
"Memikirkan bahwa aku akan bersamamu besok
memberikan aku kekuatan untuk melalui hari ini." --- quotes
\===========
Sayup – sayup terdengar suara adzan saat aku merasa tubuhku sudah segar kembali,
Aku masih duduk di atas tempat tidurku, mencoba mengumpulkan kembali nyawaku setelah tertidur pulas semalaman.
Aku tidak menyangka kalau kencan di Malam Minggu
ternyata dapat menguras fisik dan juga mentalku terlebih juga menguras isi dompetku.
Setelah kurasa nyawaku terkumpul sepenuhnya,
Aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu yang akan menyegarkan kembali seluruh jiwa dan raga ini, dan setelahnya aku langsung kembali ke kamar untuk sholat subuh.
“Emak di mana ya? Apa mungkin sudah berangkat ke pasar?”
Aku bicara sendiri karena memang dari tadi aku tidak melihat penampakan cantik emakku.
Kemudian aku teringat semalam ada sms dari nomor asing.
“Nomor siapa nih? Tanggung jawab apaan?? Sembarangan banget sih nih orang”
aku menggerutu sendiri membaca sms iseng yang masuk ke HPku.
Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba menelponnya.
[tuuut...tuuut...]
“Hallo..” terdengar suara serak-serak manis dari ujung sana.
“Hallo, siapa nih? Tanggung jawab apaan? Sembarangan banget..”
aku langsung mengomelinya tanpa tahu siapa pemilik suara manis di seberang sana.
“Hihihi... dasar cowok gak peka..” pemilik suara manis itu malah tertawa mengejekku.
“Emang ini siapa?”
“Kalau mau tanggung jawab, nanti siang datang ke rumahku..”
[tuuut]
Gadis itu menutup telponku tanpa mengatakan siapa namanya, meninggalkan rasa penasaran dan sumpah serapah yang kini tertahan di mulutku.
“Akbaar.. kamu udah bangun?”
Terlihat kini di depan pintu kamarku sesosok penampakan manusia cantik membawa tas keranjang yang dipenuhi oleh segerombol sayur-mayur.
“Eh, emak.. dari mana mak? Kok tadi Akbar bangun gak liat emak..”
“Biasa, rutinitas pagi, emak baru pulang hunting sayur di mall..”
Jawab emak sambil terkekeh
“Helleh mall bau terasi.. hahaha.” Aku menimpali guyonan emak pagi ini.
Walaupun aku sedang keki karena ada cewek sok misterius yang membuatku penasaran,
tapi emang cuma emak yang bisa mengalihkan duniaku.
“Ya sudah mak mau masak dulu di dapur, kamu lanjut aja telponan sama cewek tadi.”
“Eeeh??? Emak denger ya tadi? Itu cuma nomer nyasar kok mak, gak tau siapa yang ngerjain Akbar.”
“Jangan – jangan itu anaknya pak marjono bar?”
“Hmmm... bisa jadi sih mak..”
“Tapi kayaknya bukan deh mak, masa iya wulan ngerjain akbar sih.”
Aku mengiringi langkah kaki emak menuju dapur, bukan untuk membantunya memasak, tapi aku ingin menuang kopi untukku.
“Mau ngapaain?? Kalau mau bikin kopi, udah emak bikinin noh, di meja makan.”
“Udah sana, jauh – jauh dari dapur, emak mau masak.”
Baru selesai membuka toples kopi udah kena usir emak, tapi mendengar emak sudah membuatkanku kopi, aku hanya bisa tersenyum dengan manisnya.
“Hehehe, makasih emakku sayangku bawelku..mmuach”
Aku berterima kasih pada emak dengan menyempurnakan ucapanku memakai kecupan yang mendarat di pipinya.
“Hiish.. dasar anak muda jaman sekarang.”
Emak menjawab sambil mengusap-usap pipinya yang terkena kecupanku.
Tanpa menunda waktu lagi aku menghampiri kopi hitamku dan membawanya ke teras rumah untuk ku nikmati bersama dengan sebatang rokok yang kini sudah menempel di bibirku.
“Wah, pagi-pagi menghirup udara segar ditemani kopi dan rokok, pasti bakal sempurna kalau ada singkong goreng.”
Aku bergumam sendirian setelah menyeruput kopi hitam buatan emak.
“Nih singkong gorengnya..”
Tiba-tiba emak muncul dengan membawa sepiring penuh singkong goreng
“Waah, mantep nih..”jawabku dengan semangat
“Inget bar, kamu udah mau sekolah, bukan kuli bangunan lagi, kamu harus bisa mengurangi rokokmu itu.
Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang, rokok gak baik buat kesehatanmu.”
“Dan juga gak pantes anak sekolah kok ngerokok.”
Aku terdiam saat emak tiba-tiba memberiku nasihat seperti itu, karena biasanya emak hanya diam saja saat melihatku merokok.
__ADS_1
Dalam hati ini aku memantapkan niatku, aku akan mulai berhenti merokok setelah stok rokokku yang masih tersisa beberapa batang ini habis.
Akupun kembali menikmati kopi dan sisa-sisa terakhir rokokku, aku tau ini akan sulit untukku berhenti merokok, namun demi permintaan emakku aku ingin menyanggupinya.
***
*bzzt..bzzt..ding*
-- “Jadi ke rumahku kan?” --
Ada pesan masuk lagi dari nomor asing semalam, walaupun aku penasaran siapa gadis pemilik nomor itu, namun aku tidak terlalu pusing memikirkannya.
Karena saat ini aku sedang pusing dengan setumpuk baju kotor yang sedang berputar dengan indahnya di mesin cuci kesayangan emak.
Sudah menjadi kebiasanku setiap minggu pagi aku akan mencuci seluruh pakaian kotorku, kecuali ada keadaan darurat seperti waktu itu dimana aku harus menghilangkan jejak yang ada di sprei karena noda hasil mimpi indah. Hahaha
“Hmm., besok Senin udah ujian masuk ya, kayaknya aku harus ke rumah wulan nih..”
Aku sempat mengutuki kebodohanku, karena sampai saat ini aku belum meminta nomor HP wulan, kalau saja aku sudah menyimpan nomor wulan, pastilah dengan mudahnya aku menghubunginya tentang tes masuk sekolah besok pagi.
Setelah semua urusanku dengan pakaian kotor ini selesai, akku bergegas ke rumah Wulan untuk bertanya tentang teknis ujian masuk sekolah.
“Assalamualaikum..”
Berulang kali aku mengucapkan salam, namun tak ada yang menjawabnya.
“Sepi banget sih, pada kemana yak?” aku bicara sendirian untuk memecah kesunyian yang datang menggelayutiku di siang bolong ini.
Aku duduk di kursi yang ada di teras rumah wulan, menunggu berharap ada yang membuka pintu dari dalam.
*Srek* terdengar suara gorden yang sedikit terbuka\, terlihat ada sosok manis yang mengintip dari balik jendela depan rumah.
“Waalaikumsalam, masuk dulu bar, tunggu di dalam aja, aku belum selesai mandi..”
Wulan hanya membuka kunci pintu rumahnya lalu dia kembali lari menuju kamar mandi.
Aku yang hanya melihatnya sekilas sekarang dipenuhi oleh pikiran-pikiran menakjubkan yang datang memenuhi otakku.
Kini aku duduk dan menunggu lagi di sofa ruang tamu.
Tadi sekilas yang terllihat olehku adalah rambut basah wulan yang terurai panjang dan tubuh sintal yang terlilit oleh handuk putih, eh itu yang putih handuk apa paha siih?
Kembali pikiran – pikiran menakjubkan itu masuk ke dalam kepalaku yang kini terbayang indah tubuh wulan
“hmm.. mau donk jadi handuknya...”Gumamku pelan
Namun aku segera menepis pikiran –pikiran itu dari kepalaku ini, aku tak ingin wulan melihat ekspresi wajahku yang memalukan ini.
“Maaf yaa, nunggu lama..”
Wulan datang dari dalam dengan membawa minuman di atas nampan yang kini sudah berada di depanku
“Ini coklat panas kesukaanku, juga sebagai permintaan maafku karena udah bikin kamu nunggu lama.
“Eh, iya makasih wul, bikin repot aja..”
Kemudian wulan kembali masuk ke dalam
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum mengiyakan tawaran wulan.
Aku masih terpesona dengan wujud wulan yang sekarang, dulu dia benar-benar mirip cowok yang cantik, tapi kini wulan yang berada di depanku sangat berbeda seperti perwujudan dari putri cantik, yang ada dalam dongeng.
Wajah manis dengan rambutnya yang panjang sampai punggung, dihiasi bandana yang melingkar di kepalanya, membuatnya terlihat semakin menarik.
Tubuhnya yang sintal kini tertutup oleh kaos oblong dan celana gemes. Benar- benar membuatku sulit untuk mengedipkan mata.
Aku kembali teringat saat tadi wulan berlari hanya memakai handuk yang menutupi tubuhnya, “ups” aku menutup hidung karena takut mimisan membayangkan kejadian tadi.
“lho kok belum diminum sih?”
Aku tersadar dari lamunanku saat wulan kembali datang dan membawa dua buah toples yang berisi penuh makanan ringan.
“Eh iya nih, masih panas coklatnya.”
Jawabku mengalihkan perhatian wulan, karena tak ingin wulan mengetahui apa yang ada di pikiranku tadi.
“Bapak ibumu kemana wul? Kok sepi amat.”
“Bapak sama ibu ke tempat nenek, tadi pagi paman telfon, katanya nenek harus dibawa ke rumah sakit.
“Sakit apaan emang?” tanyaku mulai penasaran.”
“Gak tau, nenek emang sudah lama sering bolak-balik rumah sakit. Paling dirawat sehari atau dua hari udah sembuh lagi.”
Wulan menjawab dengan menaikkan bahunya
“Eh, bukannya nenekmu itu di luar kota ya? Berarti bapak ibumu nginep di sana donk?”
“Iya, makanya aku gak ikut ke tempat nenek, takutnya besok senin aku gak bisa masuk sekolah.”
“Oh ya, ada apa bar? Kok jam segini udah kesini?”
“iya nih, mau tanya, teknis ujian masuk sekolah besok kayak apa, kan aku gak tau.”
“Oowh, kirain udah kangen sama aku yang cantik ini..” goda wulan dengan menyibakkan rambutnya.
“Yah kalo cuma mau nanyain tentang ujian, kenapa kamu gak telpon aku aja?”
“Nah itu dia, dari tadi aku mau telpon kamu, tapi aku kan belum punya nomer HP kamu.”
“Hihihi, dasar Akbar cowok gak peka.”
Tiba-tiba wulan menjawabku dan mencubit hidung mancungku ini dengan gemas.
Mendengar jawaban wulan barusan aku teringat akan gadis misterius yang aku telpon tadi pagi.
“Wul...jangan bilang kalau kamu yang aku telpon tadi pagi...”
“Hihihi..” wulan hanya tertawa dengan imutnya dan berpindah tempat duduk di sampingku.
__ADS_1
“Kamu harus tangggung jawab..” wulan membisikkan kata itu di telingaku dengan diiringi kecupan dari bibirnya yang mendarat mesra di pipiku.
“Wul.. jangan gitu..”
Aku menjawab wulan dengan menggeser pantatku menjauhi wulan, aku tak ingin pagi yang cerah ini sudah membuatku khilaf, apalagi ditambah dengan keadaan di rumah wulan yang sangat mendukungku untuk khilaf.
“Hihihi, kamu lucu ternyata bar kalau malu-malu gitu.”
Ternyata benar dugaanku, wulan hanya menggodaku dan menguji imanku.
“Haiish.. gimana nih ujian masuk buat besok?”
“Gampang kok, kamu pasti bisa lulus ujian masuk dengan mudah.” Wulan menjawab pertanyaanku dengan senyum menggodanya.
“Nah emang gimana ujiannya? Apa yang harus aku bawa?”
“Udaah, besok kamu tinggal berangkat aja kayak biasa, bawa alat tulis, kamu gak usah penasaran ujiannya kayak apa, yakin gampang kok, cuma tes tertulis sama tes wawancara.”
“Yakin cuma itu doank ujiannya?” aku sedikit tak yakin kalau hanya itu ujian masuk ke sekolah yang lumayan terkenal di sini, takutnya kalu ternyata wulan mengerjaiku.
“Tuh kan, cerewetnya keluar..gak percayaan banget sih sama aku..” wulan tiba-tiba memasang wajah cemberut yang imut.
“Iya deh.. iya.. aku percaya kok..”
Jawabku sambil menghela nafas.
“Bar...” Wulan merapatkan duduknya mendekat kepadaku
Entah kenapa, aku merasa ada yang salah dengan wulan, sebagai cewek aku pikir dia cukup agresif, dan itu sedikit membuatku merinding, apalagi dengan kejadian semalam, yang telah merenggut ciuman pertamaku, seharusnya sebagai cewek dia akan marah ketika ciuman pertamanya di renggut oleh seseorang yang tidak dicintainya. Atau mungkin jangan-jangan..
“Bar.. kalau disuruh milih, kamu milih aku atau mbak dhewi?”
Pertanyaan Wulan ini berhasil membuatku terdiam seribu bahasa, bukan karena aku bingung untuk menjawabnya, tapi karena kini badan wulan sudah menempel kepadaku.
Aku dan wulan duduk berdampingan tanpa ada jarak yang memisahkan, benar-benar membuatku gelisah, aroma wangi dari rambut wulan kini mengalir menggelitik hidungku dan membangkitkan naluriku sebagai lelaki.
Namun aku tetap menahan dan mempertahankan kewarasanku.
“Kenapa kamu tanya seperti itu wul? Bukankah semalam kita...”
Aku tak melanjutkan ucapanku karena terlalu malu untuk mengatakannya.
“Semalam kita apa? Ciuman?” tak kusangka wulan dengan lancar mengucapkannya.
Aku tertunduk malu tak habis pikir wulan dapat mengucapkannya seolah tak terjadi apa-apa di antara kita semalam.
“Lagian kita juga belum resmi pacaran, kamu cuma bilang suka aku sebagai teman dan lain sebagainya, namun bukan sebagai seorang kekasih, iya, kan bar?”
“ Makanya aku tanya, kamu milih aku atau mbak dhewi?”
Aku lebih memilih diam dan meminum cokelat panas, yang dari tadi belum aku sentuh, aku juga menyadari, perasaanku terhadap wulan ini bukanlah cinta yang aku inginkan, ini hanyalah sebuah rasa simpati, dan saling tertarik antar lawan jenis, ini bukan cinta.
Namun untuk memilih, mungkin aku akan lebih memilih wulan, karena aku rasa aku lebih mengenalnya dari pada dhewi.
“Ehm.. tapi mungkin aku akan lebih memilihmu wul, karena aku merasa lebih mengenalmu dari pada dhewi.”
“Tapi kalau aku bilang, aku adalah seorang mata –mata yang dikirim dhewi untuk menyelidikimu, apakah kamu masih akan memilihku?”
*Degg* serasa tersambar petir aku terperanjat dengan ucapan wulan barusan\, seketika aku langsung berdiri dan menjauh dari wulan\, aku sungguh tak menyangka\, kencan pertamaku ini hanya berakhir dengan kebohongan.
Aku mencoba menenangkan diriku karena sungguh marah dan tak percaya.
“Wul, jadi selama ini kamu cuma membohongiku?”
“aku gak nyangka wul, kamu yang sudah aku percaya, ternyata hanya berpura-pura.”
Aku yang tadinya mencoba menahan amarahku, kini aku benar-benar tersulut emosi.
“Kamu di bayar berapa buat jadi mata – matanya si dhewi?
“Apa ciuman semalam juga salah satu tugasmu supaya lancar menyelidiki kelakuanku?”
*PLAKK!!
Sebuah tamparan keras dari tangan Wulan berhasil mendarat di pipiku, sakiiit, tapi bukan wajah ini saja yang sakit. Hati ini kurasa lebih merasakan sakitnya tamparan itu.
Aku merasa ucapanku barusan benar-benar keterlaluan dan telah menyakiti hati wulan, tapi aku juga merasakan hal yang sama, tak menyangka aku akan di bohongi oleh wulan.
“Bar, kamu jangan ngomong kayak gitu, itu terlalu jahat, ucap wulan yang kini berada di sampingku dengan wajahnya yang tertunduk, sedangkan tangannya menarik ujung lengan kaosku
Aku terdiam karena ucapan Wulan, aku juga merasa berlebihan karena telah menyalahkan wulan tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
“Aku memang seorang mata – mata untukmu, tapi semua perasaanku ini adalah nyata, aku sedang tidak pura – pura, kamu harus percaya sama aku bar.”
“Aku hanya tidak menyangka ini semua wul, beri aku sedikit waktu untuk berfikir..”
Akupun kembali duduk dan meminum coklat panas yang kini sudah tidak panas, untuk meredakan amarahku.
Wulan menjelaskan kepadaku tentang situasinya, bahwa dia sedang berusaha menjodohkanku dengan dhewi, dia beralasan ini saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan wulan yang dari dulu dia pendam untukku, walaupun dia juga mengakui kalau ini adalah salah.
Pada akhirnya aku dan wulan sepakat, kita tetap berteman dan akan menjaga hubungan ini tak peduli siapapun pasangan kita nanti, karena aku dan wulan sama-sama suka dan saling membutuhkan.
“Wul, kalau kamu memang menjodohkanku dengan dhewi, tak seharusnya kamu melakukan ini semua untukku.”
“Bar, sudah kubilang, perasaanku ini nyata, dan kamu harus bertanggung jawab.”
Tiba-tiba wulan duduk di pangkuanku dengan tangan melingkar di leher dan mata kamipun terpejam menikmati gairah saat bibir kami bertemu.
“Wul, kamu sangat mempesona..”
\=======================
Sengaja author potong sampai di sini,
Biarkan para reader yang budiman melanjutkan kisah ini dengan imajinasi masing-masing
Wkwkwk author nyontek ending dari novel PPN Ch.91
Semoga kak senju gak marah aku contek endingnya hahaha.
__ADS_1