
"Sayang!?"
Terdengar suara teriakan seseorang dari arah pintu kantin. Suara yang sangat tidak asing, terutama bagi Aji. Dan benar saja ketika Aji menoleh ke arah suara tersebut, Aji sontak terkejut, karena suara itu tidak lain ialah suara Nayla, suara pacarnya sendiri. Dia juga bersama Via, pacarnya Jamal.
Dan celakanya, saat itu secara tidak sengaja, Aji sedang bersama Ica. Dan seperti yang kita ketahui, Nayla sangat tidak menyukai kedekatan Ica dan Aji, bahkan beberapa hari yang lalu pun Nayla sempat menangis memohon kepada Aji, untuk tidak berteman dengan Ica lagi.
Begitupun dengan Via, dia sangat tidak menyukai Ica, apalagi kalau sampai pacarnya, Jamal, berteman dekat dengan Ica.
Aji tau bagaimana hancurnya perasaan pacarnya itu. Namun belum sempat Aji menjelaskan apa-apa, Nayla langsung pergi keluar kantin begitu saja.
Di sisi sebelahnya, Jamal juga merasakan sakit yang tidak kalah hebatnya. Perlahan Via mendekati Jamal yang sedang was-was, dengan satu tarikan napas, Via mengucapkan dengan tegas,
"Kita putus!".
Hanya dua kata yang terlontar dari mulut Via, namun Jamal serasa tidak sanggup untuk mendengarnya. Jamal sebenarnya sudah menduga akan seperti ini, namun dia tidak menyangka akan terjadi secepat ini.
Via pun keluar kantin menyusul Nayla yang sudah pergi duluan, menutup pintu kantin dengan keras tandanya dia sedang penuh kemarahan.
"Sayang... Jangan tinggalkan aku!.."
Tangis Jamal pun pecah, dirinya tidak sanggup untuk berpisah. Sedangkan Aji hanya terdiam dan pasrah, merasa dirinya begitu bersalah.
Ica dan Dika yang juga ada di sana, melihat kejadian itu hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa. Mereka berusaha menenangkan kedua temannya. Namun apa daya, semua itu tidak membuahkan hasil apa-apa, karena Jamal malah semakin menjadi-jadi tangisannya.
"Viaaa!.." tangis Jamal meraung-raung.
"Sudahlah Mal, sudah. Jangan terlalu menangis begitu, malu Mal malu, lo dilihatin semua siswa di kantin tuh!" pinta Dika menenangkan Jamal, sedangkan beberapa siswa mulai berkumpul, menonton Jamal menangis.
"Apa kalian lihat-lihat!" gertak Jamal kepada para siswa itu, sehingga mereka bubar tidak berani melihat.
"Huwaaa..." lanjut tangis Jamal lagi.
Ica pun perlahan duduk di sisi lain meja, dia melihat mata Aji berkaca-kaca, dan tanpa berkata apa-apa, mendadak Ica juga meneteskan air mata.
"Maaf Ji, Mal, karena gue, hubungan percintaan kalian jadi berantakan!" tutur Ica tangisnya pecah.
'Tik' air mata Ica menetes mengenai meja.
"Ca!?" sambut Aji dan Dika terkejut, begitu melihat Ica tiba-tiba menangis juga.
"Ca, eh yang ditinggalin pacarnya kan gue sama Jamal Ca, kok malah lo yang nangis sih Ca!?" protes Aji sembari menenangkan sahabatnya itu.
"Ji... maafin gue Ji, gue selalu merusak hubungan lo Ji..." lanjut tutur Ica.
Memang, setiap Aji pacaran sebelum ini, selalu berakhir dengan perpisahan. Dan bisa dibilang salah satu penyebab utamanya itu dikarenakan oleh Ica. Ica sebenarnya tidak pernah berniat merusak hubungan asmara Aji atau mengganggunya. Namun entah mengapa, setiap wanita yang menjadi pacar Aji, selalu cemburu melihat kedekatan Ica dan Aji.
"Mengapa sih, mengapa!? Pacar kalian selalu curiga dengan kedekatan kita. Kan kita hanya berteman, hanya untuk bersenang-senang. Apa nggak boleh, seorang perempuan berteman baik dengan laki-laki yang sudah punya pasangan!?" tutur Ica dengan bercucuran air mata.
Mendengar penuturan Ica tersebut, Jamal pun sejenak terdiam, dia turut sedih dengan cerita temannya itu. Karena merasa iba dan tidak tega, Jamal malah ikutan menangis mendengarkannya,
"Huwaaa... cerita lo sedih banget Ca!.." tangis Jamal pecah lagi.
"Woy, kok lo malah nangis lagi sih!!?" protes beberapa siswa yang gregetan melihat Jamal.
Melihat sahabatnya itu menangis, Aji menegakkan kepalanya, meletakkan tangannya di meja, dan menatap mata Ica,
"Ca, lo gak perlu minta maaf Ca, lo gak salah. Seharusnya yang minta maaf itu gue Ca, karena selalu menyusahkan lo hanya gara-gara hubungan asmara gue. Maafin gue ya Ca," pinta Aji menenangkan sahabatnya itu.
Ica pun menatap balik mata Aji, dia tersenyum, sembari mengusap air matanya.
"Dasar lo bucin, nyusahin gue mulu sih lo!" jawab Ica sembari tertawa tipis mengusap air mata di pipinya.
"Eh kok lo malah ngatain gue sih, dasar lo jomblo!!!" sahut Aji sewot.
"Terus, sekarang, rencana lo mau ngapain Ji?" pungkas Dika menghentikan keributan dua orang itu.
"Gue akan minta maaf ke Nayla Dik," jawab Aji singkat.
"Ji, gue akan bantu lo Ji!" sahut Ica mengagetkan Aji dan Dika.
"Gue juga..." sahut Jamal, walaupun dia masih tidak dapat menghentikan tangisannya.
"Kapan lo akan minta maafnya Ji?" tanya Dika.
Aji pun menarik napas panjang, menatap jam dinding dengan penuh percaya diri,
__ADS_1
"Saat pulang sekolah Dik,"
'Ting... Ting... Ting...' bunyi bel sekolah pertanda masuk waktu pembelajaran. Memecahkan obrolan empat teman itu.
"Oke, kalau begitu, waktu pulang sekolah nanti, kita akan bantu Aji minta maaf ke pacarnya," seru Dika tegas.
"Eh apa!?" respon Aji sedikit terkejut mendengarnya.
"Oke siaaappp!!.." sahut Ica dan Jamal dengan penuh semangat.
---------------------------------------
Mereka pun kembali ke kelas, karena sudah masuk waktu pembelajaran. Pelajaran terakhir, dan celakanya pelajaran itu ialah matematika, pelajaran yang paling tidak disukai Ica. Karena selain pelajarannya Ica gak ngerti, juga karena gurunya bapak Nurani, yang kalo memberi tugas suka lupa diri.
"Duhh... kepala gue..." gerutu Jamal kepalanya nyot-nyotan melihat soal di papan tulis.
"Namanya bapak Nurani, tapi kok kalo memberi tugas gak pernah pake hati nurani sih!?" protes Dika pelan.
"Iya nih, bener-bener bapak ini. Gue aja pusing melihat tugasnya, apalagi Ica..." celetuk Aji sembari menoleh ke Ica.
"Zzzzz....." Ica mendengkur dengan nikmatnya.
"Apa!? di saat seperti ini, Ica malah tidur!?" pungkas Aji, Jamal, dan Dika terkejut begitu melihat Ica tidur dengan nyenyaknya.
"Ehh... ada apa?" ucap Ica sedikit terbangun mendengar keributan mereka tadi.
FYI, Aji dan Ica ini duduknya bersebelahan. Sedangkan Jamal duduknya di belakang Aji, dan Dika duduknya di belakang Ica.
"Uwaahhh..." Ica menguap dengan mulut lebarnya.
"Kapan juga waktu pulangnya, ni pelajaran lama banget sih!?" lanjut Ica sambil mengusap belek di matanya.
"10 menitan lagi Ca, o iya Ji, lo udah siap belom buat pulang sekolah nanti?" tanya Dika.
"Siap Dik, bunga nya juga udah siap nih," jawab Aji tegas sembari memperlihatkan sekuntum bunga di tas nya.
"Sip, semoga aja wali kelas gak nyadar, kalo kita ambil bunga itu dari meja guru, buat lo Ji!" sahut Jamal di belakang dengan penuh kebanggaan.
"Oke, jadi begini rencananya. Ketika pulang sekolah nanti, Aji akan langsung menemui Nayla dengan sekuntum bunga itu. Nah, jika Aji sudah menemui Nayla, gue dan Ica akan berpura-pura bermain bola, dan gue ceritanya gak sengaja menendang keras bola itu mengarah kepada Nayla," jelas Dika.
"Terus, setelah bolanya hampir mengenai Nayla, Aji pun langsung refleks meloncat melindungi Nayla dari bola itu. Dan, setelah itu kan, Nayla akan merasa tersanjung tuh, wah makasih ya sayang udah nyelametin aku. Nah baru tuh, Aji tinggal ngasih bunga nya sebagai tanda maaf ke Nayla," lanjut Dika menjelaskan.
"Terus gue nya ngapain Dik?" celetuk Jamal bingung.
"Nah kalo lo nanti tugasnya merekam Mal, videoin kejadian itu dari kejauhan, biar bisa kita masukin ke youtube!" seru Dika semangat.
"Emangnya harus ada drama nya segala ya Dik!?" tanya Aji protes.
"Ya iyalah Ji, kan biar banyak yang ngelike." jelas Dika berusaha meyakinkan.
"Hmmm... okelah kalo begitu!" jawab Aji mengiyakan.
'Ting... Ting... Ting...' bel pertanda waktu pulang sekolah sudah berbunyi.
Semua siswa di kelas itu pun, sudah bersiap-siap untuk pulang sekolah, termasuk juga empat teman itu. Namun...
"Eeeits... kalian jangan pulang sekolah dulu! Setelah ini bapak mau adakan ujian pengambilan nilai, oke setelah satu menit dari sekarang ujian akan dimulai!" seru Bapak guru Nurani tiba-tiba memberikan ujian dadakan.
"A... APA, TIDAAAKKK!!!..." sontak semua siswa di kelas itu histeris mendengarnya.
Memang, bapak Nurani ini emang suka bikin suprise orangnya. Ketika guru lain mempersilahkan muridnya untuk pulang, dia malah memberikan ujian dadakan.
"Duhh, gimana ini, kok tiba-tiba ujian mendadak begini sih!?" seru Aji panik gelabakan.
"Kalau begini ceritanya, kita akan mencoba rencana yang kedua." jawab Dika santai.
"Hah, rencana yang kedua!!?" respon Aji, Ica dan Jamal terkejut dan bingung mendengarnya.
"Iya, rencana kedua. Rencananya adalah, kita akan bantu Aji keluar dari ujian ini!" pungkas Dika tegas.
Mendengar ucapan Dika itu, mereka pun saling menatap, mendekatkan kursi masing-masing, dan saling berbisik.
"Oke, ketika Aji kabur nanti, biar gue yang akan melihat situasi dan kondisi, dan memberi aba-aba ke Aji kalo udah siap," bisik Dika sembari menatap bapak Nurani yang sedang mempersiapkan soal ujian.
"Tapi kan Dik, lo kan tau sendiri, kalo ketika ujian bapak Nurani kan, pintu kelas selalu beliau tutup Dik, murid gak bisa kabur!" tanya Aji pelan.
__ADS_1
"Kalo begitu lo kaburnya lewat jendela aja Ji!" timpal Jamal langsung.
"Lah gila lo Mal, jendela tinggi gitu gimana gue naiknya!?" protes Aji pelan.
"Lo naik ke pundak gue Ji!" jawab Jamal tegas.
"Ta... tapi kan, kalo ketahuan beliau gimana? bisa-bisa ketika gue udah mau kabur, gue malah dicegat beliau lagi!?"
"Kalo begitu, kita butuh pengalih perhatian!" jawab Dika singkat.
"Biar gue aja, yang jadi pengalih perhatian..." sahut Ica langsung.
"Hah!?" respon Aji, Dika dan Jamal sedikit terkejut.
"Gue punya sebuah ide!" pungkas Ica dengan penuh percaya diri.
-----------------------------------
Misi pun dimulai...
Langkah pertama,
Ica maju kedepan mendekati meja bapak Nurani, pura-pura mau menanyakan sesuatu.
Langkah kedua,
Aji dibantu Jamal, mempersiapkan peralatan sekolahnya, memasang tas, dan siap untuk kabur.
Langkah ketiga,
Dika memperhatikan gerak-gerik bapak Nurani, melihat situasi dan kondisi, dan bersiap memberikan aba-aba kepada Aji dan Jamal.
Puncaknya...
"Uwaaa.... Uwaaa... Aing mauuung!.." Ica tiba-tiba kesurupan di depan kelas, guling-guling di lantai, membuat panik seisi kelas.
"Pak! Pak! Ica kesurupan PAAKK!!!" teriak beberapa siswa histeris melihat Ica kesurupan.
"Sekarang, Ji!" seru Dika memberikan aba-aba kepada Aji dan Jamal. Mereka pun langsung berlari ke arah jendela, dan Aji pun langsung naik ke pundak Jamal, kabur lewat jendela kelas.
"Ehh, jangan kabur kamu!!.." seru bapak Nurani naik pitam, begitu melihat Aji naik ke jendela berusaha untuk kabur.
"Uwaaa... Aing mauuung... serahkan uang kamu!!.."pungkas Ica berusaha menghalangi bapak Nurani yang ingin mencegat Aji.
"Ehh... kamu ini mau kesurupan apa mau malak bapak sih!!?" protes bapak Nurani yang geregetan melihat Ica.
Setelah berhasil turun dari jendela kelas, Aji pun langsung berlari cepat, mendatangi kelas Nayla.
"Ji, cepat kabur Ji, perjuangkan cinta lo!" gumam Ica dalam hati sambil terus berpura-pura kesurupan.
--------- MISSION COMPLETE -----------
"Huff... huff..." nafas Aji ngos-ngosan setelah berlari sekuat tenaga, kabur dari kelasnya.
Kebetulan didepan perpustakaan, terlihat Nia, sahabatnya Nayla, sedang berdiri dengan tas di punggungnya.
"Nia, kelas lo udah pulang ya Nia!?" tanya Aji langsung, begitu mendatangi Nia.
"Eh, Aji, kalo kelas gue udah dari tadi pulangnya Ji..." jawab Nia langsung.
"Duhh... kalo begitu, berarti Nayla nya udah pulang dong!?" tanya Aji kecewa.
"Oh kalo Nayla sih belum pulang, baru aja tadi dia ke parkiran!" sahut Nia singkat.
"Eh, gitu ya, makasih infonya ya Nia!.." seru Aji langsung berlari penuh semangat, mendatangi Nayla yang sepertinya sudah menunggu di parkiran.
Aji pun terus berlari sembari tersenyum, dia perlahan mengeluarkan sekuntum bunga yang ada di tasnya, dan menyembunyikan bunga itu di belakang punggungnya.
Dengan perasaan gembira, Aji tiba di parkiran. Dia menghentikan langkahnya, begitu melihat ada Nayla di depannya.
'Tuk' bunga di belakang punggung Aji jatuh ke lantai begitu saja.
"KA... KAFKA!!?.." pungkasnya.
--------------------------------------
__ADS_1