dulu.”
---Kipli memanggil---
“Halo, pie pli?”
“hidih, biasa, emak mana mas? Aku mau ngomong”
“Sek, bentar, jangan ditutup dulu telponnya.”
Aku berjalan ke ruang makan dan menyerahkan HP ke emakku serta memberitahunya kalau si Yanuar menelpon.
“Halo..Assalamu’alaikum.. pie, gimana kabarmu dik? Lancar sekolahmu?" Tanya ibuku
“Hallo, Waalaikumsalam, Alhamdulillah sehat mak, sekolahku juga lancar, aku punya banyak teman baru di sini mak. Emak sendiri gimana? Sehat aja tho?”
“Alhamdulillah, emak sehat aja kok nak, kamu jangan nakal ya disana, dengerin apa kata paman bibimu, sekolah yang bener, tiru kakakmu itu lho, biar dia bandel tapi dia pinter.”
Kata emak sambil menatapku dan menaik - naikkan alisnya. Akupun tertawa geli melihat tingkah emak
dan Membayangkan reaksi adikku yang dibandingkan denganku.
“Hehehe, iya emaak, eh ya, makasih banget lho mak, udah dibeliin HP.
Mas Akbar udah cerita semuanya tadi. Yanuar juga janji, Nilai Sekolah Yanuar pasti bakal bagus-bagus terus.”
“Nah gitu donk, itu baru anak emak, nakal dikit sih wajar, tapi harus tau batasannya, kudu seimbang. Kalau mau nakal, berarti harus pinter jaga diri, jaga prestasi, dan yang paling penting kudu pinter tanggung jawab.”
Pesan emak.
“Ok shiyap emakku, laksanakan, tapi Yanuar juga gak bakalan nakal kayak mas Akbar kok hahaha.”
“Yowes, ini udh malam, kamu jangan kebanyakan main HP lho ya. Besok sekolah.”
“Nggih mak.. Ya sudah, Yanuar tutup dulu ya telponnya, emak jaga kesehatan terus yaa..
terus awasi mas Akbar kayaknya malam minggu besok mau ngapelin ceweknya tuh. Hahaha..
Assalamu’alaikum.”
Yanuar mengakhiri telpon dengan membocorkan rahasia besar, yang sebenarnya aku tutupin supaya emak tidak tahu rencana malam mingguku.
Namun apa daya nasi sudah menjadi nasi goreng, akupun harus memutar otak dan merangkai kata untuk membuat alasan yang tepat ketika nanti emak nanyain tentang malam minggu.
Aku hanya bisa terdiam dan menelan kuah soto, dan tidak ingin membuat gerakan mendadak, dimana hanya akan membuat emak tambah curiga.
__ADS_1